DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 38



"Gue tuh suami lo, sekali kali harus dimanfaatin biar rada berguna"


"Ya gue juga istri lo kan, kenapa nggak pernah lo manfaatin coba, dibanding elo, gue jauh merasa nggak berguna!"


"Disini terus, di samping gue, itu uda lebih dari berguna Nay,"


Selamanya?


Kanaya tidak memiliki prediksi apapun untuk saat ini, tapi yang jelas, bertahan ternyata sulit. Saat ia punya keinginan bersama Sakha lebih lama, artinya dia harus menerima semua yang saat ini maupun nanti akan terjadi. Entah itu perihal Sakha dengan Habibah, Sakha dengan kesibukkannya, ataupun Sakha dengan pikirannya yang seharusnya Kanaya pahami.


"Aneh nggak sih kalau gue nanya begini sama lo?"


"Nanya apa?" Yang laki laki jelas menoleh, tapi yang Sakha dapati malah Kanaya dengan pandangannya yang tertunduk, juga penuh keragu-raguan. Hingga lama gadis itu terdiam, Sakha akhirnya bersandar pada kursi dan perlahan memejamkan matanya.


"Gue bukan cenayang yang akan selalu tau lo kenapa Nay! Saat gue nggak bisa memahami lo, kadang bukan gue yang nggak mau belajar mencoba, tapi lo yang nggak pernah ngasih gue ruang untuk itu"


"Gue disini untuk menjadi teman lo, teman lo dalam hal apapun. Teman lo hidup, juga teman lo untuk menjalani hidup. Saat lo takut, lo boleh bilang ke gue, apa yang lo takutin. Saat lo khawatir ingat ada gue, cerita sama gue yang ngebuat lo khawatir itu apa. Bahkan saat lo sedih dan butuh bahu buat nyandar, yang halal cuma bahu gue, yang boleh ngusap air mata lo cuma tangan gue Nay, lo boleh memendam semuanya sendiri, tapi apa lo kuat?"


Kanaya yang diberitahu panjang lebar begitu akhirnya ikut bersandar dan memejamkan matanya seperti Sakha. Semakin ke sini ia semakin takut pada beberapa hal, juga khawatir pada kemungkinan kemungkinan yang bisa terjadi dan tidaknya sebanding, padahal ada baiknya ia menepis pikiran pikiran itu dan kembali ke kehidupannya yang tenang.


Namun di tengah tengah pikirannya yang semakin carut marut, tiba tiba saja tangan Sakha meraih tangannya, mengenggamnya meski dalam kerterdiaman. Apa yang Kanaya takutkan? Entahlah Sakha juga tidak tau, tapi lewat genggaman kali ini, semoga Kanaya mengerti, jika Sakha juga takut dan khawatir pada beberapa hal.


Sakha tidak pernah marah saat Kanaya pergi bersama Raka, bukan berarti dia tidak cemburu, hanya saja Sakha sadar, selain dia, Kanaya juga butuh orang lain, barang kali itu Raka ya tidak papa. Setelah menjadi perempuan yang punya suami, setidaknya Kanaya masih menjadi manusia yang sifatnya makhluk sosial, begitupun dengan dia.


"Lo pernah ada niatan buat pergi dari gue?"


"Kenapa bisa mikir begitu?" Bukannya menjawab Kanaya malah balik bertanya. Merasa aneh sebab mereka baru menjalani semua ini di tahap awal, setidaknya Kanaya ingin mengenal Sakha lebih dari ini. Dan belajar banyak hal baru bersama laki laki tersebut,


"Nggak, gue nggak ada niatan begitu,"


"Tapi itu untuk saat ini,"


"Yang artinya niatan itu juga bisa muncul sewaktu waktu?"


"Ya"


"Gue harus apa biar lo nggak pernah ada niatan pergi, dan gue harus gimana biar lo tetep disini bersama gue"


"Hubungan itu tentang dua orang yang mau bekerja sama, lo nggak lupa kan kalau pernah bilang itu ke gue. Nggak perlu berbuat apa apa, cukup berusaha menjadi suami yang baik untuk lo dan menjadi istri yang bisa memahami suaminya untuk gue, akan seperti apa kedepannya bisa kita lihat nanti. Gue atau pun lo nggak bisa menjamin gimana pernikahan ini, tapi setidaknya kita bisa sama sama berharap dan mendoakan agar kemungkinan kemungkinan yang seperti itu nggak akan terjadi"


"Nggak tidur kan?"


