
"Wihh, tamu agung dari mana nihh?" Sapa Kanaya begitu dia keluar, tadinya pintu kontrakan diketuk seseorang dari luar, dan ketika dia berpikir bahwa orang itu Sakha, ternyata dia salah. Sebab yang berdiri didepannya sekarang ini justru Tama. Sudah lama mereka tidak bertemu, dan Kanaya merasa, Tama sempat hilang beberapa bulan terakhir.
"Apaan deh," Kata Tama dengan tawa ringannya.
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya tidak lama setelah dia berbincang di lapangan dengan Sakha, Tama memang sempat pergi ke luar kota. Mungkin kurang lebih seperti Sakha yang menerima pekerjaan dari papanya langsung, bedanya Tama cuma beberapa bulan saja, setelahnya dia memutuskan untuk kembali lagi ke sini.
"Kangen nggak lo sama gue?"
"Biasa aja,"
"Lo temen gue bukan?"
"Temen dong, kan kita uda klop,"
"Terus kenapa lo nggak kangen coba pas gue pergi?"
Kanaya hanya tertawa. Jenis tawa apa adanya tanpa dibuat-buat. Sebenarnya dia kangen kok sama Tama, tapi ya kangen yang biasa aja.
"Kuliah lo gimana?"
"Nggak gimana-gimana,"
"Nggak keteteran lo kerja sambil kuliah begitu?"
"Kalau ditanya soal keteteran apa enggak, ya jelas keteteran. Apalagi gue bukan orang yang bisa memanagement waktu dengan baik. Tapi gue kayak nggak punya pilihan waktu itu, dan gue rasa, gue harus ngelakuin hal tersebut."
"Keuangan lo lagi nggak baik gitu maksutnya?"
Bukan keuangan gue, Nay, tapi perasaan gue.
Lagi pula yang Tama lakukan semata-mata hanya untuk menjauh dari Kanaya sampai sejauh mungkin. Dia ingin memperlebar jarak untuk sementara dengan gadis itu, memang tidak lama dan tidak sepenuhnya itu bisa membuat dia merasa terobati, tapi setidaknya Tama merasa bahwa sekarang ini perasaannya sedikit lebih membaik.
"Lo baik-baik kan sama Sakha?"
"Baik kok,"
"Bahagia kan lo?"
"Iya,"
"Nggak disakitin kan lo sama dia?"
"Apaan sih?" Kanaya sampai tergelak dengan pertanyaan terakhir Tama.
"Yakan gue nanyaaa!"
"Ya tapi pertanyaan lo kayak pertanyaan bapak-bapak buat anaknya yang baru nikah lewat jalur perjodohan tau nggak."
"Btw Tam–"
"Hmm,"
"Lo uda nggak jualan martabak lagi?"
"Kayaknya uda nggak." Sedetik kemudian Tama menarik nafas panjang. Lagi pula Sakha juga sudah bergabung dengan perusahaan papanya, jadi dia akan berjualan dengan siapa.
"Terus?" Kanaya— gadis itu bertanya lagi
"Gue lagi nyari pekerjaan paruh waktu gitu sih, Nay, cuma belum ketemu aja sama yang srek."
"Yaudah nggak papa, yang penting lo uda berusaha nyari." Sesaat Tama tersenyum dan melirik gadis itu, tapi kemudian dia memilih untuk menatap ujung sepatunya dengan perasaan nanar. Beberapa bulan yang dia habiskan sebelumnya seakan membuat Tama yakin bahwa dia pasti bisa melupakan Kanaya dan keluar dari zona yang tidak masuk akal ini, tapi setelah dia bertemu dengan Kanaya lagi, rasanya sangat merepotkan.
Seperti kata Sakha, ini hak Tama, tapi Tama malah merasa dia tidak punya hak sama sekali. Meskipun hanya sekedar menyukai Kanaya tanpa gadis itu ketahui.
"Oh iya, buat lo," Kata Tama, menyerahkan paperbag yang entah berisi apa.
"Thanks,"
"Hmm."
"Gue langsung balik ya Nay,"
"Lo nggak nungguin Sakha dulu?"
"Nggak," Jawabnya sedikit tergelak.
"Dia pulangnya masih lama kan, gue juga abis ini ada yang harus diurus."
"Iyadeh yang makin sibuk."
Lagi-lagi Tama tergelak.
"Tuh tau,"
"Take care Tam!"
"Yoiii!"
°°°
Menurut papa, Sakha itu punya potensi besar di dunia bisnis, terlihat dari bagaimana ide-ide yang dia buat, proposal yang dia susun dengan timnnya atau bahkan bagaimana dia mempresentasikan ide itu. Dan papa rasa, Sakha memang cocok untuk menjadi penerus di perusahaan ini– bukan-bukan, lebih cepatnya bukan hanya penerus, tapi juga orang yang akan menggantikan papa dan membuat perusahaan ini semakin berkembang.
Sayangnya dia masih kuliah, jadi papa tidak bisa memberi tanggung jawab yang lebih besar, meskipun papa yakin, kalau Sakha juga bisa meng-handle tanggung jawab besar yang papa maksut.
"Nanti ada rapat sama banyak investor, mau kamu apa siapa yang presentasi dan narik perhatian para investor itu?" Tanya papa sembari membuka laptop Sakha, dan mengecek dokumen yang sudah anaknya buat.
