DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 61



Lagu duka milik last child tersebut terus mengalun di minggu pagi milik tama. Entah sudah dia ulang berapa kali, dan seolah dia tidak punya lagu lain selain lagu itu. Atau barang kali, hanya lagu itu yang cocok untuk minggu paginya.


"Gue awalnya nggak tau lagu itu dah, asli, sekarang mendadak hafal" Kata Bagas. Sesaat ia menatap tama, sebelum akhirnya berdecak ketika lagu itu selesai, tapi seperti yang tadi tadi, tama malah mengulangnya.


Yang seperti ini yang membuat Bagas menghela nafasnya. Kalau tidak salah ini yang ke-enam lagu itu mengalun. Menguar bersama udara yang memencar ke penjuru Jakarta.


Kalau kata Bagas, minggu kali ini terlalu indah untuk di pakai menggalau seperti itu.


"Eh, lo tau temen gue yang kemarin pake baju merah?"


Ketika Tama mengangguk, Bagas berkata dengan begitu heboh


"Dia jomblo Meeen" Kata Bagas. Ditengah penggal lirik duka dari last child dia berkata seperti itu.


'Dia jomblo meeenn'


Yang langsung Tama tatap dengan tatapan 'Ya terus kenapa?'


Pada akhirnya ia kembali memejamkan mata di kursi panjang tersebut. Sementara angin yang bergerak dengan halus pagi itu terus terusan menabrak wajah Tama. Lalu bagaimana kabar last child? Tenang, lagu itu bahkan masih menguar sampai saat ini.


Ingatkan Bagas kalau ini yang ketujuh lagu itu di putar ulang.


Ingin rasanya Bagas misuh misuh, tapi yang keluar dari mulutnya alhamdulillah justru istigfar.


"Gue juga pernah kali suka sama orang terus dia malah berakhir sama orang lain. Tapi, seinget gue, segalau galaunya gue juga enggak kayak lo begini"


"Berarti lo nggak cinta cinta banget sama dia"


"Iya kali" Balas Bagas.


"Soalnya, waktu itu gue naksir sama tiga cewek sekaligus. Jadi kalau nggak dapet dia, masih ada dua tujuan lagi"


"Bajingan"


"Ya namanya juga masih bocil"


"Kuliah semester berapa?"


"Satu"


"Tuh kan, lo emang bajingan Gas"


Di katai begitu bagas malah tergelak. Menurutnya bukan bajingan, hal itu sangat wajar di lakukan oleh laki laki seusianya dulu. Berkelana dari satu hati ke hati yang lain, untuk menemukan hati yang paling cocok, hati yang paling pas.


"Mending mana gue sama lo?"


Ketika Tama menoleh, Bagas dengan angkuh ikut menyenderkan tubuhnya pada kursi yang lain.


"Ya seengaknya kan gue berani mengakui perasaan gue, dari awal, dan sejak perasaan itu ada"


Belum selesai, Bagas berkata lagi,


"Saat lo mengakui perasaan lo, mengungkapkan perasaan itu pada orang yang lo sukai, hal tersebut nggak menuntut kemungkinan lo akan di cintai balik, juga nggak menuntut agar supaya dia menerima lo"


"Jadikan niat awal lo hanya sekedar agar dia tau"


"Juga nggak usa membual seberapa besar lo suka sama dia, atau seberapa dalam lo mengangumi dia. Yang perlu dia tau, lo emang mencintai dia. Karna terkadang, cinta itu bakalan jadi lebih rumit kalau di jelaskan"


Pagi itu Tama sampai keheranan degan Bagas.


Beberapa pertanyaan langsung muncul dalam otaknya. Seperti,


Apa yang terjadi pada bocah itu?


Dia sadar atau justru sedang teler?


°°°


Kanaya pernah membaca sebuah novel, judulnya entah apa, pengarangnya juga dia sudah lupa.


