
"Dok, ayo, Dok, tolong lakuin sesuatu ke istri saya."
"Saya udah nggak kuat, aghh, anaknya kayak mau keluar pak."
Jangan berpikir kalau gue adalah seorang dokter kandungan. Gue bahkan nggak tahu harus ngapain disituasi yang sekarang ini, pertama, gue juga nggak mudeng gimana cara bantu persalinan, kalau sampai gue nekat terus tuh bayi kenapa-kenapa gimana coba? Jadi meski pun gue membiarkan mereka masuk ke mobil gue dan nyuruh si suami ibu tadi buat nyetir, gue nggak ngapa-ngapain, gue cuma diem di belakang dan menerima setiap jambakan yang ibu-ibu tadi kasih ke rambut gue, sakit cuy, sakit banget, dan rambut gue yang tadinya rapi sekarang berantakan nggak karuan.
"Dok—"
"Tahan ya, Bu, sebentar lagi kita sampai," kata gue, gue masih memegang lengan kanannya, dan menyuruh dia untuk tetap sadar, sampai akhirnya kita berhasil sampai di rumah sakit dan gue langsung nyuruh suster buat bantu si ibu tadi, gue tau dia udah nahan sakit, terbukti dari gimana cara dia jambak rambut gue seolah melampiaskan kesakitannya yang terus bertambah, tapi seperti yang gue bilang di awal, gue bukan dokter kandungan, gue nggak tahu apa-apa soal persalinan, jadi dari pada nanti malah berakibat fatal, gue hanya menolong mereka dengan cara memberi mereka tumpangan.
Kayak nggak guna banget ya?
"Aga." Seseorang memanggil gue, membuat gue menoleh. Nah, kalau tuh ibu-ibu ketemu sama nih cewek, mungkin cocok, dia spesial kandungan, dan maybe, dia yang bakal nanggganin si ibuk tadi.
"Rambut lo—lo nggak sempet sisiran apa gimana?"
"Nggak penting, mending lo langsung masuk, ibu-ibu tadi mesti diurus secepatnya." kata gue pada Gina, dia ini salah satu dokter muda yang umurnya nggak jauh dari gue, bisa dibilang dia juga populer di kalangan pasien, doi cakep, cekatan, bahkan nggak jarang dia dapet hadiah kecil-kecilan gitu, meski sebenarnya pihak rumah sakit nggak membolehkan para dokter menerima somehow berupa gift dari pasien yang sudah kami tangani, tapi mereka tetap memberi Gina hadiah di luar rumah sakit.
"Ga,"
Lagi, gue menoleh, menemukan sesosok perempuan dengan kaca mata bulat dan wajah yang layu, jangan pikir dia abis melakukan operasi sampai kelelahan deh, karena semalem terakhir dia operasi baru sekitar pukul sebelasan, kenapa gue bisa tahu? Ya pasti, orang dia setim sama gue, kalau gue jadi dokter utamanya, maka dia jadi asisten utama gue.
"Gue bilang juga apa, jangan kebanyakan drakor, liat tuh mata lo!" Ini bukannya gue mau ngatur-ngatur hidup orang seenak jidad, tapi kalau dia kurang tidur begini, kan ngaruh juga ke kerjaan. Jadi takutnya nanti malah nggak bisa fokus.
"Ihh, lu mahh,"
"Lagian drama yang gue tonton semalem tuh seru gila, masa ya, Ga, tokoh utamanya tiba-tiba nikah dadakan gitu, padahal sebelumnya mereka belum kenal satu sama lain, gara-gara apa coba? Gara-gara si cowok nabrak bapaknya si cewek sampai meninggal, terus sebagai pertanggung jawaban, si cowok tadi nikahin si cewek, kebayang nggak kalau di real life ada yang ngalamin hal serupa?"
Gue menghela napas pelan begitu dia selesai dengan ceritanya.
"Ya lo pikir aja, emang hal kayak gitu bisa kejadian di rl?" Nggak tahu ya, gue tuh, tiap ketemu dia pengennya marah-marah terus. Apalagi kalau dia mulai nanya yang aneh-aneh dan nggak masuk akal begini? Pengen ngejitak kepalanya tahu nggak!
"Bisa aja lah, kenapa nggak bisa? Lo kira drama begitu cuma imajinasinya penulis? Ada tahu yang bener-bener terinspirasi dari kisah nyata seseorang."
