DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 29



Memberi tau Raka jika Sakha adalah suaminya, itu ibarat mencincang air, sia sia setelah Kanaya betulan melakukan. Hampir berjalan 3 bulan Kanaya berada di kampus ini, dan sama seperti hari pertama mereka bertemu, Raka tetaplah begitu.


Seolah lelaki tersebut tidak peduli siapa Sakha, juga tidak peduli apa hubungan mereka, sekalipun sesakral pernikahan. Kanaya memberi tau Raka jelas agar lelaki itu berhenti, memutar arah dan keluar dari lubang yang tidak seharusnya ia selami, sebagaimana apa yang Sakha katakan. Tapi apa? Semakin kesini warga kampus juga pastinya tau jika Raka memang punya perasaan pada Kanaya.


"Itu bukannya Sakha?"


"Tuh cewek gue perhatiin nempel mulu deh Nay sama suami lo" Anjani dan mulutnya yang sinis. Sesaat Kanaya memang memperhatikan mereka, tapi setelah itu kembali berjalan, bahkan ia meninggalkan sohibnya.


"Nay, lo enggak marah atau apa gitu?"


"Udahlah, lagi pula Habibah sama Sakha kan cuma teman" Meski hatinya juga tidak karuan melihat kedekatan Sakha dan Habibah, tapi Kanaya tetap mengatakan yang demikian, setelah mereka berjanji untuk tidak saling mengekang, apa Kanaya masih punya hak untuk marah!


Lagi pula Kanaya juga mengenal Habibah, gadis itu anak psikologi juga, sama seperti Sakha dan Anjani. Dan kata Sakha, tugas tugas kampus kerap mempertemukan mereka, dan menjadikan mereka dekat, seperti sekarang ini mungkin. Kanaya juga merasa tidak pantas jika dia curiga pada Sakha, sebab selama ini Sakha tidak pernah menutupi apapun. Ia pergi bersama Habibah untuk mencari referensi tugas juga Kanaya diberitahu.


"Heran deh gue sama kalian, katanya suami istri, tapi pas kak Raka deket deket sama lo, Sakha nggak marah, pas Habibah deket deket sama Sakha, lo juga nggak marah. Kalian uda nikah beneran atau belum sih"


"Anjani sayang, gue sama Sakha itu punya cara tersendiri buat mempertahankan hubungan kami. Yang penting kak Raka uda tau Sakha itu siapa gue, dan Habibah juga tau gue ini siapanya Sakha"


"Lo tau kalau kemarin Habibah ngasih Sakha nasi goreng?"


Kanaya mengangguk. Bahkan kotak bekal milik Habibah masih ada di dapur kontrakan sampai hari ini.


"Kata Sakha, itu tanda terimakasih"


"Karna pas nyari referensi mereka pulang agak larut dan karna hujannya deres, Sakha jadi anterin Bibah"


Setenang itu nada bicara Kanaya!


Anjani yang disebelahnya berdecih tidak habis pikir, apa cuma mereka ya yang menjalani hubungan seperti ini!


"Nay, seengaknya lo harus lebih menjaga apa yang lo punya"


"Se-erat apa gue genggam kalau waktunya lepas ya bakalan kelepas, kadang kesimpulannya sesederhana itu Jan"


"Susah emang ngomong sama lo"


Sebab Anjani tidak semikiran dengan Kanaya, yang mereka amati memang sama sama Sakha dan Habibah, tapi sayangnya dari sisi yang tidak sama.


"Udah ya, gue percaya kok Sakha enggak bakalan lewatin batas yang uda dia sepakati sama dirinya"


Anjani menghela nafasnya. Ia mengangguk dengan raut masih tidak rela. Dia tau dia bukan siapa siapanya Sakha, tapi dia ini temannya kanaya, dan rasanya sangat tidak suka melihat Sakha yang terus terusan bersama Habibah seperti itu, apa harus Kanaya sesabar ini!


•••


Jika tadi siang Anjani mengoceh pada Kanaya karna Sakha dan Habibah yang semakin hari semakin dekat, malam ini juga Tama memarahi Sakha habis habisan, bahkan untuk kali ini Tama mencegah Sakha, katanya dia ada urusan mendesak bersama Habibah. Biasanya pasti Tama izinkan, tapi karna dia hitung rasanya sering, jadi Tama berani menahan lengan itu agar tidak pergi.


"Gue enggak masalah kalau harus jualan sendiri Kha, sama sekali gue enggak masalah. Tapi ini menyangkut istri lo, bisa nggak sih lo bayangin gimana perasaan dia pas lo sama Habibah begini, sekalipun lo uda izin, itu enggak bisa mencegah buat dia nggak sakit hati Kha"


"Lo ngomong apa sih tam" Perlahan Sakha melepas tangan Tama, menatap Tama dengan raut tidak habis pikir pula.


"Gue sama Habibah enggak lebih dari teman. Selama ini gue ketemu dia juga buat sesuatu yang emang penting"


"Dan Kanaya nggak pernah kok mempermasalahkan"


"Didepan lo dia begitu, tapi yakin nggak lo kalau Kanaya emang nggak papa"


"Apa urusan lo sepenting itu sampe harus diselesein dijam segini?"


"Masih ada besok buat lo sibuk Kha, mending kita jualan dulu. Setelah itu pulang, dalam kontrakan lo ada perempuan yang uda nunggu dari sekarang, dan harus lo inget perempuan itu siapa"


Sakha jadi ingat bagaimana Kanaya setiap kali dia membuka pintu setelah berjualan begini. Sakha ingat jelas bagaimana raut itu menahan kantuk.


Lelaki itu geming, niat untuk bertemu dengan Habibah perlahan hilang entah kemana. Yang dia pikirkan saat ini benar benar hanya Kanaya. Apa iya dia se-egois itu sekarang


Sakha


Mau es krim?


Disebrang sana Kanaya membaca pesan Sakha berulang ulang, bukan apa apa, Kanaya hanya takut jika yang mengiriminya pesan sekarang itu bukan Sakha. Kanaya tau betul bagaimana Sakha melarangnya berhubungan dengan es krim. Dan kerasukan apa dia sampai sampai menawari Kanaya es krim di jam segini.


Kanaya


Lo kerasukan? Tumben bener nawarin es krim


"Justru karna gue sadar. Selama ini gue enggak pernah buat lo bahagia" Gumam Sakha, kalau es krim saja bisa membuat senyum gadis itu melebar, ya mengapa tidak! Kalaupun Kanaya flu dia tidak masalah untuk merawatnya, sampai sembuh Sakha tidak masalah.


Sakha


Mau nggak, mumpung gue baik


Gadis itu langsung membalasnya dengan emoji love hitam, Sakha tidak tau apa artinya, tapi sepertinya Kanaya mau mau saja.


Sakha


Sebentar lagi gue pulang


Kanaya


Bukannya mau ke rumah Habibah?


Sakha


Nggak jadi, gue mau cepet cepet pulang, dan memperbabu lo


Kanaya berdecih,


"Bilang kangen aja susah banget sih"


Tapi dia tetap membalas pesan menjengkelkan itu


Kanaya


Btw hati hati dijalan, lo boleh jatuh tapi es krim gue jangan


Sama seperti Kanaya tadi, saat ini Sakha juga berdecih, bedanya setelah itu dia tersenyum.


"Berdosa gitu ya kalau ngomong khawatir sama gue!"