
Menjelang jam sebelas, Kanaya menyingkap selimutnya, gadis itu beranjak dengan hati hati, ia membuka pintu lalu berjalan ke kamar Sakha. Awalnya Kanaya pikir kamar Sakha pasti dikunci, tapi saat dia mendorongnya pelan, pintu itu malah terbuka, menampilkan seseorang yang kini terlihat tengah pulas dalam tidurnya.
Sejenak gadis itu berdecak, apa Sakha tidak pernah berpikir yang negatif ya, misalnya kalau ada orang yang masuk dan berniat maling di jam jam segini, lalu masuk kedalam kamarnya, sementara kamarnya tidak kunci bagaimana? Terus kalau maling itu membunuhnya bagaimana?
"Nggak pernah nonton sinetron sih" Lalu Kanaya berjalan lagi. Kalau dilihat dengan pergerakannya, mungkin dia ini yang seperti maling, mengendap endap dan dengan lancang naik ke ranjang Sakha. Sesaat memandangi Sakha, memastikan apa dia betulan tidur? Atau sebenarnya dia tau Kanaya diam diam masuk.
Tapi Kanaya tidak peduli juga kalau dia ketahuan, toh mereka sudah menjadi suami istri. Tidur berdua begini juga tidak salah. Langsung saja dia tiduran di ranjang Sakha, dengan posisi tengkurap dan memperhatikan bagaimana Sakha kalau begini.
"Ganteng sih, tapi ... "
"Wahh" Seperti anak kecil yang menemukan selembar uang 50 ribu dijalan, sebahagia itu Kanaya saat tangannya tidak sengaja menyentuh jakun Sakha. Kanaya bukan perempuan penggemar perut sixpack, cukup jakun yang seperti ini saja dia bisa cinta mati dengan pemiliknya.
"Belum tidur hm?"
Spontan gadis itu menunduk, tapi tangannya lebih dulu ditahan oleh Sakha, jadi tangan itu masih ada dijakun-nya.
Sakha terkekeh, kalau Kanaya saja dia biarkan masuk ke kamarnya. Jadi dia langsung memeluk gadis itu tanpa izin.
"Jam segini anak kecil harusnya uda tidur, malah mainin jakun gue,"
"Lo sejak kapan sadar"
"Gue enggak pernah koma" katanya masih memeluk gadis itu, dan Kanaya juga masih menunduk meski tangan Sakha kini melingkar di bahunya, membawanya lebih dekat hingga Kanaya bisa mencium jelas aroma colonge dari tubuhnya.
"Maksut gue kapan lo bangun?"
"Sejak lo nyentuh jakun gue,"
"Pas gue ngendap-ngendap lo enggak tau?"
"Enggak"
"Minggir, gue mau balik"
Lagi lagi Sakha terkekeh, setelah apa yang Kanaya lakukan lalu dia akan membiarkan Kanaya pergi begitu saja, ya tidak mungkin!
"Katanya mau tidur bareng gue, Yaudah tidur"
"Berubah pikiran"
"Gue juga berubah pikiran"
"Lepas gak"
"Enggak"
"SAKHA!"
"Hm"
"Lepas"
"Tidur" Katanya, kali ini Sakha menggeser tubuhnya, dan jarak mereka jelas berkali kali lebih dekat dari yang tadi, Kanaya bahkan sudah berada didalam dada Sakha. Awalnya ia terkejut, tapi begitu nyaman menjamahnya, ia tidak bersuara lagi, mata bulat itu langsung terpejam.
"Mimpi indah nay"
•••
Pagi kali ini, Sakha seolah menjadi satu-satunya orang yang tidak merasakan hawa dingin sekalipun diluar anginnya menusuk, pun gerimis belum selesai sejak jam 2 lalu. Sebab hanya dengan memeluk Kanaya begini saja tubuhnya menghangat.
Tadinya Sakha mau membangunkan gadis itu, karna dia mau siap siap ke-masjid, tapi karna hujan belum juga reda, kemungkinan dia akan sholat dirumah saja, toh meskipun dirumah dia masih bisa berjamaah dengan Kanaya.
