DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 21



Hari ini akhirnya tiba, Hari dimana Kanaya mulai menerima statusnya sebagai mahasiswa. Hari dimana Kanaya harus bangun pagi, berebut kamar mandi dengan Sakha, berpakaian segila mungkin agar dicap mahasiswa baru yang patuh pada senior, sekalipun dia ditertawakan oleh banyak orang saat perjalanan kesini tadi.


Gadis itu berdecih sebelum melangkahkan kakinya lebih jauh untuk masuk kedalam. Dua orang senior dengan tampang congkaknya tiba tiba menghentikan langkah itu dengan langkah mahasiswa baru lainnya yang baru saja datang dan mungkin mereka telat, meski tidak sampai 10 menit, ketara sekali jika mereka tidak bisa lolos begitu saja tanpa hukuman.


"Baris"


Laki laki dengan jas biru tersebut menyuruh Maba yang baru datang untuk baris disisi yang sudah dia tunjuk, sedang perempuan disebelahnya hanya diam namun tetap memandang para maba dengan pandangan tak kalah tajam. Hingga pada akhirnya dia juga berteriak


"Denger kan teman saya bilang apa, BARIS!"


"Kalian ini sudah menjadi mahasiswa, masa baris aja enggak bisa bener. Enggak malu sama anak anak SMA yang kalau disuruh baris langsung baris, uda gitu diliatnya enak, rapi"


Sekonyong-konyongnya perempuan itu menyahut lagi "Enggak akan saya beri izin untuk masuk kalau barisan kalian masih petot petot begini"


Jangan lupakan tampangnya yang judes itu, rasanya kanaya ingin menggampar wajah tersebut andai saja tidak apa apa.


"Ini enggak salah barisan kita yang petot, jangan jangan muka dia tuh yang petot" Desis Naya yang langsung Sakha genggam tangannya, membuat mereka kini saling menatap


"Enggak boleh gitu sama senior" ujar Sakha sebelum melepas tangan Kanaya, lantas dia mengambil jarak agak jauh, berbaris dengan para laki laki lainnya namun pada kenyataannya, Sakha tetap berdiri tepat di samping gadis itu.


Kanaya tersenyum, menempelkan telapak tangannya dengan posisi miring di pipi kanan, kemudian meneriaki Sakha seperti berbisik disela sela dua senior tadi mengomel


"Semangatt"


Dan hanya dijawab Sakha dengan acungan jempol juga dengan bibir yang tertarik, membentuk senyum lebar ala Sakha


"Sekarang maju satu persatu dan jelasin apa yang ngebuat kalian telat"


Kanaya hampir tersedak setelah mendengar apa yang si lelaki tersebut bilang, apa begini rasanya disiksa oleh senior, tangan Kanaya bahkan sampai terkepal saking kesalnya.


"Ya kali sih gue bilang kalau gue telat bangun gara gara semalem masih nekat begadang demi Drakor" Kanaya sempat terkikik, tapi berhenti saat melihat bagaimana garangnya kedua orang itu saat mengintrogasi Maba laki laki yang saat ini sudah maju dan berdiri didepannya.


"Heh, lu nanti alasan apa?"


Anak yang tadi mendengus seolah menyesal telah menonton Drakor semalam kini bertanya pada Kanaya, tanpa peduli jika mereka belum kenalan Kanaya langsung menjawab.


"Jawab jujur ajalah, lagian ujung ujungnya juga pasti dihukum kan, lo mau bohong dengan alasan se-epik apa, tetap aja lo salah karna telat pagi ini"


"Ya juga sih ya"


"Yang pake pita ungu sama kuning, maju sekarang"


Semua Maba yang berdiri disana kompak celingak celinguk, mencari siapa perempuan yang berpita kuning dan ungu termasuk juga Kanaya dan gadis tadi, hingga pada akhirnya mereka menunjuk diri satu sama lain


"Lo"


"Lo juga" ujar Kanaya seraya menepis tangan yang baru menunjuknya dengan raut kaget.


"Yang bener aja heh"


"Perlu saya ambil orokan kuping buat kalian" Senior sialan itu berteriak lagi, alhasil Kanaya dan si gadis berpita kuning buru buru berjalan maju, meskipun langkah mereka sama sama berat..