"Biar Sakha pa," Kata Sakha. Selain dia yang masih belum punya asisten, dia juga tidak bisa menyuruh sembarangan orang, dia takut mereka justru tidak sepaham dengan pemikiran yang Sakha tuangkan dalam dokumen itu, dan akhirnya malah kacau.
"Ya sudah," Kata papa akhirnya.
"Oh iya," Papa seperti teringat sesuatu.
"Nanti malam jangan lupa datang, nggak usah terlalu formal nggak papa. Soalnya client nya temen papa sendiri." Sakha tersenyum dan mengangguki ucapan papa, baginya dia tetap harus berpakaian formal, bukan apa-apa, Sakha hanya ingin profesional.
"Terima kasih loh,"
"Santai pa, kayak sama siapa aja."
"Kadang papa masih nggak nyangka kalau kamu bergabung dengan perusahaan ini," Mendengar ucapan papa, Sakha sedikit tergelak. Ya jangankan papa, dia saja tidak menyangka kalau akhirnya akan ke sini. Tapi biarpun awalnya dia seperti terpaksa, lama-kelamaan dia terbiasa dengan pekerjaan dan suasana kantor yang memang suka tegang, dan Sakha harus mengakui satu hal, bahwa dia menyukai pekerjaan ini.
"Kamu jadi ngejar lulus dua tahun?"
"Lagi Sakha usahain pa, doain aja,"
"Semoga tercapai,"
"Makasih pa,"
"Kabar Kanaya gimana?"
"Baik,"
"Kalian juga baik-baik kan?"
"Iya kok pa, malah sekarang tuh aku sama Kanaya makin akur."
"Alhamdulillah," Papa ikut senang. Apalagi ketika papa mengingat lagi skandal yang terjadi sampai keduanya berakhir menikah di usia yang terbilang masih sangat mudah.
"Aku mau kabarin Kanaya dulu kalau hari ini pulangnya agak telat,"
"Titip salam buat menantu papa,"
°°°
Sakha
Sibuk ya kamu?
Yaudah kalau sibuk, nanti aku chat lagi ya!
Kanaya baru saja menyelesaikan semua pekerjaan rumah, dia menyapu, mengepel, bahkan mengelap meja supaya meja itu terliat lebih kinclong. HP nya dia silent, dan dia baru nggeh kalau ada pesan masuk.
Kanaya
Haiiii
Tadi sibuk,
Sibuk jadi istri yang rajin maksutnya
gadis itu menyelipkan emoji tertawa terbahak bahak, dan mengirimkan satu buble lagi.
Kalau sekarang uda nggak kok, kenapa, kamu masih mau telpon?
Lalu tidak lama Sakha betulan menelpon Kanaya.
[Nay, Assalamu'alaikum!]
"Wa'alaikumsalam. Kenapa?"
[Aku mau ngomong tapi janji jangan marah ya kamu,]
"Iya nggak marah kok,"
[Kalau ingar janji kamu dosa loh Nay,]
Kanaya tergelak, dia juga rada heran, pasalnya Sakha ini kenapa sih?
[Jadi gini–]
"Iya gimana?"
[Nanti aku pulangnya telat, telat yang bakalan telat banget,]
"Aku pikir apa,"
[Nggak papa ya!]
"Iya nggak papa kok,"
[Kamu jangan masak banyak-banyak.]
"Iyaaa,"
[Jangan marah, kan uda janji,]
"Nggak marah,"
[Nay,]
"Hmm,"
[Dapet salam dari papa.]
"Wa'alaikumsalam, salam juga buat papa,"
[Nanti aku salamin balik, sekarang kamu lagi ngapain?]
"Lagi duduk aja sih, tapi abis ini aku mau ngerjain tugas, tugas aku masih numpuk, kamu tau yang kemarin aku sampai lembur itu, nahh itu aja masih belum aku tuntasin," Di akhir kalimat gadis itu menghela nafasnya. Benar-benar lelah menghadapi berbagai tugas.
[Kaasiaaan!] Respon Sakha dengan tawa kecilnya.
"Nanti kamu bantu ya!"
[Nggak ahh, aku liat buku catetan aja uda mumet,]
"Ck," Kanaya berdecak sebal.
[Aku mau meeting, telponnya aku tutup dulu ya Nay,]
"Iya, btw semangat!"
Sakha mengulas senyumnya tipis, sebelum akhirnya dia mengucap salam dan benar-benar memutuskan sambungan telepon.
Rasanya seperti tidak masuk akal ketika dia mendapat ucapan semangat dari Kanaya barusan, dia seperti punya banyak energi sekarang, yang lucunya energi itu seakan berkali-kali lipat dari energi asli yang dia punya.
Sakha
Jgn begadang, nanti pas aku pulang aku bantu kerjain, kalau ngantuk langsung tidur aja nggk papa.
Kanaya tersenyum tipis, Sakha itu benar-benar ya, katanya tadi tidak mau membantu.
Kanaya
Katanya tadi males bantuin.
Sakha
Nggk tega.
Kanaya
Sakhaaa!!
lop dehhh!!
Sini sayang dulu, 😘
Sakha
Nggk menerima sayang jalur virtual.
Nanti aja, gas secara langsung.
Kanaya
Jujur merinding😭
Sakha
Pikirannya kemana-mana pasti
-
Assalamu'alaikum!!!
Minal Aidin Wal Faizin semuaa!!!
Terimakasih sudah menjadi pembaca yang baik, dan maaf kalau saya banyak salah, mungkin jg banyak ucapan saya yang mungkin membuat kalian tersinggung, tolong dimaafkan ya gais!!