
Sebenarnya aniversary itu penting atau tidak, sih, untuk sepasang pria dan wanita yang tengah menjalin hubungan?
Akhir-akhir ini pertanyaan semacam itu justru menjadi beban pikiran tersendiri untuk Kanaya. Kalau dihitung-hitung, lusa depan adalah hari pernikahannya dengan Sakha, dan dia bingung dia harus bagaimana. Kalau dia rayakan, dia takut Sakha malah tidak suka. Tapi kalau tidak ... Kan itu juga bukan sesuatu yang aneh. Yang terpenting adalah jangan sampai berlebihan.
Gadis itu mengerang frustasi. Bahkan kepalanya langsung menyentuh meja belajar di detik setelahnya. Sebab setelah diingat-ingat lagi, Sakha bukan tipikal laki-laki yang bisa diajak romantis, dan Kanaya takut kalau suasananya malah canggung.
"Bodo ahh! Ntar malah nggak karuan lagi."
"Apanya?"
"Ehh?" Kanaya tersenyum kikuk. Dia juga merutuki dirinya sendiri karena tidak sadar kalau Sakha sudah di pintu kamar entah sejak kapan?
Sebentar,
Gadis itu jelas membuka matanya lebar-lebar sambil menatap ke samping, jangan bilang kalau Sakha sudah lama di sana dan menyaksikan Kanaya yang pusing perkara Anniv?
KARENA KALAU IYA, MAU DI KEMANAIN MUKA GUE!
"Sekarang tanggal berapa, Nay?" Sakha sudah akan mengambil kalender yang ada di meja belajar Kanaya, tapi Kanaya jelas langsung merebut itu, dan menyimpannya rapat-rapat.
"Tanggal 16."
Bisa mati kalau Sakha melihat ada tanggal yang Kanaya lingkari dan membaca keterangan di bawahnya. Pokoknya Kanaya gengsi jika dia mengingat tanggal spesial itu sementara Sakha justru tidak, atau bahkan, kalau sampai Sakha menganggap hari itu bukan hari apa-apa bagaimana?
"Naya,"
"Hng?"
"Ada masalah?"
Lagi, Kanaya tertawa tidak jelas. "Enggak kok." Kali ini sambil mengunci loker dan sesegera mungkin menyimpan kuncinya di saku.
"Kamu kayak ketauan selingkuh gitu kenapa, sih?" kata Sakha yang sudah menjauh, duduk di tepi kasur dan masih memperhatikan gerak-gerik aneh Kanaya.
"Mulut kamu tuh gila yaa, lemes banget perasaan."
"Ya abis dari tadi kamu-nya aneh."
"Sakha,"
"Hmm?"
"Lusa hari apaa?"
"Lusa?"
Kanaya mengangguk, sangat antusias.
"Hari minggu bukan?"
Tapi kemudian Kanaya kicep dengan helaan nafas yang begitu panjang, sedang Sakha justru tersenyum lebar, benar hari minggu, laki-laki itu baru memeriksa lewat HP nya.
Kadang Kanaya curiga dan ingin menggotong Sakha ke dokter, siapa tau masih muda begitu dia punya simpanan penyakit pikun.
"Udah mau tidur?"
"Mau ngapain lagi."
Sakha jelas menoleh, melirik Kanaya dengan ekspresi bingung, gadis itu kenapa?
"Nay,"
"Don't touch, me!"
Fix ada yang tidak beres.
°°°
Lusa itu hari minggu, dan lusa juga merupakan hari anniversary mereka. Setelah di tela'ah lebih dalam lagi, sepertinya alasan kenapa Kanaya jadi tiba-tiba marah karena dia mengira bahwa Sakha melupakan hari itu.
Padahal jauh sebelum hari itu tiba, Sakha sudah menandainya lebih dulu di kalender HP nya, dan Kanaya mungkin tidak pernah tau.
Laki-laki itu jelas terkekeh ketika mengingat lagi bagaimana lucunya Kanaya tadi, yang tiba-tiba marah tapi tidak memberi Sakha penjelasan sama sekali. Minimal kalau dia berpikir Sakha lupa, kasih tau Sakha di mana letak salahnya. Bukan malah tiba-tiba sewot seperti itu.
"Kenapa coba kamu selalu berpikir kalau aku penting buat kamu, tapi kamu nggak sepenting itu buat aku?"
Padahal bagi Sakha Kanaya sama pentingnya. Kanaya sama berartinya. Laki-laki dengan setelah formal tersebut lantas tersenyum setelah memandangi Kanaya lekat-lekat, dan mengusap rambut Kanaya dengan usapan yang hati-hati.
"Makasih atas kerja samanya selama tiga tahun ini, Nay."
°°°
Sakha pikir akan sangat aneh ketika dia menyiapkan anniversary mereka dengan mem-boking kafe ternama, lalu membuatnya seromantis mungkin. Apalagi ketika dia mengingat saran mbak Rizal yang katanya harus banyak lilin, bahkan kalau bisa lilinnya di bentuk menjadi love di pinggiran kolam renang, membayangkan saja Sakha merinding sendiri. Lagi pula yang seperti itu terlalu lawas, dan menurut dia juga sebaiknya yang biasa-biasa saja.
