DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 44



Bicara soal masa lalu kadang tidak ada habisnya. Apalagi jika sudah menyangkut hal hal konyol, absurd, hal hal yang membuahkan tawa, Kanaya jamin perjanjian yang semula satu jam, bisa jadi berjam berjam. Bahkan sedari tadi, Sakha terus mengiriminya pesan, menanyakan Kanaya jadi pulang jam berapa? Yang lucunya selalu Kanaya delete setiap kali waktu akan menuju pada jam itu, dengan embel embel


Eh, nggak jadi deh,


Membuat Sakha yang masih menunggu kepastian darinya mendengus berkali kali, tau begini ia tidak akan membiarkan Kanaya menemui teman temannya. Lantas masa bodoh dengan panggilan suami posesif.


"Udahlah, namanya juga temu kangen" Ujar Tama. Ia berkata begitu tanpa melirik Sakha, sebab malas juga melihat wajah garang Sakha yang sedari tadi terus ia tampakkan, bahkan di depan pelanggan juga ia begitu


"Bye the way, Tiara gimana? Sehat nggak dia?" Kali ini Tama mengambil kursi di depan gerobak, kemudian dia letakkan tepat di samping Sakha.


"Gue nggak bisa bilang dia sehat atau enggak, karna gue nggak nanya gimana kabar dia" Jawab Sakha


"Ya nggak perlu nanya juga bakalan tau kalau lo ngeliat dia"


"Bukannya lo ya yang bilang ke gue, kalau memahami perempuan itu sulit"


"Dari luar mungkin keliatannya baik, dalamnya mana gue tau,"


"Ya juga sih" jika tadi Tama mengangguk sebab ia memang pernah mengatakan yang demikian pada Sakha, kali ini dia mengangguk sebab setuju dengan apa yang Sakha katakan. Sejauh ini, yang Tama tau dari kaum perempuan adalah, mereka sangat pintar dalam hal pura pura, atau menyembunyikan perasaan mereka. Tama sampai heran, apa iya semua perempuan mempunyai keahlian dalam bidang itu?


"Asli sih, lo dulu ndableg banget ya Nay" Sementara itu di bumi bagian lagi, Anjani lagi lagi tergelak. Ia begitu menikmati cerita Kanaya di masa kejayaannya, iyap, saat gadis itu masih duduk di bangku SMA, dan dengan kenakalan yang sering ia lakukan.


"Dimana ada kekacauan, di situ pasti ada Kanaya yang mengsam mengsem" Begitu kata Laras barusan. Anjani bahkan tidak tau mau merespon bagaimana selain tergelak seperti orang yang paling bahagia begini.


"Terus terus, hubungan lo sama guru BK gimana Nay, Deket dong pasti"


"Bukan maen Jan" Tiara menyahut. Ia memang pernah kesal dengan Kanaya, tapi selalu mengikuti berita tentang kenakalan gadis itu. Sering juga Tiara ikut pusing sendiri padahal siapa yang berulah.


"Gue sampe kasihan sama Sakha, setiap Kanaya buat kekacauan, pasti tuh anak yang ngerapiin"


"Bahkan, pas Naya buly anak anak IPS satu, yang minta maaf siapa coba? Sakha coy"


"Wagelaseeh,"


"Sakha emang baik ya orangnya"


Sesaat tawa Kanaya terhenti, tapi setelah itu Kanaya tertawa lagi. Apa salahnya mengutarakan fakta, toh yang Habibah katakan benar, Sakha memang baik.


Tapi di sela tawa itu, Kanaya ingin sekali memberi wejangan singkat pada Habibah, untuk tidak pernah salah paham dengan kebaikan Sakha, sayangnya Kanaya tidak berani.


"Gue balik yah, Sakha uda ngomel ngomel dari tadi" Kanaya akhirnya beranjak, mengajak teman temannya TOS satu persatu. Tapi dengan Laras, ia juga memeluk bocah itu. Kanaya awalnya ogah, tapi karna Laras merengek, jadi ia mempersilahkan.


