DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 37



Saat matahari di langit Jakarta mulai menggeser posisinya hingga terlihat seakan berada di tengah tengah hamparan langit, Habibah mulai melangkahkan kakinya ke perpustakaan umum yang kebetulan tidak jauh dari area kampus. Tapi sebelum masuk ia melihat seseorang berlari menuju ke arahnya lewat pantulan pintu kaca yang sedang ia pandangi saat ini. Ia tau itu Sakha, ia juga tau sebaiknya apa yang dia lakukan, menjauh bukan? Tapi langkah itu justru terhenti sebab Sakha lebih dulu memanggilnya.


"Mau cari buku buat resensi kan?"


Habibah mengangguk, Sakha langsung menyungingkan senyumnya


"Pas kalau gitu, gue juga, sambil gue bantu deh"


"Nggak usa Kha, serius"


"Nggak papa, gue juga nyari buku resensi buat Kanaya"


"Kanaya?"


"Hm, kata penjaga perpus di kampus Kanaya kemarin nyari buku tentang teori teori kepribadian gitu di sana, cuma nggak ada soalnya uda di pinjem sama yang lain, jadi gue nyari disini siapa tau ada?"


Bahkan kelas mereka baru selesai, Habibah juga tau nasi goreng buatannya tadi belum Sakha makan, tapi demi Kanaya ia rela ke sini. Yang perlu di curigai dari seorang Sakha tuh apa sih? Kadang Habibah sampai berpikir seperti itu. Andai orang orang tau bagaimana Kanaya di mata Sakha, dan andai Kanaya sadar jika dia dan Sakha memang saling mencintai. Sakha jelas berarti untuk Kanaya, namun Kanaya juga tak kalah berartinya untuk Sakha. Terkadang bukan hanya Sakha, tapi Kanaya juga harus belajar untuk mengerti, mengerti jika khawatirnya Sakha, pedulinya Sakha, tawa Sakha saat bersamanya, itu bentuk yang jelas atas kata kerja mencintai. Entah sejak kapan, atau sampai kapan, tapi untuk saat ini, Sakha memang mencintai Kanaya, tanpa berucapun seseorang yang mencoba untuk memahami pasti juga akan paham.


"Mbak, ini maksimal berapa buku kalau di bawa pulang"


"Hanya dua mas" Si mbak yang ditanya langsung menjawab, setelah mengangguk dan menyerahkan KTPnya Sakha tidak lupa mengucapkan terimakasih, lanjut menyusuri rak demi rak bersama Habibah.


"Kamu tau mana yang lebih di butuhkan sama Kanaya, buku tentang kepribadian tuh banyak loh disini?"


"Yang paling lengkap, terus penjelasannya jelas"


"Yang artinya kamu harus baca dulu biar tau!"


Sakha mengangguk, lantas memperlihatkan buku tebal yang baru dia ambil pada Habibah, Habibah hanya mengulas senyumnya, jika seseorang bertanya siapa suami yang paling baik setelah ayahnya, mungkin ia akan menjawab Sakha, entah keadaan semacam apa yang membuatnya sampai sedewasa ini, bahkan ia tau apa saja peran suami untuk istrinya, diluar sekedar mencarikan nafkah.


"Ngomong ngomong Kanaya nya kemana?"


"Sama temennya"


Habibah tidak mengatakan apa apa lagi, ia lanjut mencari buku yang dia butuhkan. Sakha sendiri sudah mengambil beberapa buku, yang paling tipis ia baca terlebih dahulu, lalu dia bandingkan dengan buku buku lainnya.


•••


Jam tiga siang, Sakha baru keluar dari perpustakaan umum, ditangannya juga sudah ada dua buku tentang teori kepribadian yang menurutnya lebih ringan penjelasannya dibanding beberapa tadi yang sempat ia baca, semoga bisa untuk resensi tugas Kanaya.


Tapi sebelum pulang, Sakha kembali membuka Hp nya, memeriksa apakah ada pesan terbaru dari Kanaya? Ternyata tidak.


Akhirnya Sakha langsung pulang, menikmati angin sore Jakarta sambil sesekali ia berhenti saat terjebak di lampu merah, pemandangan di lampu merah satu dengan yang lain mungkin sama, penjual koran yang sampai sekarang masih ada, tukang cangcimen yang berteriak, sampai anak anak kecil yang kehilangan masa kecilnya sebab keadaan memaksa mereka untuk berkerja demi bisa bertahan.


