
"Gimana? Bagus nggak?"
Anjani yang baru menatap sekelilingnya tidak menjawab apa apa, tapi dilihat dari pancaran matanya, gadis itu jelas senang. Selain indah, danau ini juga jauh dari hiruk pikuk kota. Sesaat tadi Anjani bahkan sempat terheran heran bagaimana bisa ada tempat se damai ini ditengah tengah padatnya bangunan Jakarta.
"Lo tau mamang yang jual bakso itu?" Raka menoleh, netranya langsung bersitatap dengan gerobak bakso yang Kanaya maksut.
"Itu langganan gue, gue tuh uda beberapa kali kesini" Setelahnya gadis itu tergelak, menginggat lagi bagaimana Raka mengindahkan tempat ini saat di mobil tadi, Raka juga bilang jika Kanaya pasti akan senang saat sampai, tapi pada kenyataannya Kanaya biasa saja, sebab tempat ini bukan sesuatu yang asing lagi untuk dia.
"Lo emang nggak seru nay,"
Lagi lagi Kanaya tergelak, kali ini Anjani juga.
"Tapi nggak papa kak, seengaknya gue belum tau"
Kata bocah tersebut. Tapi sekalipun begitu, Raka tetap mendengus.
"Btw disini damai banget loh, kalau kesini cuma buat teriak sayang kak"
"Nah sepemikiran nih Jan sama gue" Sahut Kanaya. Namun sebelum berujar kembali, ia memilih duduk terlebih dahulu, senyaman mungkin agar bisa memandangi danau yang cukup luas itu.
"Terlalu damai buat dibikin rusuh! Uda paling bener kita duduk begini. Terus liat kedepan, nggak usa memikirkan apapun kalau disini tuh"
"Kesambet nggak tanggung ya gue" Kata Raka dengan nadanya yang masih tidak enak. Tapi biarpun begitu ia tetap duduk di samping Kanaya, disebelahnya lagi ada Anjani dengan musik dari Hpnya. Dan hanya dengan begitu saja ketiganya langsung terdiam, menikmati cara angin menyapu kulit mereka juga menikmati alunan lagu yang diputar oleh Anjani.
Lagu dengan judul 'tanya' milik Dere,
Tidak ada yang mengikuti lagu tersebut sekalipun ketiganya pasti hafal, mereka hanya mendengarkan lagu itu.
Lalu di bagian Reff, Kanaya tiba tiba tertunduk, untuk sesaat ia tersenyum sembari mengiyakan apa yang Dere sampaikan lewat lagunya.
Banyak ... Yang aku tak akan tau ...
Yang kamu tak akan juga, tau jawabannya sejenak berhenti bertanya ...
Untuk sebentar saja Kanaya tidak ingin tau tentang apapun yang menyangkut Sakha ataupun Habibah. Untuk sejenak saja Kanaya tidak ingin tau bagaimana perasaan Raka sampai saat ini, Kanaya ingin terbebas dari prediksinya tentang mereka. Sebab 'tidak tau tidak selamanya bermakna menyusahkan, terkadang juga lebih baik begitu, diam dan berhenti mencari tau, tentang apapun yang sewaktu waktu bisa membuat kamu menyesal saat kamu sudah mengetahui.
"Eh, gue mau nanya dong sama kalian berdua, seumpama nih kalian punya kesempatan buat pergi keluar negri, kalian bakalan kemana?" Gadis itu mematikan lagu yang sebelumnya ia putar, bahkan sempat mengundang tatapan sinis dari Kanaya juga Raka, tapi setelahnya ia malah tercengir dan bertanya begitu.
"Gue nanya loh, denger kan?"
"Gue mikir Jan" Jawab Raka, karna dalam kepalanya, ada banyak negara yang ingin ia kunjungi, tapi belum pernah sekalipun ia ke negara negara itu
"Barca"
"Barca"
Anjani tidak lagi kaget, ia malah tertawa mendengar jawaban Raka dan Kanaya yang tidak hanya sama, tapi juga bersamaan.
"Kompak banget ya Allah. Alasannya apa nih, nggak boleh sama pokonya"
"Pengen aja, dari SMP gue pengen ke spanyol terus keliling Barca, siapa tau gue ketemu Lionel Messi" Kanaya dengan senyum lebarnya juga mata yang dia kedip kedip kan membayangkan bagaimana jika ia sungguhan bertemu dengan Lionel Messi, bintang di club Barcelona yang entah beberapa tahun ini menjadi idolanya.
"Kalau gue cuma pengen liat burung burung berterbangan disepanjang pantai, nggak tau pantai apa, tapi kata mama gue bagus pantainya"
Ujar Raka.
"Mama lo pernah kak?" Kali ini Kanaya yang bertanya, yang mana Raka langsung mengangguk
"Mama gue tuh bukan cuma ke spanyol aja, dia uda mengunjungi beberapa negara, cuma waktu itu gue belum lahir katanya"
"Kasiaan yang belum lahir, bahkan lo belum di adon tuh kayaknya"
"Janiiiiii"
"Lha gue bener kan nay?"
