DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Epilog



Selain dikenal akan kemewahan juga modern, tempat semacam Seminyak tentu menyimpan cerita untuk banyak orang. Tentang suguhan pantai indah yang daerah itu miliki, tentang vila-vila romantis yang siap disinggahi kapan saja, atau bahkan tentang angin yang mengisi daerah itu. Angin yang membuat banyak orang merasa, ada sebagian beban yang jatuh, setelah mereka mendatangi Seminyak. Juga angin yang membuat banyak orang merasa, bahwa pada saat itu, mereka bisa bernafas dengan lebih bebas.


"Nyadar nggak sih, kalau makin ke sini kita tuh makin lengket ke satu sama lain?" Di tengah-tengah perjalanan menyusuri pesisir, tidak tahu kenapa pertanyaan itu terlintas dalam benak Kanaya.


Tapi yang laki-laki justru tertawa, "Kamu doang kali."


"Nih buktinya, yang dari tadi gandeng-gandeng siapa?" Bahkan dengan tawa menyebalkan itu, Sakha menunjuk tangan Kanaya yang melingkari lengannya. Kanaya jelas keki, dia juga langsung melepaskan tangannya dari lengan laki-laki tersebut.


"Awas aja kalau nanti malem tidur sambil meluk-meluk, dikira gak sesek apa?"


"Warning nihh?" Lagi, laki-laki itu dengan ekspresi yang menyebalkan. Bahkan tawanya lebih melengking dari pada tadi, lantas dengan santai dia mengalungkan lengannya di pundak Kanaya. Seolah wajah kesal atau lirikan tajam milik Kanaya bukanlah apa-apa.


"I'm happy with you."


Beberapa detik setelahnya Sakha menunduk, menemukan Kanaya yang masih melirik dia dengan tatapan yang lebih melunak.


Sakha tahu dia ganteng, tapi percaya deh, ditatap selama itu membuat dia perlahan-lahan jadi salah tingkah sendiri, jadi wajar kalau dia langsung berdeham dan melepaskan rangkulannya.


"Liat-liat terus kenapa, sih?"


"Sensi banget kenapa deh? Orang cuma diliatin."


"Btw..." Gadis itu melirik ke arah sisi kanan, dan dia mendekati Sakha sekali lagi dengan berbisik.


"Itu bule yang matanya biru kenapa sih ganteng banget."


"Yang mana?" Sakha kaget, tentu saja, lalu ketika dia mendapat petunjuk dari Kanaya, dia langsung bertatapan dengan bule itu, bisa-bisanya dari tempatnya duduk dia juga memperhatikan Kanaya.


"Gitu aja ganteng, ganteng dari mananya sih?"


"Plis, itu mas bule ngeliatin gue terus astaga, jadi malu."


"Jujur aja Nay ... "


"Apa?"


"Aku gemes pengen nyolok mata dia." Sakha dan emosinya yang langsung meledak ketika miliknya dilirik oleh laki-laki lain.


°°°


Kanaya POV.


Bukan karena bertemu, Sakha dan gua akhirnya jodoh, tapi karena jodoh makanya bertemu, karena jodoh makanya satu hari Tuhan mendatangkan gue di hidup Sakha. Karena jodoh juga Sakha bisa menerima gue. Lalu sekarang, ketika kami menikah, dia juga harus membiasakan dirinya dengan segala yang ada pada diri gue. Nggak jelasnya gue, kekanak-kanakannya gue, bawelnya gue, atau bahkan gimana gue yang kadang-kadang masih suka marah cuma karena hal-hal kecil.


Tau gimana bersyukurnya gue ketika gue yang seperti ini malah bertemu sama Sakha yang kayak gitu?


Saking bahagianya, gue sampai nggak peduli gimana dia. Saking bahagianya, gue sampai lupa kalau di awal dia sama sekali nggak mengiginkan gue. Bahkan saking bahagianya, gue sampai nggak punya waktu buat mikirin perasaan dia pada saat itu.


Gue tahu nggak ada manusia yang sempurna, tapi entah kenapa kalimat itu terbantahkan gitu aja setelah gue ketemu sama dia. Gue seperti mendapat pengecualian, karena disaat yang lain nggak menemukan versi sempurnanya mereka, gua menemukan.