"Morning"
Kanaya mengumpulkan semua kesadarannya sebelum akhirnya dia benar benar sadar. Dan baru saja dia berniat keluar dari rengkuhan Sakha, tapi urung sebab tenaga Sakha jelas lebih besar dibanding dirinya. Lelaki itu menunduk, menatap Kanaya dengan iris-nya yang terlihat tenang. Sementara Kanaya yang menatap netra itu tidak bisa berkata lain selain diam. Hingga akhirnya Sakha tersenyum, lantas beranjak dan melepaskan rengkuhannya.
"Jamaah ya, hujannya masih deres"
"Sa, sama gue?"
Sakha mengangguk, mengacak rambut istrinya itu sebelum dia menyingkap selimut dan melangkahkan kaki keluar kamar. Seakan akan Kanaya terima terima saja meski penampilannya yang enggak ini malah diperburuk oleh Sakha.
Gadis itu mendengus, meski dia kesal, dia tetap diam. Sebab Kanaya tidak punya tenaga meski hanya sekedar berteriak.
"Eh nay"
"Hm"
"Lagian jam segini uda mandi"
"Ke kampus yang ketemu manusia aja mandi, masa mau ketemu Rabb gue, gue enggak mandi" Begitu jawabnya. Yang mana setelah itu Kanaya hanya menggaruk bagian belakang kepalanya, selama ini, apa yang dibilang Sakha hampir semuanya benar, termasuk yang barusan juga.
"Sakha"
"Hm"
"Mau gue siapin air hangat nggak?"
"Buat?"
"Buat nyiram elo! Ya buat mandi dong suamiku"
Dan tau apa yang Sakha lalukan, sekonyong-konyongnya dia malah menutup pintu kamar mandi, membiarkan Kanaya mengumpatinya habis habisan diluar
"Keluar gue sleding lo"
"Siapin baju gue deh mending, lo nyleding gue jatuhnya dosa"
"Bener juga"
Tuh kan apa Kanaya bilang, yang diucapkan Sakha itu hampir semuanya benar.
"Gelar sajadah juga ya Nay" teriaknya lagi, padahal menyiapkan bajunya saja belum, Kanaya bahkan baru berjalan 4 langkah dari sana
"Apa lagi?"
"Kopiyah gue juga tolong ambilin"
"Terus?"
"Baju Kokoh gue lo setrika juga enggak papa"
"Terus"
"Uda"
"Uda memperbabu gue nya? Yakin lo?"
Sakha yang didalam tertawa, dia tau betul bagaimana ekspresi Kanaya saat ini, pasti bibirnya itu sedang menye-menye sekarang.
"Eh sekalian dong, isi gelas kosong yang ada dikamar gue"
Sebab setiap ingin tidur, Sakha pasti minum air putih terlebih dahulu, dan dia baru ingat kalau gelas di kamarnya kosong.
"Rapiin meja belajar gue dong nay, lo kan istri yang baik"
"Iya saking baiknya sampai dimanfaatin begini, emang suami paling jahat itu elo Kha"
Lagi lagi Sakha tertawa, sebenarnya dia tidak betulan, dia hanya bercanda saja, tapi saat keluar dari kamar mandi, sajadah sudah digelar, baju kokoh dikamar juga sudah rapi seperti baru disetrika, meja belajar tidak seperti tadi karna buku bukunya aman dalam tempat yang seharusnya, dan lagi, gelasnya betulan diisi.
"Gue becanda loh"
"Setelah gue lakuin semuanya lo bilang becanda! Waah ngajak ribut emang!"
"Ehh enggak gitu" Melihat Kanaya menggulung bagian lengan kaosnya jelas Sakha panik, buru buru ia mencengkal kepalan tangan Kanaya.
"Gue yakin setelah apa yang lo lakuin ini lo pasti dapet pahala, masa mau lo buang gitu aja"
"Ya juga"
"Nahh turunin dahh"
Dengan begitu saja Kanaya langsung menurunkan tangannya. Membuat Sakha bisa bernafas lega sekarang.
"Anak pinter"
"Gue mau wudhu dulu, gantian dong lo yang siapin mukenah gue"
"Dimana mukenah lo"
"Ya dikamar gue lah, kalau dikamar pak RT itu mukenanya Bu RT" katanya sebelum melengos, lagi lagi gadis itu membuat Sakha terkekeh. Inilah Kanaya, dengan segala ke-absuran yang dia miliki.