
Sakha berani menjamin jika kejadian kemarin akan terulang lagi pada hari ini. Menginggat sekarang sudah jam berapa, dan Kanaya yang tidak bisa ia ajak kebut kebutan. Entah mereka berdua akan berakhir seperti apa, yang pasti ini akan buruk.
Saat pintu kamar mandi terbuka, Sakha dengan sorot tajamnya menatap Kanaya, membuat yang ditatap menyengir lebar
"Ini yang lo bilang 5 menit?"
"Dih, biasa aja kali mang," balas Kanaya kelewat santai. Sampai sampai Sakha ingin menendangnya detik itu juga, bersyukur Sakha ingat jika Kanaya itu istrinya.
"Minggir"
Dengan masih menggosok gosokan handuk ke rambutnya, gadis itu minggir, membiarkan Sakha masuk dan dia hanya mengedikkan bahu
"Lagian lo sih, uda tau habis sholat subuh gue pasti tidur lagi, kenapa enggak dibangunin coba"
Kamar mandi dikosan tidak kedap suara, berbicara pelan saja Sakha bisa mendengar apalagi dengan suara rada berteriak begitu, jelas dia langsung menyahut
"Salahin tuh gebetan lo, ngomong doang mau bangunin sampe bangun, buktinya apaan? Gaya doang di gedein dasar bocah"
"Itu senior loh btw" kata Kanaya yang kini berhenti mengunyah nasi gorengnya, terbahak mendengar nada Sakha yang sedikit mengomel
"Lagian lo kenapa enggak marah sih pas dia masukin nomornya dikontak gue, mau istri lo yang cantik ini diambil orang?"
"Gue tuh orangnya simpel," Bersamaan dengan itu pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Sakha dengan kemeja yang belum ia rapikan, lelaki itu berjalan menghampiri Kanaya dengan sibuk mengancing lengan kemejanya. Membuat Kanaya jadi curiga apa yang tadi Sakha lakukan, betulkan dia mandi? Atau hanya mencuci muka?
"Nay,"
"Hm"
"Dalam sebuah hubungan itu, minimal ada dua bela pihak, kayak kita ini misalnya. Enggak adil dong kalau cuma satu pihak yang memperjuangkan hubungan ini. kalau cuma lo yang berjuang, lo bakalan capek sendiri, begitupun sebaliknya. Kita butuh yang namanya kerja sama. Kalau gue bisa percaya sama lo, ya gue mohon jangan patahin kepercayaan yang uda gue kasih. Kalau gue bisa jaga hati gue, ya gue minta tolong supaya lo juga bisa jaga hati lo, gue enggak minta untuk bisa ada di sana, tapi seenggaknya jangan izinin siapapun untuk masuk,"
"Gue enggak mau ngekang lo dengan ngelarang lo deket sama cowok lain, tapi gue harap lo tau batasannya"
Kalimat itu diakhiri dengan seutas senyum. Yang mana membuat Kanaya jadi begitu lamban mengunyah nasi gorengnya, dalam kepala gadis itu ungkapan Sakha barusan terpampang jelas lalu memaksa Kanaya untuk tidak melupakannya.
Enggak adil dong kalau cuma satu pihak yang memperjuangkan hubungan ini. kalau cuma lo yang berjuang, lo bakalan capek sendiri, begitupun sebaliknya.
Dan lagi lagi Sakha benar, diperlukan kerja sama dalam hubungan ini. Untuk mempertahankan, ataupun menjadikannya lebih baik, rumah ini memerlukan Kanaya dan Sakha.
"Uda dimakan, ntar telat lagi kan enggak lucu"
"Gue juga enggak ngelarang lo buat deket sama siapapun" Tiba tiba saja Kanaya mengatakan hal tersebut. Tentunya setelah ia terdiam cukup lama
"Sama kayak gue, lo juga bebas Kha, Lo boleh berteman dengan siapapun, gue enggak peduli itu perempuan atau laki laki, pada intinya gue percaya kalau lo enggak akan melanggar batas yang kita setujui"
Sakha mengulas senyumnya, ia menatap Kanaya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk. Dia bukan laki laki yang lebai saat berekspresi, saat senang dia hanya mengulas senyumnya dengan begitu tipis, dan saat tidak suka akan sesuatu Sakha hanya akan diam.
