DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 71



Kata Sakha dia ingin lulus dalam kurung waktu dua tahun. Tiba-tiba banget, sampe Kanaya sempat shock dengan pernyataan tersebut.


Masalahnya yang dia kejar itu apa, sih? Ya Kanaya tau kalau sekarang Sakha harus pontang-panting antara kuliah dan bekerja di perusahaan papa– bisa di bilang di sana juga Sakha harus mengerahkan banyak sekali tenaga dan pikirannya, jelas itu membuat dia kerepotan, tapi bukan berarti dia sampai seperti ini. Malam, dia bisa tidak tidur, paginya dia kuliah sampai siang, lalu ada jadwal rutin untuk bertemu dosen, yang mereka bicarakan apa Kanaya juga tidak tau, lalu sekitar jam dua, Sakha langsung pergi ke kantor papa, pulang-pulang wajahnya kusut bukan main. Dia hampir tidak punya waktu sama sekali untuk istirahat.


Dan malam ini, begitu dia pulang, dia langsung melenggang pergi begitu saja untuk ke kamar mandi, membuat Kanaya yang masih di depan pintu jelas melongo. Pasalnya dia berdiri di sana untuk menyambut Sakha loh! Tapi bisa-bisanya Sakha bersikap seperti tidak ada Kanaya begitu.


'Sabar,' Gadis itu membatin dengan hela nafas panjang. Bisa jadi mungkin iya, karena Sakha yang begitu lelah makanya dia tidak menyadari adanya Kanaya.


"Kha,"


"Hm," Laki-laki itu sudah keluar, menggosok-gosokan handuk pada rambutnya yang basah tersebut. Sedang matanya masih sayu.


"Mau makan apa?" Tanya Kanaya.


"Kayaknya aku mau langsung tidur deh Nay, capek banget."


"Mana bisa gitu coba!" Sayangnya Sakha tidak begitu menghiraukan Kanaya. Dia betulan lelah, dan saat ini, yang sangat dia butuhkan adalah tidur.


"Good night," Terakhir dia mengusap kepala Kanaya sebelum akhirnya betulan masuk ke kamar.


Benar-benar dia itu. Dia pikir Kanaya tidak khawatir apa kalau tiap malam dia jadi jarang makan begini. Kalau dia sakit juga dia sendiri kan yang kerepotan. Jadi dengan penuh emosi, Kanaya ikutan masuk ke kamar. Sakha hampir saja akan menarik selimutnya, tapi urung ketika Kanaya tiba-tiba membuka pintu dengan sangat keras dan penuh tenaga.


"Nggak mau tau, pokoknya kamu harus makan. Kamu nggak kasian apa sama aku, aku uda capek-capek loh nonton vidio dari youtube terus praktekin satu-satu, ya meskipun aku tau kalau masakan aku akhirnya masih nggak enak, tapi Kha–"


Sakha tidak tau Kanaya kenapa, tapi melihat mata tersebut yang sudah berkaca-kaca, dia langsung menarik tangan Kanaya, membuat Kanaya secara reflek terduduk di kasur. Jadi dengan begitu Sakha mendekat, lantas menempelkan bibirnya dengan bibir Kanaya, dan mencium Kanaya dengan gerakan yang hati-hati. Sakha sadar dia salah. Beberapa hari ini dia sering mengabaikan Kanaya dengan dalih, dia sangat sibuk. Dan beberapa hari ini, dia juga sering membuat Kanaya marah-marah.


"Maaf," Laki-laki itu berkata lirih. Bersamaan dengan dia yang langsung melepaskan Kanaya dengan perlahan. Membuat Kanaya juga akhirnya menunduk dengan nafas yang masih tidak teratur. Entah kenapa Kanaya selalu merasa lebih bersalah ketika Sakha menjadi pihak yang pertama kali meminta maaf.


"Nay,"


"Ada masalah?" Ketika Kanaya menggeleng dan tetap saja diam, Sakha hanya bisa mengulas senyum tipisnya,


"Terus kenapa nangis coba?" Kemudian laki-laki itu bertanya setelah beberapa saat dia membiarkan Kanaya menangis.


"Naya,"


Lagi-lagi Kanaya tidak menjawab, dan lagi-lagi Sakha tersenyum tipis. Sampai akhirnya dia memeluk Kanaya.


"Sabar ya... Aku kayak gini biar nantinya juga bisa enak. Aku ngejar lulus dua tahun itu semata-mata biar aku nggak pontang-panting lagi, dan dengan kayak gitu, aku juga jadi punya banyak waktu sama kamu."


