
Malam itu, saat hari semakin di makan oleh malam, gerimis tiba tiba turun, suasana dingin tak ubahnya selimut yang dengan otomatis membungkus tubuh dari sebagian orang yang masih di luar, salah satunya Kanaya.
Gadis itu masih diam di sana, masih mencoba memperhatikan bagaimana gerimis yang turun sekalipun ia tidak bisa melihat gerimis itu dengan jelas, matanya yang sembab juga tangisnya yang belum berhenti membuat pandangannya mengabur, pada apapun itu.
"Brengsek" Umpat gadis itu. kedua tangannya menyugar rambut ke belakang, dalam satu tarikan dengan rasa yang pasti, frustasi.
Sisanya ia kecewa pada laki laki itu. Bahkan ketika Jakarta kembali di guyur hujan, Sakha masih tidak bisa di hubungi.
Seolah tidak ada Kanaya jika dia sudah bersama Habibah. Seakan tidak ada lagi yang penting selain dia, orang yang bahkan bukan siapa siapanya Sakha.
"Sehisteris apa sih Habibah sampai lo tega ngebiarin gue di sini, SEHANCUR APA HABIBAH SAMPAI LO NGGAK PEDULI SAMA GUE!!" Hinga begitu gerimis benar benar berubah menjadi hujan, gadis itu berteriak dengan keras. Kemudian menangis dengan suara yang tidak lagi tertahan. Pada hujan yang turun Kanaya ingin sekali berbagi rasa sesaknya. Dan pada Jalanan yang semakin sepi, gadis itu ingin bercerita tentang bagaimana rasanya patah hati.
Tapi alih alih begitu, Kanaya justru berkata lain,
"Sakha tuh brengsek"
Kepada apapun, ia berkata begitu.
"Sakha jahat sama gue"
Sekali lagi ia berujar setelah mengusap genangan yang tenang dalam pelupuk matanya.
Dan untuk waktu yang sebentar, ia tersenyum getir.
"Dia bilang dia cinta sama gue? tapi kenapa di saat gue uda yakin dengan semua itu, lagi lagi gue di buat ragu, lagi lagi gue di buat bingung"
Lagi lagi juga Kanaya di buat gila hanya dengan pertanyaan.
Siapa yang lebih penting antara dia dan Habibah?
Gadis itu bahkan ingin mencakar cakar wajah Sakha untuk saat ini. Seandainya jawaban Sakha dia, bukan berarti keinginan Kanaya untuk melakukan itu hilang, yang ada mungkin ia semakin di buat geram.
"LO TUH EMANG BRENGSEK SIALAAANAN"
Dan pada akhirnya ia menangis lagi.
Ia usap lagi, ia coba tahan, tapi ternyata tidak semudah itu.
Akhirnya Kanaya menyerah, ia biarkan dirinya meringkuk di sana, ia biarkan dirinya menangis di antara hujan yang masih turun. Sendirian, tanpa siapapun, seolah ia sekuat itu.
Kanaya lelah dengan kepura puraanya selama ini, dan ia mengaku benci dengan keadaan seperti ini, keadaan dimana Sakha seperti lebih berpihak ke Habibah ketimbang Kanaya.
"Cinta itu gue ke lo Kha, bukan lo ke gue"
"Hujan Nay"
•••
Tama itu sebenarnya anak baik baik. Iya sih dia sering keluar masuk club, tapi di banding minum, ia lebih sering bengong di sana. Sembari menyaksikan orang orang yang berjoket ria.
Yang seperti itu memang tidak mengubah apapun, masalah yang tadinya segunung, ya tetap segunung. Tapi kenapa Tama masih sering ke sini? Sebab di sini banyak wajah wajah Frustasi, banyak jiwa jiwa yang juga kesepian. Dan itu semua membuat Tama ingat jika dirinya tidak pernah sendiri.
"Woi Tam, kemana?"
