
Antara Sakha, maupun Kanaya, sebenarnya mereka hanya sama sama tidak tau, sama sama belum paham akan pemikiran masing masing, juga sama sama takut dengan kata selesai untuk hubungan keduanya.
Sakha tidak akan tau bagaimana gadis itu mencintai dia, pun Kanaya, sebab yang ia tau, hanya sebatas Sakha yang mencintai dia, katanya begitu kan? Tapi cinta yang Sakha maksud terlalu kabur untuk Kanaya tangkap, terlalu membuat Kanaya kebingungan sebab dia tidak pernah menjelaskan cinta yang dia maksut itu yang seperti apa.
"Nay,"
"Bah,"
Sejenak Sakha sudah menarik nafasnya dalam dalam. Ketika ia menemukan kedua gadis itu, ia memilih untuk diam sejenak, berdiri seperti laki laki pengecut yang takut menampakkan dirinya tapi ingin tau apa yang ingin keduanya katakan untuk satu sama lain.
Sampai mereka masih saling terdiam, suara Habibah akhirnya terdengar lagi, dan gadis itu mempersilahkan Kanaya menyuarakan apa yang ingin dia sampaikan terlebih dahulu.
"Lo suka sama Sakha?"
Sekali lagi, dibalik dinding sebelum lorong tersebut Sakha menarik nafasnya, begitu dalam kemudian ia hembuskan.
Ketika ia menoleh, menampakkan sedikit kepalanya, Habibah terlalu fokus kepada Kanaya, sehingga dia tidak tau bagaimana Sakha menatap matanya saat itu,
Begitu lekat, untuk waktu yang lumayan lama, sampai ia menemukan keraguan dalam mata Habibah untuk jawaban tidak. Sekalipun Habibah sendiri tidak mengatakan apa apa.
Hingga lama Kanaya menunggu dan Habibah tidak kunjung menjawab, Kanaya berujar lagi, dalam satu tarikan nafas.
"Kalau iya kejar, kalau enggak berhenti deketin dia"
'Kejar'
Katanya,
"Gue nggak mau denger itu Nay, gue cuma mau denger lo ngomong berhenti," Sebab 'Kejar' Seolah menandakan dia sudah menyerah.
Lagi lagi mereka tidak akan sepaham.
Setelah itu Kanaya meninggalkan Habibah, melangkah untuk menjauh, membiarkan Habibah menangis sampai pundaknya bergetar.
Tapi jangan berpikir Kanaya fine, tidak, gadis itu sama menangisnya. Ia yang mengambil langkah, kini terburu buru, semakin ia menjauh, semakin ia berlari, memasuki lorong kamar mandi perempuan, sampai akhirnya ia mendapati pintu kosong, ia menangis dan meringkuk disana.
Saat ini Kanaya merasa bodoh atas sikapnya kepada Habibah. Padahal kalau dia mau berpikir kembali, harusnya yang dia bentak bentak Sakha, bukan Habibah, harusnya ia melampiaskan kekesalannya kepada Sakha. Atau seharusnya juga dia tidak begini, tidak kepada Sakha ataupun Habibah. Tidak kepada keduanya.
"Nay" Sampai bermenit menit ia menghabiskan waktunya hanya untuk menangis di sana, di dalam ruangan sempit yang menyesakkan, suara itu terdengar.
"Nay" Lagi, setelah jeda itu selesai ia kembali memanggil nama Kanaya.
"Lo kalau mau nangis nggak disini, terlalu kecil"
"Lo gila ya kak" kata gadis itu, tapi dari luar Raka justru terkekeh.
"Gue masih waras, Alhamdulillah"
"Kalau masih kenapa nekat kesini, lo tau nggak ini kamar mandi perempuan?"
