DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 75



Hari senin selalu menjadi hari yang paling tidak dinantikan oleh Kanaya—Gadis itu menguap sejenak sebelum berpikir lagi, mungkin bagi banyak orang juga begitu. Kenapa? Tidak tau. Kanaya sendiri kadang merasa aneh dengan dirinya. Dia tidak punya trauma apa-apa di hari senin, tapi begitu hari minggu terlewati dan dia bangun di hari berikutnya, yaitu senin, baru bangun saja rasanya sudah capek.


"Bisa nggak, sihh, nggak usah kuliaah." Kanaya merengek. Sedang Sakha hanya menggelengkan kepalanya pelan. Sejak tadi pagi Kanaya memang tidak punya semangat sama sekali untuk kuliah, tapi Sakha baru sadar kalau Kanaya sangat loyo. Seperti sakit. Jadi dengan gerakan hati-hati dia kemudian menyentuh jidad Kanaya.


"Nggak panas kok."


"Emang aku pucet?"


"Nggak, cuma loyo gitu."


"Yuk berangkat, nanti telat kamunya ngomel."


"Bentar, tugas aku masih di kamar tauu." Lagi, dia masuk ke kamar. Cukup lama, bahkan Sakha menyaksikan gadis itu wara wiri, sampai akhirnya dia menghampiri Sakha dengan nafas terengah-enggah, dan juga—banyak barang. Buku, dua makalah, juga paperbag yang entah isinya apa, mengingat semua ada dalam genggaman Kanaya, jadi sepertinya paperbag itu justru kosong.


"Udah?" tanya Sakha setelah dia mengamati Kanaya.


"Kyaknya udah."


"Yaudah kalau gitu."


"Aku kena revisian." kata Kanaya. Mukanya yang sebal tersebut kontras dengan suara kekehan Sakha, bersamaan dengan Sakha yang memberinya helm.


"Padal aku uda teliti loh pas ngerjain, tapi masihhh aja ada yang salah."


"Banyak nggak yang salah?"


"Banget." kali ini dengan senyum lebar yang dipaksakan.


"Nanti aku bantu."


"Bener loh yaaaa, aku nggak anggep ini basa-basi suami ke istrinya."


"Benerr."


Sambil tersenyum dan melirik Sakha, gadis itu akhirnya mengangguk dengan anggukan mantap.


"Okee."


"Kiss-nya mana cobaa?"


"Dihhh," Sekonyong-konyongnya Kanaya menonyor pipi Sakha, membuat laki-laki dengan kemeja kotak-kotak tersebut terkekeh pelan. Dia becanda kok, tapi Kanaya justru menonyornya kelewat serius.


"Nanti aku pulangnya malem lagi btw,"


"Jammm?"


"Belum tau, pokoknya jangan ditunggu, abis belajar kamu bisa langsung tidur."


"Sebenarnya aku nggak papa." Gadis itu mengeratkan pelukannya, "Cuma kamu nya nggak capek?"


"Capek, cuma kan udah tugas aku, udah tanggung jawab aku juga." Sakha tersenyum, mengusap tangan Kanaya dengan binar yang begitu hangat. Dia tidak keberatan kok, meskipun rasanya melelahkan. Sebab pada titik yang lain, dia juga bahagia dengan semua ini. Dengan Kanaya, dengan kuliahnya, ataupun dengan hal lain yang tengah dia kerjakan dan menjadi tanggung jawabnya juga.


Di kesempatan lain, Sakha pun merasa bahwa, dia hebat dan dia cukup bangga dengan dirinya. Dirinya yang selalu ngeluh sambil pontang-panting tapi tidak pernah menyerah, dirinya yang kadang sangat kelelahan tapi tetap menjalani semua itu, atau bahkan, dirinya yang punya kesadaran tentang, inilah tugas dan tanggung jawabnya sebagai suami.


"Belajar yang bener." Sakha sempat memincing, bahkan menatap Kanaya keheranan ketika mendengar perkataan tadi, sampai-sampai yang perempuan sedikit tergelak.


"Apaan sih, ngeliatnya gitu banget." Kanaya masih tertawa.


"Harusnya tuh aku yang bilang gitu." Kata Sakha, melepas helmnya dan menyentil dahi Kanaya pelan. Sayangnya Kanaya adalah gadis hiperbola dan Sakha jelas tau apa yang terjadi selanjutnya.


"Sakha!!! Sakittt!"


"Yaudah kalau yang tadi sakit yang lain aja, gimana?"


"Tuhkaaan!!! Serem ihh."


"Serem apanya coba?" Giliran Sakha yang terkekeh begitu menangkap ekspresi was-was Kanaya. Sedang gadis itu kembali menatapnya malas.


"Ehh, by the way, besok mama mau kita ke rumah, bisa nggak kamu?"


"Bisa kok, uda lama juga nggak ke rumah mama, sekalian ke rumah mama juga boleh nggak?"


