
Dulu, sebelum ayah pergi, Habibah ingat ayah pernah berkata seperti ini,
"Nggak usa takut kalau setelah ini ayah jauh dari Bibah, tanpa Bibah sadari, Allah itu selalu bersama dengan kita, Bibah percaya?"
Kala itu Habibah diam, ia tidak bisa melakukan apa apa lagi kecuali menangisi kondisi ayah, bahkan untuk mengangguk saja dia tidak mampu
"Kalau nggak percaya coba buka Al-Qur'an Bibah, baca surah Al Baqarah, nanti Bibah bakalan tau apa yang Habibah enggak tau, seperti dimana Allah itu? Habibah akan menemukan jawabannya disana, juga tentang bagaimana caranya Habibah melepaskan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin Habibah lepas, habibah juga akan tau jawabannya lewat sana"
"Bibah, kamu ini anak yang baik. Ayah harap, akan ada laki laki laki lain yang bisa menyayangi kamu seperti bagaimana ayah menyayangi kamu. Jangan takut, jangan takut tidak diperhatikan lagi, jangan takut tidak dikhawatirkan lagi, kelak akan ada sosok yang bisa menggantikan ayah, kelak ketika kamu bersama lelaki itu mungkin kamu bisa menginggat ayah kembali"
Setelah kepergian ayah, jelas habibah juga kehilangan yang namanya hasrat untuk hidup. Ia merasa kosong, sejak lahir yang dia punya hanya Ayah, ibu Habibah meninggal setelah ia melahirkan Habibah, kata ayah beliau sempat melihat wajah Habibah kalah itu, namun hanya sekejap sebab tuhan tiba tiba saja mengambilnya, mirisnya, Habibah bahkan tidak tau bagaimana rupa ayu ibunya jika dipandang dalam keadaan nyata.
Menginjak umur 5 tahun, ayah menikah lagi. Sebab tidak mungkin ia membiarkan Habibah dirumah sendirian sementara dirinya harus bekerja. Ayah memberi ruang pada wanita lain tanpa membuang apapun tentang ibu, bahkan sampai ia mati pun, wanita yang baru dia nikahi itu tidak ada apa apanya dibanding ibu Habibah.
Tapi apa setelah itu Habibah tau bagaimana rasanya memiliki ibu? Tidak juga. Bahkan Habibah sempat menyayangkan pernikahan ayah, andai saja dia tau bagaimana ibunya yang saat ini, kala itu mungkin Habibah akan memilih sendirian dirumah, ia juga akan memilih berangkat ke sekolah sendiri saat TK sekalipun resikonya dia bisa tersesat dan tidak bertemu lagi dengan ayah. Sebab ibunya terlalu jahat, Habibah rasa beliau tidak pantas mendapatkan laki laki sebaik ayah.
Kalau saja dia tidak berjanji pada ayah untuk bertahan dan meneruskan yang namanya hidup, mungkin Habibah akan mengakhiri hidup dengan cara konyol, seperti bunuh diri misalnya.
Dan kalau saja dia tidak berjanji pada ayah untuk kuliah, mungkin dia akan diam saja dirumah, sekalipun ia harus menuruti semua kemauan ibu tirinya untuk mengerjakan ini dan itu.
Saat di kampus pun Habibah tidak menemukan sesuatu yang membuatnya senang, dunia masih saja terasa kosong, sama seperti saat ayah pergi. Tapi semakin ke sini, semakin Habibah merasa ada sosok lain yang mungkin punya sisi seperti ayah, meski tidak semua tapi itu cukup membuat Habibah ingat dengan ayah.
Pertama kali setelah ayah pergi, baru kali itu Habibah merasa diperhatikan, meski tidak berupah perhatian besar tapi jelas membuat Habibah terkejut, ibarat seseorang yang tidak pernah memakan cabe, sekalipun dalam makanan yang dia makan hanya diberi satu buah cabai, pasti dia akan terkejut saat mendapati rasa pedas yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
Habibah pernah diperhatikan, bahkan sampai dijadikan ratu oleh ayahnya, tapi setelah beliau pergi, siapa lagi yang akan memperhatikan dia. Lalu saat ospek, Sakha adalah orang pertama yang memperhatikan Habibah, ia tidak masalah untuk memberikan Habibah segelas air yang seharusnya mereka bagi, sekalipun hanya segelas air tapi itu sudah cukup untuk membuat Habibah terkejut, dan percaya semua bisa membaik seiring waktu ini berjalan. Ia bisa berjalan tanpa melupakan ayah, ia juga bisa berjalan tanpa bayang bayang penyesalan. Sebab apa yang dia sesali!
