
Meski sama sama khawatir, kehawatiran seorang ibu jelas lebih besar di bandingkan seorang Ayah, dan Sakha membuktikannya hari ini, Saat dia baru saja menapaki depan rumah, suara ibu melengking dengan nada senang, sebab ia mengunjungi beliau setelah lebih dari seminggu keluar dari rumah ini.
Binar dari ibunya menjelaskan dengan sejelas jelasnya jika beliau bahagia karna kedatangan Sakha juga Kanaya, sampai sampai beliau heboh sendiri dan bukan hanya memeluk dengan anteng tapi juga meraba raba badan Sakha, seolah memastikan jika tidak ada yang kurang dari tubuh lelaki itu.
"Kamu kenapa baru ke sini sih Kha, apa jadi suami sesibuk itu?" Tanyanya, Sakha dan Kanaya sama sama terkekeh, tidak bisa Kanaya bayangkan, pasti ibunya lebih dari ini nanti.
"Naya juga, enggak kangen sama mama?"
"Kangen dong ma, kangen banget"
lantas dengan begitu saja, Kanaya langsung memeluk ibu Sakha. Dengan isi kepala yang masih tidak habis pikir mengenai takdir yang bergerak semendadak ini, perasaan baru kemarin dia berteriak teriak meminta bantuan ibu Sakha saat Sakha mengejarnya, Hingga panggilan tante tergiang jelas di telingga Kanaya.
"Tanteee tolooong" Waktu itu Kanaya terengah-engah, menemukan ibu Sakha sedang memasak di dapur, ia bersembunyi di balik bahunya dan menunjuk Sakha yang baru di sana
"Sakha Tan, Sakha nakaal"
"Dia mau tarik hidung Kanaya sampe merah katanya,"
Sempat sempatnya wanita itu mengusap tangan Kanaya, bermaksud menenangkan gadis itu, di sela sela kegiatannya memasak
"Uda kamu di belakang tante aja, biar nanti tante jewer sakha-nya"
Sakha yang dapat ancaman tidak menghiraukan. Melihat tempe goreng di meja ia jadi tidak tertarik lagi dengan Kanaya, apalagi mengejarnya demi menarik hidung tidak mancung itu. Sakha lebih memilih duduk, meneguk air putih dan memakan tempe buatan mama.
"Mama yakin mau jewer Sakha, padahal dia tuh yang jahil, dia berantakin kamar Sakha ma, dia juga nyontek PR Sakha" sambil mengunyah tempe Sakha mengadu pada mama tentang kelakuan Kanaya.
sedang Kanaya, matanya melotot, tidak terima dengan tuduhan Sakha.
"Gue enggak nyontek ya, gue cuma liat"
"Terus di salin, persis sama punya Sakha?" tanya mama, sekali lagi mama tertawa karna anggukan jujur Kanaya "Abis Nay tuh keseel tan, Sakha enggak mau bantuin Nay" Kanaya balas mengadu, sadar jika Sakha sudah tidak berminat menarik hidungnya, ia ikut duduk di depan Sakha.
"Tan, boleh enggak minta tempenya?"
"Boleh,"
"Enggak"
Sakha yang kebetulan lebih dekat dengan piring berisi tempe goreng seketika menariknya, dan kembali mencomot tempe tersebut seolah olah tengah mengiming iming Kanaya.
"PELIT BANGET SI JADI ORANG"
"Terserah gue lah"
"Uda Uda, itu biarin di makan Sakha, kamu nunggu yang di wajan dulu ya, sebentar lagi matang kok" Ujarnya lembut.
Kanaya mengangguk, ia sampai melet melet saking senangnya juga bermaksud mengejek Sakha tapi yang di ejek malah terlihat tidak peduli.
Kepingan dari hari itu cukup membuat mata Kanaya panas, sampai sampai siap meneteskan sesuatu yang sebelumnya ia tahan agar jangan keluar, Kanaya memejamkan matanya, balik mengusap punggung Mama Sakha yang dulu selalu dia jadikan tameng.
"Mama apa kabar, baik kan?"
"Baik dong, kamu gimana, kamu kayak kurusan loh nay" wanita itu ganti memegang pundak Naya, memperhatikan tubuh Naya sama seperti sebelumnya ia memperhatikan Sakha
"Bener enggak sih kamu agak kurusan, apa perasaan mama aja ya"
"Perasaan mama mungkin, Dia kan dari dulu kecil ma," Sahut Sakha yang masih berdiri di sana, yang mana Kanaya langsung menatapnya "Gue uda gede ya, lo liat dong gue sekarang itu uda tinggi"
"Segitu tinggi?"
"Maaa..."
