DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 18



Malam ini udara memang terasa dingin, namun dingin yang menenangkan, tidak menusuk juga tidak membuat siapapun menggigil.


Dari tempatnya berdiri, Kanaya bisa melihat bagaimana keadaan sekitar setelah beberapa menit lalu rintik hujan berlangsung. Bahkan masih ada sebagian orang yang melindungi dirinya dari payung meski hujan sudah reda, mungkin mereka khawatir hujannya turun kembali, menginggat bagaimana cara hujan turun, dengan berani dan tanpa izin, juga hanya memberi kode lewat awan hitam.


Gadis itu kemudian memasukkan kedua tangannya pada saku Hoodie, dengan kaki masih melangkah mengikuti Sakha.


Dan entah akan kemana mereka pergi, Tapi kata Sakha, dia ingin menyusuri jalanan ini, menikmati bising yang selalu menyenangkan, memandangi bulan yang tampak lebih cerah dari biasanya, juga melihat bagaimana indahnya lampu lampu menerangi jalanan kota.


Ini mungkin kali pertama setelah Sakha disibukkan oleh berbagai kesibukkan. Kebetulan hari ini dia dan Tama libur berjualan martabak, maka dari itu Sakha berinisiatif untuk mengajak Kanaya jalan jalan, kalau dia saja suntuk, apalagi Kanaya, begitu pikirnya.


"Oh ya Nay, gue ada sesuatu buat lo" Lelaki itu menghentikan langkahnya, tepat dibawah sinar lampu yang menyorot kesisi kiri jalan, membuat Kanaya ikut terdiam disampingnya.


"Apa?"


"Murah sih, tapi kata Tama, lo bisa lihat dari siapa yang ngasih"


Kanaya terkekeh, sebelum akhirnya mengulurkan tangan begitu tau apa yang akan Sakha berikan, sebuah gelang hitam dengan liontin kunci kecil berwarna putih perak. Lantas dengan gaya yang dibuat buat dia merengek meminta pada Sakha untuk dipakaikan.


"Pakein dong, biar romantis gitu ... kayak didrama Korea"


"Gue enggak mau kayak drama Korea manapun. enggak peduli drama itu seromantis apa, Karna gue mau kita jalanin semua ini dengan versi kita sendiri"


Kanaya mencebikkan bibirnya, hatinya mencelos mendengar jawaban Sakha. Harusnya dia juga sadar diri, sampai kapan pun sosok dingin tersebut tidak akan pernah bisa hangat padanya.


"Yaudah sini, gue juga becanda" kata Kanaya, nadanya yang ketus membuat Sakha tersenyum geli. Lantas ia menahan tangan itu agar tetap terulur, lalu dengan gerakan perlahan memakai-kan gelang tersebut secara hati hati.


"Ini Sakha nay, bukan aktor aktor didrama Korea yang sering ngebuat lo baper, mungkin gue enggak bisa seromantis mereka, tapi gue bakalan berusaha untuk jadi apa yang lo mau" lelaki itu mengecup kening Kanaya sekilas sebelum akhirnya kembali berjalan, membuat Kanaya terpaku beberapa detik.


Dari depan sana Sakha mungkin terlihat biasa biasa saja, tapi hatinya tidak, hatinya bergemuruh meneriaki dirinya bodoh. Bukankah tindakannya barusan sudah keterlaluan?


Sementara dalam lamunannya, Kanaya hampir gila, apa yang baru saja Sakha lakukan mungkin biasa saja bagi kebanyakan orang yang sudah menikah, tapi tidak dengan Kanaya, Barusan itu mendadak dan membuatnya terkejut, juga menguras energinya sampai sampai, rasanya dia tidak sanggup untuk melakukan apa apa lagi meski hanya sekedar berjalan dan menyamai langkah tegap tersebut.


•••


Beberapa hari setelah malam itu, suasana canggung masih menguasai keduanya, bahkan berkali kali Kanaya menepis jika tidak seharusnya mereka se-canggung ini, tapi nyatanya gadis itu juga tak kalah canggung dari Sakha, bahkan setelah kejadian mirip dengan yang terjadi didalam drama korea tersebut, Kanaya jarang keluar dari kamar, dan yang ia lakukan hanya berguling ke sana kemari diatas kasur.


