
"Kha, lo nggak perlu ragu ketika lo punya niat untuk menolong orang"
"Tapi dia Habibah"
Sesaat Kanaya terkekeh, "Gue tau" Katanya, lantas ia menepuk bahu Sakha sebanyak dua kali sebelum membisikan kalimat yang sedikit lebih panjang dari tadi.
"Gue nggak pernah ngelarang lo buat nolong dia, sebelum ataupun sesudah pertengkaran kita di hari itu. Tapi lo juga harus punya kesadaran, lo harus tau batas lo menolong dia hanya sampai di mana. Agar diantara gue ataupun dia, nggak ada yang salah paham"
Pagi itu akhirnya Sakha memutuskan untuk turun dari motor, meninggalkan Kanaya, menyebrangi jalanan, berjalan menuju Habibah, sampai akhirnya ia sampai dan langsung duduk di bawah gadis itu.
Tepat di tangga terakhir, dia ada disana.
Tidak ada lagi yang namanya ragu, bahkan ketika ia melihat bagaimana sembabnya wajah Habibah, Sakha dengan yakin mengatakan kepada dirinya sendiri,
Ini tidak salah.
Dia semata mata datang untuk membantu Habibah apabila gadis itu memang membutuhkan bantuannya.
"Bah,"
"Aku nggak tau lagi harus ngapain Kha,"
Bahkan ketika Habibah memutuskan untuk tidak menceritakan ini kepada siapapun, dia tetap menceritakannya kepada Sakha.
"Rumah papa mau di jual"
Matanya memerah ketika ia mendongak. Dan Sakha tidak bisa mengatakan apa apa saat itu.
"Mama bilang ini satu satunya cara supaya kami bisa bertahan, padahal nggak Kha, aku yakin pasti ada jalan lain selain jual rumah papa"
Sekalipun Habibah tau, Sakha tidak akan langsung membantunya menemukan solusi, tapi ia bercerita semata mata karna dia butuh di dengarkan. Dia butuh seseorang yang peduli dan mampu menerima segala keluhannya. Tanpa mengklaim bahwa dirinya adalah manusia yang kurang bersyukur, atau membandingkan itu dengan orang lain.
Dan orang yang bisa memperlakukannya seperti itu hanyalah Sakha. Hanya diaa. Dia yang selalu datang ketika Habibah butuh bantuan. Dia yang selalu tersenyum sembari mengatakan
'Semangat'
Pada hari hari Habibah yang melelahkan.
Dia selalu ada. Sebagai teman. Dan juga sebagai orang yang benar benar peduli dengan bagaimana Habibah.
Hingga lama keduanya ada dalam posisi itu. Sakha akhirnya berani mengatakan,
"Kita cari solusinya bareng bareng"
Kita, yang artinya dia dengan Habibah.
Saat itu Sakha tidak meluangkan waktu untuk menoleh ke arah Kanaya. Lagi dan lagi dia merasa, dia juga bertanggung jawab untuk membantu Habibah. Dan dia selalu buta pada dimana batasnya. Dia selalu tidak tau harus sejauh mana agar tidak ada yang salah paham.
"Gue ini temen lo Bah, gue nggak mau lihat lo kayak gini, jadi ayo, kita berusaha cari jalan yang paling baik untuk masalah ini. Kita cari jalan lain untuk lo bisa bertahan dengan baik dengan mama lo tanpa ngejual rumah dari papa lo"
Dia membiarkan Kanaya sendirian di sebrang jalan. Bahkan ketika Sakha baru sampai disana, gadis itu lebih memilih memalingkan tatapannya ke arah lain. Mungkin kali ini yang mereka butuhkan memang itu. Mereka butuh ruang berdua. Untuk berbagi sesuatu yang tidak bisa mereka bagi dengan orang lain.
°°°
Kha, gue harus berangkat sekarang, kalau enggak gue bisa telat. Gue duluan ya, lo nggak usah ngerasa nggak enak setelah baca surat ini, I'm fine. Lagian kata bang Rizal, kalau gue mau cemburu gue juga harus mikir dulu, gue pantas cemburu atau enggak, terlebih ketika gue tau keadaannya gimana, dan gue bisa memahami keadaan itu.
Uda ya pegel nulisnya.
Pokoknya sampai jumpa di kampus
Kertas itu terletak dispion sebelah kiri, ia sempat di goyang goyangkan angin sebelum ditarik oleh Sakha. Untuk dibaca kemudian di pahami.
Laki laki berkaos hitam itu menarik kedua sudut bibirnya.
Ia baru sadar ternyata Kanaya adalah gadis yang pengertian. Padahal dia telah berjalan cukup jauh bersama gadis itu. Entah apa yang selama ini menutupi kedewasaannya.
Sakha
Kalau uda sampe di kampus kabarin ya Nay. Maaf juga tadi lama
Lalu tidak lama gadis itu mengirimi foto kepada Sakha. Tidak ada dia yang tersenyum dengan manis, malah gayanya begitu konyol. Bibirnya membentuk garis yang lurus dengan mata yang juga ditarik, nyaris tertutup
Kanaya
Ini baru di taksi.
