DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 14



Hari terus berganti hari, waktu yang berlalu terasa begitu cepat, dan dengan egoisnya waktu berjalan tanpa mau menunggu sebagian orang yang belum sadar, sebenarnya se-beharga apa waktu itu, hingga sedetik pun yang terlewat tidak mampu di ulang


dan menimbulkan penyesalan yang tidak selalu sebentar, kadang kala sedetik yang kita lewati dengan kesalahan, bisa berbuah penyesalan yang justru lebih dari itu.


Sehabis nilai ujian di bagikan, beberapa orang ada yang tersenyum lebar lantaran puas dengan nilai yang mereka dapat. Tapi ada juga sebagian yang nampak murung, memandang temannya dengan tatapan iri hingga rasanya mereka ingin bertukar posisi dengan siswa maupun siswi yang nilainya bagus.


Salah satu dari bagian tersebut adalah Kanaya. Ia bahkan tak bisa menangis saking kesalnya, melihat bagaimana ibu Sakha mengelus puncak kepala Sakha, membuat anak itu tidak berani memandangi ibunya, meski tangan ibunya juga bergerak diatas kepalanya sedari tadi. Ibunya bilang tidak apa apa, sebab sekolah ini tempatnya mencari ilmu bukan berkompetisi, tapi tetap saja, meski tidak seratus persen, tapi apa mungkin ibunya tersebut sama sekali tidak berharap jika Kanaya bisa masuk ke 10 besar? apa sebegitu mustahil nya di mata beliau?


pun Kanaya rasa dia sudah berusaha, Di kelas 3 ini dia tidak pernah bolos, selalu masuk kalau memang tidak sakit dan tidak ada keperluan yang mendesak, Aktif di ekstra kurikuler mana saja, nilainya juga naik, bahkan beberapa guru sempat mengaku heran dengan perubahan Kanaya.


Lantas, Apa begini yang orang bilang usaha tidak pernah mengkhianati hasil.


"Lo udah berusaha" Tepukan yang baru mendarat di pundaknya berhasil menyadarkan gadis itu, ia mendongak dan menemui Sakha yang sudah berdiri dan tersenyum, kemudian mengulur tangannya "Sedihnya bisa di lanjut nanti, sekarang kita harus foto bersama dulu sama yang lain"


"Gue males"


"Terakhir loh ini" Sahut sang mama, Rizal yang kebetulan tidak jauh dari Kanaya berdecih pelan "Lagian itu uda bagus nay, nilai loh tuh uda naik"


"Yang bang Rizal bilang tuh bener"


"Tapi gue maunya masuk ke 10 besar, lo tau kan gimana gue belajar buat UN malam itu, gue ampe mimisan loh"


Iya Sakha tau, lelaki yang masih memakai toga seperti Kanaya itu akhirnya duduk, benar benar jongkok di bawah Kanaya


"Nay, lo harus bangga sama apa yang uda lo capai, meskipun lo enggak masuk ke 10 besar, seengaknya ada kemajuan. Lo yang sekarang bukan lo yang dulu, lo uda berubah menjadi versi lo yang lebih baik"


"Coba deh balik balik itu rapot, bandingin sama nilai nilai lo yang sebelumnya, Biar lo tau, Gimana perkembangan orang yang berproses"


"Lagian mama enggak pernah nuntut kamu buat masuk ke 10 besar nay" Mamanya berujar lagi, kali ini beliau juga mendekap Kanaya dari samping, sedang yang di peluk masih diam dan enggan bersuara


"Jangankan lihat nilai kamu, lihat Absen kamu yang enggak bervariasi aja mama uda seneng"


"Makasih ya,"


"Mama jangan gitu"


Kanaya kian merasa bersalah saat tiba tiba mamanya mengucap terimakasih, nada yang barusan terdengar begitu lembut nyatanya berhasil masuk dan sampai didasar hati kanaya,


Di susul rasa menyesal karna waktu yang dia buang tidak sedikit.


Seharusnya Kanaya tau, kapan waktunya untuk serius, kapan untuk bermain main, kapan waktunya berusaha juga kapan waktunya untuk beristirahat. Dengan begitu, mungkin tidak akan seperti ini. Untuk bisa berjajar di atas panggung dan menerima medali karna sudah berhasil masuk ke 10 besar, modal yang di perlukan bukan hanya nilai. Sebab penampilan, sikap dan perilaku juga menjadi bagian dari komposisinya. Dan jika di setel ulang dari pertama kali dia masuk ke sekolah ini? itu membuat Kanaya menangis sampai sesenggukan


"Nay, teman teman kamu bilang kemarin kamu bolos pas saya lagi berhalangan masuk, betul?"


