DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
chapt 41



Sebelum menjadi mahasiswi, Kanaya memang jarang masak, tapi Setelah dia resmi, justru semakin parah. Tidak ada jarang, yang ada malah tidak pernah. Gadis itu sampai berpikir keras hanya untuk menginggat kapan ia terakhir masak, apalagi diwaktu begini.


"Ini kalau mama gue tau, uda di tendang kali," Ia geleng geleng kepala sebelum mengaduk kembali sop yang sedang dia masak saat ini. Lalu matanya tidak sengaja menangkap jam yang memang ada di dinding dapur, ternyata masih pukul 05.00, masih sangat pagi untuk khawatir nantinya akan terlambat atau tidak.


"Pagi,"


"Wah, hai. Btw kenapa nggak bangunin gue sih, hampir aja gue telat sholat subuh"


Sakha terkekeh, sangat bukan dia kalau pergi ke masjid langsung pergi begitu saja.


"Yakin gue nggak bangunin lo?" Tanya lelaki itu.


Lalu dengan tiba tiba dia berjalan ke arah Kanaya, menggalungkan kedua tangannya tepat di bawah leher Kanaya, memeluk seraya menyebarkan kehangatan pagi tanpa bantuan apapun, sebab ini juga masih terlalu pagi untuk matahari yang harus terbit.


"Nay,"


Naya yang di panggil ataupun di tanya begitu masih diam. Yang ia lakukan hanya menatap tangan Sakha, juga merasakan kehangatan yang ada pada lelaki itu. Sesaat gadis itu juga memejamkan matanya. Jika kalian berpikir Kanaya masih ngantuk? Jelas tidak, dia hanya ingin menikmati rasa nyaman ini, untuk sebentar saja sebelum ia harus menghadapi semuanya, sebentar saja Kanaya ingin menghirup aroma Sakha, dengan jarak yang lebih dekat dari dia yang memeluk Sakha dari belakang seperti biasanya, lalu Sakha pun begitu, ia semakin memeluk Kanaya. Tangan yang tadinya ada di bawah leher gadis itu, sekarang tidak lagi, tangan Sakha sempurna melingkari perut Kanaya dengan dagu yang sengaja dia tumpukan pada pundak gadis itu


"Nay,"


"Hm"


"Boleh gue suka sama lo?"


"Boleh gue jatuh cinta sama perempuan yang tadinya temen gue?"


"Boleh gue menganggap lo sebagai Kanaya yang memang istri gue?" Sakha dan pertanyaannya yang beruntun.


"Kha," Kali ini ganti Kanaya yang memanggil lelaki itu, dengan nada yang tak kalah pelan, namun masih terdengar jelas.


Kanaya ingin melepaskan tangan Sakha, tapi urung sebab Sakha semakin menguncinya, jadi dia kembali diam, juga kembali memejamkan mata sembari berpikir, apa yang tadi itu menandakan Sakha sudah mencintainya? Tapi kalau iya, bagaimana bisa?


"Lo mau suka sama siapa, itu hak lo, kenapa harus nanya gue?"


"Karna orang itu beneran lo Nay,"


Kanaya menghela nafasnya, Kali ini dia benar benar melepas tangan Sakha, lantas menatap Sakha dengan pandangan yang datar, sekalipun apa yang Sakha lakukan tadi sempat membuatnya tertegun untuk beberapa saat, tapi Kanaya bisa kembali sadar. Karna apa? Karna teringat akan perlakuan manis antara Habibah dan Sakha, entah itu Sakha ke Habibah ataupun sebaliknya.


"Definisi cinta itu gimana sih menurut lo? Yakin kalau orang itu gue?"


"Gue pengen lo selalu bahagia, entah itu saat lo bersama gue, atau sama orang lain. Gue juga pengen ngasih lo yang terbaik, kalau lo nanya perihal apa? Maka gue akan jawab semua. Gue pun mau hidup lo damai, dan bersama kedamaian itu akan selalu ada gue.


"Awalnya gue menepis perasaan ini Nay, cuma gue nggak sekuat itu untuk terus berpura pura,"


"Ragu sama apa yang gue omongin?" Tanya Sakha, ia membalik pertanyaan Kanaya sebab ia tau mengapa Kanaya bisa bertanya begitu. Dan ia tidak mau keheningan lebih hebat dalam menguasai mereka. Jika Sakha ingin tau banyak hal tentang Kanaya, lalu apa kabar dengan gadis tersebut? Tidakkah dia sama seperti Sakha.


"Habibah, enggak lebih dari temen gue Nay, sedeket apa gue sama Habibah dimata lo, faktanya tetep nggak kayak gitu"


"Gue nggak bilang kalau Habibah"


"Mata lo yang bilang"


Sesaat Kanaya memang menunduk, tapi setelahnya ia kembali menghadap Sakha,


Jika dari mata Kanaya Sakha bisa membaca apa yang di pikirkan gadis itu, maka Kanaya justru tidak, dia tidak bisa membaca ataupun menyelam ke dalam netra pekat tersebut, namun dari hatinya, jujur ia ragu, Kanaya punya apa sampai Sakha bisa mencintainya.


Gadis itu mematikan kompor, mencoba tidak menghiraukan Sakha namun Sakha tetap Sakha. Ia menahan tangan Kanaya yang hendak mengangkat Panci, lalu lagi lagi memeluk gadis itu.


