DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 15



Beberapa balon yang sudah di tiup kini di rangkai dengan balon balon lain yang warnanya berbeda, sebagian orang ada yang sibuk memasang balon balon itu diantara tali panjang yang memang sudah membentang dari pohon satu ke pohon lainnya, sebagian lagi ada yang memasang spanduk besar yang memperlihatkan foto mereka saat melepas topi toga tadi, bisa di banyangkan akan semeriah apa acara nanti malam.


Pun ada juga yang sibuk membersihkan panggung juga kursi kursi di sekitarnya, hal itu juga dilakukan oleh Sakha dan Tama, mereka tak kalah sibuk dengan yang lain.


"Liat deh, baru kali ini gue liat Kanaya bisa gabung begitu sama anak cewek yang lain selain si Laras"


Sakha mengukir senyumnya, dengan tangan masih memungut Aqua yang bercecer dia sempat menoleh pada gadis di sebrang yang nampak sedang tertawa dan menikmati pekerjaan ini dengan beberapa perempuan sekelasnya.


"Kalau kebanyakan orang, pas kayak gini tuh harusnya sedih, karna kan mau pisah tuh sama temen temennya, Nah si Naya malah ketawa ketiwi sedari tadi"


"Dia tadi sempet nangis, bukan karna mau pisah sama yang lain, tapi Karna selama sekolah di sini kesalahan yang dia lakuin banyak, terutama sama si anak yang lagi dia peluk"


"Terus"


"Ya dia minta maaf, Kanaya pikir enggak bakal di maafin, ternyata ... ya lo bisa liat sendiri sekarang"


"Jahil sih jadi orang" Ujar Tama yang langsung di hadiahi lemparan Aqua oleh Sakha, tepat mengenai kepala anak itu


"Gue bener kan, Si Naya tuh emang jahil. Gue yang temen deketnya aja sering di buat kesel apalagi anak anak lain coba"


"Ya tapi kan dia uda berubah sekarang"


"BELA TEROSS!!!, BELA SAMPE TITIK PENGHABISAN, PERCAYA GUE MAAHH YANG UDA JADI SUAMI ISTRIII"


"Btw tam, Naya aja uda minta maaf sama orang orang yang pernah dia sakitin, lo enggak?"


Tama yang hendak mengangkat kardus berisi sampah sampah tersebut menaikkan alisnya, memang siapa yang pernah dia sakiti sampai sampai harus meminta maaf.


"Gue enggak pernah tuh buat ulah, paling juga kalau gue gabut yang gue bikin kesel cuma Bu Ajeng, abis gue gemes sama dia. Tapi tadi gue uda minta maaf kok dan Alhamdulillah dengan senang hati Bu Ajeng maafin"


"Bukan itu maksut gue"


"Terus" Tama kembali bertanya, kali ini dia benar benar mengangkat kardus tadi dan menjajarkan dengan yang lain, juga mengambil kardus yang masih kosong untuk wadah dari sisa sampah yang masih ada.


"Noh sama anaknya RT lo, lo kan pernah buat dia mewek mewek, sampe sampe dia meluk gue waktu itu, enggak lupa kan lo"


"Padal dia yang selingkuh, sialan emang"


Dari sorot mata lelaki itu, sepertinya masih ada sepercik kebencian yang dia simpan, ketara sekali dari pandangannya


"Emang iya?"


Belum sempat Tama menjawab, Sakha sudah terkekeh dulu


"Cewek emang gitu, suka banget nempatin diri jadi korban"


"Mana selingkuhannya om om woi, gue jadi getar getir sendiri takut di sepak sama yang lebih tua"


Lagi lagi Sakha terkekeh


"Mungkin itu kali yang di maksut Karma"


"Kan lo sering selingkuh tuh, giliran lo uda mencoba tobat, ehh malah di selingkuhin sama yang lain, mana saingan lo om om lagi, lo yang uang masih minta orang tua bisa apa?"


"Nah itu, kalau sekarang mah gue kagak insecure"


"Soalnya kan gue uda jadi pengusaha" Sambung nya dengan nada yang percaya diri, sedang Sakha yang masih ada di sana, geleng geleng tidak habis pikir.


