
Jam setengah satu, Sakha baru pulang. Larut? sangat larut. Bahkan Jakarta saja sampai renggang saking larutnya. Dia memarkirkan mobil di pelataran kosan, sebelum akhirnya masuk dan melenggangkan dasi, niatnya ingin dia lepas sekalian, tapi urung ketika dia membuka pintu pelan-pelan dan dia malah menemukan Kanaya di sana. Tidak tidur, karena dia berhadapan dengan laptop, dan beberapa buku pun ikut berserakan di meja.
"Baru mau aku telpon loh," kata Kanaya, yang setelahnya langsung berdiri dan bertanya Sakha mau dibuatkan apa, juga perlu atau tidak di masakkan air hangat untuk mandi. Tapi Sakha terlalu lelah untuk mandi dulu, dia rasa dia juga tidak butuh teh atau semacamnya, jadi alih-alih teh atau apalah itu, dia lebih memilih untuk menahan tangan Kanaya ketika gadis itu akan beranjak ke dapur, dan memeluknya seperti biasa.
"Yakin kamu nggak mau sesuatu?" Kanaya yang masih membelakangi laki-laki itu sekali lagi bertanya. Yang bukan apa-apa, tapi dia takut kalau sebenarnya Sakha mau dibuatkan yang hangat-hangat untuk meredakan rasa lelahnya namun sungkan dan takut membuat dia kerepotan, Sakha kan begitu.
"Lepas dulu deh mending, apalagi tadi hujan kan, pasti dingin. Aku buatin teh dulu."
"Kerjain tugasnya di kamar aja yaa, di sini dingin." kata Sakha.
"Kamu langsung tidur aja nggak papa, ini kan tugas aku, biar aku yang kerjain."
"Kan aku uda janji mau bantu,"
"Uda nggak papa," Kemudian Kanaya melepaskan tangan Sakha dan mulai membereskan buku-buku juga laptopnya. Sakha sendiri hanya melihat bagaimana Kanaya melakukan itu dengan sorot mata yang hangat. Kanaya mulai dewasa, dan Sakha menyaksikan sendiri bagaimana proses itu.
"Kenapa?" Sadar karena sedari tadi diperhatikan, jadi dia penasaran dan bertanya.
"Nggak, cuma seneng aja liat kamu."
"Apa, sih?" gadis itu jelas tergelak, tidak paham dengan Sakha akhir-akhir ini.
"Tadi aku uda makan."
"Kenyang nggak?"
"Kenyang."
"Yaudah sana bersih-bersih terus tidur."
"Kamu udah?"
"Apa?"
"Makan?"
"Ohh, udaah."
"Kenyang nggak?"
"Kenyang dong,"
"Oh ya, Kha,"
"Hmm?"
"Tadi Tama ke sini," alis Sakha berkerut, Tama? alih-alih senang karena sahabatnya pulang Sakha justru membatin 'Dia uda balik?' dengan ekspresi yang begitu datar. Tapi karena tidak mau Kanaya curiga jadi dia langsung menipiskan bibirnya, "Terus?"
"Dia jadi pendiem banget, yaa bukan pendiem, sih, cuma kayak lebih kalem gitu."
"Tadi uda aku suruh buat nungguin kamu, tapi kata dia, dia sibuk."
"Coba sini mana tugasnya?" kata Sakha, mencoba untuk berhenti membahas Tama.
Tapi ketika dia mendekat, mata Kanaya langsung memincing.
"Jangan bilang kalau kalian berantem?"
"Siapa?"
"Kamu sama Tama,"
"Enggak kok, ngapain berantem." Yang mana selanjutnya Sakha langsung mengambil alih tugas Kanaya, sedangkan Kanaya masih tidak bisa percaya dengan yang Sakha katakan barusan.
"Masa, sih, enggak berantem?"
"Kalaupun berantem, alasannya apa coba?" tanya Sakha.
Tapi itu juga yang Kanaya pikirkan, alasannya apa?
"Tapi aneh tauuu, Tama tadi disuruh nunggu kamu, dianya nggak kamu, terus kamu, aku bilang kalau tadi Tama ke sini kamu malah biasa aja."
"Emang harusnya gimana?"
"Ya nggak tauuu,"
"Jangan mikir yang aneh-aneh," kata Sakha, dia tersenyum dengan sorot matanya yang layu. Kanaya sendiri, dia hanya menghela nafas dan mulai berhenti berpikir yang tidak-tidak.
"Kamu ngapain?"
"Ha?"
