
"Bang"
"Hm"
"Menurut lo, mungkin nggak sih kalau Sakha itu suka sama gue?"
Rizal yang tadinya menggosok gosokkan kain ke sepeda motor kesayangannya kini tidak bergerak lagi. Dengan perlahan ia menurunkan kain tersebut, lalu menatap Kanaya yang juga masih menatapnya.
"Muka lo kayak bilang, nggak mungkin banget. Asli dah"
"Bentar bentar. Ini lo jauh jauh kesini, cuma nanya ke gue begini?"
Kanaya enggan mengangguk, tapi bagaimana lagi, dia kesini memang karna itu. Dan di banding bertanya pada mama atau papa, rasanya lebih baik ke bang Rizal. Sebab sengklek sengklek begitu kalau di ajak serius bang Rizal juga akan serius.
"Gue bingung bang," lalu yang Kanaya lakukan adalah memeluk dirinya sendiri. Sampai Rizal duduk disampingnya, gadis itu masih diam, ia mencoba mengingat segala hal tentang Sakha, terutama sikap lekaki tersebut yang semakin kesini malah semakin membuat Kanaya pusing sendiri.
"Kemarin malam dia bilang ke gue, kalau dia emang punya perasaan sama gue,"
"Terus?"
"Ya gue nggak bisa percaya lah, lo pikir aja! Cowok kayak dia, suka sama cewek macem gue? Gue punya apa sih bang, kalau gue yang naksir dia, itu uda pasti iya nya"
Lalu tanpa menoleh pada Kanaya, Rizal justru terkekeh.
"Cinta nggak selamanya hadir karna perantara fisik Nay. Kalau lo ngrasa lo jelek, bisa aja kan Sakha cinta sama lo karna sesuatu yang lain"
"Lagi pula gue tau, Sakha bukan tipe cowok yang suka mainin perasaan cewek. Saat dia bilang dia suka sama lo, yang harus lo tau ya itu, jangan malah nebak yang aneh aneh"
Sore itu, setelah obrolannya dengan Rizal selesai, Kanaya berusaha menyakinkan dirinya jika Sakha memang tidak berbohong. Dia betulan mencintai Kanaya. Hanya saja, Kanaya tidak bisa berhenti untuk ragu, terlebih ketika ia melihat Sakha dan Habibah, saat keduanya saling melemparkan senyum, mengobrol sebentar di belokan koridor kemudian berjalan beriringan untuk menuju kelas.
Lantas, apa kabar tangan yang baru saja Sakha genggam, juga hati yang baru saja hangat karna senyum selamat pagi dari dia.
"Capek banget kalau setiap gue ke kampus, gue selalu liat mereka yang kayak gitu" Kanaya berujar lirih, meski demikian, ia tetap melihat kebersamaan mereka, sampai punggung punggung yang saling bergetar tersebut tidak terlihat lagi, dan berganti dengan objek lain.
"Mau es krim nggak? Kayaknya gue ada uang receh deh di saku"
"Nggak ah, masih pagi" jawab gadis itu, kemudian kembali berjalan. Dan di belakangnya terlihat Raka yang langsung menyusul, sampai kakinya sejajar dengan milik Kanaya.
"Lo nggak ikut himpunan?"
"Nggak suka organisasi"
"Seru loh Nay, Sakha aja ikut"
"Dia mah rajin,"
"Habibah juga ikut katanya, denger denger bakalan satu departemen sama Sakha"
"Ya terus?"
"Nggak mau ngawasin mereka?" Tanya Raka. Bukan bermaksud mengompori Kanaya, sama sekali Raka tidak ada niat begitu. Sebelumnya Raka sudah bilang kan, untuk ukuran laki laki, rasanya terlalu banci jika merebut milik orang lain. Hanya saja Raka tidak mau sewaktu waktu Kanaya salah paham dengan kedekatan mereka. Karna setelah ini, sudah pasti keduanya akan semakin dekat, terlebih mereka satu departemen.
"Gue takut lo salah paham sama mereka kalau lo enggak tau secara langsung Nay"
"Santai kak,"
"Kalau enggak, lo masuk departemen gue aja deh, gue kasih tugas yang paling gampang nanti, yang bisa lo kerjain sambil nyantai"
"Gue nggak mau ngebuat orang repot cuma karna urusan gue sendiri. Jadi gue tetep nggak bisa gabung ke himpunan" Lalu setelahnya Kanaya menyungingkan senyumnya, sangat tipis agar penolakannya tidak membuat Raka kesal.
"Lo nggak perlu mikirin gimana gue, ataupun Sakha kak, sebab lo juga punya urusan sendiri, dan masalah Sakha sama Habibah yang satu departemen, itu nggak papa kok. Mungkin mereka emang cocok kalau di gabungin"
•••
"Ini kampus atau apaan coba, gede bener" Tama sampai terkagum kagum saat ia melewati jalanan di kampus itu, layaknya mahasiswa baru, mungkin Tama terlihat seperti itu sekarang, atau bahkan ia terlihat plonga plongo hanya karna mencari sosok Sakha .
"Sakha juga kampret banget astaga, sedari tadi gue chat enggak dibales, gue telpon nggak di angkat, maunya apa sih"
Sambil masih berjalan, Tama juga mendumel. Rasanya dia ingin meraup wajah Sakha dan membuang lelaki itu di rawa rawa detik ini juga, saking kesalnya dia pada Sakha.
