DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 9



Kanaya


Kha, ini gue Naya


Sakha yang baru saja membaca pesan tersebut tersenyum kecil. Dari dulu juga dia tau kalau gadis itu bernama Kanaya, Apalagi Sakha sudah lama menyimpan kontak Kanaya pun sebaliknya Kanaya.


Anda


Gue tau, Ada apa?


Tidak berselang lama, Dua centang yang kebanyakan di tunggu beberapa orang untuk berubah warna itu, berubah. Berganti warna biru lalu detik berikutnya balasan Kanaya muncul kembali,


Kanaya


Lo tau enggak, gue tadi abis ngapain? Gue tadi abis belajar masaaaak!! Daaan, gue uda bisa dong!!


Lagi, seutas senyum terpancar dari bibir tipis Sakha. Tama yang melihatnya hanya mengedikkan bahu dan kembali meracik Martabak.


"Senyum senyum gitu ngapa lo, selingkuh ya!" Tudingnya asal jeplak. Yang mana Sakha sempat menatapnya tajam.


"Gue bukan lo yang enggak bisa hidup hanya dengan satu perempuan. Meskipun gue enggak cinta sama Kanaya, tapi gue uda merasa cukup dengan dia"


Tama tertawa, lantas bertanya pada temannya itu


"Kha, Menurut lo, gue ini laki laki brengsek apa enggak?"


"Sebentar"


Sakha kembali membuka Hpnya, dan membalas pesan Kanaya


Anda


Maaf, tadi Tama ngajak gue ngomong, jadi lupa belum gue bales.


Lo Uda bisa masak apa aja emang!


Kanaya yang kebetulan masih Mengenggam Hp, senangnya bukan main saat Sakha membalas pesannya, sesaat gadis itu mendesis, dia pikir Karna banyak pembeli makanya Sakha hanya membaca pesannya ternyata gara gara Tama.


Kanaya


Gue pikir gara gara banyak yang beli. Nanti aja deh ya pas lo uda di rumah. Sekarang lo kerja dulu, jangan main hp terus kasian Tama. Btw Kha, Semangatt!!


"Naya bilang apa sampe lo mengsam mengsem begitu" Tanya Tama, lelaki itu bersandar di gerobak sambil terus memperhatikan Sakha. Aneh, Harusnya sih normal, tapi untuk ukuran lelaki dingin seperti Sakha, rasanya aneh melihat lelaki itu tersenyum hanya karna menatap layar ponsel.


"Bilang, Kalau gue enggak boleh banyak banyak main hp, kasian lo" Jawab Sakha jujur, tanpa melibatkan kata semangat dari Kanaya.


Dan Tama hanya menjawab "Ohhh" Tanpa suara.


Anda


Oke, Lo juga semangat nunggunya


Kanaya


Nunggu apa?


Anda


Nunggu gue pulang


Gadis itu menahan untuk tersenyum di sebrang. lalu meninggalkan ruang chatnya dengan Sakha, Bukan apa apa, Kanaya hanya tidak ingin menganggu Sakha dan akibatnya Tama yang kerepotan.


Tapi tidak selesai di situ, rasanya jari jari Kanaya ingin mengetikkan beberapa kata lagi.


Kanaya menggelengkan kepala kemudian membaca kembali pesan terakhir Sakha


Sakha


Nunggu gue pulang.


Dan sebelumnya, Sakha juga menyematkan kata Semangat untuk Naya.


Kanaya tersenyum, mematikan HP, menaruhnya di meja dan memilih tiduran di kursi, sambil memikirkan apa Sakha juga merasakan yang dia rasakan


Kemudian ia bangun lagi, melihat di meja masih ada buku tulis dan bolpoin, Kanaya mengambil 2 benda tersebut. Dan mulai menuliskan sesuatu di lembar pertama.


•••


Tama dan Sakha sudah bergegas untuk pulang, mereka tinggal merapikan barang barang yang berserakan di gerobak dan membuang sampah sebagai kewajiban karna telah membuat tempat itu kotor. setelahnya keduanya mendorong gerobak untuk pulang.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi,"


Sakha yang tengah mendorong gerobaknya menoleh pada tama, mendapati temannya itu tengah menatap galau ke arah depan.


"Yang mana, Yang lo brengsek atau enggak?"


"Iya yang itu"


Jarak mereka yang berdekatan membuat keduanya bisa mendengar helaan panjang satu sama lain.


"Lo kan hidup di tengah banyaknya orang, lo brengsek atau enggak itu tergantung dengan siapa yang lo tanya, Kalau menurut gue, enggak" Jawab Sakha


Lagi lagi Tama hanya menghela nafas


"Di mata cewek cewek lo mungkin lo keliatan brengsek, tapi alasan mereka menurut lo wajar enggak?"