"Ngapain malah deket-deket, sana tidur," Ini Kanaya diusir gitu maksutnya?
saat dia masih bengong, saat itu Sakha mendorong kedua pundaknya dengan hati-hati untuk merebah ke ranjang, dan yang terakhir dia menarik selimut untuk Kanaya, sebab diluar dingin, jadi lebih baik pakai selimut.
"Tidur."
"Merem aja nanti juga ngantuk sendiri,"
"Itu tugas aku loh btw,"
"Iya tauu," kata Sakha.
"Terus kenapa aku malah disuruh tidur, sih?"
"Biar besok seger pas mau kuliah,"
"Khaa,"
"Hmmm,"
"Nggak bisa tidur," Kanaya tidak bohong, bahkan ngantuk saja tidak. Bahkan gadis itu masih menatap Sakha dengan lebar ketika Sakha menoleh, dan Sakha tidak punya pilihan lain selain segera merapikan buku-buku itu, untuk kemudian dia kembalikan ke tempatnya dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Kanaya.
"Insomnia?"
"Nggak kok, emang belum ngantuk aja,"
"Dingin nggak?"
"Nggak juga,"
"Aku kedinginan lo padahal."
Giliran Kanaya yang bertanya, "Beneran, kamu kedinginan?"
"Iyaaa, apalagi pas di jalan tadi."
awalnya Kanaya tergelak, menertawakan ekspresi melas Sakha, tapi di detik setelahnya, dia memeluk laki-laki itu dari samping, dan berkata dengan begitu lirih, "Lain kali bawa selimut biar nggak kedinginan."
"Masak aku selimutan di mobil, sih, yang bener aja."
"Ya nggak papa, lagian juga nggak ada orang yang tau kalau di dalem kamu pake selimut."
"Nayaa,"
"Hmm?" Kanaya mendongak, sebab beberapa saat setelah memanggil dia Sakha justru diam, dan sekarangādia malah menatap Kanaya dengan begitu intens.
"Kenapa, sih?"
"Nggak papa, cuma kangen," dan tanpa aba-aba dia langsung menarik tengkuk Kanaya, mencium Kanaya dengan gerakan yang begitu pelan dan penuh kehati-hatian. Ketika seorang ayah melepaskan putrinya bersama laki-laki lain, ada begitu banyak harapan pada diri seorang ayah atas laki-laki itu kepada anaknya. Dia ingin laki-laki itu memperlakukan anaknya dengan baik, minimal seperti yang dia lakukan sebelumnya. Dia ingin anaknya di jaga. Dia ingin anaknya selalu dibuat bahagia, lalu Sakha, dia tengah mengusahakan semua itu, dia ingin memperlakukan Kanaya dengan baik, dari segi manapun, dia ingin menjaga Kanaya, dan ini, sebisa mungkin dia tidak mau membuat Kanaya kesakitan, meski Sakha tau bahwa tidak mungkin dia terus-terusan membuat dia bahagia tanpa sesekali menyakitinya, entah sengaja atau tidak. Kanaya sendiri hanya mengikuti permainan Sakha, sampai laki-laki itu berhenti dan melepas ciumannya.
"Do you want more than this?" tanya Kanaya hati-hati ketika mereka tidak lagi berciuman tapi Sakha masih terus memperhatikan dia.
"No," jawab yang laki-laki.
"Why?"
"Sekarang dingin, dan masih hujan, besok juga pasti lebih dingin. Kasian kalau kamu harus keramas pagi-pagi."
Kanaya menipiskan bibirnya, dan balas menatap Sakha tidak kalah intens.
"Padahal aku nggak papa, tapi oke kalau nggak mau."
"Makasih loh," Sakha sedikit tergelak.
"What for?"
"Karena uda ditawarin."
"Jangan dibahas lagi deh! malu tau kesannya ditolak." Gadis itu bersiap tidur, sedang Sakha kembali memeluknya dari samping.
"Bukan nolak," kata laki-laki itu.
"Lagian alasan aku juga masuk akal kan?"
"Makasih jugaa,"
"Buat apa?" giliran Sakha yang bertanya.
"Karena kamu selalu mikirin aku."
-
**Warning!
buat anak yg masih 17 kebawah jgn dibaca dehh mendingš. Dear Sakha sekarang tuh lagi begini masalahnya, aku takut ngerusak otak polos kalian meskipun adegannya nggk dijelasin dengan begitu detail. Dan mohon maaf juga kalau ceritanya jadi lebih dewasa begitu gaiss!
komen dong, pengen tau tanggapan kalian wkwwkwk, nggk komen jg nggak papa sih,
š **