DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 64



Seharusnya Sakha sudah ada di rumah, mengistirahatkan tubuhnya, mengerjakan tugas tugas kuliah yang belum dia kerjakan, atau barang kali membantu pekerjaan Kanaya.


Tapi yang laki laki itu lakukan malah terlentang di satu lapangan yang sangat luas, dengan alas rumput yang nampak terawat dan tidak peduli perihal sekarang sudah pukul berapa. Sementara itu, disamping nya juga ada sosok laki laki lain. Tama.


Apa yang akan Sakha bicarakan? Entah, Tama sendiri tidak tau, bahkan dia enggan menebak, jadi ketika Sakha diam, dia juga ikut diam. Ketika Sakha terlentang, dia juga terlentang, dan ketika mereka sudah menghabiskan waktu ber menit menit di tempat itu, barulah Tama bertanya tanya, sebenernya ada apa dengan Sakha?


"Gue cuma mau bilang, kalau gue udah tau" Kata Sakha tepat ketika Tama hampir memejamkan matanya, bahkan satu lengannya sudah bergerak menutupi kedua matanya itu.


Dan yaaa,,,


Sakha berhasil membuat laki laki itu terdiam, bahkan memandanginya cukup lama, bahkan ketika dia menemukan siluet wajah yang tenang dari Sakha, dan dia tau bagaimana bibir itu bergerak lalu membentuk senyum, dia masih diam dan tetap bertanya tanya sejak kapan? Sejak kapan Sakha tau?


"Tadinya gue mau marah" Ujar lelaki itu. Yang sesaat dia juga menatap Tama, hanya saja tidak berselang lama,


"Karna dari banyaknya perempuan yang bisa menerima lo, kenapa lo malah suka sama Kanaya"


Kemudian dia bertatap kosong pada langit disana.


Dan lagi lagi yang Tama liat adalah senyum itu.


"Tapi ini perasaan lo Tam, lo suka sama siapa itu hak lo, bahkan kalau orang itu adalah Kanaya, gue nggak punya hak apa apa untuk marah"


"Oh yaa" Dia memberi jeda, untuk tergelak dan membuat Tama semakin tidak mengerti


"Gue juga ngerasa lucu sih sama semua ini, gue tau yang suka sama Kanaya itu banyak, dan ternyata lo juga bagian dari kami"


"Sayangnya gue nggak pernah ngelihat lo sebagai laki laki yang sayang sama Kanaya, gue selalu ngeliat lo sebagai sahabat dia, dan gue selalu mewajarkan pedulinya lo ke dia karna setau gue, uda sepantas nya lo yang sebagai temen dia memperlakukan dia dengan seperti itu"


"Dan?"


"Dan?"


Di detik itu giliran Tama yang tersenyum, menghela nafasnya juga memutuskan untuk mencari objek lain yang bisa dia tatap selain Sakha.


"Lo ngebiarin gue suka sama Kanaya?" Tanya dia.


"Kenapa enggak?"


Kan sudah Sakha terangkan juga di awal, dia tidak punya hak apa apa untuk sekedar marah, lagi pula bagaimana dengan perasaan Tama, itu urusan Tama, bukan urusan dia.


"Tapi kalau lo ada niatan buat ngerebut dia dari gue, urusannya bakalan beda"


"Mana bisa sih gue ngerebut dia dari lo" Kata Tama yang saat itu justru terkekeh pelan.


Dan ketika ia berhenti dengan tawanya, dia terdiam lagi. Dia mencintai Kanaya itu benar. Tapi sama sekali dia tidak punya niat untuk merebut Kanaya dari Sakha, karna Tama tau, dengan Sakha adalah keinginan Kanaya dari dulu.


"Tapi omong kosong nggak sih kalau lo bahagia ngeliat Kanaya jadi milik gue?"


"50 persen bisa di bilang kayak gitu?"


"50 persennya lagi?"


"Ya hati gue sakit lah jingan"


"Tapi awas aja kalau lo sia siain dia" Kata laki laki itu.


Entah kenapa Tama bisa mendrama seperti ini, tapi jujur, sejak Sakha mengenal Habibah, kata ini yang ingin dia utarakan pada Sakha.