Iyaa di maafin
Sakha
Nggak marah nih? Beneran kan?
Kanaya
Kagak ya Allah, kan gue uda bilang, nolong orang mah nggak perlu ragu
Sakha
Btw fotonya cakep tuh, izin buat jadiin PP boleh nggak?
Kanaya
Kali ini bahkan lebih cepat dibanding yang tadi tadi
Kanaya
Jangan Kha, lo kalau mau menggemparkan dunia nggak begitu caranya
Dia juga menyematkan emoji menangis.
Sementara di tempat lain, Sakha puas tergelak. Ini kalau begini terus. Lama lama kenapa Kanaya malah menggemaskan sih? Padahal tadi pagi, perasaan Sakha masih dipertemukan dengan Kanaya yang versi tengil. Tapi setelah itu dia bertemu dengan versinya yang dewasa, dan sekarang, dia bertemu dengan versinya yang lucu.
Laki laki itu geleng geleng tidak mengerti. Lantas kembali membalas pesan dari Kanaya
Sakha
Kalau gitu kirim foto yang lebih cantik coba,
Gadis itu menatap keheranan kepada layar HP nya.
"Lebih cantik gimana deh, perasaan ini uda cakep banget gue"
Kanaya
Buat apaan sihhh, lagian gue masih di taksi kali. Ya kali kalau foto foto terus, kalau dilirik sama supirnya kan maluuu
Sakha
Take care btw,
Kanaya
Siaaap. Lo jg ya! Hati², gausa ngebut
Sakha
Siap istri
Kanaya bergidik ngeri membaca itu. Tapi lama kelamaan dia malah memgsam mengsem sendiri
"Ini bukan salah ketik atau salah kirim kan? Nggak ada niatan buat ditarik karna ngerasa dia salah ngucap atau apa gituuu?"
Sakha
Gue mau jalan ke kampus, tapi sebelumnya gue mau VN nih, nanti tolong disampein ke pak supirnya okehh
"Heeeh apaaan, emang dia kenal sama bapak supir yang nganterin gue?"
Belum sempat Kanaya bertanya, ada satu pesan lagi dari Sakha. Dan yaaa kali ini lebih tepatnya pesan suara.
Ragu ragu dia memangil bapak supir
"Pak, ini maaf banget ya, tapi suami saya ngirim saya pesan suara dan katanya ini buat bapak. Saya nggak tau sih dia kenal bapak atau enggak, tapi bapak mau denger pesan suara dia nggak? Nggak sampe semenit kok pak"
"Boleh mbak" Kata bapak itu. Dia tersenyum, tapi tidak menoleh kepada Kanaya sama sekali
"Coba di speaker aja, biar saya kedenger" Katanya. Sama seperti bapak bapak pada umunnya, nada beliau ketika bicara sangat tenang
"Saya puter ya pak,"
"Iya mbak, silahkan"
Detik itu suara Sakha langsung mereka dengar. Dalam durasi yang tidak sampai semenit tersebut, Sakha bilang,
'Pak, saya minta tolong, kalau bawa mobilnya jangan ngebut ngebut! Hati hati aja, Sekalipun nanti yang minta ngebut itu istri saya, bapak jangan mau. Saya tunggu di gerbang kampus saya, dan saya mau, baik bapak ataupun istri saya, kalian dalam keadaan yang enggak kenapa kenapa, terimakasih'
Kayaknya gue bisa terbang deh sekarang, sekalipun gue nggak punya sayap, batin gadis itu.
°°°
Ini sebelumnya maaf bngt klw saya ngomong begini terus ada yg tersingung.
Saya lama nggk up "Dear Sakha" bukan semata mata saya males. Saya nggak up karna sengaja nggk nuntut diri saya untuk berlebihan dalam melakukan segala sesuatu, mungkin salah satunya ya nulis.
Terlebih ketika saya mau di sibukkan dengan berbagai ujian² sebelum saya lulus, jadi saya rasa, nulis ini nggak harus saya prioritaskan. Saya tau kalian capek nunggu, tapi disini saya juga nggak mau nulis dengan keadaan yg enggak enjoy. Saya enggak mau nulis kalau saya sendiri masih bingung di bab selanjutnya akan saya isi dengan tulisan yang seperti apa.
Dan saya enggak mau, mempublikasikan bab baru yang saya sendiri enggak bisa srek cuma karna saya harus update!!
Saya nggak papa kalau kalian nggak baca cerita ini lagi, karna pada kenyataannya, kita sama sama capek. Jadi mohon pengertiannya.
Sekalipun saya lama nggk update, bukan berarti pas saya update saya langsung update bab secara gradakan,
Sekali lagi maaf jika ini menyinggung, tapi terang terangan saya nggak bisa jadi penulis yang seperti itu 🙏
Sekian terimakasih!