"Kuliah baik baik lo, jangan ndableg"


"Harusnya gue nggak sih yang ngomong begitu ke lo"


Pertanyaan Laras membuat yang lain tertawa. Agaknya memang iya.


"Lo bertiga naik apa nih, mau gue anterin aja nggak?" Tanya Tiara, kebetulan ia membawa mobil.


"Nggak usa, kita naik bis aja" Jawab Naya, yang setelah itu langsung melambaikan tangan, di susul Anjani dan senyum hangat dari Habibah.


"Btw thanks buat hari ini" Kata Anjani, gadis itu sempat sempatnya menoleh meski langkahnya sudah jauh dari stand Tiara. Yang langsung di balas lambaian oleh Laras dan Tiara.


"Jumpa lagi Janiii"


"Love you larasss"


"Najis" damprat Kanaya.


Beruntung Ada Habibah yang langsung menyuruh dia beristighfar.


"Gue anter ya Bah, kasihan gue, ini uda malem banget"


"Serius Nay?"


"Serius, Uda ayo" Kata Anjani, ia merangkul pundak Habibah, dengan langkah yang sengaja di iringkan dengan gadis itu. Sementara Kanaya, ia lebih memilih berjalan rada menjauh, geli dengan sikap Anjani. Sedikit trauma juga, karna pengalaman yang sebelum sebelumnya, awalnya Anjani akan berjalan beriringan begitu, tapi lambat laun malah nemplok ke punggung Kanaya.


"Kamu nggak di jemput Nay"


"Iya, abis anterin lo, baru gue minta jemput"


"Gue?" Lagi lagi Anjani menanyakan kondisinya.


Yang langsung Kanaya balas dengan kedikkan bahu


"Please nggak usa mengumpat," kata gadis itu, mencegah ucapan Anjani yang sampai saat ini masih tertahan.


"Lagian juga gue nggak ngajak lo buat anterin Habibah, lo sendiri yang mau kan"


"Pada intinya?"


"Lo pulang sendiri"


"Uda paling bener gue tadi nggak ikut ke Festival sih"


•••


Sampai di depan rumah Habibah, Kanaya dan Anjani jelas tidak bisa menatap rumah itu dengan tatapan biasa saja. Bahkan di perlu kan waktu ber menit menit untuk keduanya terdiam.


Tapi setelah itu, yang mereka lakukan adalah mengulas senyumnya, sebab ada wanita 40 tahunan yang berjalan ke arah gerbang, sudah jelas wanita tersebut akan membuka gerbang untuk siapa.


"Tante tau nih, pasti ini Kanaya?"


Astaga, emang gue seterkenal itu, Batin Naya.


"Eh, iya Tante, salam kenal Tan" Ucap Kanaya, kali ini dia tidak hanya tersenyum, tapi juga membungkuk untuk menyalami ibu Habibah.


"Saya Anjani" Kata Anjani, ia juga melakukan apa yang sebelumnya Kanaya lakukan, begitu juga Habibah. Sekalipun ia merasa aneh dengan ibu sambungnya, seakan yang ada di depan mereka ini bukan ibunya.


"Ibu lo kok tau nama gue?" Kanaya sedikit berbisik pada Habibah, yang di jawab dengan bisikan pula oleh gadis itu.


"Sakha yang ngasih tau"


"Kapan kapan main lah Nay, biar kenal juga sama tante"


"Asli, merinding gue" Kata Anjani, gadis itu baru bisa bernafas lega begitu Habibah dan ibunya masuk, sedang Kanaya masih saja tersenyum.


"Serem nggak sih"


"Apanya?"


"Ibu Habibah"


"Mulut lo Jan"


"Serius Nay, dia kayak enggak senyum ke kita, lebih tepatnya seringai"