Hanya ada yang 20 ribu di kantong Sakha, itu pun aslinya untuk beli bensin, tapi tidak papa, disini mereka jauh lebih membutuhkan.


"Mas kami nggak ada kembalian?"


Sejak kapan orang memberi meminta kembalian? Sakha tergelak, lantas mengusap puncak kepala anak tersebut.


"Nggak usa atuh, ambil aja, buat beli es krim"


"Beneran mas?"


"Iya, dibagi ya sama temen temennya"


"Wahh makasih mas"


"Sama sama"


Teruntuk mereka yang belum punya pandangan hidup didunia ini mudah, Semoga sukses, dunia memang keras, tapi justru dari sana kita bisa terdidik, untuk menjadi kuat, gigih, ataupun belajar bahagia dari hal hal kecil.


Sekali lagi ia tersenyum, lalu mencoba ikhlas dengan uang dua puluh ribunya. Pernah Sakha bertanya seperti ini, sedekah itu mendahulukan ikhlas atau pantas terlebih dahulu? Namun sampai sekarang ia belum mendapatkan jawabannya, kalau berbicara soal ikhlas, ucapan saja tidak cukup untuk mengklaim bahwa kita memang ikhlas, dan seandainya kita memberi mereka mereka yang mengadakan tangannya hanya seratus uang perak dengan dalih yang penting ikhlas, apa itu boleh?


•••


Sesampainya ia dirumah, ternyata Kanaya sudah lebih dulu pulang. Pertama yang Sakha lakukan jelas melepas snikersnya, lalu menyimpan ke sisi kanan belakang pintu, kemudian duduk disamping Kanaya dengan helaan nafas yang panjang. Nyatanya hanya duduk berjam jam sambil membaca beberapa buku tadi juga cukup membuat energinya terkuras.


"Gimana jalan jalannya?" Sakha serius bertanya seperti itu, bukan berarti dia marah meski tadi ada Raka, Sakha juga sadar jika Kanaya sekali kali memang butuh udara dari luar kampus ataupun kontrakan


"Lumayan lah, otak gue rada adem, meski dirumah panas lagi gara gara tugas"


"Sabar, namanya juga mahasiswa"


"Nih, gue tadi nyari ini, kebetulan bantu Habibah juga, eh tapi nggak begitu membantu dia sih, malah gue deh kayaknya yang di bantu"


"Teori kepribadian?"


Sakha mengangguk, sementara Kanaya masih melihat buku yang saat ini dia bawa.


"Itu kan_"


"Iya, lo nyari buku ini kan? Nggak tau aja kan lo mata mata gue banyak!"


Kanaya tergelak, rada tidak mendengar apa yang Sakha bilang, meski aslinya begitu, penjaga perpus saja Sakha suruh laporan setiap kali Kanaya ke perpus,


"Laporannya gimana sih, kan gue sama Kanaya enggak deket?"


"Cukup diliat dari matanya pas keluar, tau dong?"


Yang di perintahkan begitu langsung mengangguk setengah terpaksa, ia bahkan punya kontak Sakha sekarang gara gara kekonyolan lelaki tersebut.


"Nggak percaya, gue serius loh" Katanya yang masih berusaha membuat Kanaya yakin.


"Tapi percaya atau enggak nggak penting juga, nih, yang penting tuh ini"


"Bentar deh, ini lo dapet dari perpustakaan umum kan?"


Gantian Sakha yang mengangguk


"Kok tau kalau gue butuhnya yang ini, secara buku tentang teori kepribadian disana tuh banyak"


"Ada beberapa buku yang gue baca tadi, dan menurut gue yang paling lengkap dan penjelasannya ringan ya yang ini, Alhamdulillah bener"


"Ya Allah Kha, kenapa nggak bilang coba ke gue!"


Bukan cuma merasa bersalah, bahkan lebih dari itu, setelah ia menuduh Sakha yang tidak tidak bersama Habibah dan setelah ia tau apa yang sebenernya Sakha lakukan, membuang waktu istirahatnya dan malah membaca buku yang sebetulnya dia tidak perlu,


"Kan gue bisa samperin ke sana"


"Gue tuh suami lo, sekali kali harus dimanfaatin biar rada berguna"


"Ya gue juga istri lo kan, kenapa nggak pernah lo manfaatin coba, dibanding elo, gue jauh merasa nggak berguna!"


"Disini terus, di samping gue, itu uda lebih dari berguna Nay,"