
**Aku saranin kalian baca bab sebelumnya.
lagi? iya wkwkwk
biar nyambung**.
-
"Nay"
Tapi ketika Anjani hendak membawa Kanaya pergi dari sana. Sakha lebih dulu tau jika di balik tembok tersebut ada Kanaya, ada Kanaya yang berdiri di sana, lagi lagi gadis itu harus menyaksikan obrolannya dengan Habibah.
Dan saat satu panggilan itu hanya membuat Kanaya menghentikan langkah, Sakha tidak perlu berpikir panjang untuk berjalan ke Kanaya. Mendekat dan mensejajari langkah itu.
Langkah yang sudah dua hari ini dia biarkan sendiri. Langkah yang seolah tidak ia pedulikan lagi, padahal dalam ketidak tahuan Kanaya, Sakha tetap menjadi seseorang yang senantiasa memperhatikan langkah tersebut.
°°°
"Apa kabar?"
Sekilas Kanaya mengangguk, kemudian menunduk dan menatap nanar kepada rerumputan yang yang dia pijak.
"I'm okay. Seperti yang lo lihat" Jawab gadis itu.
Yang sebenarnya dia juga masih malas untuk bertemu Sakha. Terlebih ketika Sakha sok sok an lupa dengan apa yang terjadi di antara mereka. Dan yang membuat Kanaya masih ingin menggeplaknnya, apa permintaan maaf Sakha hanya sampai di malam itu.
"Gue minta maaf" Hingga lama keduanya terdiam. Angin yang berhembus kala itu seakan memberitahu Sakha perihal mengapa dia duduk disini, bersama dengan Kanaya.
Iya, untuk apalagi kalau bukan meminta maaf dan memperbaiki masalah mereka dengan cara yang baik.
"Untuk apapun itu, gue minta maaf"
"Dan gue nggak peduli lo butuh perminta maafan gue atau enggak. Tapi ketika gue sadar gue melakukan kesalahan, tugas gue yang pertama adalah meminta maaf. Mengakui kesalahan itu, dan bertanggung jawab untuk itu"
Dan ketika Kanaya hendak bersuara, Sakha lagi lagi memotongnya.
"Gue minta maaf bukan untuk menuntut lo supaya memaafkan gue detik ini juga. It's okay kalau nggak bisa sekarang, gue cuma perlu nunggu kan? Sampai lo bener bener siap buat maafin gue" Dan dia tersenyum setelah itu. Sangat tipis, nyaris tidak bisa membuat Kanaya mengakui jika Sakha baru saja tersenyum.
Pancaran matanya masih redup. Tapi dalam senyum yang sebentar tadi, Kanaya tentu menemukan kelegaan dari laki laki itu. Entah di bagian mana yang membuat dia merasa lega.
Sementara Kanaya masih diam. Bahkan ketika Sakha menatapnya kembali, tanpa mengatakan apa apa, dia juga masih duduk dengan ekspresi tenang di sana. Bedanya kali ini dia membalas tatapan itu.
Tidak papa jika keheningan tersebut berangsur lama. Kanaya sama sekali tidak mempermasalahkan.
Karna terlepas dari bagaimana sikap dia kepada Sakha, atau caranya memandang Sakha dua hari yang lalu, Kanaya tidak bisa membohongi dirinya sendiri perihal bagaimana ia yang sudah di buat jatuh oleh laki laki di depannya.
Entah sedalam apa, tapi yang jelas, dia ingin mengenggam Sakha lebih dari ini. Sekalipun Sakha adalah kaktus yang menyamar, Kanaya tidak peduli. Karna semakin ia mengenggam kaktus itu, sampai dia semakin terbiasa dengan duri durinya.
"Tapi gue uda nggak punya waktu buat marah, ataupun diemin lo" Kata Kanaya. Nadanya yang sarat membuat Sakha yang baru beranjak dan mengambil langkah tersebut seolah beku di tempatnya berdiri.
"Gue nggak punya waktu lagi" Katanya. Sekali lagi Kanaya memberi tau Sakha jika waktu untuk dia marah sudah habis.
