
"Temen kamu ada nggak sih yang juga udah nikah?"
"Ada. Ada yang punya anak malah."
"Anak beneran?"
"Sejarahnya ada anak boongan tuh gimana deh?"
Sakha yang tengah berbaring di paha gadis itu hanya tertawa kecil, sedang Kanaya masih mengusap usap rambutnya. Kanaya tidak tau awalnya bagaimana, tapi kegiatan seperti ini, sekarang menjadi kegiatan yang sering mereka lakukan. Kadang juga Kanaya yang tidur di paha Sakha, sekalipun saat itu Sakha sibuk mengerjakan tugas kampus ataupun tugas yang papa beri. Dan Sakha juga tidak pernah keberatan kalau Kanaya tiba tiba datang dan tidur di pahanya, sampai gadis itu ketiduran dan Sakha harus menggendongnya untuk pindah ke kamar juga Sakha tidak masalah. Karena bagi Sakha, menikah dengan Kanaya artinya dia mau menanggung segala konsekuensi atas gadis itu.
Pun demikian Kanaya. Dia rela kok setiap pagi di peluk Sakha sampai sesak nafas sendiri. Dia rela mendengar Sakha teriak 'Ambilin anduk aku dong Nay tolong!! padahal Kanaya selalu mengingatkan Sakha untuk mengambil handuk terlebih dahulu sebelum seenaknya masuk kamar mandi. Kanaya juga rela setiap masak di recoki oleh laki laki itu. Entah itu perihal Sakha yang tiba tiba menghampirinya dan merengkuh nya dari belakang. Sakha yang dimintai tolong mengambil garam malah mengambil gula. Sakha yang mengintili dia terus terusan.
Ataupun seperti saat ini, Sakha yang terus memainkan tangan tangannya.
Kanaya tuh sebenernya rada deg degan, cuma kalau ngaku ogah. Sebab resikonya pasti Sakha akan meledeknya habis habisan.
"Apa?" Tidak ada angin ataupun hujan, Laki laki itu tiba tiba menatap Kanaya. Cukup lama sampai Kanaya bertanya demikian.
"Aku tuh suka sama anak kecil tau Nay." Kemudian dia melepaskan tangan Kanaya dan bangkit. Untuk duduk dan berhadapan langsung dengan Kanaya.
"Iya tau." Jawab Kanaya. Gadis itu kemudian menata bantalnya dan berbaring. Dan ketika dia akan mematikan lampu, Sakha tiba tiba memeluknya. Otomatis laki laki tersebut juga tidur di sebalah Kanaya. Bahkan bisa Kanaya rasakan bagaimana hembusan nafas Sakha yang hangat dan teratur saking dekatnya posisi mereka.
Kanaya yang dari awal sudah panas dingin, mendadak jadi tidak karuan ketika kepala Sakha berada di lehernya. Kalau batin Kanaya, Sudah Gila. Jadi dengan gerakan yang hati hati Kanaya melepaskan tangan Sakha, kemudian dia yang memeluk Sakha hingga posisi mereka saling berhadapan.
Menurut Kanaya ini akan lebih baik ketimbang dia membelakangi Sakha. Tapi ternyata malam itu Kanaya seperti terjebak di antara dua lubang yang sama dalam. Dalam artian pilihan yang dia pilih tidak berarti lebih baik dari pilihan sebelumnya.
Sakha laki laki normal. Dia punya hawa nafsu dan dia tidak selamanya bisa mengontrol hawa nafsu tersebut.
Jadi ketika Kanaya akan menyembunyikan wajahnya di dada Sakha seperti malam malam sebelumnya, Sakha lebih dulu mencegah.
Lalu Dia menarik cengkuk leher Kanaya dan mencium bibir Kanaya dengan gerakan yang hati hati. Bagi Sakha syarat untuk melakukan ini hanya satu, jangan sampai membuat Kanaya kesakitan. Bahkan ketika dia akan memperdalam ciumannya, dia lebih dulu memastikan kondisi Kanaya dengan menjeda nya beberapa saat.
"Kalau kehabisan nafas ngomong Nay. Atau langsung dorong dada aku biar aku berhenti."
"Kalau kamu mau lebih dari ini, its okay."
"Kamu nggak takut?"
"Takut apa? Kan kamu bilang kalau ada kamu."
"Nggak takut kalau Hamil, nggak takut ngelahirin terus punya anak?"
"Nggak. Selama aku ngejalanin itu nggak sendiri."
"Mau ngejalaninnya sama aku?"
"Sama kamu?" Sakha mengangguk.
"Why not." Jawab Kanaya sebelum akhirnya dia yang menarik tengkuk Sakha terlebih dahulu.
