DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
chapt 35



"Dari ibu aku"


Bahkan baru memasuki lorong pertama, Kanaya sudah dibuat berkedip oleh Habibah. Lantas melirik kotak nasi yang kata Habibah pemberian ibunya. Kanaya terlalu lelah jika setiap hari dia harus melihat pemandangan ini. Saat Sakha mengandeng tangannya, mengantarnya ke kelas atau ke kantin, pasti Habibah akan menjadi pemberhenti langkah mereka, membuat tautan mereka terlepas, selanjutnya sama seperti hari hari kemarin, Sakha selalu tersenyum pada gadis itu.


"Habibah, boleh gue bicara?"


"Sekarang?"


Kanaya mengangguk. Ia mengandeng tangan Habibah setelah Habibah juga mengangguk, membawanya agak jauh dari Sakha. Sementara Sakha yang masih diam ditempatnya berdiri bertanya tanya, apa yang mau Kanaya bicarakan?


"Bah, gue menghargai pemberian ibu lo, bahkan gue juga berterimakasih untuk perhatiannya beliau pada Sakha. Tapi please jangan setiap hari kayak gini, nggak harus setiap lo kuliah lo ngasih Sakha nasi goreng" Ujar Kanaya ketika mereka sampai dibelokkan lorong. Mungkin Anjani benar, sekali kali ia harus tegas pada Sakha atau pun Habibah. Sekali kali ia tidak perlu sungkan untuk mengatakan 'tidak'


"Nay, kamu cemburu?"


"Bukan masalah cemburu atau nggaknya Bah. Tapi gue berasa peran gue disini apa? Seharusnya yang ngasih dia nasi goreng itu gue bukan lo. Harus gue perjelas kalau gue sering merasa nggak berguna jadi istri dia, terlebih setelah lo ngasih dia nasi goreng yang hampir setiap hari. Lo ngasih dia sarapan sedangkan gue aja enggak Bah!"


"Jadwal kuliah gue semuanya pagi!" Dan Kanaya semakin merasa bersalah saat Sakha juga harus berangkat pagi demi bisa mengantar dia. Lalu mengapa Habibah juga datang pagi, padahal hari ini seharusnya ia masuk sekitar jam sembilan. Entahlah Kanaya juga tidak tau, ada hubungannya dengan Sakha atau tidak Kanaya juga tidak tau.


"Dan lagi, lo nggak perlu ikut datang sepagi ini kalau cuma buat kasih nasi goreng ke Sakha"


"Nggak nay, aku datang pagi bukan karna itu"


Kanaya mengangguk, seolah olah percaya pada Habibah padahal dihatinya sana ia ingin memaki Habibah. Perempuan mana yang tahan jika terus terusan seperti ini. Sekalipun ia percaya pada Sakha, sekalipun juga Habibah bukan gadis yang tampilannya suka merebut milik orang.


"Maaf kalau kata kata gue buat lo sakit hati, tapi seenggaknya tolong pahami gimana gue"


"Aku juga minta maaf"


"Lo boleh temenan sama Sakha Bah, boleh. Tapi jangan pernah lo salah paham sama apa yang dia lakuin, yang perlu lo tau, dia baik ke semua orang, bukan cuma lo"


Setelah itu Kanaya pergi. Dan sama seperti Habibah, Kanaya juga menangis. Ia seolah menyesal telah membiarkan Sakha berteman dengan gadis itu, dan rasanya tidak mungkin jika Habibah tidak menyukai Sakha, apalagi setelah keduanya kenal sejauh ini. Mungkin Sakha tidak tau, tapi Kanaya jelas tau, dari cara Habibah menatap Sakha saja Kanaya dapat melihat arti tatapan tersebut dengan sangat jelas. Entah sejak kapan, tapi yang pasti, hingga dititik ini, Kanaya dan Habibah mencintai orang yang sama,


"Masalah kalau terus terusan di pikir, itu malah ngebuat kita pusing sendiri"


Dengan senyum terbaiknya, Raka menyerahkan es krim coklat yang baru dia beli pada Kanaya. Juga ia selipkan satu lembar tissue disana. Didepan Kanaya, Raka selalu ada sebagai senior yang menyayangi juniornya. Tapi dibelakang gadis itu, Raka akan menjadi laki laki yang sedang jatuh cinta pada seorang wanita, yang ingin selalu melihat punggung Kanaya bergetar sebab sang empu tertawa. Biarpun tidak bisa melihat senyum indah Kanaya, melihat punggungnya dari jauh saja sudah cukup.


"Kak"


"Hm"


Raka yang ditanya begitu tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menyesap rokoknya sembari berpikir.


"Kembali lagi sama lo dan Sakha sih Nay. Kalau menurut lo pantes, ya enggak papa. Gue bukan ngajarin lo buat berbuat yang enggak baik, tapi sekali kali lo juga harus memikirkan diri lo, nggak papa buat egois kalau emang itu perlu"


"Tapi nih, gue sendiri ngasih lo es krim bukan untuk modus biar gue sama lo lebih deket dari ini. Gue cuma mau ngasih aja, lagian juga gue sadar, gue cuma bisa mencintai lo tanpa berharap apapun, bisa jadi Habibah juga Nay. Jadi ada baiknya kalau lo nggak berpikir negatif terlebih dahulu sama dia, bisa aja kan kalau yang ngasih nasi goreng emang ibu dia, bukan inisiatif dia sendiri"


"Lagi pula kenapa coba lo suka sama gue. Gue kenapa sih sampe bisa disukain sama lo?" Tidak nyambung dari pembahasan sebelumnya memang, tapi rasanya Kanaya juga perlu menanyakan ini.


"Jangan bilang gue beda dari yang lain. Jawaban kayak gitu basi!"


Raka tertawa, ia juga tidak berpikir untuk menjawab yang demikian.


"Jujur aja nih, gue tuh nggak pernah ketemu sama cewek yang modelan nya kayak elu. Kayak aneh aja gitu, tapi pas gue coba buat mendekat, ternyata lo unik. Lo punya pesona sendiri yang kebanyakan orang nggak punya Nay, kagetnya lagi, lo tau gue suka sama lo, tapi sekali aja lo nggak pernah nyuruh gue menjauh"


Keduanya lantas terdiam. Cukup lama sampai akhirnya Raka menepuk pundak Kanaya agar pundak yang lemas itu punya sedikit kekuatan, setidaknya untuk kembali tegar.


"Uda nggak usa dipikir begitu. Selesai kelas jam berapa?"


"Jam sepuluhan"


Lagi lagi yang Raka lakukan adalah menepuk pundak Kanaya, kali ini dua kali setelah itu ia berdiri


"Gue ada tempat bagus sih Nay, paling enak kalau dibuat teriak teriak. Lo mau nggak gue ajak kesana?"


"Berdua?"


Raka mengangguk, Kanaya jelas menggelengkan kepalanya cepat cepat.


"Kayak selingkuh dong kalau gue berduaan doang sama lo"


"Lo boleh ajak temen lo kali, ngajak Sakha juga boleh"


"Anjani aja deh"


Sebab Kanaya selesai kelas, justru Sakha baru masuk.


"Yaudah ajak dah tuh anak"