
Lebih baik menatap ke bawah hingga membuatmu bersyukur ketimbang menatap ke atas, tetapi kamu berakhir kecewa. Sebab, kamu akan merasa hidupmu tidak seenak mereka, hidupmu tidak sebaik hidup mereka, Padahal kamu tidak tau menahu mereka yang kamu katakan hidupnya enak itu sedang berada di titik mana? betulkan mereka berada dalam titik baik baik saja? sesuai dengan prediksimu
Melepas tatapannya dari gedung gedung di sepanjang jalan yang menjulang tinggi, mata Kanaya beralih pada beberapa pedagang kaki lima.
Jika di gedung gedung tadi para pekerjanya nampak sibuk dengan urusannya sendiri, di tambah juga wajah lelah yang ketara sekali butuh waktu istirahat, lain dengan para penjual kaki lima.
Pedangan satu dengan yang lainnya saling mengobrol, terkadang satu tersenyum lainnya terkekeh. Satu berbicara tak lama suara lain terdengar saling bersaut sautan.
Yang lebih unik lagi, bahkan ada yang melakukan barter. Pakde pakde penjual molen nampak mendekati gerobak tukang gorengan, lalu menyerahkan sekantung plastik putih transparan yang berisi molennya dan di ganti dengan gorengan dengan jumlah yang sama.
"Lo juga kalau dagangan sama Tama suasananya serame ini Kha?"
"Terus lo pernah enggak tukeran makanan sama pedagang lain kayak yang pakde tadi lakuin"
Tawa ringan dari Sakha terdengar setelahnya, Ia merapatkan tangan Kanaya agar semakin erat melilit di pinggangnya. Khawatir jika hal hal yang tidak di inginkan nanti malah terjadi. itulah mengapa Sakha tidak boleh lengah sebagai suami.
"Nanti lo jatuh kan gue yang repot" ucapnya sebelum menjawab pertanyaan Kanaya. Sedang kanaya bungkam, semakin erat tangannya melingkar di pinggang Sakha, semakin dekat juga dia dengan tubuh lelaki itu, mungkin Sakha tidak apa apa tapi Kanaya yang apa apa, tubuhnya mendadak kaku, untuk bernafas pun rasanya oksigen perlahan menghilang dan tidak mau dia hirup.
Padahal jika jujur tidak mempengaruhi hubungan keduanya, Kanaya sudah menyukai Sakha sejak lama, tapi mengapa keadaan seaneh ini baru menerpanya setelah ia resmi menjadi istri Sakha.
"Nay, Lo tau enggak enaknya jadi pedagang kaki lima?" Pertanyaan yang baru keluar dari mulut Sakha berhasil menarik nyawa Naya agar tidak pergi meninggalkan raga, lantas tidak lama Kanaya menggeleng, dan jelas sekali Sakha melihat pergerakan gadis itu dari kaca spion sekalipun gelengan dari Kanaya begitu pelan.
"Lo bisa denger keluh kesah banyak orang nay, lo juga bisa denger bahagia-nya orang lain lewat hal hal sederhana yang pernah ataupun sedang mereka jalani, pertama kali gue jualan sama Tama, ada beberapa pedangan lain yang ngeluh sebab dagangan mereka sepi, ada yang ngeluh sebab utangnya banyak, ada juga yang ngeluh kalau uang yang mereka dapat dari hasil jualan belum cukup untuk kehidupan sehari harinya"
"Dan elo seneng denger keluhan mereka, lo waras?" seketika Naya geram, namun lagi lagi Sakha terkekeh, bukan itu yang dia maksud.
"Gue enggak sejahat itu kali, gue seneng sebab gue sadar setelah denger keluh kesah orang di sekeliling gue. Nyatanya yang penat bukan cuma gue, gue cuma salah satu dari jutaan orang yang merasa capek sama hidup"
"Dan dari mereka juga gue bisa ngerasain gimana rasanya bahagia meski pencapaian kita sangat sederhana. enggak harus nunggu gue jadi Bos baru gue bisa bahagia, sesederhana dapat uang 50 ribu dari satu pembeli yang beli banyak dagangan kita itu uda berarti banget buat kami para pedagang,
"Bahkan, kadang ada loh pembeli yang ngasih kita uang lebih tanpa mau di kasih kembalian"
Sore itu obrolan keduanya terus berlanjut, di atas motor Vario berwarna hitam dengan helm bogo yang motif dan warnanya sama juga di bawa lampu lampu jalanan yang satu demi satu menyala, memancarkan cahaya Oren yang indah saat sinarnya bergantian jatuh ke mata Kanaya.
