
Pernah dengar istilah,
Perempuan itu ibarat buku yang tebal, hanya lelaki sabar yang mampu membacanya sampai di bagian paling akhir.
Saat mengenal Tiara dan memberanikan diri mendekati gadis itu, Tama kira ia bisa membaca Tiara sampai halaman paling akhir andai kata dia buku tebal tersebut, nyatanya juga tidak, Tama kira pilihan untuk pergi kini telah tersedia setelah ia tau Tiara juga sama sepertinya. Jika dia adalah laki laki yang suka memberi harapan kepada gadis sana sini, Tiara juga begitu, sekalipun ia perempuan.
Ia menerima harapan dari siapa saja laki laki yang membuka ruang untuknya berharap, juga sesekali ganti ia yang menebar sesuatu atas nama harapan tersebut untuk beberapa laki laki, lantas setelah tau sisi itu apa Tama membencinya? Tidak. Tama hanya terkejut lalu tertawa kepada dirinya sendiri.
"Dari awal gue uda tau lo nggak pernah cinta sama gue Tam, lo cuma penasaran gimana gue dan memberanikan diri untuk mendekat, iya kan?"
"Gimana dengan lo, bukannya lo juga gitu?"
Sebab jika di lihat dari cara Tiara memandang Tama saat ini, gadis itu seperti sudah tau sejak lama, bahkan saat Tama awal awal mendekatinya sepertinya dia memang sudah tau.
"Seengaknya gue nggak jadi pecundang yang pura pura berani kayak lo!"
"Yang terus terusan bohong sama perasaan lo sendiri dan terus berpura pura kalau lo nggak papa"
"Lo kira gue kenapa?" Balas Tama yang bertanya pada gadis itu, tentu Tiara tidak langsung menjawab, hatinya seolah teriris dan merasa di permainkan hanya karna ia yang terlalu bodoh dalam hal mencintai. Tapi Tiara enggan mengatakan yang sejujurnya, lebih tepatnya dia tidak mau terlihat seperti orang yang paling tersakiti hanya gara gara dia tau Tama tidak pernah mencintainya.
"Brengsek"
"Nggak seharusnya lo deketin banyak cewek kayak gini, seolah olah lo emang nyediain tempat di hati lo padahal disana uda ada orang lain,"
"Seengaknya lo mikir Tam,"
Siang itu Tiara dengan air mata yang bercucuran meninggalkan Tama, pergi dalam artian tidak mau bertemu dengan Tama lagi. Sekalipun keduanya tidak sengaja bertemu, keduanya malah terlihat seperti orang asing yang tidak saling mengenal, Tama dengan rasa bersalahnya dan Tiara dengan rasa kecewanya. Alih alih mencintai Tama, Tiara malah ingin membenci laki laki itu, seandainya saja dia mampu. Sayangnya Tiara terlanjur hanyut oleh segala hal yang menyangkut Tama,
"Lo apain sih temen gue?" Tanya Kanaya, ketiganya saat ini tengah berada di area pasar malam, kebetulan sekali Kanaya duduk di sebelah Tama alih alih Sakha.
Yang ditanya kembali melamun, dan menautkan tangannya di kedua lutut. Jujur Tama masih tergiang dengan semua yang Tiara ucapkan siang itu, apa benar dia ini hanya pecundang yang pura pura berani? Pura pura berani untuk patah, hancur bahkan berantakan hanya karna Tama ingin orang yang di cintai nya bahagia. Tapi kalau dipikir lagi, apa yang membuat seseorang itu bahagia saat cintanya tidak terbalas, seperti dia ini misalnya! Bukankah sama sakitnya dengan tidak bisa memiliki.
"Tam, katanya lo pengen berubah," kali ini ganti Sakha yang bersuara. Ia yakin waktu Tama mengatakan itu Tama tidak lagi sedang bercanda, Tama seperti lelah dengan dirinya yang terus terusan begitu, tapi siapa yang tau jika Tiara bisa marah sampai sedemikian pada Tama sebab gadis itu merasa di permainkan.
"Lo tau nggak sih, saat lo merasa semuanya baik baik aja, pasti ada sesuatu yang enggak beres. Gue rasa gue juga begitu"
"Yang nggak beres itu elo," Kanaya jelas mendengus, sebelumnya ia sering memperingati Tama untuk tidak menyakiti Tiara, biar bagaimanapun Tiara itu sahabatnya. Dari awal saja Kanaya sudah was was dengan hubungan mereka, sekarang apa yang dia takutkan terjadi kan!
"Bukan gue yang enggak beres, tapi perasaan gue,"
Detik itu, detik dimana Tama menunjukkan hancurnya dia lewat bagaimana dia memandang biang Lala didepannya dengan tatapan paling sendu. Layaknya hujan yang turun di bulan Desember, tatapan Tama hampir sedamai itu.
"Percuma gue ngomong sama orang yang enggak paham, lo atau pun lo, terserah mau menilai gue kayak gimana? Gue akui gue emang brengsek, tapi orang jelas punya alasan saat dia melakukan suatu hal, sekalipun enggak mereka juga masih memiliki alasan"
Tama kembali berujar setelah tidak ada respon, baik dari Kanaya ataupun Sakha.
"Kalian pasti tau lah, ada banyak hal di sini yang enggak bisa untuk di kendalikan, perasaan juga begitu,"
"Lo suka sama seseorang?" Tanya Sakha. tapi orang pertama yang menoleh adalah Kanaya, gadis itu sedari tadi tidak paham Tama berujar apa? Tapi begitu Sakha bertanya dan Tama tetap diam, Kanaya seolah tau kalimat Tama tadi jika disederhanakan akan jadi apa.
"Jadi siapa? Siapa orang yang lo suka tapi enggak lo perjuangin, siapa ha?"
"Siapapun itu lo nggak perlu tau, pada intinya gue bukannya nggak mau merjuangin dia, tapi gue nggak bisa"
Dan Tama tidak mau memaksakan apapun. Sekalipun dia hancur sebab sampai saat ini dia masih mencintai dia, tidak papa. Tama akan menikmati rasa hancur tersebut.
entah waktu untuk menyatakan perasaannya itu ada atau tidak. untuk saat ini Tama tidak ingin memberi tau siapa siapa, sebab dia tidak ingin ada yang lebih berantakan lagi dibanding dia.
"Sampein minta maaf gue ke Tiara,"
"Dan lo pikir dia bakalan maafin lo?" Jujur Kanaya ikut kesal.
Tapi tau apa yang Tama lakukan, dia hanya tersenyum. Tama hanya ingin meminta maaf, tidak lebih. dimaafkan atau tidak, itu urusan Tiara dan perasaanya.
"Gue enggak memaksa Tiara untuk maafin gue, gue cuma mau minta maaf, selebihnya itu terserah dia"
"Terus kenapa enggak lo aja, lo laki bukan sih?"
"Lo kira dia bakalan baik baik aja setelah dia ketemu sama gue, dia bahkan nggak mau ketemu sama gue lagi Nay"
"DARI AWAL GUE TUH UDA BILANG TAM, JANGAN NGASIH DIA HARAPAN PALSU! DIA TEMEN GUE, DAN GUE ENGGAK RELA LO GINIIN DIA!"
"SALAHNYA DIMANA UNTUK ORANG YANG MENCARI OBAT SAAT DIA BERUSAHA BUAT SEMBUH, SALAH KALAU GUE MENCOBA JATUH CINTA LAGI TAPI BERAKHIR NGGAK BISA!"