Terus?
"Gue nggak bisa bayangin deh gimana perasaan mereka. Apalagi mereka belum kenal satu sama lain, pasti berat banget nggak sih?"
"Ya udah nggak usah dibayangin kalau berat." Gue berucap enteng, membuat Kinan menatap gue malas.
Ya kan emang bener. Ngapain juga sih ngebayangin yang begituan? Yang kayak gitu tuh cuma ada di drama-drama, jadi buang-buang waktu banget kalau dia malah kepikiran terus-menerus.
°°°
Namanya Sagara. Dokter spesialis tulang yang hobinya kalau nggak marah-marah ya ngedumel, tahun ini udah mau masuk kepala tiga tapi belum ada tanda-tanda bakalan menikah. Ya jangankan nikah, pacar aja nggak ada. Padahal kalau dilihat, sebenarnya Sagara ini termasuk pria tampan, perawakannya tinggi, karir juga oke, tapi nggak tahu deh, nggak ada yang bisa diajak serius, rekor paling lama Saga pacaran cuma sebulan, biasanya cuma seminggu dua minggu.
Kehidupan Sagara nggak jauh dari manusia pada umumnya, yang makin ke sini makin sering ditanya, 'Kapan nikah?'
Nggak sampai di sana ya samsek, bahkan setelah itu ada kalimat perbandingan yang nggak kalah menyebalkan.
"Si A aja umurnya baru lewat dua puluh lima tapi udah nikah."
"Si B aja udah punya anak loh, seumuran dia sama kamu. Masa kamu sendiri terus, betah banget."
Dan mama—mama juga ikut merecoki Sagara seperti tetangga yang lain, nggak jarang mama akan mengenalkan Sagara dengan anak teman-temannya, mulai dari kalangan model lah, selagram lah, wanita karir, bahkan pernah juga Sagara dijodohkan dengan calon dokter, tapi dari semua perempuan yang mama kenalkan pada dia itu, nggak ada satupun di antara meraka yang bisa membuat Sagara terpikat, dan kalau ditanya tipe Sagara itu seperti apa, dia juga bingung, intinya sih, nggak asal cantik.
"Malem ini nggak bisa, Ma, Aga ada janji sama temen."
"Perempuan?"
"Si Aji."
Mama berdecak, padahal matanya tadi sudah berbinar, penuh harap, tapi bahunya seketika melemas begitu mendengar nama Aji, dia lagi dia lagi, kenapa dia terus sih yang bersama Sagara? Bahkan setiap malam minggu sepertinya selalu Sagara habiskan dengan Aji, entah itu mereka pergi ke club, atau sekedar main PS di kamar Sagara. Jangan kira Sagara ini tipikal dokter berwibawa, kalian salah besar kalau sempat berpikir demikian, karena nyatanya, Sagara ya begini.
"Ga, minum nggak lo?"
"Nggak minum gue, males."
"Dikit aja elah."
Aji masih menuangkan anggur merah ke gelas Sagara, membuat laki-laki itu berdecak sebelum meminumnya.
Lima menit pertama masih aman.
Lima menit berikutnya Sagara masih belum menyentuh botol itu lagi.
Tapi di menit berikutnya, Sagara malah terus menambah sampai kepalanya pening bukan main, dia belum hangover, tapi pandangannya sudah mengabur, pun begitu juga dengan Aji.
"Sialan." laki-laki itu berdesis pelan, dia menambah kecepatan laju mobilnya.
"Tapi kenapa pandangan gue makin burem ya?"
Bahkan Sagara sudah berusaha melebarkan matanya, tapi percuma, di depannya sana semua masih blur, sampai kemudian dari arah yang berlawanan sebuah truk besar seperti akan menghantam mobilnya, dan itu membuat Sagara seketika membanting setir ke arah lain. Sagara kira dengan begitu dia berhasil menghindari kecelakaan besar, tapi ternyata di sana ada bapak-bapak yang tengah mengendarai sepeda gayu, dan hantaman keras dari Sagara membuatnya terpental jauh. Beberapa orang langsung berkerumun, dan sadar kalau dia baru saja menabrak seseorang, Sagara turun.
Darahnya mengalir deras, sepedanya remuk, dan Sagara tahu, kondisi beliau sangat parah sekarang ini.
°°°°
Penasaran????
yuk langsung cek diprofil!!