DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 33



Bagi Kanaya, naik motor tidak akan seru kalau dia tidak bernyanyi disepanjang melewati jalanan Jakarta. Tidak berteriak hanya bernyanyi biasa sembari memeluk tubuh Sakha, menghirup udara yang ikut bersamanya dan memandangi bagaimana sore menguasainya saat ini.


Jika kalian pikir Sakha sudah tidak berhubungan lagi dengan Habibah, maka Jawabannya kalian Sakha. Hampir setiap hari Sakha berinteraksi dengan gadis itu, entah itu untuk tugas atau hal lain. Dan hampir setiap hari Kanaya bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi. Lucu memang, dia tidak pandai di akademi tapi sangat handal dalam bidang berpura pura.


Kalau kata Anjani, siapa coba yang percaya lo cemburu kalau wajah lo gini gini aja.


Dan setiap kali Anjani begitu Kanaya hanya mengedikkan bahunya. Sesekali ia menegaskan pada Anjani bahwa dia tidak pernah cemburu dengan Sakha dan Habibah. Berbeda dengan Kanaya yang selalu berpura pura, Anjani tidak, sekalipun tidak diberitahu jelas dia tau.


"Mau makan bakso gak? Kata temen gue bakso didepan enak"


"Habibah?"


"Mulai deh"


Kanaya terkekeh, kembali memeluk Sakha dan merapatkan tubuhnya dengan lelaki itu. Ya biasanya kalau Sakha sudah menyangkut nyangkutkan teman begini, sudah pasti itu Habibah.


"Lo tau si Aji kan? Dia yang gue maksud, bukan Habibah"


"Ayo aja sih kalau gue mah"


Dari depan sana Sakha ikut tersenyum. Diajak makan ke gerobak mana pun Kanaya pasti senang. Yang penting higenis dan murah, kalau kata Kanaya kenapa tidak! Toh masakan pakde pakde pinggir jalan tidak kalah enak dengan makanan restoran yang biasanya dia datangi bersama papa.


"Biar kenyang" Kata Sakha yang baru memberikan satu baksonya pada Kanaya saat mereka sudah sampai di tempat yang Sakha maksut.


Gadis itu melotot sembari menghabiskan satu bakso besar yang sedang ia makan. Tapi Sakha malah terkekeh, dan mengusap rambut Kanaya seakan akan anak kecil. Lagi lagi saat Sakha begini, Kanaya merasa itu bukan usapan dari suami untuk istrinya, melainkan dari seorang Abang untuk adiknya atau kalau tidak dari seorang bapak untuk putri kecilnya. Kanaya sadar, saat dia bisa menatap Sakha sebagai laki laki, Sakha tidak mungkin juga bisa begitu.


"Makan yang banyak, lo tuh kurus pakek banget Nay. Kalau mama ke kontrakan sewaktu waktu, bisa kena amuk gue. Disangkanya lo nggak gue kasih makan"


"Ya tapi lo kira kira kenapa sih Kha. Lo tau nggak gue tadi habis makan gado gado di kantin"


"Uda makan aja, biar malam ini lo bisa tidur tenang"


"Teori dari mana coba"


Sakha yang baru menyantap baksonya spontan merangkul Kanaya, membawa gadis itu untuk semakin dekat.


Kanaya melepas rangkulan itu, lalu dengan hikmat menikmati baksonya. Kadang bukannya dia yang terlalu bodoh, dia tidak paham sebab sering kali malas memahami.


"Habibah tadi ngasih gue nasi goreng_ tapi lo jangan salah paham"


Dan sama seperti biasanya, saat Sakha sudah membahas Habibah, Kanaya tidak akan mengatakan apa apa. Dia diam menyimak, dia juga selalu memberi Sakha ruang untuk menjelaskan apa dibalik interaksi lelaki itu dengan Habibah yang terjadi hampir setiap hari.


"Kata Habibah itu dari ibu sambungnya Nay. Aneh nggak sih, karna setau gue, dia sama Habibah aja nggak sebegitunya, tapi kenapa sama gue malah ngebuatin nasi goreng. Gue juga nggak merasa berbuat apa apa buat dia"


"Dia suka kali sama lo" Sakha menggelengkan kepalanya menginggat jawaban Aji. Amit amit kalau ibu sambung Habibah yang wajahnya masih tante tante itu serius menyukainya. Sakha paling alergi dengan perempuan dengan lipstik merah mentereng.


"Nay, kalau kata Aji, ibunya Habibah tuh suka sama gue. Menurut lo gimana, ngeri tau nggak kalau gue beneran di sukai sama tante tante begitu. Kasian lo juga?"


"Gue kenapa?"


"Saingannya uda tua"


Kanaya tertawa. Sakha benar juga, Habibah yang kalem saja kadang kadang dia merasa tersaingi, apalagi kalau ibu sambungnya, yang katanya berpenampilan cetar, bisa ikut stres dia.


"Heh tapi nggak mungkin lah. Lagian laki laki tajir masih banyak, Ya kali dia sukanya sama lo"


"Gue aslinya juga tajir kali, cuma lebih memilih miskin"


"Itu bapak lo" barang kali Sakha lupa.


"Kalau nggak, bisa jadi yang ngasih lo nasi goreng aslinya emang Habibah, tapi dia malu kalau terus terang"


"Ya nggak mungkin lah"


"Kha, ada baiknya lo juga belajar buat paham gimana perasaan seseorang. Laki laki kebanyakan emang nggak peka, tapi ada juga yang peka. Dan nggak ada salahnya kan kalau lo jadi bagian dari yang kedua. Belajar jadi laki laki peka Kha. Lo boleh baik ke semua orang, lo boleh baik ke Habibah, tapi jangan sampai lo lupa, kalau perempuan itu sering salah paham. Kadang secara nggak langsung apa yang mereka lakuin juga sering membuat orang berharap lebih"


"Nay, lo nggak lagi curiga kan kalau sebenarnya Habibah yang suka sama gue?"


"Dan lo juga nggak lagi pura pura nggak tau kalau sebenarnya dia emang suka sama lo kan Kha?"