"Pulang"
"Masih jam berapa kampret, sini dulu lah, seneng seneng" Kata Bagas. Seperti biasanya, laki laki itu selalu saja menahan Tama saat dia hendak pulang. Dan seperti biasanya, Tama tetap melangkah pergi. Tidak peduli Bagas yang teriak teriak lelaki itu tetap membuka pintu club'.
Menurut Tama, dirinya ini masih normal, jadi ketimbang berlama lama di dalam club' itu, lebih baik ia jalan jalan begini, biar pun tidak tau kemana tempat yang akan di tuju, langkah tidak pastinya pasti berujung di suatu tempat nanti.
"Mampus" Lelaki itu mengumpat saat hujan tiba tiba turun. Rintikan kecil dari langit itu membuat Tama berhenti sebentar, sebelum akhirnya ia berlari ke pinggiran jalan.
"Gila sih, bisa bisanya hujan"
"LO TUH EMANG BRENGSEK"
Meringkuk dan terus berteriak di tempat yang tidak jauh dari dia.
"Hujan Nay" Hingga begitu langkah pelannya benar benar membawa dia sampai di samping Kanaya, Tama langsung menyampirkan jaketnya di pundak perempuan itu.
Harusnya setelah duduk Tama memeluk Kanaya kan? Tapi yang laki laki itu lakukan justru malah diam, sembari menyaksikan apa saja yang ada didepannya.
Dan alih alih
"Jangan nangis"
Yang Tama katakan malah lain, katanya,
"Nangis aja Nay, nggak usa malu"
Jangan lupa juga bagaimana ia tersenyum kepada Kanaya yang sempat menoleh. Hingga cukup lama mereka saling menatap, Tama menjadi pihak pertama yang memutus tatapan tersebut.
Sekali lagi ia mamdangi hujan, dan genangan yang tercipta di bawahnya.
Tama juga tidak bertanya kenapa Kanaya bisa di sini? Apa yang membuat ia menangis? Atau sederhananya, ada masalah apa?
Sampai hujan reda, laki laki tersebut masih diam di sana.
"Tam,"
"Hm"
"Sakha tuh cinta nggak sih sama gue? Sayang nggak dia sama gue? Pengen gue di sini, atau gue pergi? mau gak dia kehilangan gue?"
Tama terkekeh. Sebentar saja dia memandangi Kanaya.
"Lo nggak bakalan nemu jawabannya di gue Nay"
"Kalau Sakha pernah bilang dia cinta sama lo, artinya dia juga sayang sama lo, dia pengen lo di sini atau enggak? Jelas iya, dia mau kehilangan lo atau enggak? Jelas enggak"
"Lo nggak nanya kenapa gue nangis? Nggak nanya kenapa di jam yang uda larut ini gue malah kayak orang gila di sini, sendirian?"
"Enggak" Tapi gue nunggu cerita itu Nay, gue gak mau nanya bukan berarti gue nggak mau denger.
Lantas saat hujan benar benar reda, atau katakanlah hujan malam itu selesai, Tama langsung mengantarkan Kanaya pulang. Tidak ada acara di persimpangan kontrakan atau gang, atau di depan pagar, laki laki itu betulan mengantarkan Kanaya sampai di depan pintu.
"Sana masuk"
"Thanks ya"
"Kayak sama siapa lo"
"Ya kan nggak peduli lo siapa, kalau uda nolong gue, terimakasih itu wajar"
"Iya,"
"Ti ati lu"
"He'em"
"Eh Tam" Panggil Kanaya. Gadis itu berlari sebelum Tama sampai di gerbang. Ia memeluk Tama di sana, membiarkan Tama terkejut dalam kondisinya yang masih diam.
Bahkan saat ia tau Kanaya menangis, satu tangannya masih belum bergerak, masih diam di antara saku celana yang ada.
"Makasih," Dan ia kembali mendengar kalimat itu.
'Makasih'
Entah untuk yang keberapa Kali.