
Kanaya tau, tidak keramas setelah berminggu-minggu lamanya itu sama dengan menzalimi rambut sendiri. Tapi Kanaya juga punya alasan, ia terlalu malas untuk membelokkan kaki ke Indomaret depan gang, sekalipun sudah di sana, Kanaya malah lupa jika harus membeli sampo, alias Kanaya memang malas mencuci rambutnya, membiarkan rambut yang semula terawat tersebut benar benar tidak beraroma sekalipun saat disisir tidak rengket, atau rontok untuk memperjelas bagaimana ia di lantarkan.
Tapi setelah berminggu-minggu itu pula, Kanaya juga tidak nyaman dengan rambutnya. Saat ia lelah dengan setumpuk tugas, pasti ada jeda untuk menggaruk rambut, dan mengusap bagian ujung dari rambutnya yang semakin ke sini semakin lepek.
"Sabar, besok gue keramas kok, kalau bisa nih, gue pake 3 saset sampo sekaligus biar wangi" kata gadis itu semalam. Mungkin kalau rambut rambutnya bisa berbicara, setiap helai dari mereka akan kompak nyinyir, sebab saben malam juga Kanaya akan mengatakan hal itu, terlebih setelah ia garuk garuk kepala. Tapi di pagi harinya, rambut yang lepek tetap ia biarkan lepek.
Dan di pagi yang cerah ini, ujung ujung rambut Kanaya bergerak mengikuti angin, mereka tersipu sebab lama tidak berbaur dengan benda cair bernama sampo, iya, Kanaya betulan keramas pagi ini. Gadis yang selalu tampil natural setiap kali berangkat ke kampus tersebut seketika merasa kepalanya lebih enteng. Bahkan rambutnya tidak gatal lagi. Yang ia lakukan bukan lagi menggaruk bagian belakang rambut, justru menyisirnya dengan jari lantaran masih ada sebagian helai yang basah.
"Seandainya enggak ada acara hair dryer ketinggalan, sedari tadi ini rambut uda pasti kering" di tengah tengah menyusuri lorong tersebut Kanaya mendumel. Menyesali Hair dryer yang masih tertinggal di rumah mama. Kanaya rasa ia tidak butuh lagi benda semacam itu, nyatanya?
Kanaya
Abang sayang! Sibuk nggak?
Di sebrang Rizal yang baru menerima pesan itu semakin mendekatkan wajahnya pada layar. Bahkan membutuhkan waktu hampir satu menit Rizal membaca pesan itu sebelum mengusap layar yang masih terkunci tersebut. Sebelum akhirnya ia juga mendengus.
Abang
Dimana?
Kanaya yang sudah duduk di kursi taman kampus seketika tersenyum sembari mengepalkan tangannya. Sudah ia duga pesannya akan langsung di balas, sekalipun tadinya Rizal tidak aktif.
Anda
Di kampus dong, kan gue anak rajin
Abang
Mau minta tolong apaan? Jemput?
Anda
No
Lo enggak lagi kerja kan?
Abang
Nggak
Lagi lagi Kanaya memekik
Naya
Kalau gitu gue minta tolong dong
Tuh kan, Rizal sudah menduga. Kalau pesan pertama Kanaya saja sudah semengerikan itu, bisa di pastikan bakalan ada udang di balik batu.
Naya
Bang, tolong ya, tolong banget ini mah, ambilin hair dryer di kamar gue, terus anterin ke sini
Mata Adam memincing, ia yang semula rebahan dengan tenang seketika mengangkat bagian atas tubuhnya dengan posisi lutut dan kaki masih menempel dengan tebalnya selimut.
"Dia dimana sih, katanya kuliah, tapi minta di ambilin hair dryer"
Abang
Lu kan kuliah, ngapain bawa hair dryer? Please deh Nay, sekali aja hidup lo jelas
Naya
Bang, ini tuh biar lo nggak jauh jauh nganter ke kontrakan, lebih deket kalau lo nganternya ke sini, udah ya, lokasinya gue share lock setelah ini. Pokoknya gue tunggu
Pesan itu langsung masuk
Lalu selanjutnya posisi yang Kanaya kirimkan juga menyusul.
Di kamar dengan sprei Barcelona tersebut Rizal jelas mencak mencak. Ia langsung menggetikkan balasan pada Kanaya. Jadi bukan Kanaya kalau tidak ingin di geblak. Dengan pintarnya gadis itu mematikan data, dan menambah emosi Rizal sampai semua darahnya seakan mendidih.