°°°
Sepanjang lorong Sakha terus terusan melebarkan senyumnya. Hari itu hari yang cerah, seperti suasana hati Sakha. Saking cerahnya sampai setiap orang yang menatapnya dengan aneh, Sakha jutsu menyunggingkan senyumnnya pada orang orang itu. Mungkin sebagian dari mereka akan menganggap Sakha sinting.
"Naya!"
Sakha berlari kecil. Sedang Kanaya justru melebarkan matanya. Melihat Sakha seperti melihat hantu gara gara tadi malam. Jadi buru buru dia berjalan menjauhi Sakha.
"Mau kemana sih?" Kata laki laki itu begitu dia sampai di samping Kanaya. Bahkan Sakha sempat clingak clinguk. Siapa tau Kanaya ada janji dengan orang di lorong ini.
"Kamu ngapain sih?"
"Hah?"
"Ngapain manggil aku."
Sakha semakin bingung.
"Nay kok aku ditinggal sih?"
"Stop!" Kanaya tiba tiba berbalik, kontras dengan Sakha yang menghentikan langkahnya, sesuai perintah Kanaya.
"Padal aku punya sesuatu loh buat kamu." Kalau Kanaya pikir Sakha akan menurut, mohon maaf, dia salah besar. Buktinya Sakha tetap berjalan meski pelan pelan mengikuti dia.
"Yakin nggak mau?"
"Aku nggak lagi ulang tahun, simpen aja."
"Harus nunggu kamu ulang tahun dulu gitu kalau aku mau kasih hadiah?"
Dari depan sana terlihat Kanaya yang sudah menahan kesal, dia mempercepat lagi jalannya. Sakha pun demikian. Dia bahkan berlari untuk akhirnya bisa menahan lengan itu.
"Kenapa sih? PMS?"
"Apaan sih?" Tangan Sakha di hempas. Hanya beberapa detik sebelum Sakha memegang tangan Kanaya untuk yang ketiga kalinya.
"Kha!"
"Hmm?"
"Lepasin ih!"
"Nggak."
"Mau kamu apa?"
"Kamu tuh yang maunya apa? Nggak ada angin nggak ada hujan tiba tiba kayak gini. Kalau aku salah tuh ngomong Nay. Biar aku tau, biar aku bisa langsung minta maaf."
Ini dia tau nggak sih kalau sebenarnya gue malu!!
Iya Kanaya malu. Malu karena semalam dia malah seperti bukan Kanaya. Dan bisa bisanya Sakha bersikap biasa biasa saja seperti sekarang.
Rasanya Kanaya ingin kabur setiap kali melihat Sakha. Kabur sejauh mungkin. Sampai kalau perlu dia ingin punya super power yang bisa membuatnya hilang untuk beberapa hari ini.
"Kita kayak mau nyebrang tau nggak gandengan mulu." Gadis itu mencibir. Membuat Sakha terkekeh samar. Tapi tetap, dia tidak melepaskan tangan Kanaya barang sedetik pun.
"Ini yang aneh aku atau kamu deh?"
"Dua duanya kali." Karna kalau menurut Sakha dia juga sedikit aneh hari ini, sama seperti Kanaya.
"Dahh sana belajar yang bener!" Sakha baru melepaskan tangan Kanaya ketika mereka sudah di depan kelas yang akan Kanaya masuki. Diam diam Kanaya tersipu ketika diperlakukan sehangat itu. Tapi dia cuma bisa menahan senyum dan melirik Sakha.
"Apa? Mau salim?"
"Mana tangannya?"
"Beneran mau salim?"
"Cepet ih!!"
"Cium juga nggak? mumpung sepi tuh!"
"Ewhhh!" Kanaya pura pura jijik.
"Gaya!" Cibir Sakha.
°°°
#WARNING!!!!
Haiiii!
Sebelumnya Terimakasih buat kalian yang masih stay nunggu Sakha dan Naya. Maaf juga kalau ceritanya cuma up beberapa minggu sekali. Aku tau kok nungguin cerita masih on going itu nggk enak, cuma mohon pengertiannya.
Jujur rasanya kayak gimana gitu ketika aku update terus komentar kalian nggk jauh jauh dari 'Next kak' atau 'Lanjut lagi dong kak'
Iya aku tau kalian nunggu cerita ini, dan ini bukan masalah aku yg nggak seneng cerita aku di tunggu. Aku seneng kok. Tapi lebih seneng lagi ketika kalian fokus aja sama ceritanya. Aku lebih seneng dengerin kalian nyinyirin Sakha, ataupun Kanaya, ataupun gimana seharusnya Sakha dan Kanaya ketimbang terus di tagih update padahal aku baru update. Ini mohon maaf jg kalau aku nggk sopan.
Kalian tenang aja. Aku nggk akan kabur dari tanggung jawab. Aku bakalan selesain cerita ini. Cuma nggak bisa sat set.
Sekali lagi aku mohon maaf kalau kurang sopan 🙏