DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 67



Akhir akhir ini cuaca memang sangat ekstrim. Banyak orang yang tidak hanya dibuat flu batuk, tapi juga tumbang.


Kemarin Kanaya demam sampai panasnya hampir 38 derajat, mual mual, tidak mau makan sama sekali. Dan sekarang ini justru Sakha. Iya begitu Kanaya sembuh dan sudah bisa kembali kuliah, giliran Sakha yang tumbang.


"Masih mampet nggak hidungnya?"


Laki laki itu hanya mengangguk sekilas. Kemudian merapatkan selimutnya. Padahal saat ini terik, tapi Sakha justru kedinginan.


"Coba gigit"


"Di kira aku vampir"


"Serius tau" Gadis itu berdecak. Kemudian kembali menyodorkan jari telunjuknya.


"Biar bisa nafas"


Karna dulu setiap kali Kanaya flu dan hidungnya mampet, pasti papa akan menyodorkan telunjuknnya seperti itu dan menyuruh Kanaya mengigitnya. Alih alih inhaler, Kanaya juga jadi menyukai jari telunjuk papa.


"Nggak papa?"


"Nggak papa"


"Kalau sakit bilang ya" Kata Sakha. Sebelum akhirnya dia betulan mengigit jari Kanaya. Membuat perempuan tersebut tersenyum tipis.


"Kha?"


"Hmm"


"Cepet sembuh yaa!" Gadis itu mulai merapikan rambut rambut Sakha. Sedang Sakha langsung memeluknya dengan posisi menyamping. Bagi Sakha, untuk sekarang ini tidak ada tempat yang lebih nyaman dari pada perut Kanaya. Tidak ada tempat yang lebih membuatnya ingin tidur lebih lama dibanding perut gadis itu.


"Nay, sebenarnya ada cara lain selain minum obat biar aku cepet sembuh" Kata Sakha saat dia melepaskan jari telunjuk Kanaya. Membuat Kanaya menunduk.


"Emang apa?"


"Nunduk lagi coba"


"Apa dulu nihh?"


"Nunduk dulu, kalau enggak nunduk nggak bakalan tau"


"Ini mah yang iya iyaa" Tapi biarpun begitu Kanaya tetap menunduk, sampai cukup lama Sakha tersenyum tipis dan memandangi dia. Membuat mereka saling pandang dalam waktu yang tidak sebentar, sebelum akhirnya kedua mata Kanaya melebar karna dengan gerakan yang pelan Sakha tiba tiba menyatukan bibir mereka. Tidak ada pergerakan apapun memang. Tapi tidak kalah dari hening yang sempat terjadi, dua bibir yang menempel itu juga cukup memakan waktu.


Lagi lagi Sakha tersenyum, dia tau Kanaya sekarang ini bagaimana, tapi itu tidak membuat Sakha takut sama sekali, bahkan ketika Kanaya memalingkan pandangannya, netra Sakha justru tidak beralih barang sedetikpun. Seakan akan tidak ada objek lain yang bisa dia tatapan atau dia perhatikan dengan seintens seperti dia memperhatikan Kanaya.


"Maaf kalau aku nggak izin,"


"E-emang itu bisa bu... at-"


"Bisa" Jawab Sakha. Yang kemudian kembali menyatukan bibir mereka. Setelah itu dengan sekilas dia mengecup kening Kanaya.


"Didunia ini ada kekuatan magis"


"Tapi enggak banyak orang yang tau"


"Nay?" Sakha memanggil gadis itu. Membuat Kanaya mau tidak mau menyahut dengan gumaman yang begitu lirih. Bukan lantaran dia marah, sebab yang tadi bukannya wajar jika terjadi diantara mereka, hanya saja Kanaya tidak bisa berbohong kalau dia terkejut. Seperti halnya orang yang baru kena gendam, mungkin sekarang ini Kanaya terlihat seperti itu.


"Nayaa?"


"Hmm?"


"Maaf kalau aku-"


"Its okay" Gadis itu dengan cepat menyahut. Bahkan sekarang ini dia bisa mendongak untuk balas menatap Sakha dan tersenyum seperti Kanaya yang biasanya.


"Aku nggak marah,"


"Just shocked"


"Bener"


"Of course"


°°°


Akhir akhir ini Sakha itu kadang menyeramkan. Kanaya tidak tau sejak kapan Sakha mulai manja begitu, yang kalau tidur minta di usap usap rambutnya, minta di peluk. Apa iya dia begitu karena sakit? Dia juga tidak lagu bicara lu-gua dengan Kanaya. Membuat Kanaya mau tidak mau juga dadakan berubah bahasanya. Kaku? Tentu saja. Tapi satu yang membuat Kanaya kepikiran sampai dia berakhir bingung sendiri. Ketika Sakha nanti sudah sembuh, apa lu-gua diantara mereka akal comeback?


