DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 27



Kemarin sore, tepatnya di jalanan Jakarta setelah mereka melewati zebra cross Kanaya mencoba melepaskan tangan Sakha yang sedari tadi mengenggam nya, tapi belum sepenuhnya lepas genggaman Sakha justru lebih menguat.


Dan seakan tidak memperdulikan Kanaya meski gadis itu menatapnya nyalang, Sakha dengan kelewat santai masih berjalan sembari menyeret gadis itu, kurang lebih seperti bapak yang mengandeng anaknya agar tidak kesandung.


"Dimata lo gue ini apa sih, Bocah kecil yang kemana mana harus digandeng, iya?"


"Lo tau nggak, kalau cewek sama cowok yang bukan mahram gandengan begini, katanya pahalanya rontok"


"Hah"


Sakha mengangguk, sekilas menoleh pada Kanaya lantas mengulas senyumnya "Tapi kalau uda suami istri begini, justru dosanya yang berguguran, lo nggak mau emang gugurin dosa bareng gue"


"Gandengan begini bisa gugurin dosa?"


"Iya"


"Waah,"


Kanaya geleng geleng kepala sebelum akhirnya melangkahkan kaki hingga menyamai Sakha, Islam memang seluar biasa itu. Raut Kanaya seketika berbinar, ia juga mendadak semangat dan kian merapatkan jemari mereka, bahkan kata Kanaya dia akan mengandeng Sakha terus seperti saat ini.


Seperti halnya sekarang, sejak mereka duduk dan menonton televisi di kursi ruang tamu, sedetik pun Kanaya tidak melepaskan tangan Sakha, bahkan saat Sakha ke kamar mandi karna kebelet, gadis itu tidak mau tautan mereka terlepas, benar benar tidak mau jika kaki Sakha belum menginjak lantai kamar mandi.


"Gandengan sih gandengan, tapi enggak begini juga kali nay"


"Biar dosa gue rontok"


"Iya tapi enggak usa peluk peluk gue juga"


Kanaya tidak menggubris, ia semakin mendekatkan tubuhnya hingga menempel pada dada Sakha "Siapa tau dapet tambahan pahala kalau kita begini"


"Lo tau kan gue flu"


"Iya"


"Kalau tau sana minggir"


"Apaan sih,"


Disampingnya Sakha hanya bisa menghela nafas, kepalanya semakin mumet Karna sedari tadi Kanaya terus terusan menempel padanya. Sebenarnya Sakha tidak mempermasalahkan, mau Kanaya begitu terus sampai pagi ketemu pagi juga tidak masalah, tapi saat seperti ini, jelas Sakha bingung sendiri, ia takut Kanaya ketularan flu gara gara dirinya flu.


"Lo uda minum obat?"


"Tadi"


"Besok juga enggak usa jualan, boleh jualan kalau lo bener bener uda sembuh"


"Kalau gue sembuhnya masih lama?"


"Ya nggak papa"


Kanaya serius dengan ucapannya, lagi pula mereka tidak akan mati kelaparan sekalipun dalam seminggu ini tidak ada pemasukkan, sementara pengeluaran masih selancar hari biasanya. Bagi Kanaya yang penting Sakha sembuh dulu.


"Lo kedinginan gak"


"Enggak sih"


"Lebih anget kalau begini" Kata Sakha setelah melebarkan selimutnya, hingga selimut itu juga menutupi tubuh Kanaya.


"Gimana?"


"Tadi aja gue peluk gak mau, sekarang meluk meluk gue"


Alih alih mengeles Sakha malah tergelak. Ia semakin merapatkan pelukannya pada gadis itu, sementara diluar, suara hujan kembali terdengar, mungkin tidak sederas kemarin, tapi dugaan Sakha, hujan kali ini bisa bertahan sampai pagi berikutnya.


"Tidur gih, uda mau jam 10 loh sekarang"


"Gue masih suci astaga" Seketika Sakha istighfar, tapi belum dua kali ia mengucap istighfar decakan dari Kanaya justru menghentikannya.


"Iya gue tau lo masih suci, masih perawan-"


"Perjaka bos"


"Nah itu maksut gue"


"Tapi gue ngajak tidur bareng enggak punya niatan lebih kok, cuma mau gandengan begini"


"Kalau gue mau lebih gimana coba, kalau gue apa apain lo?"


Sakha tidak serius, ia hanya menakut nakutin istrinya itu, tapi yang ia dapat malah sesuatu yang membuatnya terkejut, tiba tiba saja Kanaya mendongakkan kepalanya, refleks membuat jantung Sakha meloncat dari tempatnya dan melongo tidak habis pikir.


"Nunduk gak lo"


"Enggak"


"Nunduk gue bilang"


"Katanya mau apa apain gue, ayoo, lo mau kulitin gue hidup hidup dikamar juga gue enggak masalah kalau gue bisa dapet pahala"


Gadis itu tersenyum selebar apa yang dia bisa sebelum akhirnya menunduk dan mengandeng Sakha lagi, sementara Sakha, ia masih berkedip kedip layaknya orang yang sedang tersesat dan tidak tau akan melangkah kemana.


"Maksut gue enggak gitu nay, Emang paling susah tuh ngomong sama lo"


"Udahlah gue ngantuk"


"Yaudah tidur"


"Lo beneran gak mau tidur sama gue"


"Ogah"


Kanaya mengedikkan bahu, tidak malasah juga jika Sakha tidak mau. Toh besok masih ada hari untuknya mengandeng tangan itu lagi.


"Daah gue tidur dulu,"


"Bentar" Katanya yang lebih dulu menahan Kanaya, jelas gadis itu tersenyum


"Berubah pikiran?"


"Ngarep banget tidur bareng gue" Kata Sakha, perlahan ia beranjak dari duduk, memegang dua bahu Kanaya dan menatap dua netra itu sebelum ia memejamkan mata nanti, Lalu tangan kanannya ia letakkan pada kening Kanaya, persis seperti seorang ibu yang memeriksa suhu tubuh anaknya lantaran sang anak demam, Kanaya yang tidak tau Sakha akan memalukan apa jelas diam, tapi dalam sekejap ia merasa beku saat Sakha menyondongkan tubuh, lalu mencium telapak tangannya sendiri yang masih menempel pada kening Kanaya alih alih Kanaya. Dan terakhir, ia mengacak kepala gadis itu


"Mau lagi?"


Kanaya tersenyum. Tidak menjawab tetapi kemudian berjinjit dan balas mencium pipi kanan Sakha tanpa dilapisi apapun.


"Yang kiri"


"Dosa gue bakalan rontok gak?"


Sakha mengedikkan bahu, bibirnya tidak bisa berhenti untuk tidak tersenyum.


"Tapi apa salahnya sih buat suami bahagia"


Dan dengan begitu saja Kanaya langsung mencium pipinya lagi.


sampai sampai setelahnya ia terbirit, berlari secepat mungkin dan langsung menutup kamar. Apa apaan dia ini


Sementara Sakha, tidak ada yang dia lakukan selain tersenyum sambil memandangi gadis itu, was was barang kali dia terjatuh.


"Jangan lupa baca doa" Kalimat terakhir sakha untuk Kanaya hari ini, tentunya sebelum pintu dari kamarnya itu tertutup rapat.