Dan ketika Sakha masih terdiam di sana, terpaku dengan senyuman Kanaya, Kanaya memutuskan menjadi pihak yang melangkah, pihak yang menuju, dan pihak yang memeluk lebih dulu.
Tidak bisa di pungkiri jika Kanaya juga merindukan Sakha. Dan tidak bisa di pungkiri bagaimana perasaanya ketika ia berhasil meraih tubuh itu.
Terlebih ketika Sakha membalas pelukannya, dan memeluknya lebih erat dari dia yang memeluk Sakha. Seolah lelaki itu lebih tidak ingin kehilangan Kanaya.
"Biar lo nggak capek capek nyamperin gue," Ujar Kanaya.
Tapi Sakha tetap tidak mengatakan apa apa. Ia hanya memejamkan matanya dan menikmati pancaran matanya yang memerah tersebut.
Sungguh dia sangat mencintai Kanaya. Dan ketakutan terbesarnya saat ini adalah kehilangan gadis itu. Karna biar bagaimanapun, dia tau, ada kehilangan yang tidak bisa di temukan kembali. Bahkan tidak peduli bagaimana dia berusaha untuk menemukan kehilangan itu.
"Jangan kemana mana Nay"
"Gue disini"
"Jangan pergi"
°°°
Sakha tau di luar sana yang lebih cantik dari Kanaya itu banyak. Tapi apakah ada pemilik senyum yang lebih indah dari gadis itu?
"Kenapa sih?" Tanya Kanaya. Ia menatap aneh kepada Sakha. Yang sedari tadi terus memperhatikan dia. Bahkan ketika mereka masih berada di pelataran luas itu, di bawah pohon Ketapeng, yang Sakha lakukan hanyalah memandangi Kanaya, sembari memegangi tangan gadis itu.
Hingga ia merasa puas, barulah dia berhenti menatap Kanaya, dan menyandarkan tubuhnya pada pohon Ketapeng yang daunnya rimbun bukan main.
Tapi jangan kira tangan Kanaya sudah terlepas. Iya, tangan Kanaya masih di sana, dalam genggaman Sakha.
"Nay,"
"Hm"
"Laper nggak?"
"Enggak"
"Uda makan?"
"Belum"
"Kenapa?"
"Apanya?"
"Kenapa belum makan?" Tanya Sakha. Kali ini dia menyandarkan kepalanya pada pundak kecil Kanaya.
Tuh kan, apa Kanaya bilang, semenjak meminta maaf, Sakha malah jadi aneh.
"Karna belum laper"
"Makan nggak harus nunggu laper Nay"
"Iya"
"Tapi lo nggak akan menikmati makanan itu kalau memakannya dalam kondisi yang kenyang"
"Emang lo kenyang?"
"Nggak juga"
Yang laki laki menghela nafasnya. Kemudian menegakkan tubuh dan mengandeng tangan Kanaya untuk berdiri.
"Kita cari makanan enak di sekitar sini"
Kanaya tersenyum getir. Juga menahan tangan Sakha agar mereka kembali duduk.
"Gue nggak laper"
"Nanti lo sakit kalau makannya nggak teratur begitu"
"Makanya lo jagain gue," Kali ini ia menyandarkan kepalanya di pundak Sakha. Dan melirik sekilas hanya untuk menemukan Sakha yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa sih gue sukanya sama lo, harus banget ya gue cinta sama orang kayak lo"
"Cinta sama gue rasanya gimana sih Nay?"
Malah di tanyai seperti itu, Kanaya memilih menunduk. Ia tidak bisa menjabarkan jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Lo nggak mau jelasin apa apa lagi gitu ke gue?" Tanya Kanaya. Barang kali ada sesuatu yang belum ia tau.
Tapi saat Kanaya menatapnya dengan raut khawatir seperti itu, Sakha hanya tersenyum tipis. Lantas menggeleng dengan gerakannya yang pelan.
"Nggak ada"
Kemudian dia membawa Kanaya untuk bersandar kembali.