"Nay!"


Serius, bahkan mendengar suara Sakha yang baru bangun tidur saja Kanaya sampai terjingkat.


"Masak apa?"


"Oh ini, buat teh buat kamu"


"Lama banget buat teh" Kata laki laki itu, yang kemudian dia langsung memeluk Kanaya. Menumpahkan dagunya dengan mata yang kembali dia pejamkan.


Kanaya sempat melirik nya dari samping, kemudian tertawa kecil dan mencoba melepaskan pelukan Sakha. Tapi tetap saja tidak berhasil. Anehkan? Padahal dia ini sakit, padahal dia juga masih ngantuk, tapi kekuatannya masih seperti orang sehat walafiat.


"Lepas dulu Kha, ini tangan kamu mau kena air panas?"


"Ya makannya minggir dulu,"


"Nggak mau Nay"


"Minggir nggak?"


"Iya iyaaa"


"Lagian kenapa bangun?" Tanya Kanaya. Sedang Sakha sudah anteng duduk dikursi.


"Badan aku angget lagi deh kayaknya, sama ya gitu capek tidur mulu"


"Ya namanya juga orang sakit"


Lalu Kanaya memberikan teh itu. Dan memeriksa kening Sakha. Dan ternyata iya badannya panas lagi.


"Aku ambilin obat dulu yaa, tunggu disini"


"Nay" Laki laki itu menahan pergelangan Kanaya. Membuat Kanaya melirik pergelangan nya sendiri kemudian ganti melirik Sakha.


"Obatnya dibuang aja deh mending"


"Hah?"


"Pait banget, faktor utama aku nggak nafsu makan tuh obat itu"


"Ngomong apaan sih" Kanaya sampai terbahak mendengar curhatan Sakha. Kemudian melepaskan tangan laki laki itu dan mengusap kening Sakha secara perlahan.


"Kamu tuh mau sembuh apa enggak?" Tanya Kanaya. Nadanya persis seperti ibu yang dengan sabar merawat anaknya yang sedang sakit.


"Ya mau" Jawab Sakha.


"Yaudah kalau gitu minum obat dong"


"Nggak ada gitu ya obat yang manis"


"Itu sih sirup"


"Uda deh skip dulu" Lalu sekonyong-konyongnya dia memeluk Kanaya, membuat yang perempuan tersenyum tipis sembari lagi lagi mengusap rambut Sakha.


Sakha itu kalau lagi sakit memang parah. Kadang dia malah seperti anak kecil yang susahnya minta ampun kalau disuruh minum obat. Suka request obat obat manis, padahal mana ada sih sejarahnya obat manis.


"Tidur lagi yuk!"


"Sembarangan, minum obat dulu"


"Ogah"


"Apa mau aku bawa ke dokter?"


"Itu malah ogah, terakhir kamu bawa aku ke dokter aku malah trauma tuh sama susternya" Lagi lagi Kanaya terbahak. Iya Sakha memang sempat trauma dengan suster rumah sakit, hanya karena dia digoda goda. Didepan Kanaya pula. Kanaya sih biasa saja Sakha di colek colek begitu, beda lagi dengan Sakha yang sampai rumah heboh ingin melaporkan suster tersebut ke Komnas pelindungan laki laki.


"Khaaa? Kamu tuh harus minum obat tau,"


"Ntar aku kasih hadiah deh"


"Apa?"


"Yaa minum obat dulu dong biar tau"


"Tipu tipu kamu mah"


"Ihh kok tipu tipu sih, beneran tau"


"Yaudah apa dulu"


"Yaa kamu minum obat dulu" Kata Kanaya yang juga masih ngeyel.


Lalu dengan berat hati akhirnya Sakha melepaskan pelukan tersebut. Dan mempersilahkan Kanaya untuk mengambil obatnya.


"Gitu kan pinter" Kata Kanaya setelah segala drama yang terjadi.


"Iyaa sekarang mana hadiahnya?"


"Kamu percaya?"


"Tuhkaaaan bohong"


Gadis itu terkekeh, kemudian menangkup kedua pipi Sakha.


"Emang selama ini Kanaya tuh tukang boong yaa?"


Saat Sakha masih diam, Kanaya menipiskan bibirnya. Lalu dengan begitu saja Kanaya mencium Sakha. Tepat di bibir laki laki itu juga


"Biar pahitnya cepet larut"