Sakha tau bagaimana cara Raka menatap Kanaya, Sakha tau bagaimana senyum dari bibir lelaki itu terbentuk saat dia sudah mendapatkan nomor telepon Kanaya, tapi mana berani Sakha koar koar dan berbicara lantang jika dia tidak suka dengan raka yang seperti itu, pada akhirnya Sakha adalah Sakha. Ia mempersilahkan jika Raka memang ingin mendekati Kanaya, sebab ia percaya, kalau Kanaya memang ingin bertahan dengannya, gadis itu pasti punya caranya sendiri untuk menghindar dari Raka atau lelaki manapun, dan tugas Sakha tinggal percaya. Disini sebenarnya mereka punya tugas yang sama, tapi tidak harus dijalankan diwaktu yang sama pula.
•••
"Sampee"
Sakha turut tersenyum saat mereka sudah sampai di pelataran kampus. Dan ternyata mahasiswa lain juga banyak yang baru datang, tidak ada bau bau mereka akan terlambat dan dihukum seperti yang sebelumnya.
"Lo sebenarnya bisa apa enggak sih?"
Kanaya yang masih mencoba melepas pelekat helm mencibir sekenanya "Bisalah, cuma ini kayak nyangkut gitu makanya rada susah"
"Mau gue bantu?"
"Kalau suami pengertian biasanya enggak usa nanya begitu Kha, pasti langsung bertindak dari tadi sih, berhubungan lo enggak pengertian, It's okay"
"Jidad lo enggak pengertian," kata Sakha yang langsung menyentil keningnya, membuat Kanaya mendengus pelan
"Uda dieem" Ucap Sakha, ia dengan telaten mencoba melepaskan helm Kanaya, dan dengan begitu saja Kanaya mendadak diam, jarak mereka kali ini benar benar dekat, bahkan gadis itu harus menahan nafasnya tidak tau sampai kapan, dengan bola mata yang sibuk kekanan kiri lantaran ia gugup.
Ayolah ini sangat menyiksa Kanaya
"Uda tuh,"
Detik berikutnya Kanaya menghembuskan nafasnya. Sangat panjang. Tapi Sakha tidak kaget, dia malah tertawa, membuat kening Kanaya kian berkerut
"Kesurupan lo?"
"Deg deg ya kalau deket sama gue, ciee ... gue aja enggak"
"Dih enggak tuh" kilah Kanaya. Tapi lagi lagi ia mendapati Sakha dengan tawa tengilnya
"Gak usa bohong, gue bisa baca dari wajah lo, serius ketara banget"
"Apaan coba,"
Melihat Kanaya mulai berjalan, Sakha jadi geleng geleng kepala ditempatnya berdiri, sebelum akhirnya menyusul langkah gadis itu
"Btw Kak Raka tadi chat gue beneran tau, dia sampe telpon gue 21 kali" Kanaya yang baru memeriksa Hpnya dengan tenang mengatakan itu pada Sakha. Yang mana Sakha tidak memberikan ekspresi apa apa selain diam. Membuatnya lagi lagi berujar
"Tapi data gue enggak aktif, sengaja enggak gue nyalahin sih"
"Dia chat apa aja?"
"Banyak, kayak spam gitu, kurang kerjaan emang"
"Bales aja, seengaknya satu bubble chat. Niat dia kan baik, cuma yaa ada modusnya tipis tipis"
Kanaya tertawa. Ia langsung mengetikkan balasan untuk Raka. Tidak peduli chat teratas berisi apa ia hanya membaca chat di barisan bawah, terlalu malas untuk men-scroll dan membacanya satu per satu, sebab Kanaya tidak bohong jika pesan masuk dari Raka sangatlah banyak.
"Nanti beli es Doger lagi mau nggak?"
"Mau dong,"
"Tapi gue kangen sama bubur kacang hijaunya pak Parto, kita uda tiga hari ini loh enggak ke pasar"
Kanaya menyimpan hpnya, ganti menatap Sakha dengan raut nelangsa yang dilebih lebihkan
"Gue juga kangen sama Bu Ani,"
"Emang Tama masih sibuk? Sibuk apaan sih tuh anak"
"Tugas dia banyak Nay. Jadi enggak bisa jualan dulu minggu ini"
Setelahnya Sakha hanya mendengar helaan nafas panjang dari Kanaya.
Dan ia langsung mengandeng Kanaya agar berjalan lebih cepat
"Deg deg gak?"
"LO TUH YAA!!!"
Detik selanjutnya Sakha tertawa keras
"Sans aja mbak, kan suaminya sendiri"
"Sinting nih anak"