"Bakalan gue jaga" Karna Sakha sekarang mengerti, di luar sana ternyata banyak yang bisa memberi Kanaya lebih dari apa yang bisa dia beri kepada gadis itu. Dan mungkin, salah satunya adalah Tama.


°°°


"Wessss, lu kesambet apaan sih? Pulang jam segini, dateng dateng meluk meluk gue, dan sekarang, lu pindahin semua barang gue ke kamar lo" Gadis itu semakin geleng geleng saat Sakha seperti tidak mendengar ocehannya, dan yang laki-laki itu lakukan masih memindai barang barang Kanaya yang lain.


"Lu denger gue nggak sihhhhh" Teriak gadis itu, mungkin dia juga kelelahan mengikuti Sakha yang terus terusan wara wiri.


"Pokoknya mulai sekarang kita sekamar"


"Ogah"


"Harus mau"


"Tiba tiba gimana?" Tanya yang laki laki, sekarang dia berdiri lagi, memindai buku buku Kanaya dan berjalan ke kamar yang satunya.


Sementara Kanaya yang sudah lelah memilih untuk berbaring di sana, tidak lama juga Sakha akan ke sana lagi kan?


"Uda 10 menitan nggak sih"


Perasaan buku gue juga nggak sebanyak itu deh?


"Khaaaa, lu ketiduran?" Teriaknya masih di dalam kamar. Dan ketika tidak ada sautan sama sekali, gadis itu jelas berdecak, lalu mengambil langkah untuk ke kamar Sakha.


Tapi yang dia lihat saat itu Sakha malah duduk di kursi di depan meja belajar, manatapi luar Jendela kamar dan tidak mengatakan apa apa, bahkan masih tidak menyahuti Kanaya padahal dia jelas tau kalau Kanaya sudah ada di pintu kamarnya.


"Gue kira lo tidur" Gadis itu bahkan menghela nafasnya untuk yang kesekian.


Lalu lagi lagi dia membaringkan tubuh di hamparan kasur milik Sakha. Tidak, mungkin sebentar lagi ada haknya juga atas kasur ini.


"Lo uda mau tidur?"


"Nggak sih, gue cuma pengen rebahan kayak gini, kenapa? Lo butuh bantuan gue?"


"Nggak" Dia menipiskan bibir sebentar. Lalu membalik kursi itu untuk memperhatikan Kanaya.


Dan gadis itu jelas semakin menatap Sakha aneh,


"Lo kenapa sihh?"


Bagi Kanaya horor tau kalau di tatap Sakha seperti itu.


"Lo kalau keluar rumah mending gausa mandi deh Nay biar jelek"


"Dihhh"


"Banyak yang suka sama lo soalnya"


"Oh yaaa?"


"Iya"


Saat itu Sakha ingin sekali memberi tau Kanaya bahwa Tama adalah salah satu orang yang juga menyukai dia, tapi tidak, karna Tama saja tidak siap dengan respon Kanaya seandainya dia tau, apalagi Sakha.


"Uda sana tidur"


"Terus lo nggak tidur?"


"Gue masih ada tugas yang belum selesai"


"Yauda, tapi lo jangan sampe larut"


"Beres"


"Ini gue beneran tidur disini?"


"Iyalahh"


Setelahnya Kanaya mendesis pelan, karna bagi dia kali ini mendadak, bahkan sebelumnya Sakha tidak pernah tuh berdiskusi dengan dia soal tidur bersama seperti ini.


"Emang aneh aneh deh tuh anak"


"Udah tidur"


"Ini lo nggak liat gue ngapain"


Dan Sakha hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari terkekeh. Saat itu dia memang sudah tidak melihat Kanaya lagi, melainkan tugas yang harus segera dia kerjakan.


Tapi beberapa detik kemudian, dia menoleh, memastikan apakah Kanaya sudah tidur atau belum.


Lalu dia juga menjeda waktunya sebentar, untuk menutupi tubuh gadis itu dengan selimut, dan mengusap kepalanya dengan pelan, hingga bisa Sakha rasakan bagaimana lembutnya rambut gadis itu.