"Pegangan lo lebih erat nay, gue mau ngebut"
"Gue cekek lo" peringatnya tidak main main. Sakha yang mulanya serius terkekeh, ia tidak jadi melajukan motornya, sebab Sakha tau Kanaya punya trauma saat kecil. Katanya gara gara bang Rizal yang keterlaluan mengendarai motor, ngebut dan berakhir nyungsep bersama Kanaya, hingga lutut Kanaya lecet lecet dan besoknya kedua Kakak beradik itu harus di urut oleh tukang pijit, makanya Kanaya jadi was was saat menaiki motor. Dan bayangan dirinya nyungsep di atas aspal terus terngiang sampai hari ini.
"Kayaknya ini uda mau magrib" Sakha berujar lagi.
Kalau di lihat dari warna langit saat ini, memang sudah mau magrib, tapi tetap saja Kanaya tidak mau kalau mereka harus ngebut, di tambah kalau Sakha nanti menyalip kendaraan lain.
Ngeri!
"Iya sih ini emang uda mau magrib, tapi udahlah gak usa ngebut, yang penting selamet sampe tujuan Kha, Lagian kalau nanti adzan dan kita belum di rumah, Yaudah sholat di masjid terdekat aja"
"Lo itu perempuan"
"Terus?"
"Lebih utamanya sholat di rumah nay, beda sama gue yang emang harus di masjid"
"Lebih utama bukan berarti enggak boleh kan?"
Tawa Kanaya tergelak menemukan Sakha terdiam, lantas menepuk pundak suaminya itu, "Semoga keburu" Ia lanjut membisikkan tepat di telingga Sakha.
Berdasarkan info terakhir di grub seangkatan, Nilai ujian nasional mereka sudah bisa di lihat hari ini. Hari wisuda pun sudah di tentukan oleh pihak sekolah, katanya pertengahan bulan Juli, yang artinya tinggal satu Minggu lagi.
"Enggak nyangka ya, perasaan tuh kemarin baru MOS, Uda lulus aja" Begitu kata Kanaya saat dia dan Sakha sudah berada di sisi kanan motor.
Sakha mengambil helmnya, dan menyerahkan helm milik Kanaya Agara gadis itu segera memakai
"Cara kerja waktu emang gitu nay, Cepet"
"Gue tebak sih, nama lo nanti di umumin sebagai siswa terbaik, dengan nilai di atas rata rata"
"Aamiin" Diiringi kekehan Sakha dengan cepat menjawab, dia sangat bersyukur jika harapan yang di semogakan benar benar terwujud, salah satunya menjadi siswa terbaik dengan nilai di atas rata rata. Tapi kalaupun bukan dia, ya tidak papa juga.
"Naik nay" Titahnya setelah itu.
Kanaya menurut, segera naik ke motor Sakha dan melilitkan tangan seperti yang sebelumnya.
"Lo mau sarapan bubur ayam gak nay?"
"No, gue enggak pengen bubur ayam"
"Terus?" Sakha kembali bertanya, motor mereka sudah jalan, bahkan sudah rada jauh dengan kos kosan dan di sepanjang jalan banyak pedangan yang sudah menjual dagangannya
"Lo mau bakpao?, enak loh, gue pernah beli sama Tama dulu"
"Enggak mau juga, gue enggak suka bakpao, kata bang Rizal, kalau gue makan bakpao nanti pipi gue jadi gede"
"Lo cuma di kerjain sama bang Rizal" Ujar Sakha, tawanya terdengar mendengar alasan Kanaya kali ini. Ia juga heran dengan manusia bernama Rizal itu, senang sekali dia menjahili Kanaya
"Atau lo mau apa nih, kita kan belum sarapan, lo enggak laper?"
"Gue mau es teh, haus enggak laper" Keluhnya kemudian. Sakha yang tengah memboncengnya berdecak tidak habis pikir.
"Lo gila ya, ini masih pagi dodol, lo mau es? yang bener aja"
"Emang salah apa kalau gue haus, lo aja uda laper padahal belum ngapa ngapain, ya wajar dong gue haus di waktu sepagi ini"
"Ya tapi bukan berarti harus beli es" Sakha memegang tautan tangan Kanaya, sebab dia tau Kanaya mau melepaskan lilitan tersebut
"Gue beliin Air dingin" Kata Sakha kemudian.
Dan itu berhasil membuat Kanaya mengsam mengsem di balik helmnya tanpa sepengetahuan Sakha, bukan perkara air dingin, tapi Sakha seperti takut jika dia marah.
-
-
***Jangan lupa komen, like dan Vote
Tambahkan juga di daftar Fav!!
Terimakasih***