"Sebelum belok gue baca tulisan di papan, dan ini emang kamar mandi perempuan"
"Ya terus, kenapa lo masih masuk?" Dumel gadis itu, nyatanya sekalipun suara dia serak bukan main, dia masih terus meladeni Raka yang juga tidak mau pergi. Sampai yang dia dengar hanya kekehan Raka, Kanaya akhirnya menyerah. Ia menyalakan kran kemudian membasuh wajahnya yang sembab, sebelum akhirnya membuka pintu dan menemukan Raka di dinding disebelah kaca kaca kamar mandi. Dengan santainya dia malah bersandar disana.
Dan ketika Kanaya menampakkan dirinya, Raka lagi lagi tergelak.
"Lo nangis berapa jam astaga, muka sampe beler gitu"
"Diem"
Tapi sekalipun begitu, dia terlalu lelah untuk menangis lagi, jadi dia menggeleng untuk tawaran tersebut.
"Mau ke danau nggak? Kalau iya selesai kelas gue tunggu di bangku deket parkiran"
"Sama lo?"
"Ya iya"
"Sekarang aja"
"Lo bukannya ada kelas?"
"Bolos sekali nggak papa kali, ayo" Ujar gadis itu, yang kemudian mengandeng tangan Raka untuk dia ajak keluar dari sana. Bahkan beberapa gadis yang juga keluar atau baru mau masuk ke kamar mandi di buat melonggo dengan Kanaya yang dengan santainya mengandeng tangan Raka. Masalahnya dengan laki laki dan perempuan yang baru keluar dari kamar mandi berdua itu sangat mencurigakan, jadi tidak heran kebanyakan dari mereka mengusap dada masing masing sembari beristighfar, ada juga yang sampai geleng geleng tidak habis pikir.
"Mampus gue"
"Lagian lo sih, nekat bener ke toilet cewek"
"Ya abis gue liat lo nangis tadi, jadi ya gue samperin"
"Secinta itu ya lo sama gue?"
Saat Kanaya menaik turunkan alis, Raka tak segan segan menepis tangan itu.
"Nggak usa ke ge'eran begitu, gue cuma khawatir"
Tapi lucunya, Raka malah salah tingkah.
°°°
"Katanya nggak mau nangis"
Mendapati Kanaya masih diam, menangis dan bertatap kosong, di sebelahnya Raka tertawa, jenis tawa yang nadanya getir untuk Kanaya dengar.
"Patah hati emang sesakit itu sih, tapi Nay, setiap hal yang lo alamin, baik itu yang sudah, sedang bahkan akan, pasti juga memberi lo pelajaran, entah tentang apa itu"
"Patah hati gini emang ada pelajarannya, sakit doang paling" Ujar gadis itu, setelah menarik ingusnya dalam dalam.
Tapi Raka tertawa lagi,
"Lo salah" katanya.
"Lo bisa belajar gimana itu sabar ketika perasaan lo di buat berantakan, lo bisa belajar untuk enggak berharap secara lebih, lo juga bisa belajar kalau dalam hidup ini, baik di hidup lo maupun Sakha, masing masing dari kalian nggak bisa terus terusan di nomor satukan,"
"Ada kalanya kalian protes, tapi ada kalanya juga kalian harus mencoba memahami satu sama lain. Jangan menuntut orang buat sepaham sama kita, Karna itu susah, cukup membuat mereka menghargai gimana pemikiran kita tanpa menyalahkan itu"
"Pahamin gimana Sakha, kapan kapan ajak dia diskusi, pendapat lo gimana dan pendapat dia gimana. Dengan argumen yang berbeda, kalian enggak harus saling menyalahkan dan mengaku jadi yang paling benar,"
"Gue ini enggak pinter, lo bisa nggak jelasin dengan lebih sederhana" Kata gadis itu,
Namun Raka ya tetap Raka. Ia hanya tertawa, kemudian mengusap rambut Kanaya seolah olah dia itu adiknya, bukan gadis yang sedang dia cintai.
Di akhir dialog itu, Katanya,
"Bakalan lebih sulit buat lo mengerti kalau enggak gue jabarkan kayak gitu"