DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 52



2 jam lagi, Jumat akan selesai, berganti Sabtu yang masih terkesan pilu.


Dan Sakha masih di sana, merangkul Habibah yang tengah menangis sembari menyaksikan bagaimana kobaran api itu melahap ruang demi ruang yang ada di dalam. Membakar kenangan demi kenangan yang seharusnya masih tersimpan dengan rapi. Sampai barang barang berharga Habibah juga ikut di lahap habis.


Sedari tadi Sakha tidak mengatakan apa apa, bahkan saat warga berbondong-bondong menyiramkan air untuk memadamkan api tersebut, ia hanya diam di sini, bersama Habibah yang menangis.


Tidak ada kata


'lo tenang'


Atau


'semua akan baik baik saja'


Sebab jika dia ada di posisi Habibah, dia mana bisa tenang. Dan Sakha tidak pernah mengerti kedepannya akan bagaimana, jadi dia juga tidak bisa mengatakan jika semua akan baik baik saja.


Tapi di dalam hatinya, Sakha selalu yakin, waktu akan membawa langkahnya menuju titik di mana segalanya akan membaik. Dengan perlahan lahan.


"Kata papa rumah ini nggak boleh di jual Kha," Hingga ketika Sakha masih mendongak menatap kobaran api itu, suara lirih Habibah mulai terdengar.


Sakha tidak bisa menyebutkan lebih baik, sebab sama seperti kali pertama ia di sini, Habibah masih terlihat seberantakan itu


"Nggak perlu di jual Bah, sementara lo bisa ngontrak"


"Terus rumah ini?"


"Biarin dulu, sampe lo uda punya uang buat memperbaiki, lo bisa tinggal di tempat lain"


Habibah mulai melepaskan dirinya dari rengkuhan Sakha. Ia meninggalkan ruang hangat itu dan kembali menatap getir keadaan rumahnya.


Rumah ini ibarat gudang kenangan untuk Habibah, itu salah. Karna sekalipun keadaannya sudah hangus seperti ini, bukan berarti kenangan yang di dalamnya ikut terbakar, pemikiran Habibah salah jika begitu.


Sebab di banding rumah ini, di sana, di dalam hati dan benak Habibah, kenangan itu nyatanya masih ada. Dan sebenarnya letak kenangan itu bukan di sini, melainkan di hati dan benak nya. Rumah ini hanyalah pembantu Habibah untuk mengingat hal hal indah itu jika sewaktu waktu dia lupa.


Berbagai kenangan yang pernah ada, memiliki satu kepastian yang sama,


Habibah pernah bahagia di sini.


Bersama mama, bersama papa.


"Mau ikut gue pulang? Sama mama lo sekalian"


"Nggak usa Kha, biar aku sama mama nanti tidur di mushola, di sana ada mushola kok"


"Di kontrakan gue aja Bah, besok baru gue cariin kontrakan. Kalau enggak di rumah orang tua gue"


Sekali lagi Habibah menolak. Ia menelpon Sakha bukan karna niat membuat lelaki itu kerepotan. Hanya saja Habibah bingung harus meminta bantuan kepada siapa selain Sakha. Sebab sejauh ini, temannya hanya Sakha, yang benar benar peduli kepada dia hanya Sakha.


"Makasih uda mau dateng, dan maaf kalau aku ngebuat kamu repot"


Sakha membalasnya dengan senyuman tipis.


"Gue juga nggak ngapa ngapain kan, sedari tadi gue cuma diem di sini. Jadi jangan ngerasa ngebuat gue repot"


"Makasih juga uda peduli sama aku" Habibah berujar lagi. Hingga dengan begitu saja, Sakha menoleh kepadanya, menatapnya dalam waktu yang cukup lama. Sebelum ia kembali tersenyum.


Jika ada yang bertanya, apa Sakha mencintai gadis itu? Sekali lagi jawabannya tidak. Sakha hanya peduli.


Lelaki itu tau, suka dan peduli hanya di pisah oleh garis yang tipis. Tapi ia juga yakin, selagi dia masih bersama Kanaya, dia tidak akan melewati garis pedulinya, sesenti pun tidak akan.


"Kalau gitu gue balik ya"


"Hati hati ya Kha, dan sekali lagi makasih"


"Jangan lupa istirahat ya Bah" Kata Sakha. Ia usap pundak Habibah sebentar, setelah itu kembali menampakkan senyumnya.


"Sebenarnya gue nggak mau ngomong ini, tapi rasanya juga gue harus ngomong"


Saat Habibah masih terdiam, Sakha langsung melanjutkan ucapannya, dia bilang,


"Semua bakalan membaik, pelan pelan, kalau lo bener bener niat, lo mau berusaha, lo pasti bisa liat rumah lo kayak dulu lagi"


Meskipun itu tidak akan sama.