Pada intinya, novel itu bergenre fiksi remaja, dan cocok sekali untuk remaja remaja yang sedang kasmaran.


Remaja remaja yang tengah memulai ataupun sedang menjalani sebuah hubungan.


Katanya, untuk bisa bertahan lama atau tidak, itu hanyalah tentang seberapa kuat dua pihak di dalamnya yang saling mengusahakan. Seberapa jauh mereka bisa saling mempercayai satu sama lain, atau barang kali, seberapa ingin mereka bersama dalam jangka waktu yang lama,


Pihak luar jangan di ibaratkan sebagai badai.


Karna pada awalnya mereka hanyalah gerimis, dan kalian hanya perlu berlindung juga saling melindungi agar supaya tidak basah sampai kuyup.


"Gimana hari ini?"


Kanaya tidak langsung menjawab. Ia memeluk Sakha terlebih dahulu sebelum akhirnya menjauh dan menerima helm dari suaminya tersebut.


Sementara Sakha yang sudah nangkring di motor malah tertawa.


Dan itu tentu langsung membuat Kanaya memincing


"Kenapa?"


"Apa?"


"Kenapa ketawa"


"Lucu aja sih, sebenarnya uda ketara kalau lo capek, cuman nggak tau harus nanya apa"


'Ck'


"Uda yuk, kayaknya mau hujan"


"Bukan kayaknya, ini aja uda gerimis" Sahut gadis itu. Kemudian tanpa di suruh lagi, dia naik ke motor Sakha.


Kalau sudah begini, Kanaya semakin jatuh cinta saja dengan hujan.


Entah pemikiran gila atau apa, tapi Kanaya malah merasa romantis bisa membela jalanan jakarta bersama Sakha dengan latar belakang suasana seperti ini.


Kanaya suka jalanan yang di basahi oleh hujan, atau sisa rintik yang masih menempel pada ujung ujung daun. Belum lagi redup yang estetik.


"Emang tugas lo sebegitu banyak ya, sampe lo bisa di buat setres kayak gini"


"Astagaaa" Sekonyong-konyongnya Kanaya menggeplak bahu lelaki tersebut,


"Sembarang banget sih"


"Ya abis lo kenapa coba senyum senyum sendiri begitu"


"Orang senyum kok nggak boleh"


Sekarang ganti Sakha yang terkekeh.


Katanya,


"Bukannya nggak boleh, tapi kalau nggak ada penyebabnya begini jadinya gue ngeri"


"Tanya dong karna apa?"


"Males ah"


Sesaat Kanaya berdecak. Sebelum akhirnya ia memeluk Sakha, kemudian rada berbisik,


"Emang lo nggak penasaran?"


"Enggak"


Memang ya, laki laki menyebalkan yang pernah Kanaya kenal yang nomor satu ya sakha ini.


Tapi ya sudahlah, menyebalkan begini toh dia malah mencintai Sakha.


Kadang Kanaya juga bingung, perihal mengapa harus Sakha.


Tapi kata bang Rizal waktu itu,


"Suka ya suka, nggak usah susah susah deh nyari alasannya kenapa. Cinta tuh jangan di buat rumit"


"Kenapa?" Lalu ketika tangannya ia lepas dari pinggang Sakha, dengan gerakan hati hati Sakha malah menarik tangannya kembali. Agar tangan itu tetap melingkar di sana


"Kenapa senyum senyum nggak jelas kayak orang yang krisis kewarasan?"


Tapi Sakha adalah Sakha.


Saat Kanaya berharap suasana yang seperti ini akan berubah menjadi suasana yang romantis, ingatkan dia jika itu tidak akan terjadi selagi orang yang bersama dia masih Sakha.


"Seneng aja bisa naik motor begini sama orang yang gue suka"


"Meskipun kehujanan?"


"Yaps,"


kemudian Kanaya melanjutkan kembali,


"Karna kadang bukan soal kondisinya Kha, tapi dengan siapa kita ada di dalam kondisi itu"


...°°°...