Sakha berdecak malas mendengar rintihan Kanaya, ia mencium pipi kanan sang mama setelah itu melangkah masuk
"Sakha ke dalam dulu ma"
"Papa mu ada di halaman belakang Kha, jangan lupa Salim dulu"
"Naya juga ke papa dulu ma, mau Salim" Kanaya ikut ikutan, Mama Sakha mengangguk, lantas berjalan berdampingan bersama kanaya.
Di temani coklat panas buatan mama, anak dan ayah itu hampir menghabiskan waktu selama dua jam untuk duduk juga saling mengobrol. Ada banyak hal yang mereka bahas, mulai dari Indonesia yang semakin ke sini semakin mengalami krisis identitas, anak anak remaja yang lupa akan kewajibannya, tanaman mama yang layu sebab kurang di perhatikan akhir akhir ini sampai papa menaruh coklat panasnya dan fokusnya ganti ke arah Sakha
"Papa denger kamu sama kanaya kuliah di kampus yang sama? emang iya kha?"
"Rencananya begitu pa" Jawab Sakha yang ikut menaruh gelasnya, "In Syaa Allah Sakha daftar lewat jalur beasiswa dan Kanaya jalur mandiri"
"Dan biayanya?"
"Gampang pa, itu uda Sakha atur"
Papanya tersenyum, lalu mengangguki pelan, lantas beliau bertanya lagi.
"Menurutmu, laki laki itu akan kehilangan harga dirinya atau tidak saat ada campur tangan orang tua dalam ekonomi keluarganya"
Sakha nampak berpikir, selanjutnya ia mengangguk
"Karna kan, sebagai suami, seharusnya dia mampu mengurus ekonomi-nya, dan laki laki mana sih yang enggak gengsi saat ada campur tangan dari laki laki lain dalam ekonomi keluarganya, meskipun itu orang tuanya sendiri" imbuh Sakha sekaligus bertanya.
papanya tertawa, ia tidak bisa membenarkan apalagi menyalahkan ucapan Sakha, sebab saat dia muda pun pemikirannya sama seperti Sakha saat ini.
"Tapi Kha, biar bagaimanapun, kamu tetap manusia, meski uda jadi suami, ya bukan berarti kamu enggak butuh bantuan orang lagi dong?"
"Kalau masalah lain, Its okey, tapi kalau masalah ekonomi, Sakha menutup luang untuk di bantu,"
"Papa inget, waktu kita keluar dari rumah nenek dan memutuskan untuk tinggal di rumah ini, papa bilang apa ke Sakha?"
"Laki laki harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri, papa Inget kan?"
"Sakha yang masih kecil enggak tau apa apa pa, Sakha enggak paham dengan maksud papa, Sakha cuma bisa liat kaki Sakha dan memastikan apa Sakha berdiri dengan kaki Sakha sendiri seperti laki laki yang papa maksut, tapi sekarang, sakha ngerti, Sakha paham apa maksut papa hari itu,"
"Dan Sakha sekarang bukan anak kecil lagi, uda saatnya Sakha berdiri dengan kaki Sakha sendiri, Enggak peduli apa di tengah tengah Sakha bakalan jatuh, tersungkur atau yang lain"
"Papa pernah bilang gitu ya?"
Gantian Sakha yang tertawa, ia saja masih ingat, tapi kenapa yang memberi wejangan malah lupa
"Yaudah, kalau begitu, buktikan sama papa kalau kamu uda kuat berdiri dengan kakimu sendiri, buktikan sama papa kalau kamu uda pantas di sebut laki laki"
"Jadi suami yang baik untuk Naya"
sebagai penutup pembicaraan siang itu, papa menepuk pundak Sakha dua kali sebelum beranjak
"Kunci motornya ada di samping televisi, tapi helmnya enggak ada, tau sendiri kan papa uda jarang pake motor itu, helm pun lupa terakhir papa taruh mana"
"Makin tua ya ternyata" Kata Sakha dengan nadanya yang mengejek, dan dia sudah tau papanya tidak akan marah, justru kekehan renyah yang dia dengar
"Harusnya ya belum tua tua banget, tapi enggak tau kenapa papa jadi pikuk begini"
Jawabnya membuat Sakha ikut tertawa, Papanya memang gokil, bijak, dewasa, cerdas, pokoknya panjang kalau di definisikan.
Sakha meneguk coklatnya lagi, membiarkan papanya pergi dan duduk menikmati pemandangan belakang rumah, yang mana menjadi salah satu ruang favoritnya di sini.
•
•
•
Jangan lupa like, komen, dan vote
syukur syukur kalau ada yang mau share cerita ini😂
btw kalau uda komen jngn di hapus, saya jadi penasaran isi komennya apa😂, Juga salam kenal untuk para pembaca
"Dear Sakha"