"Wajar sih"


"Nahh"


Seketika Tama menghentikan langkahnya, Lalu ikut menatap Sakha dengan sengit


"Jadi brengsek apa enggak sih gue ini"


Ia jadi bingung mendengar gumaman Sakha yang sepertinya setuju dengan para mantan mantannya.


"Dan dengan mudahnya, lo berpaling ke gadis lain dengan embel embel lo ngerasa enggak pas lah, enggak cocoklah dan banyak lagi,"


"Hati cewek itu ibarat kaca tam, sekali lo bikin hancur, berantakannya enggak karuan"


"Lagian kan gue uda bilang, lo tuh masih Bocil, jadi udaaah, enggak usa sok sok an pacaran. Fokus dulu sama pendidikan lo, lagian dalam agama kita, pandangan aja kudu di jaga, nahhh lo enak enaknnya pacaran, gandeng tangan cewek sana sini, bahkan lo bisa lebih dari itu sama pacar lo, Di kira dapat pahala apa gimana hah?"


Tama nyengir lebar, Tak ingin memperpanjang ceramah Sakha, tangannya menepis tangan Sakha dari gerobak dan ganti dia yang mendorong gerobak tersebut.


"Gimana ya caranya putus dengan baik baik. Biar gak ada pihak yang tersakiti gitu"


"Gampang"


"Jidad lo gampang" Sembur Tama.


"Gue kasih tips mau kagak, di jamin enggak ada pihak yang tersakiti kalau pake tips dari gue"


Meski ogah, tapi Sakha tetap melanjutkan ucapannya.


"Lo bilang aja putus ke cewek lo, setelah itu Dateng ke rumahnya, lamar dia, minta izin ke bapak sama ibunya, terus kalau uda di terima nikahin"


"Putusin hubungan yang enggak seharusnya selanjutnya jalani hubungan baru sama dia, dan pastinya hubungan kali ini halal"


"Lo waras Kha?"


"Lo sendiri waras?" Tanya balik Sakha.


•••


Sesampainya di rumah, Sakha di sambut baik oleh Kanaya, entah sedang kerasukan atau apa, tidak ada angin, petir, atau pun hujan deras, gadis itu tengah duduk manis di kursi depan dengan segelas teh di meja.


"Duduk"


Sakha menutup pintu depan dengan pergerakan pelan, sesekali dia masih mencuri pandang ke arah Kanaya, Ada apa dengannya?


"Di minum" Kata Kanaya, ia memberikan gelas di depannya pada Sakha saat Sakha sudah duduk.


"Lo mau gue masakin apa?"


"Gue boleh nanya enggak?"


"Boleh"


Sakha menaruh gelasnya, tangannya saling bertaut dengan lidah yang semakin peluh.


"Nanya aja, kenapa sih, muka lo kek cemas begitu"


"Lo belajar masak dari mana?"


"Oh ittuu"


Kanaya tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Sakha


"Gue tuh tadi Streaming tau, dan ternyata masak segampang itu"


"Emang lo uda bisa masak apa nay"


"Mie instan, ada tutornya loh di bungkus"


Uhukkk


"Lo baru tau" Tanya Sakha setelah terbatuk. Sedang Kanaya mengangguk dengan polosnya


"Dan selain itu?"


"Masak air, tuh buktinya gue bisa buatin teh"


"Astagfirullah..." Desis Sakha pelan. tangannya spontan menggaruk hidung tidak tau lagi mau merespon bagaimana?


"Lo seneng gak?"


"Seneng kok seneng" Sakha menjawab cepat, Kali ini dia ikut tersenyum


Seenggaknya ada perkembangan, lanjut Sakha dalam hatinya.


Kemarin dia hanya di sambut dengan suara ngorok Kanaya karna sang empu ketiduran tapi malam ini, ada teh hangat dari gadis itu


"Nay"


Kanaya yang baru saja ingin menaruh gelasnya berhenti, tanpa suara dia hanya menatap Sakha, menunggu apa yang akan dia katakan.


Sakha tersenyum, lalu memandangi gelas di tangan Kanaya, dan detik berikutnya mendongak, membuat kedua netra mereka bertubrukan


"Thanks,"


"Buat apa?"


"Buat teh manis nya"


"Oh Inii"


Dan Sakha mengangguk. Kanaya berbalik, memperlihatkan jari jempolnya pada Sakha


"Iyah"





Jangan lupa Like, komen, dan Vote


Terimakasih