DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 31



Kali ini yang Kanaya maksut pulang bukanlah ke kontrakannya, melainkan pulang ke rumah mama dan papa, Kanaya ingin mencari ketenangan sebentar disana. Ia rindu mendengar petuah petuah papa yang bukan hanya panjang itu. Ia juga rindu dengan dekapan hangat dari mama, juga ocehan tidak penting bang Rizal.


Tapi setibanya disana, kata bang Rizal papa dan mama baru saja keluar, kondangan ke teman mama dibandung jadi sepertinya mereka juga akan menginap.


"Lo mau apa, teh hangat atau kopi atau jus atau_"


"Gue mau tidur"


Rizal jelas melongo, makin melongo lagi saat Kanaya betulan berjalan ke atas. Ia jadi berpikir, pasti ada yang tidak beres. Sebab ia tau bagaimana Kanaya, kebahagiaan gadis itu kadang tercipta lewat hal hal sederhana yang unik, sesederhana bisa memperbabu Rizal misalnya, jadi kalau niat baik Rizal ditolak begini, dia pasti kenapa kenapa, tidak mungkin tidak.


"Lo kenapa sih, ada masalah?"


Kanaya menggeleng, kebetulan ia baru saja mengganti bajunya jadi pas Rizal masuk Kanaya sudah berbaring di ranjang dengan kedua tangan yang dia letakkan dibawah kepala juga dengan pandangan lurus pada langit langit diatasnya.


"Mau gue telponin mama?"


"Gue tuh nggak papa, nggak percayaan banget sih"


"Heh Surti! Kalau nggak papa muka lo kenapa begitu hah, Dateng Dateng basah kuyup, ditawarin yang enak enak nggak mau"


"Cuma capek aja bang, serius"


Lagi dan lagi Rizal menghela nafasnya. Ia menutup pintu kamar Kanaya dengan pelan, lalu ke dapur dan membuatkan adiknya itu teh hangat. Rizal tidak selalu identik dengan menyebalkan, kadang ia juga bisa seperhatian ini pada Kanaya, lelaki itu juga menyempatkan ke kamarnya untuk mengambil jaket tebal, dan setelahnya masuk lagi ke kamar Kanaya.


"Bang"


"Hm"


"Di kulkas ada es krim?"


"Ada,"


"Ambilin dong, gue pengen"


Dingin dingin begini! Seharusnya kalau dalam kondisi normal pasti Rizal akan mengoceh melebihi papa, tapi melihat bagaimana Kanaya, ia akhirnya menurut, turun lagi dan mengambilkan dua bungkus es krim, untuknya satu dan untuk Kanaya satu.


"Teh nya jangan lupa diminum, sama jaketnya pake gih"


"Gue tuh nggak suka teh"


"Lo mau apa lagi, terus terang aja deh mending. Sebelum gue tendang lo dari sini, mumpung gak ada mama juga kan"


"Jahat ih"


"Bodo"


Sekonyong-konyongnya Rizal yang begitu, Kanaya malah tertawa. Apa dia bilang, dia pasti dapat ketenangan dari rumah ini, meski Rizal sinting begitu tapi berguna juga, terbukti setelah kekacauan tadi, perasaanya perlahan menghangat padahal sesampainya disini juga yang dia lakukan hanya berdebat dengan Rizal.


"Kayaknya gue pengen cendol deh bang"


"Kalau enggak sup buah gitu"


"Lo mau es batu, noh di kulkas banyak noh, bilang aja mau berapa?"


"Itu sih elo"


"Serius dong nay, masa dingin dingin begini lo maunya yang begituan. Kebab aja dehh"


"Itu juga boleh"


"Dasarnya Surti yang begini niiih".


Kanaya tercengir, tidak masalah namanya di gonti ganti begitu, asalkan hari ini dia bisa memoroti Rizal, sekalipun gaji Rizal bulan ini habis karenanya Kanaya tidak peduli. Yang Kanaya tau Rizal itu tidak pelit dan dia juga tidak cukup sadar diri sebagai adik.


Dengan Hoodie kebesaran milik Rizal, gadis itu berjalan sambil meringkuk, sebab suasana masih saja dingin meski hujan sudah reda sejak tadi.


"Itu kebabnya gede, cuma rasanya enggak seenak yang disana"


Di beritahu begitu Kanaya jadi diam sembari melirik dua gerobak kebab yang ditunjuk Rizal secara bergantian, awalnya dia bingung harus membeli yang sebelah kanan atau kiri jalan, tapi setelahnya ia tersenyum membuat Rizal was was sendiri


"Kalau bisa dua kenapa harus satu"


Dan benar kan! Sedari tadi Rizal sudah berfirasat buruk tentang hari ini.