Kalau kata mama, Bohong itu dosa nay, bahkan ada hadist yang mengatakan, jujurlah meskipun pahit. Membuat Kanaya menganggukan kepalanya tanpa tau jika setelah dia mengangguk, sekelas akan sawan karna teriakan Bu Alin


Di lain waktu


"NAYAAA, berhenti atau hukuman kamu saya tambahi"


"Ayo dong buk kejar saya lagi, itung itung olahraga biar kurus"


"KETERLALUAN KAMU"


lagi...


"*Pak Burhan, tau enggak kemarin itu saya seneng banget tau"


"Karna?"


"Karna bapak sakit," Jawabnya tanpa berpikir sekali dua kali, membuat pak Burhan mendadak menghentikan tangannya yang tadi sibuk mengabsen "Kamu seneng sebab saya sakit?" yang bener aja kamu"


"Bener tauuu, sakit lagi dong pak, biar kitanya jamkos*"


"NAYAAA, KELUAR DARI KELAS SAYA DAN HORMAT KE TIANG BENDERA"


Ini tidak ada apa apanya, sebab masih ada banyak kesalahan yang lebih parah, Terlepas dari dia yang akan meninggalkan gedung sekolah, ia juga harus meminta maaf pada guru gurunya. Biar bagaimanapun kanaya memang kurang ajar. Kanaya tidak memiliki banyak teman juga bukan Karna dia anti sosial, tapi anak anak kebanyakan menjauhinya karna dia jahil.


"Loh, sepatu aku kemana ya, perasaan tadi aku taruh di sini deh" anak dengan jepit kupu kupu tersebut menatap lantai keheranan, pasalnya belum lama dia meninggalkan teras sekolah dan dia ingat betul sepatunya tadi di sana, berjajar dengan sepatu yang lain.


"Sepatu lo yang pink terus ada garis garis putihnya bukan?" Tanya Kanaya yang baru menyedot es marimasnya, anak itu mengangguk lesu "Iya tadi tuh masih di sini sekarang kok enggak ada"


"Gue sepak tadi, nohhh di lapangan noh, abis ngalangin jalan gue jadi gue tendang Sampe sana"


"DI LAPANGAAN!!"


Iya, jawab Kanaya dengan anggukan kepalanya,


"Kok kamu tendang Sihh, kalau emang di tengah jalan ya harusnya kamu pinggirin bukannya di tendang tendang begitu, kamu pikir sepatu aku bolaa"


"Ya maap" Dan dengan tidak bertanggung jawab ia melenggang pergi tanpa mau tau bagaimana gadis tadi sudah getar getir ketakutan, di sana pasti sudah banyak anak laki laki yang bermain basket, lantas bagaimana bisa dia ke sana seorang diri.


Kanaya bahkan tidak ingat dia pernah menjahili siapa saja saking banyaknya orang yang di jahili, hal itu kadang menjadi sebab mengapa dia sering masuk BK dan mendapat jeweran dari mamanya.


"Ma, Naya ke temen temen dulu ya"


tanpa menunggu jawaban dari sang mama, anak itu langsung Salim dan mengandeng tangan Sakha untuk menemui yang lain.


"Air mata lo masih ketara, enggak mau di hapus dulu"


"Banyak kesalahan yang uda gue buat di tempat ini, bukan karna nilai yang buat gue nangis, tapi karna gue ingat gimana buruknya gue dulu ke orang lain, gue jahat kan, gue sama sekali gak pernah mikirin perasaan orang lain"


"Nay udahh" Sakha yang melihat Kanaya menangis lagi lantas mendekap gadis itu "Lo inget kan gue tadi bilang apa? lo uda berubah, menjadi versi yang lebih baik dari diri lo, Kanaya yang sekarang, itu bukan Kanaya yang dulu" bahkan berulang kali ia mengusap lembut punggung Kanaya, membiarkan toga miliknya basah sebab kali ini Kanaya sungguhan menangis


"Mending lo minta maaf ke semua orang yang pernah lo jahilin dulu, gue jamin pasti di maafin"