DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chat 72



"Kha, kita harus cepet-cepet,"


Sakha yang baru saja melepas sepatunya di sebelah pintu melirik Kanaya tidak mengerti, terlebih ketika dia melihat gadis itu yang riweh sama urusannya sendiri, sibuk mengambil tas, sibuk mengambil sepatu lalu memakainya, dan juga– perasaan mereka tidak janji untuk pergi kemana-mana. Ini juga sudah sore, memang harus cepat-cepat yang dia maksut itu buat kemana?


"Kha ayoo!!!"


"Itu sepatunya kenapa di lepas coba, pake lagi!"


"Emang kita mau kemana sih Nay?" Tanya Sakha, setelah dia menuruti Kanaya untuk memakai sepatunya.


"Ke toko buku,"


"Ngapain?"


"Orang kalau ke toko buku ngapain biasanya?" Kali ini Kanaya berhenti dan menghadap Sakha.


"Beli buku sayang," Jawab Sakha tanpa harus berpikir keras. Dan itu membuat Kanaya tersenyum juga mengangguk membenarkan.


"Tuh tau,"


"Eh Nay,"


"Ya,"


"Tadi aku manggil kamu sayang loh, sadar nggak kamu?"


"Sadar,"


"Tapi kok biasa aja, minimal kaget kek apa kek,"


"Ngapain kaget, wajar juga nggak sih, kan kita juga uda nikah."


Dari belakang Sakha menghela nafasnya. Tapi terserah Kanaya sajalah. Kalau kata dia wajar ya mungkin aslinya memang wajar.


"Beli buku apa?"


"Haah?"


"Kamu– beli buku apaa?"


"Biasa buku novel gitu, edisinya terbatas, denger-denger juga cuma sekali cetak, jadi aku nggak mau nangis terus frustasi sampe niat bunuh diri kalau sampe aku nggak kebagiaan bukunya,"


"Emang bukunya bagus banget,"


"Banget, banget, banget,"


Sakha hanya bisa mengacak rambut gadis itu setelah mendengar jawaban yang menurut Sakha sangat berlebihan. Kanaya sendiri jangan ditanya lagi, dia mendadak kesal dengan perlakuan Sakha. Ya bukan apa-apa, tapi Sakha mana tau kalau dia butuh waktu berjam-jam hanya untuk merapikan rambutnya, dan dengan begitu enteng rambut rapinya malah diacak-acak oleh laki-laki itu.


"Cantikan kayak gini tau Nay,"


"Aku kayak singa kelaparan gini cantik? Iya?"


"Uda sih nggak papa, biar nggak di taksir orang,"


"Dihhh?"


"Nay,"


"Hmm,"


"Nggak jadi,"


"Kenapa sih?"


"Nggak papa,"


"Aneh banget tau nggak?"


Tapi di sebelahnya Sakha benar-benar tidak mengatakan apa-apa lagi, hanya tersenyum. Dan sekali lagi dia mengacak-acak rambut Kanaya.


"SAKHAAA!!!"


"Apa sayang?"


°°°


Setelah beberapa kali mengitari gramedia, kaki Kanaya rasanya benar-benar lemas, terlebih semakin ke sini dia semakin yakin kalau bukunya sudah terjual habis.


"Padal aku tuh pengen banget buku ituuu!!!" Kanaya bukan tipikal orang yang akan langsung menangis kencang didepan umum, terlepas dari seberapa frustasinya dia, jadi dia langsung memeluk Sakha dan menangis di sana.


"Besok kita cari lagi," Sakha menepuk-nepuk punggung Kanaya, mencoba menenangkan Kanaya yang tengah menangis.


"Emang masih ada apa?"


"Nggak tau, tapi usaha dulu,"


"Kalau nggak ada gimana?"


Nahh itu, Sakha juga bingung. Was-was juga kalau Kanaya akan bunuh diri sungguhan.


"Padal aku ngidam tau," Saat Kanaya masih histeris di dada Sakha, Sakha langsung melepaskan Kanaya dari pelukannya.