"Bolehh dong, aku juga kangen tauu sama mamaaa." Kangen ngadu maksutnya. Sebab yang dimaksud mama oleh Kanaya tadi adalah mamanya Sakha.


"Nanti pulang dulu atau nungguin aku?"


"Ha?"


Kanaya berdecak, rumor tentang cowok lebih tidak peka ketimbang perempuan itu ternyata benar ya!


"Mau ditungguin atau ditinggal aja?"


"Tungguin."


"Kelas kamu kelar, nggak lama setelah itu kelas aku juga kelar, jadi biar bareng sekalian."


"Padal aku pengen naik bus."


"Nggak usah aneh-aneh, harus hemat."


"Kan kamu comeback jadi cowok tajirrr."


"Heehhh!!"


°°°


Suasana hari itu di kantor rasanya sangat penat, beberapa karyawan jelas berbondong-bondong untuk keluar ketika jam istirahat tiba. Ada yang menenangkan diri di rumah makan untuk mencari makanan favorit mereka atau bahkan di kafe-kafe terdekat, kafe-kafe yang masih bisa dimampiri hanya dengan berjalan dan sekali menyebrang, Sakha sendiri ikut keluar dan mampir kesalah satu kafe diantara banyaknya kafe yang berjajar. Di saat sebelum-sebelumnya dia jarang sekali keluar kantor, kecuali ketika sudah waktunya pulang, hari ini dia memilih untuk ikut keluar dan beristirahat sebagaimana mestinya. Bahkan ketika ada seseorang yang biasanya ke ruangan dia untuk memberinya americano, dia menolak secara halus, "Kasih yang lain aja, Pak." Sebelum akhirnya dia benar-benar keluar.


Tempatnya tidak begitu padat, tapi menurut Sakha termasuk ramai. Bahkan dia harus berpikir panjang dulu sebelum akhirnya memilih tempat untuk dia duduki.


"Selamat siang, Mas,"


"Siang—" Sakha baru saja akan menambahkan sapaan 'mbak' kepada orang itu, tapi begitu dia menoleh, dia justru terkejut, dan terkekeh tidak mengerti. Hal tersebut juga dilakukan oleh perempuan tadi.


Kadang dia bingung, dunia ini diciptakan dengan sangat luas kan? Tapi kenapa beberapa orang justru seperti terikat dengan satu sama lain, kenapa beberapa orang justru seperti tidak bisa jauh dan menjauhi, kenapa beberapa orang justru selalu dipertemukan di satu tempat yang tidak mereka sangka-sangka. Seperti halnya mereka sekarang ini.


"Ya ampun! Apa kabar?"


"I'm good, lo gimana?"


"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat sekarang." Dia tersenyum.


"Jauh lebih baik dari sebelumnya."


"I'm happy for you." Bahkan melihat bagaimana dia tersenyum sekarang ini, Sakha langsung percaya kalau dia memang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Makasih ya, Kha."


"Jangan makasih terus."


"Ngomong-ngomong mau minum apa?"


"Americano, kalau enggak espresso aja nggak papa."


"Americano ada, espresso juga ada kok."


"Americano deh."


"Sebentar yaa!"


"Oke."


°°°


"Jadi sekarang kamu kuliah sambil kerja?"


"Iya. Lo sendiri, kenapa seyakin itu buat kerja dan berhenti kuliah?"


"Sebenarnya ini bukan soal yakin atau enggak, tapi soal keharusan." Gadis itu tersenyum, sempat melirik Sakha sebelum akhirnya menunduk dengan sarat nanar. Bukan kenapa-kenapa, dia hanya mencoba mengingat kembali momen menyakitkan tersebut.


"Nyerah itu nggak mudah ya, ternyata?"


"Bahkan, waktu itu aku sempat ngerasa kalau bertahan jauh lebih mudah dari pada mengambil keputusan untuk nyerah."


"Karena ketika kamu memilih buat bertahan, seengaknya kamu akan tau, hasil akhir dari apa yang kamu usahakan itu seperti apa, tapi kalau kamu menyerah, hasil akhir itu selamanya nggak akan bisa kamu lihat."


"Jujur, sampai sekarang pun aku ngerasa gagal, tapi waktu itu keadaan aku nggak mendukung sama sekali untuk kuliah."


"Jangan terlalu keras sama diri lo sendiri, Bah. Keputusan yang lo ambil pun nggak salah. Dan ini hidup lo, lo yang paling tau, lo yang paling paham. Jadi ketika lo uda ngerasa kalau nyerah adalah yang terbaik, yaudah nggak papa, lo punya hak untuk langsung nyerah. Lo pun nggak gagal, karena sejauh ini, lo udah sangat keren. Lagi pula kalau lo emang masih mau kuliah, taun depan lo masih bisa kok kuliah. Kalau pun keadaan lagi-lagi seperti nggak membolehkan lo kuliah, nggak papa. Karena untuk jadi orang hebat, nggak harus jadi sarjana dulu."