"Kita salah apaan sih sampe disuruh maju"


"Mau dikasih duit jajan kali" balas Kanaya yang juga berbisik


"Yang ungu sini maju didepan gue"


Kanaya menunjuk dirinya, dan detik selanjutnya senior laki laki tersebut mengangguki pelan


"Gue enggak galak, buruan sini"


"Mampus" batin perempuan dengan pita kuning menterengnya, kata ibu, pita ini bisa membantu membuat harinya agar lebih cerah, secerah matahari yang bersinar di jam 12 siang, apa begini cerah yang beliau maksut.


"Nama lo siapa?"


"Kanaya kak"


"Raka"


Kanaya mengulang ucapannya "Kanaya kak Raka"


"Alasan kenapa lo telat?"


"Rumah saya jauh kak,"


Sesaat Raka terkikik, dan tawa renyahnya itu tidak lepas dari maba lain, termasuk gadis dengan pita kuning yang saat ini disuruh maju bersama Kanaya, hampir saja dia melongo kalau lupa jika ia diambang nyawa sekarang.


"Apa perlu saya jemput, biar kamu enggak telat lagi"


Kanaya spontan menggeleng, dan lagi lagi yang dia dengar adalah tawa Raka, lelaki tersebut tertawa bukan tanpa alasan, dia tertawa sebab gadis didepannya. Alasan gadis itu persis seperti saat Raka dulu yang juga pernah menjadi Maba, pernah telat, pernah dihukum dan diintrogasi seperti ini, Jawabannya sama dengan Kanaya jika ditanya mengapa dia bisa telat, tapi itu sungguhan, rumah Raka memang jauh dari kampus


"Kenapa, saya enggak akan malak kamu, lagian saya uda kaya"


"Kalau enggak, mana hp kamu"


"Buat apa?" Tanya Kanaya yang ketara sekali kebingungan, tapi Raka tetap menyodorkan telapak tangannya "Uda cepetan sini"


"Ka" desis gadis disampingnya, yang hanya Raka lirik dengan tampang tidak minat "Uda diem"


"Bisa enggak, modus lo itu dinonaktifin dulu"


"Lo tau apa? Lo cuma tau gue dari satu sisi, jadi gak usa banyak omong" begitu katanya, nyaris membuat yang lain ikut terkejut, tidak menyangka jika hubungan antara dua senior ini tidak sebaik yang mereka kira.


Sementara Kanaya, ragu ragu ia menyodorkan hp nya, meletakkan gawai tersebut tepat ditelapak Raka. Setelahnya Raka mengetikkan nomor disitu, menyimpan dengan nama Raka dan dia coba menelpon, hingga menghasilkan hpnya berdering, lantas mengembalikan itu pada Kanaya


"Kalau enggak lupa, besok pagi saya telpon. Saya bangunin sampe bangun biar enggak telat"


Kanaya tidak mengatakan apa apa, tidak mengiyakan juga tidak menolak, lalu kembali kebelakang saat senior tadi menyuruhnya kembali dengan seulas tipis. Tanpa gadis itu tau jika hidupnya akan berlanjut lebih rumit setelah ini, setelah seutas senyum itu akhirnya menghilang.


Sakha


Cie yang uda di gebet sama senior, sampe mau dibangunin loh biar enggak telat.


Sakha juga melibatkan emot tertawa diakhir chat nya. Kanaya yang baru saja menerima pesan tersebut seketika menoleh pada Sakha, Berharap dia cemburu tapi yang ada dia sendiri yang kecewa, tidak seperti yang dia harap, Sakha malah tersenyum lebar, seolah olah dia terima terima saja meski senior tadi sudah lancang menyimpan nomornya dikontak Kanaya


Dengan kekesalan yang kian bertambah, Kanaya balas mengetikkan sesuatu diatas layar hpnya, lalu dia kirim pada Sakha.


Anda


Seneng lo?


Sakha


Nyesek bos, mana itu cowok ganteng, kaya lagi, gue jadi insecure


Kanaya tertawa ditempatnya, tidak menyangka jika jawaban Sakha sekonyol ini


Anda


A masaaa, bohong kaliii