"Kamu ngidam?"


"Nay serius ahhh jangan becanda, kamu lagi hamil gitu maksutnya, kok baru bilang sih, terus kuliah kamu gimana? Aku bukannya nggak mau kamu hamil, aku seneng banget malahan, tapi Nay, kan kamu masih kuliah," Sakha jadi panik sendiri.


"SAKHA!"


"Hng?"


"Bisa diem nggak?"


"Kayaknya kita harus ngasih tau para tetua dulu Nay, terus jangan ngomong kalau itu kemauan aku doang, bilang kalau kita emang sama-sama mau, aku takutnya mereka marah, apalagi kita masih semester berapa coba,"


"Pertanyaan aku cuma satu," Sela Kanaya setelah dia memejamkan matanya kuat-kuat.


"Aku siap jadi bapak atau belum?" Tebak Sakha, kemudian dia menyela Kanaya lagi.


"Siap-siap aja, lagian aku suka anak kecil, masalahnya sekarang itu di kamu, siap atau enggak, kan nanti yang jadi ibunya kamu,"


Mata Kanaya kembali berkaca-kaca, sedari tadi dia itu sudah sedih menangisi edisi novel terbatas yang habis, dan sekarang Sakha malah semakin membuat dia depresi.


"Nggak papa Nay, ada aku, kamu nggak usah sedih gitu, aku bakalan tanggung jawab, aku bakalan jadi bapak yang baik buat dia,"


"Sakhaaaa!!!"


"Iya sayang, I'm here,"


"Pergi deh lo!!"


"Hah,"


"Pergi jauh-jauh dari hidup gue!"


°°°


"Jadi kamu beneran nggak hamil?" Tanya Sakha ketika mereka sudah duduk tenang di rumah. Jangan kira obrolan soal hamil dan ngidam selesai begitu saja, karena sedari tadi Sakha memang berbicara nyeleneh terus-menerus, dan Kanaya—gadis itu tidak punya banyak tenaga untuk menghadapi Sakha.


"Kapan sih aku ngomong kalau aku hamil?" Tanya Kanaya dengan binar mata yang begitu frustasi.


"Tapi kan tadi kamu bilang kalau kamu ngidam, apa coba namanya kalau nggak hamil,"


Ya nggak salah


"Ya tapi kan nggak semua orang itu hamil dulu baru ngidam!"


"Nay," Giliran Sakha yang menarik nafasnya dalam-dalam.


"Orang tuh kalau ngidam ya uda pasti hamil, kamu gimana sih?"


"Tapi Laras sering kok bilang ngidam pas dia lagi kepengen sesuatu, terus dia hamil nggak? Enggak kan."


"Tau ahhh,"


"Dihh! pundung,"


"Capek ngomong sama kamu mah,"


"Jangan capek dong makanya, masa gitu aja capek, kerja seharian aja kamu nggak capek,"


"Mulai deh!"


Kanaya mendengus, kemudian dia beranjak hendak ke kamar mandi, mulai malas menghadapai Sakha. Tapi bukan Sakha namanya kalau dia langsung membiarkan Kanaya pergi.


"Apa lagi sih?" Gadis itu bertanya ketus saat Sakha menarik tangannya.


"Aku mau ngomong serius,"


"Apa?"


"Duduk dulu,"


"Aku kebeleeett!!"


"Yaudah kamu pipis dulu,"


"Nggak jadi," Dengan sangat tidak jelas Kanaya duduk. Membuat Sakha yang masih memperhatikan dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Akhir-akhir ini Kanaya tuh sensian, makanya Sakha langsung terkejut saat Kanaya bilang, dia sedang ngidam.


"Jangan marah tapi,"


"Perasaan aku udah nggak enak,"


"Iya sama,"


"Kamu mau izin yang aneh-aneh ya?"


"Contohnya?"


"Nikah lagi,"


"Nyebut Nay!!"


"Astagfirullah,"


"Takbir!"


"Allahuakbar!!"