••
"Nay,"
"Ha"
"Lu kenapa sih?"
"Kenapa apanya?" Tanya balik Kanaya, masih dengan memandangi layar Hp. Jangankan meluangkan waktu untuk menoleh pada Rizal, Mocca yang beberapa saat lalu ia pesan juga belum di sentuh sama sekali. Padahal kalau di ingat lagi, Kanaya tadi merengek layaknya anak anjing yang di tinggal ibunya hanya untuk memalak Rizal.
"Bang,"
"Apaan"
"Lu kenapa nggak gini aja sih wajahnya" Detik dimana Kanaya mengarahkan layar Hp ke Rizal, detik itu juga Rizal langsung memperhatikan foto laki laki yang sedari tadi Kanaya pandangi, hingga ia mengsam mengsem seperti orang tidak waras
"Siapa nih? Jadi orang ganteng bener"
"Nah kan" Kata Kanaya, sangat setuju dengan apa yang Rizal bilang.
"Heh, tapi kalau lo punya idola begitu, sewajarnya aja, jangan berlebihan"
"Iya tau"
"Tau apaan, tau tapi kok dari tadi lo liatin dia"
Sejenak Kanaya berdecak, tapi setelah ia berpikir lagi, ucapan Rizal ada benarnya. Sekalipun ketampanan Lee Jeno atau Jaehyun membuat Kanaya mengsam mengsem dari pagi bertemu pagi berikutnya, tidak ada kemungkinan jika besok Kanaya bisa bertemu, saling mencintai, lalu menikah dengan salah satu dari dua orang tadi. Yang ada malah kejiwaan Kanaya yang terganggu.
"Sakha masih ada kelas? Sampe jam berapa?"
"Uda selesai kayaknya"
"Nah terus?"
"Dia kan ikut himpunan, terus hari ini ada rapat di Sekre"
"Lu?"
"Gue nggak ikut, males"
Malas mengikuti program kerjanya, juga malas melihat kedekatan Habibah dan Sakha, apalagi mereka satu departemen. Sesekali Kanaya mungkin bisa mengontrol yang namanya emosi tapi kalau setiap hari dia di suguhkan pada pemandangan yang sama, Kanaya bisa saja marah marah secara langsung. Mungkin alasan lain selain malas ya itu, dia takut.
"Lu tau nggak bang, Sakha satu departemen sama siapa?"
"Orang"
Kanaya jelas mendengus, kontras dengan Rizal yang seketika tergelak.
"Kenapa sih? Sakha deket sama cewek?" Sebab kalau sudah begini, Rizal yang belum di beri tahu, sudah pasti tau. Lagi pula problematika remaja tuh apa sih selain percintaan.
"Nay, lo tau nggak, cinta tuh nggak bisa pindah segampang itu. Kadang jatuh cinta bisa sama susahnya dengan melupakan. Jangan asal nebak deh. Apalagi deketnya Sakha sama cewek lain tuh karna apaan sih, paling nggak jauh jauh dari tugas"
"Ya Iya sih, cuma kenapa harus cewek itu. Ok fine dia gabung ke himpunan, cuma lagi lagi dia sama Habibah, satu departemen pula. Lo tau nggak dia masuk ke departemen apa, humas bang humas"
"Kalau ada acara di luar kampus, uda pasti mereka bakalan pergi berdua"
Lagi lagi Rizal tergelak, yang tentunya setelah itu mendapat hadiah berubah lirikan tajam dari Kanaya.
"Gini deh Nay, lo kan uda dewasa ya, lo uda besar. Jadi coba lo ngeliat dunia ini dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Lo jangan jadi orang yang sedikit sedikit negatif thinking. Jangan jadi orang yang sedikit sedikit tersinggung. Coba lo pikir lagi, seumpama Sakha sama Habibah kerjanya enggak bagus, rekan rekan mereka bakalan ikut kerasa dampaknya gimana, seumpama mereka enggak cocok jadi ketua dan wakil departemen, ketua himpunan mungkin bakalan ngoper Habibah ke departemen lain, atau Sakha yang di oper. Nah buktinya, sejauh ini ada simpang siur begitu nggak?"
Kanaya menggeleng
"Malah kata anak anak tuh, kerja sama mereka bagus"
"Tuh, sebelum cemburu usahkan mikir dulu, pantas nggak lo cemburu"
"Bukan karna lo siapanya Sakha Nay, tapi kedekatan Sakha dengan perempuan lain itu gara gara apa?"