Yaa,


Sakha orangnya.


Sakha orang sempurna yang gue maksut.


Sakha orang yang membuat gue merasa bahwa gue adalah orang yang hidup dengan latar belakang beruntung.


"Pernah denger nggak, kalau cinta itu berkelana?"


Gue mencoba mengingat, lalu mengangguk dengan senyum tipis.


"Di novel apa gitu, kayaknya pernah deh nemu kata ini."


"Aku nggak banyak berkelana sih, jadian sama orang juga cuma beberapa kali aja, but you know? Yang sekarang ini yang paling nyaman."


Karena Kha, nggak tahu kenapa aku bisa sebahagia ini. Meski cuma liat kamu. Meski cuma kamu ada di sini. Meski sesederhana, kamu ngasih atensi kamu sepenuhnya ke aku, dan aku ngasih atensi aku sepenuhnya ke kamu.


"Nay ... stay in here with me."


"Yang lama..."


Keinginan dia itu ...


adalah sesuatu yang memang ingin gue usahakan. Karena gue juga mau bersama dia dalam waktu yang lama. Karena gue juga nggak ingin kemana-mana.


Dear Sakha,,,


Cowok yang sekarang di sini, bersama gue, yang kadang masih nggak gue sangka kalau hubungan gue dan dia udah seserius pernikahan, thanks to All. Gue nggak bisa menjabarkan arti 'semua' dari yang gue maksut. Karena 'semua' itu mencangkup banyak hal.


"Sakha,"


"Hmm?"


"Berharap sama manusia tuh konyol banget nggak sih?" Dia mengangguk dengan sedikit tawa.


Tapi kenapa gue malah berharap ke dia. Sama seperti dia yang berharap agar gue nggak pergi, gue pun begitu.


"Terus kenapa kita malah berharap ke satu sama lain kayak gini?"


Lagi-lagi dia hanya merespon kalimat gue dengan tawa, lalu perlahan-lahan dia membawa kepala gue ke tempat yang lebih nyaman ... her shoulder. Dan dia bilang,


"Nyatanya, Nay, manusia nggak akan bisa membebaskan diri dari rasa takut."


"Aku berharap supaya kamu nggak pergi karena aku takut kamu pergi."


"So dont go." Kalimatnya yang lain, kalimat yang dia ucapkan dengan sangat lirih, tapi masih mampu untuk gue dengar.


Jangan pergi katanya,


Saat itu gue hanya balas dengan seulas senyum tipis. Tahu kenapa? Karena gue memang nggak ingin melakukan itu. Yaa,,, gue nggak ingin pergi dari dia.


Alasannya banyak, salah satunya mungkin karena gue merasa, gue nggak akan bisa dapet patner kerja sama sekeren dia.


°°°$elesai°°°


 


Kamis, 06, Oktober, 2022 'Dear Sakha' resmi selesai.


Kalau kalian sampai di part ini, saya akui kalian pembaca yang sabar wkwkwk.


Dear Sakha adalah cerita tentang dua remaja yang terjebak dalam hubungan sesakral pernikahan. Di awal Sakha bukan siapa-siapa, dia cuma laki-laki sederhana yang berani mengambil tanggung jawab besar dengan jalannya sendiri. Iya Sakha nggak mau bergantung, karena yang Sakha tahu, laki-laki harus bisa berdiri dengan kakinya sendiri.


hidup Sakha dan Kanaya juga nggak selalu tentang kemewahan, nggak selalu tentang bahagia, bahkan mereka pernah ribut besar karena nggak bisa memahami satu sama lain. Tapi dari ribut besar itu juga mereka jadi lebih di dewasakan.


Intinya cerita ini juga bercerita tentang bagaimana keduanya saling menerima, bagaimana keduanya bekerja sama, dan bahagaimana keduanya bisa terbiasa dengan satu sama lain.


Selebihnya Terima kasih karena sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita saya.


Sampai jumpa di cerita saya yang lain.



"Nggak pamitan dulu apa sama mereka?"


"Nanti makin berat ninggalinnya Nay, kalau pake pamitan"


"Oh iya juga sih yaa."