"Tetep aja kamu tuh salah,"


"Iyaa, kan tadi juga aku uda minta maaf,"


"Pokoknya aku kesel,"


"Iya yaudah nggak papa,"


"Kha,"


"Hmm,"


"Aku masih pengen nangis, rasanya capek banget tau nggak,"


"Iya yaudah nangis aja,"


"Kamu kenapa, sih?" Kanaya, gadis itu langsung melepaskan dirinya dari pelukan Sakha dengan sedikit membentak.


Sakha jelas langsung spechless, pasalnya tadi, keadaan di antara mereka sepertinya sudah akan membaik. Tapi dia harus ingat kalau itu bisa jadi sangat susah, apalagi dengan mod Kanaya yang seperti sekarang.


"Janji deh besok-besok kalau pulang aku nggak langsung tidur, aku bakalan mandi, abis itu makan, baru tidur,"


"Udah ahhh, males janji-janji terus,"


"Kali ini beneran, suer deh,"


"Bodo amat,"


"Jangan gitu dong Nay,"


"Apa sih?"


"Kok malah kamu sih yang tidur," Sakha protes, tapi kemudian dia langsung kicep begitu Kanaya melotot meliriknya. Melihat punggung Kanaya dia juga kasihan, pasti istrinya itu betulan lelah. Jadi dia memilih untuk membiarkan Kanaya beristirahat.


"Makasih yaaa," Kata Sakha, dia menarikkan selimut untuk gadis itu, sebelum akhirnya mengusap kepalanya,


"Uda dingin," Dia menjawab, tapi sangat ketus. Hal tersebut membuat Sakha tertawa pelan.


"Iya nggak papa, nanti aku angetin sendiri,"


"Yaudah,"


"Hmm, selamat istirahat,"


"Cegah kek,"


"Hah,"


Kanaya menyingkap selimutnya. Lalu seperti tadi, dia melangkah penuh emosi, lantas keluar. Sakha sih tidak masalah ya dia berjalan sampai mirip buto ijo begitu, tapi kalau lantai kontrakan mereka tiba-tiba retak gimana?


"Naya!"


"Aku panasin dulu lauknya, nanti kalau uda aku panggil, kamu istirahat aja nggak papa,"


Istri siapa sih? Sakha tersenyum geli. Juga masih tidak habis pikir kalau Kanaya selabil itu.


°°°


"Kha,"


"Hmm,"


"Buat tapi malem, aku minta maaf. Aku tau kok aku kayak anak kecil, tapi suer deh, aku tuh khawatir. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa. Apalagi kalau kamu nggak makan gitu, nanti kalau kamu sakit kan kamu sendiri yang repot."


Kanaya tidak peduli apa itu gengsi, dia cuma merasa, Sakha perlu tau soal ini. Kalau alasan kenapa dia malah seperti anak kecil itu pure sebab dia menghawatirkan Sakha, dan dia yang benar-benar tidak mau Sakha sakit.


"Aku juga minta maaf,"


"Apa sih kok malah kamu yang minta maaf,"


Sakha sedikit tergelak, Kanaya dengan muka judesnya itu sepertinya sudah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan oleh siapapun, termasuk juga Sakha sendiri.


"Aku berangkat ya,"


"Hmm,"


"Semangatin kek,"


Giliran Kanaya yang tertawa, dengan mode merajuk begitu dia pikir Kanaya akan gemas gitu, yang ada dia malah ingin mengampar Sakha, meskipun pada akhirnya dia tetap menyemangati laki-laki itu.


"Iya yaudah, semangat,"


"Nggak mau salim,"


"Salim,"


"Gitu dong,"


"Cium juga kek,"


"Dihhh, masih pagi juga," Sakha sedikit mengerling, kemudian dia mendekat, "Justru itu, biar makin semangat," Dan dia langsung melepaskan tasnya kemudian mencium Kanaya.


Sakha tidak pernah terburu-buru, dalam segi apapun, dia selalu memperlakukan Kanaya dengan baik, termasuk ketika dia mencium Kanaya seperti sekarang.


"Udaahh," Kata Kanaya ketika Sakha akan mendekatinya lagi.


"Sebentaaaar aja,"


"Nggak boleh,"


"Kamu uda harus berangkat,"


"Kantor juga kantornya papa,"


"Harus profesional tau,"


"Iya dehh!!! si paling profesional,"