"Udah bangun?" pertanyaan retoris tersebut Sakha ajukan begitu dia melihat Kanaya keluar dari kamar. Tidak ada jawaban, bahkan dari lirikan dan caranya menguap sepertinya dia masih kesal dengan Sakha. Tapi Sakha lagi-lagi hanya mengulas senyum tipis dan membiarkan itu. Sampai ketika Kanaya membuka pintu kulkas, Sakha ikut mendekat, dan dengan gerakan yang tiba-tiba Sakha menutup pintu kulkas tersebut kembali. Kanaya jelas kaget, dan begitu dia menoleh, dia sudah di kunci oleh laki-laki menyebalkan tersebut.
"Coba jelasin kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?"
"Emang aku kenapa?"
"Aku tau kamu marah."
"Nggak ada yang marah."
Kalau marah juga emangnya marah kenapa coba? gadis itu lanjut menggerutu.
"Nggak ada yang lupa sama anniv."
"Stop beranggapan kalau kamu nggak penting buat aku, Nay."
Kali ini Sakha memutar Kanaya, dan memegang kedua pundak itu dengan tatapan yang lekat. Sangat lekat, sampai Kanaya merasa dia susah menghirup oksigen di sekitarnya.
"Karena yang sebenarnya kamu sangat penting."
"Dan, Nay, dengan tiga tahun ini, aku makin merasa kalau aku nggak akan bisa tanpa kamu." Sakha terkekeh, merasa konyol dengan ucapan itu, tapi lagi-lagi yang sebenarnya memang seperti itu, itu yang dia rasakan. Dia sudah terbiasa dengan Kanaya, dan dia tidak yakin dia akan tetap waras jika sewaktu-waktu Kanaya pergi.
"Makasih udah mau bekerja sama, sama aku selama tiga tahun ini."
Kali ini Kanaya tersenyum, dia pun berterima kasih karena selama tiga tahun terakhir, selama tiga tahun yang sudah mereka habiskan, banyak hal yang sudah diajarkan oleh laki-laki itu.
"Kamu udah melakukan semuanya dengan baik."
"Mau diucapin, selamat hari anniversary?" Ini bagian anehnya. Bahkan Kanaya langsung mendongak dengan tatapan memincing, sementara Sakha, jelas laki-laki itu tergelak.
"Biasa aja dong lirikannya, tajam bener."
"Tau ahh!"
"Masa udah ngambek lagi, sih, Nay?"
"Nggak ada yang ngambek."
"Cewek mahh gitu."
"Oh iya, I have something for you."
"Hadiah?"
"Bukan dari aku, sihh, hadiah dari aku nanti malem aja, sekalian kita keluar."
"Terus?"
Sakha merogoh sakunya, dan memperlihatkan dua tiket untuk bulan madu. "Dari mama," kata yang laki-laki.
Melihat dua tiket bulan madu tersebut Kanaya seketika menganggah.
"Mama udah pengen punya cucu ya, Kha?"
Bukan Sakha namanya kalau dia berhenti mengerjai Kanaya, jadi dia mengangguk dengan anggukan yang miris.
"Jadi?"
"Jadi kita harus buatin mama cucu secepatnya. Yuk? Mau sekarang aja nggak? Mumpung hari libur? Siapa tau langsung gol, iya kan?"
Di sebelah laki-laki itu, Kanaya justru menunduk dengan helaan nafas panjang. Jelas itu menjadi beban pikiran untuk dia. Sedangkan Sakha, sudahlah, dia menyerah, takut kualat kalau mengerjai Kanaya terus-terusan.
"Mama bukan tipikal ibu mertua yang suka nuntut ini atau pun itu ke menantunya." kata laki-laki itu, dari belakang dia memeluk Kanaya.
"Mama juga tau kok kalau untuk masalah anak, kita nggak begitu buru-buru, dan menurut mama nggak papa, karena kita juga masih sama-sama kuliah."
"Tapi kamu tadi—"
"Becanda."
"Nggak lucu tauu!" Saat Kanaya sudah akan berontak, Sakha justru mengeratkan pelukannya.
"Maaf."
"Tapi tiket bulan madunya beneran dari mama, kok. Bukan biar kita cepet-cepet punya anak, tapi biar kita punya waktu untuk senang-senang berdua."
"Bukannya kamis depan kamu ada dinas sama papa ya, keluar kota?"
"Aku nggak jadi ikut, papa juga ngasih izin untuk libur dulu selama tiga hari."
"Oh."
"Oh doang?"
"Udah ahh minggir, kamu tuh berat tau."
"Kangeenn."
"Minggir dulu."
"Cium dulu."
"Nggak mauuu."
"Harus mau."
"Minggir nggak?"
"Nggak."
"SAKHAA!"
"Tadi aku pas mau jalan ke sini kesandung btw." Kanaya yang tadi masih saja mencoba memberontak seketika mendongak.
"Kesandung apa? Luka nggak?"
"Kesandung pesona kamu."