DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 10



Jika semalam Sakha di kejutkan oleh teh hangat, pagi kali ini lain lagi. Lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya saat tak sengaja menemukan Kanaya sudah berkutat di dapur, padahal ini masih begitu pagi, dia pun baru pulang dari masjid.


Sakha yang bersender di dinding dapur melepas kopya-nya, lantas bertanya apa Kanaya sudah melaksanakan kewajibannya sebagai hamba.


"Lo uda sholat kan?"


"Uda dong" Jawabnya. Tanpa mau tau dimana dan sedang apa Sakha di belakangnya, Kanaya malah sibuk ke kanan kiri, mengambil beberapa bumbu dan penyedap rasa. Ia juga menambahkan minyak goreng yang dirasa kurang untuk dua telur.


"Lo bisa masak telur?"


"Enggak tau, ini kali pertama gue eksperimen" Jawabannya, yang mana Sakha malah terkekeh


"Kalau enggak enak gimana?"


Gadis itu mencebikkan bibir, meski Sakha di belakangnya, tapi suara decakan Naya terdengar jelas.


"Pokonya kudu di makan, enak enggak enak wajib habis" Katanya kemudian. Sebagian orang mungkin menganggap ini gampang, tapi tidak dengan Kanaya. Gadis itu harus mencari resepnya terlebih dahulu, padahal sesederhana garam dan micin dengan takaran sesuai selera, setelah itu dia juga harus menonton Vidio agar lebih Afdol saat di praktekan, dan sama seperti resep yang nyatanya begitu sedikit, tutorial membuat telur dadar yang Kanaya tonton juga berdurasi pendek, mungkin hanya butuh 5 menit untuk membuat dan memasak telur itu sampai matang.


Masalah enak atau tidak, keputusannya tetap sama, dia akan menghabiskan telur itu, Kalaupun Sakha tidak mau membantunya, Kanaya bisa melakukan sendiri. Bukan apa apa, Kanaya hanya ingin menghargai prosesnya, tanpa menghakimi jika hasilnya nanti justru berhianat. Pun dia bisa belajar dari hari ini untuk besok.


Setelah dua telur matang, Kanaya menyiapkan dua piring, mengisinya dengan nasi dan menyisikan ruang kecil untuk menambahkan telur tadi


"Kalau enggak enak bilang," Pesan Kanaya saat piring itu sudah berada di hadapan Sakha.


Sejenak Sakha mendongak melihatnya, setelah itu mencicipi telur buatan Kanaya, sebab Kanaya masih berdiri di sana, seolah sedang menunggu Sakha mencicipinya terlebih dahulu


"Ishh, Cepet" Desis Kanaya, gemas melihat telur itu tak kunjung masuk ke dalam mulut Sakha.


Tuh kan, apa Sakha bilang, ternyata Kanaya menunggunya. Sakha sempat tertawa, sebelum akhirnya ia memakan telur tadi sungguhan.


"Gimana?"


"Belum gue kunyah" katanya jujur, dan berhasil membuat Kanaya mendesis.


Kesal sebab Sakha seperti sengaja membuatnya menunggu, Kanaya mencomot telurnya sendiri, mengunyahnya sambil terdiam, mencoba paham apakah rasanya kali ini enak atauu..


"Wihh enakk beneer masakan gueee"


Gadis itu kembali merobek telurnya, dan memakan tanpa tanggung


"Gila Sihh, ternyata bakat memasak gue selama ini kependem"


"Gue boleh koreksi enggak"


Bersamaan dengan itu, senyum di bibir Kanaya yang sempat merekah perlahan mereda, wajahnya berganti sendu seperti mencemaskan sesuatu


"Enggak enak ya? Perasaan enak kok"


"Bukan bukan" Sakha menjawabnya cepat.


"Bukan masalah enak atau enggak, ini kebanyakan micin, lo kasih berapa sendok emang?"


"Enggak gue takar, ribet bener segala disendokin, gue mah langsung tadi, meluncur dari bungkusnya"


"Pantes, ini kebanyakan nay,"


"Pas kok"


"Pas gimana?" Tanya Sakha, nadanya terdengar sewot, seperti tidak terima dengan komentar Kanaya yang berbanding dengan komentarnya.


"Ini pas, Tuhh enak begini" lagi lagi Kanaya menyuapkan telurnya ke dalam mulut.


"Gue tuh suka micinn, jadi gue kasih banyak banget tadi. Gue mikirnya gini, dari pada kebanyakan garam jatuhnya asinn, ya mending kebanyakan micin, jatuhnya gurih"


"Lo tau efek sampingnya?"


"Emang ada?" Tanya balik Kanaya.


"Lo enggak pernah baca Artikel sih jadi mana tau,"


"Kalau dari kata orang orang dan menurut Artikel yang gue baca, kebanyakan micin itu emang jatuhnya gurih di makanan, tapi bodoh di kita"


"Halahh mitos!, Bodoh atau enggak seseorang tergantung orang itu sendiri, mau belajar atau enggak, bukan gara gara bumbu dapur"


"Tapi banyak banyak micin juga enggak baik kali"


"Dikit kok, enggak ada sekilo, sebungkus kecil aja sisanya masih banyak"


Dan pertikaian di antara keduanya terus berlanjut, sampai sampai mereka lupa jika banyak hal yang harusnya mereka lakukan, bukan malah memperdebatkan sesuatu yang tidak berfaedah seperti ini


"Uda stop,"


Kanaya yang sudah mangap mangap mendadak mingkem, kemudian menghela nafasnya sebab merasa lelah sudah mengeluarkan banyak kata hanya demi membela serbuk bernama micin.