"Habis ini pulang"


"Lo nggak kangen sama gue?" Kanaya dengan dua matanya yang sengaja dikedip kedipkan. Dimata Rizal yang semacam itu bukannya mengemaskan, malah ia ingin mencongkel mata Kanaya andai kata dia tega.


"Dibanding kangen sama lo mending kangen sama mama"


"Gue aja kangen"


Sebab Kanaya versi normalnya memang se-keterlaluan itu.


"Lo tuh kebiasaan. Lagian duit gue juga banyak"


"Mau berapa?" Tanya Rizal begitu selesai menghembuskan nafasnya, yang mana langsung Kanaya jawab dengan 5 jari yang dia perlihatkan ke arah Rizal dan wajah diimut imutkan, seketika Rizal melotot, ia belum gila jadi mustahil jika dia menuruti adik sintingnya ini.


"Kalau aja boleh beli setengah, uda gue beliin yang setengah lo"


"Lo masih inget nggak sih kalau orang pelit itu kuburannya sempit" sahut Kanaya begitu Rizal baru saja memesankan kebab untuknya, lelaki itu sungguhan hanya memesan satu kebab.


"Yang bener aja sih lo, masa cuma pesen satu"


"Lo inget nggak papa pernah bilang kayak gini, sesama saudara itu lebih Afdal kalau pesan makanan seporsi aja terus dibagi, dimakan bareng sama saudaranya, itu bisa memperat yang namanya kerukunan" balas Rizal.


"Bilang aja lo nggak punya uang,"


"Dih apaan, uang gue banyak, tapi kata ibunda, gue harus hemat meskipun uda tajir melintir begini"


Kanaya mencebik dengan bibirnya yang menye-menye


"Tajir apaan, tajir tapi mobilnya masih nyicil"


•••


Sehabis sholat magrib, dan sehabis makan masakan Rizal, Kanaya akhirnya diantar pulang oleh abangnya itu, katanya dia bisa mendadak gila jika Kanaya lama lama dirumah apalagi kalau mama dan papanya sedang bepergian seperti ini.


"Nggak mau mampir?"


"Gaya bener nawarin gue mampir"


"Basa basi doang sih" Ujarnya setelah itu jujur. Rizal tidak mengatakan apa apa, dia langsung merebut helm ditangan Kanaya dan meliriknya sinis.


"Hoodie kesayangan gue tuh, awas aja kalau nggak lo kembaliin" ia juga memperingatkan Kanaya tentang hoodie nya. Biar bagaimanapun itu Hoodie kesayangan Rizal, sebab pertama kalinya ia gajian ia langsung membeli Hoodie tersebut. Jadi sangat tidak rela jika harus diberi kepada Kanaya secara cuma cuma begini.


"Iya, lagian Hoodie jelek begini gue mana mau"


"Heh bocah, sembarangan kalau ngomong"


"Becanda bang, baperan banget sih"


"Uda masuk"


Kanaya melambaikan tangannya, sangat lucu ketika gadis itu menjauh dan terlihat sekali Hoodie yang dia kenakan selongar itu. Kanaya jadi nampak mungil dan orang orang yang tidak mengenalnya mungkin akan berpikir jika gadis itu baru menginjakkan kaki di bangku SMA saking kecilnya.


"Bang"


Rizal menoleh, mendapati Sakha dengan pakaian rapih di jam segini tentu ia kebingungan. Dan tidak mungkin juga jika tampilan serapi ini dipakai untuk menjual martabak.


"Lo dari mana? Rapi bener"


"Oh ini,"


"Ini pakaian buat kuliah tadi sih, gue tadi ada urusan jadi baru pulang"


"Pantesan"


"Abang ngapain disini, enggak mau masuk?"


Yang ditanya begitu malah menggeleng, siap memakai helmnya dan siap mengendarai motor lagi untuk pulang.


"Tadi Kanaya pulang pulang basah kuyup, kayak kehujanan gitu, terus dia main main dulu sama gue dan baru mau pulang ke kontrakan sekarang"


"Jadi Kanaya baru pulang"


"Iya"


"Kenapa bisa basah kuyup, Abang ngajak dia hujan hujan"


"Heh Mukidi, sembarangan banget sih, pantes lo jadi suaminya Kanaya"


"Nah terus"


"Dia kayak kehujanan gitu, kan siang tadi hujannya rada deras bukan sengaja hujan hujan apalagi karna gue yang ngajak"


"Abang beneran nggak mau mampir"


Sekali lagi Rizal menggeleng. Dan tau tau Sakha malah berlari ke rumah,


"Wajar nggak sih gue ditinggal begini, berasa gue bukan siapa siapanya astaga!"