Sebab Kanaya sudah berbicara sepanjang itu dan tidak ada respon dari orang disampingnya.


Satu detik ...


Dua detik ...


Tiga detik ...


Kanaya menghembuskan nafasnya, kesal sekaligus ingin menjambak rambut Sakha.


Bisa bisanya dia tidur disaat saat yang seperti ini.


Namun saat kedua netra tersebut terbuka, Kanaya lebih dulu mendapati Sakha. Dengan sorot mata teduh dan sulit sekali Kanaya baca, tatapannya yang dalam, tapi anehnya Kanaya tidak mendapati apa apa juga merasa tidak mampu menyelami mata tersebut. Hingga dengan begitu saja perlahan Sakha menarik tengkuk Kanaya, dan memiringkan wajahnya, mengikis jarak diantara mereka lalu sama sama merasakan nafas satu sama lain yang berhembus layaknya angin di kala malam, saat Sakha semakin mendekat dan semakin memiringkan kepalanya juga meraih tengkuk Kanaya lebih dalam dari tadi, saat itu Kanaya mulai memejamkan matanya, tapi setelahnya yang Kanaya dapati benda kenyal tersebut malah mendarat di keningnya alih alih apa yang dia pikirkan.


"Bisa nggak sih nggak usa buat gue bego kayak tadi, hampir aja nyawa gue melayang!"


"Makanya jangan berpikiran kotor"


Tapi jelas jelas tadi Sakha mau melakukannya.


Disela sela kekesalannya itu Kanaya masih menatap Sakha nyalang, dan tidak habis pikir kenapa untuk beberapa saat tadi semua seolah berjalan lambat, lalu dalam sekejap selesai.


Menginggat itu Kanaya langsung merapatkan bibirnya, sementara Sakha jelas terkekeh.


"Lo apaan sih"


"Nah itu"


"Ya gue begini juga gara gara elo!"


"Gue kenapa?" Sakha dan sikap sok polosnya.


Membuat Kanaya mencebik semakin kesal.


"Aisshh tau lah, gue kesel sama lo"


"Gara gara nggak jadi gue,"


"Nggak usa ngaco deh"


Sementara Kanaya yang begitu, Sakha lagi lagi tertawa. Sekali lagi ia meraih tengkuk Kanaya dan memiringkan wajahnya, kali ini lebih lama, tapi dia tidak melakukan apa apa, dia hanya ingin melihat Kanaya dari jarak yang lebih dekat.


"Tuh gue tuh nggak ngapa ngapain cuma begini doang, astagfirullah"


"Ya nggak gini juga dong" Kanaya balas menepis tangan itu


"Buat orang salah paham tau nggak?"


"Ya itu mah salah lo bukan gue"


"Bisa nggak sih ngalah sama perempuan?"


"Enggak"


"Gue aduin mama aja kali ya, lagian uda lama juga gue nggak pulang, paling enak tuh liat lo diomelin, serius dah"


Sakha tidak mengatakan apa apa, ia kembali bersandar pada kursi depan. Lalu teringat niatnya yang lain.


"Nanti ikut gue mau nggak?"


"Kemana?"


"Mekkah"


"Serius kenapa sih"


"Jualan"


Kanaya hanya beroria, tapi tidak lama setelahnya ia kembali merasa aneh.


"Tumben bener ngajak gue, biasanya gue ngikut nggak di bolehin"


"Gue sama Tama nanti jualannya di pasar malam, ya sekalian ngajak lo jalan jalan,"


"Kenapa nggak bilang coba dari tadi," Kanaya lanjut mencari buku bukunya dan dia bawa ke ruang tengah, tidak lupa juga laptop dan buku tulis


"Gue seleseiin tugas gue dulu,"


"Cepet"


"Bantuin kek,"


"Gue bantu berdoa"


"Astagfirullah, lo suami gue bukan sih?"


"Uda cepet kerjain"