"Mending lo mandi, setelah itu ikut gue"


"Kemana?" Ia yang semula berdiri kini menarik kursi dan mendudukan diri di depan Sakha,


"Ke rumah papa"


"Gue mau ambil motor di Bagasi, motor lama papa yang kayaknya enggak pernah beliau pake, siapa tau boleh gue bawah" imbuh lelaki itu.


"Terus, itu motor buat apa?"


"Gue rasa gue butuh motor itu nay, buat kemana mana biar lebih gampang"


"Oh" Kanaya hanya menjawab singkat, setelahnya lanjut makan, dan dia akan siap siap. Dia juga ingin menemui orang tuanya.


"Nanti mampir ke rumah orang tua gue sekalian ya, gue kangen sama mereka"


"Iya"


•••


Untuk sampai di Kediaman orang tua Sakha, mereka hanya perlu menaiki angkutan umum lalu berjalan kaki. Awalnya Sakha tidak menyetujui, sebab kasihan dengan Kanaya, tapi gadis itu kekeuh, katanya ingin sedikit mengeluarkan keringat.


"Lo ada ada aja heran" Ujar Sakha sesampainya mereka di gerbang komplek, yang di katai hanya menyengir lebar.


"Keringet lo banyak banget nay, jangan jangan lo dehidrasi?"


"Dehidrasi?"


Saat Sakha mengangguk dengan perasaan cemasnya, Kanaya justru terbahak. Tenaganya masih kuat, terbukti saat dia menepuk nepuk pundak Sakha


"Gue keringetan karna panas, enak aja di bilang dehidrasi,"


"Ya siapa tau" Sakha kembali memasang wajahnya sedatar mungkin, kaki mereka terus berjalan, hingga rumahnya yang berlantai 3 dari jarak lumayan jauh sudah bisa terlihat.


Dengan gerakan pelan, Sakha menoleh pada Kanaya.


Di bandingkan dengan rumah papa, kos kosan mereka memang tidak ada apa apanya. Sakha sadar, saat dia menolak bantuan dari pihak keluarganya ataupun pihak keluarga Kanaya, dia seperti ingin menyusahkan gadis itu, tapi sebetulnya tidak, maksut Sakha tidak begitu.


Dia hanya ingin berusaha, setidaknya sampai dia mengaku menyerah, barulah dia akan meminta bantuan, jangankan ke papa, kalau memang mendesak ke keluarga Kanaya pun dia berani.


"Nay, lo pernah ngayal gak?"


"Ya jelas pernah lah, namanya juga manusia" jawabnya, ia ikut menatap Sakha, beberapa detik setelah itu kembali menatap depan


"Kayak elo enggak pernah aja"


"Lo ngayal apa aja"


"Banyak"


"Lo pernah ngayal hidup enak setelah nikah?"


Kanaya tertawa, ia tau kemana arah pembicaraan Sakha. pasti ujung ujungnya dia akan meminta maaf, saat tawa itu mereda, Naya ganti menampilkan senyum teduhnya


"Please jangan merasa gue enggak bahagia menikah sama lo. Apalgi nyesel, dan enggak usa insecure cuma gara gara lo memasuki kawasan ini. Emang elit sih, dan jauh dari kos kosan yang kita tinggali, tapi Kha, buat gue itu lebih dari cukup, dan jujur, lo itu hebat, lo berani nantang diri lo, dan lo berani menjadikan gue sebagai tanggung jawab, padahal sebetulnya lo belum siap dengan tanggung jawab sebesar ini"


"Kereen!!"


"Lo liat deh Nay, lo serius enggak pengen hidup enak"


Lagi lagi Kanaya tertawa, ia ikut melihat rumah rumah mewah di sekelilingnya.


"Bukannya gue enggak mau, tapi gue juga seneng seneng aja hidup pas pas-san sama lo. Gue jadi tau kalau kita bisa bahagia bukan cuma karna banyak uang. Duluu, gue seriing banget hambur hamburin duit buat sesuatu yang enggak perlu, tapi setelah gue nikah sama lo, gue enggak lagi tuh hambur hamburin duit"


"Karna suami lo kere, duit siapa coba yang mau lo hamburin"


Dengan begitu saja keduanya sama sama terbahak. Tapi bukan begitu, maksut Kanaya, dia jadi lebih menghargai uang, dan sedikit menyadari kalau mencari uang ternyata bukanlah perkara muda.


"Siniin tangan lo"


"Buat?"


"Buat gue pegang" Sakha langsung Mengenggam Kanaya, sedang Kanaya menatapnya, seolah heran mengapa harus berpegangan seperti ini?


"Lo kira kita mau nyebrang gitu?"


"Gini lebih baik, biar orang tua kita seneng liatnya"


"Bilang aja lo emang pengen pegang pegang gue"


"Kalau iya kenapa, Salah?"





sejauh 10 Chapter ini, menurut kalian gimana?