Alih alih tenang, justru ia akan menjambak rambutnya sendiri, tergiang dengan perlakuan manis Sakha dan gelang yang kini masih dia pakai. Ia bahkan menginggat bagaimana bentuk bulan malam itu, warna langit atau bagaimana cara kerja hujan yang perlahan menembus aspal, Kanaya ingat semuanya, Kanaya juga ingat bagaimana lampu jalanan membantu totalitas Sakha saat semuanya berlangsung.


Gadis itu berteriak, frustasi dan harus bagaimana agar suasana kembali normal, harus bagaimana agar dia dan Sakha bisa baik baik saja setelah apa yang terjadi pada malam itu.


"Dia nyium gue cuma di kening astagaa, harus banget ya gue segila ini"


Kanaya menarik tangannya perlahan, merapikan rambut dan melempar gulingnya asal. Mengambil bantal dan menenggelamkan kepalanya disana.


Kepalanya sakit, perutnya lapar tapi dia tau Sakha belum keluar dari rumah, bahkan lelaki tersebut sempat memangil manggil Kanaya menyuruhnya makan.


"Kayaknya gue harus bicara sih sama dia"


Kanaya menghela nafasnya panjang, panjang sekali sampai dadanya terasa sesak, lalu beranjak meninggalkan kasur.


Namun saat pintu kamarnya terbuka, Kanaya spontan menutupnya lagi, bersender pada balik pintu tersebut dengan nafas ngos ngosan, mirip orang yang baru mengikuti lomba maraton padahal yang dia lakukan sedari tadi tidur.


Lantas, bagaimana bisa Sakha berdiri didepan kamarnya, dan sejak kapan? Apa Sakha sudah lama disana, dan apa dia juga mendengar semua ocehan Kanaya


Lagi dan lagi yang bisa dilakukan oleh Kanaya hanyalah menghela nafas, dengan tangan masih memegang dada, memastikan bagaimana kondisi jantungnya saat ini.


"Gue tau gue salah, tapi enggak seharusnya lo ngehindarin gue kayak gini nay"


Kanaya yang masih berdiri dibalik pintu tersebut jelas mendengar, tapi dia tidak tau harus berkata apa? Juga tidak tau harus keluar atau menutup kamarnya rapat rapat agar Sakha tidak bisa masuk.


Gadis itu benar benar bingung sekarang. Hingga mendengar Sakha berujar lagi "Hari ini gue enggak bakalan keluar dari rumah, apa lo juga enggak bakalan keluar dari kamar. Apa perlu gue bawain makanan kesini?"


"Nay, maaf"


"Gue enggak ngelarang kalau lo mau marah, bahkan gue mengizinkan kalau lo mau pukul atau nampar gue atas perlakuan lancang gue malam itu, tapi tolong jangan diemin gue begini"


"Kha, lo pikir gue marah?"


Sakha yang mendengar sahutan dari dalam menatap pintu dengan nanar. Ditangannya sudah ada nasi goreng dengan air putih. Sengaja dia bawa kemari sebab dari tadi pagi, Kanaya belum keluar juga, dia juga belum makan, bahkan belum minum.


"Gue enggak marah," Kanaya kembali berujar, nadanya terdengar sendu seolah didalam sana dia pun tidak kalah sedih dari Sakha.


Setelah merasa lebih tenang, Kanaya perlahan lahan membuka pintu. Memeluk Sakha membuat Sakha otomatis menyingkirkan satu tangannya yang masih membawa nampan. Dan begitu tubuh mereka menyatu, Sakha membalas pelukan tersebut dengan tangannya yang lain.


"Gue tau gue suami lo, gue tau kita uda halal, tapi enggak seharusnya gue selancang itu nay,"


"Gue mohon maafin gue"


Dari balik bahunya, Kanaya mengulas senyum, mengusap usap punggung Sakha dengan lembut.


"Enggak perlu minta maaf, gue enggak pernah marah Kha, gue cuma kaget,"