"Kok gue kayak kenal ya sama cowok yang pake jaket denim itu"
Anjani yang disebelah Kanaya ikut menatap punggung lelaki tersebut, lalu setelahnya berdecak pada Kanaya.
"Emang bisa ya kenalin orang cuma gara gara jaketnya"
"Serius tau Jan"
"Itu kayak temen gue, Asli sih dia emang temen gue kayak nya"
"Eh Nay" Teriak Anjani, tapi tak ubahnya Kanaya masih berlari, untuk apa lagi kalau bukan menghampiri lelaki tadi, membuat Anjani menepuk Jidad sebentar, takut jika Kanaya malah salah orang dan yang malu dia juga.
"Lo ngapain ke sini?" Tanya Kanaya, tentunya setelah mereka menemukan tempat untuk duduk. Disana juga ada Anjani.
"Tuh tanya sama laki lo" Ujar Tama, masih terlihat kesal seperti tadi, apalagi setelah ia menemukan Sakha yang tengah berjalan ke arah mereka dengan kekehan nya. Di tambah lagi perempuan berkerudung yang Tama tau itu Habibah.
"Sorry tam, gue tadi ada rapat himpunan"
"Seengaknya bisa kan bales chat gue, butuh waktu berapa jam sih buat ngetik balasan ke gue"
"Kalau rapat tuh nggak boleh pegang HP, lo gimana sih" Sela Kanaya, tidak terima dengan nada sinis Tama barusan.
"Lagian kenapa coba nggak chat atau telpon gue"
"Gue kan janjiannya sama dia, bukan sama lo"
"Emang kenapa lo nyuruh Tama ke sini?" Kini tidak lagi pada Tama, pandangan Kanaya lurus pada Sakha, iya tepat pada Sakha, tidak Habibah atau ruang tengah di antara dua manusia itu
"Mau hangout bareng?"
"Enggak, gue cuma mau ngajak dia pergi ke Festival kampus"
"Dimana?" Giliran Anjani yang bertanya. Tidak mungkin di kampus mereka kan? Sebab tidak ada informasi apa apa, dan dengar dengar juga festival kampus masih lama disini.
"Di kampus Tiara, kebetulan ada temen Habibah juga katanya"
"Oh iya, Tiara bilang ke gue sih kemarin, hampir aja gue lupa" Sahut Kanaya. Sebenarnya tidak lupa betulan, ia ingin pergi berdua dengan Sakha, bukan karna takut Tama menganggu, Kanaya ingat Tama punya skandal dengan temannya itu, jadi rasanya tidak mungkin mengajak Tama ke sana
"Temen lo perempuan Bah"
"Iya"
"Jadi berangkat jam berapa?"
"Gue?" Tanya Anjani, memastikan ia di ajak atau tidak.
"Ikut aja Jan, seru pasti"
"Boleh?"
"Ya boleh lah," Kanaya lantas merangkul gadis itu
"Nanti gue kenalin sama temen temen gue pas jaman SMA"
"Gue pulang aja deh, takut malah ngerusak kebahagiaan Tiara" Ujar Tama, bersiap memakai jaketnya kembali. Tapi Sakha tidak akan membiarkan Tama pergi begitu saja, saat Tama sudah beranjak, saat itu juga Sakha menahan pergelangan tangannya.
"Minta maaf secara langsung itu lebih baik Tam, ketimbang lewat seseorang. Lo bisa bicara baik baik nanti, dan Tiara, seengaknya dia bisa dapet kejelasan dari lo"
"Tapi gue belum siap kalau sekarang" Tama melepaskan tangan Sakha, juga sempat melirik Sakha sesaat.
"Kha, boleh gue ngomong sama lo"
"Ngomong aja"
"Tapi nggak disini"
Ketiga gadis yang di sana masih memandang mereka, yang sama sama menyamping dari satu sama lain, dan sama sama berbisik pula.
"Lo beneran suka sama Kanaya?" Tanya Tama, tentunya setelah mereka menjauh dari gadis gadis tadi.
"Kalau emang iya, jaga dia baik baik Kha, nggak usa sibuk mikirin gimana cara buat dia bahagia, bisa menjaga perasaan dia aja itu uda cukup"
"Dan lagi, gue tau lo cerdas, gue tau lo punya banyak jawaban saat gue nanya gimana cara buat keluar dari masalah masalah gue, tapi disini," kali ini Tama menunjuk kepalanya,
"Disini masih ada otak buat gue mikir, saat gue enggak nanya ke lo, bukan berarti gue nggak bakalan bertindak untuk mengurus masalah gue, gue cuma butuh yang namanya waktu, untuk melakukan apapun itu"
-
-
-
**Dah, segini dulu ya!
jangn lupa like, komen, dan vote.
Boleh dong di share juga cerita nya, biar banyk yg baca.
Dan lagi, buat yg mau, Jngn lupa follow Instagram saya
@Verliatin_08
Biar bisa seru seruan di sana, dan kalau ada yg tanya tentang dear Sakha, bisa saya jawab langsung dari IG.
see you gais, jgn lupa jaga kesehatan, jaga kewajiban, pokoknya jaga yang harus di jaga!
Daaah!!
Happy reading**!