DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 63



"Selama ini lo ngerasa cukup nggak sih sama gue? Coba jujur"


Kanaya yang ada di paha laki laki tersebut sesaat menghentikan nyanyiannya, lantas mengerutkan kening tidak mengerti


"Cukup gimana maksutnya?"


"Dari segi materi gitu? Atau dari segi yang mana?" Ia bertanya lagi.


Sementara Sakha yang sudah menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi langsung menjawab,


"Dari segi mana aja"


"I think...iya sih"


"Sekalipun lo malah susah setelah nikah sama gue?"


"Lo kenapa deh?"


Gadis itu kemudian bangkit, sementara Sakha masih bersandar disana, dengan senyumnya yang tipis dia menggeleng "Ngak papa," Katanya.


"Gue cuma takut kalau selama ini gue belum bisa jadi suami yang baik. Gue takut kalau selama ini gue malah ngebuat lo susah, karna gue rasa, gue nggak bisa ngasih lo apa apa Nay, padahal disaat lo masih serumah sama papa, mungkin lo lebih berkecukupan"


"Bukannya gue uda bilang ya, dibanding papa, lo emang kalah dari segi materi, tapi kalau soal ngasih gue pelajaran, sayang sama gue, buat gue bahagia, perbedaannya cuma tipis, bahkan setelah gue tau gue nggak bisa hidup kayak dulu lagi, yang setiap kali bisa hedonisme, bisa hambur hamburin duit buat seneng seneng, gue nggak nyesel tuh, karna apa?"


"Karna gue uda nemu kebahagiaan yang lain, dan itu saat gue sama lo. Gue bisa bahagia dengan hal hal sederhana, gue bisa bahagia tanpa ngebeli kebahagiaan itu"


"Kalau tiba tiba ada cowok nih, misal ya misal, seumpama dia lebih mapan dari gue, terus dia suka sama lo, lo mau nggak sama dia?"


Pertanyaan macam apa coba!


Gadis itu sampai memutar bola mata, apa tidak ada pertanyaan yang lebih menarik?


"Ya kagak lah" Ia juga mengeplak lengan Sakha


"Lo kira gue ini cewek matre apa gimana sih?"


"Ya bukan matre juga Nay" Sakha tidak mempermasalahkan sih kalau Kanaya spontan mengeplak lengannya, justru dia malah terkekeh


"Tapi kan lo juga butuh materi buat kebutuhan hidup lo"


"Ya iya sihh, cuma ya nggak asal mapan terus gue ninggalin lo, nggak segampang itu buat jatuh cinta ke orang baru mas broo"


"Jadi uda cinta banget nih sama gue, sekalipun gue keree?"


"Iya gembel sekalian juga gue tetep cinta,"


Sakha yang tidak tahan dengan kelakuan bocah itu langsung melingkarkan lengannya di leher Kanaya, membawa Kanaya untuk lebih dekat.


"Itu mulut lemes banget deh perasaan"


"Beneran tauu" Katanya, tidak protes sama sekali dengan apa yang Sakha lakukan.


"Tadi gue ditawarin papa kerja di perusahan" Ujar Sakha, lebih tepatnya setelah lama keduanya terdiam. Diam yang menurut mereka nyaman. Mereka yang mereka biarkan sekalipun itu memakan banyak waktu.


"Widih, lo mau pensiun jadi orang kere nih ceritanya?" Yang perempuan bertanya. Sekonyong-konyong nya ia juga menghempaskan tangan Sakha, agar bisa menatap Sakha dengan lebih intens


"Gue nggak mau" Tapi selanjutnya Kanaya tergelak karena jawaban tersebut


"Kenapa?"


Kan lucu ya, dia di tawari kerja di perusahaan tapi malah tidak mau.


"Karna jadi pedagang tuh enak Nay, gue bisa lebih punya pandangan yang luas soal hidup" Kemudian lagi lagi dia bersandar di sana


"Kalau gue kerja di perusahaan papa, gue nggak bakalan bisa lagi denger cerita dari bapak bapak lain yang juga dagang disana. Soal gimana mereka hidup, gimana mereka yang selalu yakin soal Allah yang pasti akan mencukupi kebutuhan mereka, mereka yang ngeluh tapi nggak menyalahkan keadaan sama sekali,"


"Tapi gue juga ngrasa bersalah sih sama lo, kesannya gue kayak nggak mikirin perasaan lo sama sekali"


Malam itu, setelah Sakha panjang lebar berbicara, Kanaya memutuskan untuk mengenggam tangannya lebih erat,


"Nggak papa lagi, gue udah ngerasa cukup, beneran deh. Gue nggak papa hidup kayak gini, gue juga nggak menderita kok, kita punya bahagia versinya kita. Dan selama lo lebih nyaman jadi pedagang, nggak papa, dijalanin aja. Lagian selama ini ya, selama gue sama lo, sekalipun pendapatan lo nggak banyak, kita masih bisa hidup tuh, kita masih bisa bertahan kan? Yang bapak bapak itu bilang tuh bener tau Kha, Allah itu selalu mencukupi kebutuhan hambanya"


"Udahh" Kanaya juga mengusap pipi sebelah kanan milik Sakha berulang kali


"Nggak usa galau gitu mukanya"


"Makasih"


"Iya sama sama"


"Emang tau gue makasih soal apa?"


"Soal banyak banget pasti,"


Lagi lagi Sakha di buat terkekeh oleh gadis itu.


Disela sela pandangannya yang nanar, di sana juga terletak binar yang mengatakan bahwa dirinya bersyukur.


°°°


Sebenarnya, jika dia mau menerima tawaran dari papa, sebulan kerja disana juga Sakha yakin dia pasti bisa pindah ke kontrakan yang lebih luas, bahkan bisa ke apartemen juga mungkin.


Tapi ini juga tentang dia yang sudah terlanjur nyaman dengan apa yang di jalani


Sakha


Deg deg Nay, gue takut papa marah


Karena saat Sakha menolak tawaran papa kemarin, papa tidak langsung menerima keputusan Sakha. Ia meminta anaknya itu untuk berpikir lagi, dan hari ini sepertinya tidak ada yang berubah, Sakha tetap memilih menjadi kang martabak alih alih presdir atau apalah itu


Kanaya


Bismillah dulu mas bro,


Gue bantu doa lewat sini, in syaa Allah papa juga nggak bakalan marah


Sakha


Iya, tapi kalau nanti beliau marah gimana


Kanaya


Nggak, percaya sama gue


Sakha


Musrik nggak tuh?


Kanaya


Gue getok juga ya lo


Sakha


Gue uda di depan pintu dong, masuk nggak nih?


Kanaya


Perlu gue dorong?


Sakha


Jangan lupa makan, itu nasi goreng gue buatnya pake perasaan btw


Kanaya yang sedang memakan sarapannya seketika keselek bukan main.


"Gilaa" Tapi setelah desisan itu dia justru tersenyum


Kanaya


Khaa, hamasaahh, makasih juga buat nasi gorengnya.


Sakha


Yoi, Hamasah juga buat hari ini!


Kanaya


Nggak bisa bahasa Arab


Sakha


Itu tadi bisa


Kanaya


love you mas broo, makin cinta deehh😘😘


Sakha


Nggk usah pake emot, kalau mau cium lewat jalur langsung aja


Kanaya


☺😊


Sakha


πŸ˜‚πŸ˜…


"Gue ngomong apa sih?"