Habibah pikir setelah ospek dia tidak akan mengenal Sakha, bahkan sampai berteman seperti ini, tapi siapa sangka jika dia dan Sakha malah sama sama anak psikologi, dan parahnya tugas kerap sekali mempertemukan mereka.
Dan semakin kesini, semakin Habibah tau jika Sakha sebaik itu. Bukan apa apa, Habibah hanya takut jika sewaktu waktu dia bisa salah paham dengan Sakha.
•••
Belum sempat Kanaya menyalakan lampu, langkahnya justru tertahan oleh seseorang yang tiba tiba memeluknya. Kanaya bisa mengenali siapa orang itu dari caranya memeluk, bahkan dari hembusan nafasnya saja Kanaya tau yang saat ini berdiri tepat di belakangnya sambil mendekapnya seperti ini siapa.
"Maaf"
"Maaf uda biarin lo kehujanan begitu, maaf uda jadi suami yang enggak bertanggung jawab untuk hari ini"
"I'm okay"
Kanaya balas mengusap usap lengan Sakha, meski lengan itu masih melingkari tubuhnya.
"Lagian gue juga bisa kok pulang sendiri, sekalipun kita uda menikah, hidup lo enggak akan cuma tentang gue Kha, ada hal lain yang harus lo lakuin selain menjaga gue ataupun rumah tangga kita"
"Kenapa nggak bilang kalau lo pulang ke rumah?"
"Hp gue mati,"
"Gue tadi nganter Habibah"
Bahkan kita tadi bersimpangan.
"Gue juga tau kalau lo pasti punya alasan kenapa nganter Habibah begitu,"
"Nay"
"Hm"
"Tolong bilang kalau sewaktu waktu gue enggak sengaja nyakitin perasaan lo"
Kanaya tersenyum. Tangan yang semula mengusap lengan Sakha berkali kali, kini menjamah dinding, dan menyalahkan saklar agar lampu dikontrakanya menyala.
Perlahan gadis itu menyingkirkan tangan Sakha, berbalik dan mendapati Sakha dengan raut yang sulit sekali Kanaya baca. Entah mata itu sedang memancarkan aura bahagia atau justru kekecewaan, jika pun bahagia gara gara apa? Gara gara bisa mengantarkan Habibah pulang dan berjalan bersama dibawah gerimis siang tadi? Atau jika dia kecewa, juga Karna apa? Apa karna dia sadar seharusnya dia lebih mengutamakan Kanaya dibanding gadis lain.
"Motor lo dimana?"
"Dirumah Tama, gue minta tolong sama dia buat bawa motor gue tadi, dan mungkin baru gue ambil besok"
"Mandi gih" Kanaya menepuk pundak lebar tersebut, sekali lagi ia tersenyum. Hanya untuk menyakinkan Sakha jika sampai hari ini lelaki itu sama sekali tidak pernah menyakiti perasaan Kanaya. Juga menyakinkan Sakha jika yang tadi bukan apa apa untuknya.
Padahal tidak begitu, jika Sakha terus terusan bersama Habibah, sekalipun itu untuk tugas, perasaanya tidak bisa dia kontrol untuk tetap baik baik saja. Kanaya tidak bisa mencegah yang namanya ingin menangis, Kanaya juga tidak bisa mencegah untuk tidak cemburu.
"Nay, janji ya sama gue"
"Lo ngomong apa sih"
Disaat saat begini bahkan dia masih bisa tertawa. Entah apa yang gadis itu sedang tertawakan.
"Enggak selamanya gue bisa peka nay"
"Dan enggak selamanya gue juga harus bilang ke lo tentang apa yang gue rasain Kha"
Sebab Kanaya sadar, semuanya tidak harus bersama Sakha. Bahkan untuk menangis Kanaya tidak harus dengan Sakha kan? Sekalipun yang membuatnya seperti itu memang Sakha.
"Mending lo mandi, sebentar lagi pasti Adzan isya', gue juga mau ke kamar" gadis itu akhirnya berlalu, meninggalkan sesak hingga berujung membuat Sakha menerka nerka, apa benar Kanaya tidak mempermasalahkan dia dan Habibah untuk hari ini?
Sesaat ia meremas rambutnya. Kalaupun iya juga bukan salah Kanaya. Bahkan ia berhak untuk memarahi Sakha, bukan malah berpura pura tidak apa apa seperti ini.
•••
Karna pas nulis ini lagi mod bngt, jadi aku editin sekalian. mungkin dichapter chapter selanjutnya jg kalian bakalan nemu gambar gambar berisi caption Sakha atau Kanaya atau tokoh lain jg.
okeh deh, gitu ajah, jngn lupa like, komen dan votenya.