"Lo kalau ngomong ya Allah"
"Tau si jani, lo sendiri mau kemana btw?"
Anjani juga tidak langsung menjawab saat ditanya begitu. Ia terdiam beberapa saat, sebelum tersenyum dengan lebarnya.
Renjun, atau nggak Jeno gitu, atau nggak-"
"Atau nggak lo ketemu sapi Korea" potong Kanaya, jelas membuat Anjani seketika sewot.
"Khayalan khayalan gue kenapa lo yang sewot sih"
"Oh iya Kak, lo ngajak kita kesini uda izin sama Sakha?"
Raka yang tadinya hendak menjawab tidak jadi lantaran Kanaya lebih dulu berujar.
"Gue takut malah ganggu dia kalau izin, jadi kak Raka nggak gue bolehin buat ngomong ke dia"
"Ya nggak bisa gitu dong, ini kak Raka kayak menculik elo nihh"
"Sembarang" Raka tak kalah mendamprat. Bukan karna itu Kanaya tidak izin, pasti ada alasan lain, dan yang menjadi kemungkinannya, pasti anak itu sedang marah pada Sakha, hanya saja Sakha yang lagi lagi tidak peka. Kadang Raka bingung harus menyalakan siapa, Kanaya yang tidak mau berterus terang, Habibah yang entah sengaja atau tidak masuk kedalam rumah tangga mereka, atau Sakha yang sulit sekali untuk mengerti.
"Nay" Detik itu, dimana Anjani fokus dengan kamera dan agak menjauh dari mereka, Raka menjatuhkan telapak tangannya dipundak Kanaya, mengusapnya pelan agar Kanaya lebih tenang.
"Mending ngomong dulu sama Sakha, kelas terakhir dia juga kayaknya uda kelar. Dia pasti khawatir nyariin lo"
"Bisa jadi juga dia belum pulang kan, Sakha tuh punya kesibukan yang biasanya selalu mendadak kak. It's okay, gue bisa alasan hp gue mati"
"Nggak baik tau bohongin suami. Izin gih, atau gue telpon nih laki lo"
"Gue chat" putus Kanaya.
Raka hanya tersenyum. Kembali mengusap pundak Kanaya sebelum akhirnya ikut bersama Anjani dan Camera yang baru dia keluarkan dari tas.
"Gue ke Anjani dulu,"
"Sip"
Kanaya
Kha, lo langsung pulang aja ya! Gue lagi di danau biasanya, sama kak Raka juga sama Anjani
Awalnya centang dibawah buble itu hanya dua dengan warna abu abu, namun belum ada 3 menit warnanya seketika berubah biru, dan tidak lama pula Sakha sudah mengirimkan balasan untuk Kanaya.
Sakha
Kebetulan, gue juga masih nemenin Bibah nyari buku Nay, buat referensi tugas dia. Lo jangan pulang malem malem, sama bilangin Raka, hati hati kalau nyetir.
Bak kayu yang sudah lama di kerumuni rayap, angin sepoi sepoi pun bisa membuat kayu itu patah. Mungkin Kanaya saat ini kurang lebih begitu, tidak melihat langsung, tapi hanya diberitahu saja rasanya dia ingin menangis.
"Dari banyaknya perempuan disini, kenapa harus Habibah sih yang berhubungan terus menerus gini sama lo, lo berdua uda kayak keiket sama benang merah atas nama takdir tau nggak! Kenapa harus Habibah sih Kha, kenapa harus dia?"
•
•
•
Mau marah😂? silahkan!
mau mengumpati Kanaya, Sakha, Habibah, bahkan Tama yang nggak tau apa apa juga silahkan. Tapi disetiap cerita pasti ada Value yang disematkan oleh penulis, begitupun dengan saya. Jadi gapapa kalau kalian marah² dulu. Dan lagi, ini baru awal, setelah ini bakalan banyak part yang menguras emosi kalian, setelah ini mungkin juga banyak part yang membuat kalian lebih marah marah.
Tapi terlepas dari semua itu, tolong hargai bagaimana saya merancang alur cerita ini. Kalau ada yang enggak suka dan merasa cerita ini membosankan sebab masalahnya semakin kesini semakin rumit, nggak papa buat nggak baca lagi!
nggak papa buat menghapus cerita ini dari daftar favorit kalian.
Sebelumnya maaf kalau apa yang saya bilang ini rada kasar. Tapi saya to the point, saya menyampaikan ini agar sewaktu waktu kalian nggak kaget dengan chapter chapter selanjutnya, dan agar sewaktu waktu kalian nggak protes dengan cerita yang sudah saya buat
"kok jadinya begini sih kak? Kok malah ruwet? kok membingungkan ya semakin kesini?"
Ya memang akan begitu, tapi pada akhirnya cerita ini akan selesai dengan semua tokoh nya baik baik saja.
wassalam, terimakasih