"Apa yang ngebuat lo ragu?"


"Apa yang ngebuat lo malah nggak yakin sama perasaan gue?"


"Dan kalau pun iya, apa yang ngebuat lo suka sama gue?" Seperti yang sudah sudah, pertanyaan akan di jawab pertanyaan lain oleh Kanaya. Nyatanya ada yang lebih membingungkan di banding tugas tugasnya, misalnya saja pagi ini. Entah Sakha sadar atau tidak dengan apa yang dia lakukan.


"Mm, Kha, lo tau nggak sih, cowok yang paling jahat menurut gue itu yang kayak gimana?"


"Gimana?"


"Yang biasanya ngasih harapan cuma buat nenangin perasaan orang, padahal harapan itu enggak ada"


"Gue nggak lagi ngasih lo harapan,"


"Kata siapa? Lo cuma nggak sadar"


Gadis itu tersenyum tipis, Sakha mungkin pandai dalam menebak pikiran orang, tapi tidak dengan perasaannya juga.


"Gue tuh suka bingung sama semua ini, coba kita pikir bareng bareng. Sebenarnya, gue yang pinter nyebunyiin perasaan gue, atau lo yang pura pura bodoh"


"Lo ngomong apa sih Nay?" Baru di detik itulah Sakha melepaskan Kanaya. Membuat Kanaya bergerak dengan sendiri untuk menemukan Sakha, juga raut bingung dari wajah pemuda itu.


"Kalau yang tadi bener, gue bahkan uda dari dulu Kha"


"Sejak kapan?"


"Sejak gue tau kalau sosok kayak lo memang langkah. Gue tau gue bodoh, tapi gue masih mampu untuk memilih, seperti apa laki laki yang seharusnya gue cintai"


"Kenapa nggak bilang?"


"Gue takut semua berantakan,"


"Karna kita temenan?"


Kanaya mengangguk. Kadang perasaan yang seperti itu tidak harus di sampaikan bukan? Toh selama ini dia baik baik saja, jadi tidak papa sekalipun harus mencintai Sakha dalam ketidak tahuan lelaki itu. Sebab Kanaya merasa aman dibanding Sakha tau dan semua malah kacau nantinya.


"Seharusnya lo bilang Nay"


"Biar apa?"


"Biar gue bisa menjaga perasaan lo" Jawabnya, yang kemudian menampakkan raut bersalah. Bak langit disubuh tadi, pandangan Sakha bahkan lebih tenang dari itu. Pancaran teduh darinya nyaris membuat Kanaya menangis, menginggat kembali dengan janji mereka, dan kedekatan mereka dengan orang lain. Jika Sakha dengan Habibah, maka jangan lupa dengan Raka yang sudah jelas jelas mencintai Kanaya.


Keduanya mungkin berjanji untuk tidak marah ataupun mengekang dengan siapa mereka dekat, tapi pada kenyataannya, mereka sama sama tidak bisa menolak rasa sakit atas kedekatan satu sama lain dengan pihak luar


Jika Sakha tidak bisa untuk tidak cemburu melihat Raka yang terus terusan mendekati Kanaya, membelikan gadis itu es krim, menjadi penghiburnya ditengah tengah banyaknya tugas. Pun begitu dengan Kanaya yang tidak bisa mencegah untuk tidak cemburu saat Habibah dengan senyum paginya membawakan Sakha sekotak makanan, sementara ia? Ia bahkan tidak pernah memasak untuk lelaki itu.


"Gue boleh minta tolong?"


Naya dengan pandangan redupnya seketika mengangguk, sangat pelan sampai sampai Sakha ikut menghela nafas.


Lantas lelaki itu mengikis jarak, ia maju satu langkah hanya untuk memandangi Kanaya, kemudian merapikan anak rambut gadis itu sampai ke belakang telingga, dan percayalah, saat saat seperti ini, waktu akan menggiring Kanaya menuju titik, dimana semua terekam dengan lambat. Cara Sakha memandanginya, cara Sakha mendekat, bahkan cara Sakha merapikan rambutnya, apa semua yang dilakukan Sakha harus seindah ini Dimata Kanaya?


"Jangan pernah pergi Nay, jangan pernah ada niatan buat jauh dari gue. Gue nggak peduli sewaktu waktu gue bakal sebrengsek apa dalam penilaian lo, tapi lo harus Inget, gue masih Sakha yang mencintai elo Nay dan gue juga masih Sakha yang engak mau kehilangan lo"


-


-


**Sebelum nya mohon maaf bngt karna saya baru muncul, Seminggu ini bingung mau nulis apa, di tambah lagi bnyk pekerjaan yg ngebuat otak kayak mau meledak, jadi saya nggk nulis dulu. Bukannya saya nggk menghargai kalian yang lagi nunggu cerita ini? cuma pengen bahagiain diri sendiri dulu, kasian kalau di paksa terus mah😂, Kalau otak emang nggak tau apa yang mau di tulis, yh saya nggak maksa buat nulis, karna kalau saya pikir juga percuma, saya nggak bakalan puas dengan apa yang saya tulis,


semoga terhibur, terus jaga kesehatan, jangn lupa dengan kawajiba nya daaan, jangan lupa bahagiaaa!


I know someone not always fine**,