•••


"Ternyata lo masih inget rumah" Kanaya yang baru membukakan pintu tau tau berkata seperti itu.


Di sambut dengan demikian tentu Sakha kaget. Belum lagi ketika dia sadar bagaimana Kanaya. Bagaimana mata itu menatapnya, bibir itu berujar, atau wajahnya yang seolah mengatakan jika pemiliknya sedang tidak baik baik saja.


Hingga selesai melepas sendalnya, Sakha menghampiri gadis itu.


Yang justru membuat Kanaya tergelak bukan main.


'lo kenapa?" Sangat konyol di telingga Kanaya. Dengan matanya yang sayu, tubuhnya yang lemas, dan baju yang masih basah, pertanyaan Sakha hanya sampai di 'lo kenapa?'


"Lo nggak lagi mikir kalau gue abis siram siraman pake kran kan?"


"Gue serius Nay"


"Gue juga nggak lagi becanda" Kanaya yang masih malas berhadapan dengan Sakha langsung masuk ke dalam kamarnya. Tidak peduli dengan bajunya yang basah, ia malah merebahkan dirinya di kasur.


Ia menangis lagi, kali ini bahkan lebih hebat.


Dia tidak tau jika lukannya itu bisa di lihat, kira kira selebar apa dia mengangah, separah apa dia berdarah sampai Kanaya setersiksa ini.


"Nay" Dan Sakha akhirnya memberanikan diri untuk menerobos ke dalam. Menemukan Kanaya yang terbaring dalam kondisi menangis tentu ia bingung, tapi ia juga tidak mengatakan apa apa. Masih di sana, tapi juga masih diam.


Sampai Kanaya menarik kedua sudut bibirnya, barulah gadis itu menghapus air matanya dengan kasar.


"Harusnya tuh lo nggak usa pulang. Tadinya gue uda nggak nangis, tapi pas tau lo pulang, gue nggak bisa buat nggak nangis"


"Yang lo tangisin tuh apa?" Karna jujur sampai di sini pun Sakha tidak tau.


"Pertanyaan lo enteng banget ya, nggak ada yang lebih enteng lagi selain itu"


"Nay,"


"Lo brengsek" Dan Kanaya masih mengatakan semuanya dengan tenang, sekali lagi ia bilang,


"Lo brengsek, denger nggak?"


"Lo marah karna gue nolong Habibah?"


"Kha"


"Lo mau nolong Habibah kek, siapa kek, itu nggak masalah, tapi lo juga jangan lupa sama tanggung jawab lo"


"Lo tau nggak tadi hujannya kayak apa, lo tau gimana takutnya gue nungguin lo di halte, berharap supaya lo cepet nyampe tapi secara mendadak lo bilang lo nggak bisa dateng, demi Habibah yang rumahnya ke bakar"


"Kalau Habibah nangis, APA KABAR SAMA GUE, MIKIR NGGAK LO"


"Nay, tapi"


"Tapi lo peduli sama dia? Iya gue ngerti, gue paham. Bahkan gue baru tau tuh ternyata dia sepenting itu, sampe lo bisa ngebiarin gue sendirian. karna di banding gue, dia lebih penting, iya kan? Hebat lo"


"Nay,"


"Sebenarnya kalau lo mau sama Habibah, lo suka sama dia, lo bisa bilang"


"Dengan lo yang kayak gini gue malah ngerasa kalau di sini gue sebodoh itu buat percaya sama lo"


Gadis itu kian terisak, ia ingat Sakha pernah bilang untuk tidak menganggap pernikahan ini kesalahan. Tapi semakin ke sini, semakin Kanaya ingin memandangnya seperti itu. Bahwa pernikahan ini memanglah kesalahan.


"Nggak usa memaksakan diri lo buat bertahan sama gue, karna lo nggak harus berhasil dalam segala hal"


"Nay, dengerin gue, selama di sini, selama lo sama gue, lo liat keterpaksaan itu?"


Tidak, jawabannya tidak.


"Tapi di saat gue uda yakin sama perasaan lo, lo akan berubah lagi jadi sosok lain yang ngebuat gue ragu"


"Gak usa ragu" Kemudian laki laki itu datang mendekati Kanaya. Berniat menghapus air mata itu tapi dengan cepat Kanaya tepis.


"Di saat lo berpikir bahwa semua bisa lo jalani dengan gampang, lo salah Kha"


"Bahkan setelah hari ini, rasanya semakin sulit buat percaya kalau lo cinta sama gue"


"Maafin gue"


"Lo nggak perlu minta maaf" ia kemudian tertawa. Tapi dengan nada yang masih getir.


"Karna percuma Kha. Kalau lo masih kayak gitu, mending udah, sampai di sini juga gue nggak papa"




Buat yg mau, jangan lupa follow IG saya


Verliatin-08