•••


Sementara dari tempat yang tidak jauh dari panggung, Kanaya dan teman temannya asik meniup balon, awalnya Kanaya ogah, tidak punya tenaga untuk sekedar meniup katanya, tapi setelah di paksa oleh anak anak lain, gadis itu malah ketagihan.


Bahkan 10 balon dia kantongi agar tidak ditiup oleh temannya yang lain. Hal itu membuat Laras mendengus


"Tadi aja enggak mau, sekarang lo kantongin semua, kurang ajar emang"


"Kasiaaann..." ledek gadis dengan snikers hitam yang duduknya paling dekat dengan Laras, ia sampai menepuk pundak Laras dan menyerahkan balon yang sempat dia ambil tadi


"Ini aja nihh lo tiup, gue uda males, nafas gue abis buat niup beginian"


"Nah terus lo mau kemana?" Tanya Laras, penasaran sebab Tiara berdiri, menepuk nepuk bokongnya dan matanya mengerling menatap sosok di bawah panggung.


"Lo suka sama Sakha?" Kanaya yang baru mengikat balon tersebut spontan bertanya. Sedang yang di tanya balas memandang Kanaya dengan pandangan cengo "Yang bener aja coba lo nanya begitu, gue sadar diri kali"


"Lagian nay, lo tau kan temen cowok lo yang satu itu, bukan cuma anti sosial, anti sama cewek juga" Sahut gadis berambut sebahu.


"Kata siapa coba, sama gue enggak anti kok"


"Ya karna lo temennya" Ia menjawab lagi, yang lain membenarkan dengan menghela nafas


"Suka sama Sakha itu kata lain dari menyakiti diri sendiri, dia terlalu tinggi buat di gapai, betul?"


Lagi lagi mereka serempak menjawab pertanyaan Tiara.


"Mending juga sama Tama, masih bisa berharap kalau sama dia"


"Lo tau gak Tama anaknya gimana, play boy kelas kakap dia" Balas Kanaya dengan mata berapi api, paling semangat kalau masalah menjelek jelekkan Tama "Mantannya ada di mana mana Ra, bahkan di sepanjang jalan mungkin ada tuh mantannya dia"


"Yang bener lo?"


"Dia baik kok" Bela Tiara, sebab belakangan ini Tama sering perhatian padanya, juga sering mengantarkan Tiara pulang dengan embel embel ingin membuang bensin. Sebagai perempuan yang peka, Tiara jelas tau maksut tersembunyi Tama.


Secara tidak langsung, pasti lelaki tersebut ingin memastikan sendiri jika Tiara pulang dengan selamat. Atau ... memang niat Tama hanya untuk membuang buang bensin. Dan tiaranya saja yang terlalu percaya diri.


"Tapi ya Tir, si Tama emang terkenal play boy" Laras ikut ikutan


"Mending yang lain deh kalau kata gue, jangan Tama"


"Tapi dia ganteng"


"KAYAK GITU GANTENG? waahh... gila sihh ini mata lo kayaknya rabun"


"sembarang" Damprat Tiara, tidak terima sebab Tama memang tampan, lantas gadis itu berlari tanpa memperdulikan Kanaya yang sudah berteriak memanggilnya begitupun Laras, sedang yang lain hanya terkekeh "Uda sih biarin aja, kalau sakit juga mewek nanti"


"Mending juga jonii"


"Yang kemana mana bawa botol buat kalung itu?" Dita memastikan, dan di jawab anggukan oleh Kanaya


"Lo kalau pacaran sama dia kembung woi, di kasih minum terus pasti tanpa di beliin makan"


dan kelima perempuan tersebut tertawa, tanpa tau kalau di belakangnya mereka Joni sudah mengkas mengkis menahan untuk tidak menangis, ini bukan kemaunnya, tapi bagaimana lagi, dia terlahir sebagi laki laki yang tidak bisa jauh dari Air


"Eh tapi Joni baik tau,"


"Iya gue baik, lo semua yang jahat" Sahut seseorang dari belakang mereka, yang tak lain adalah si Joni


"Joni jonn gue bisa jelasinnn"


"bodoooo"


"Yahh, ngambek kan dia"


"Sensi bener kayak cewek" Balas Dita yang hanya menatap punggung Joni, membuat Kanaya mendesis pelan


"Kita enggak pernah tau kali perasaan orang lain, salah kita juga ngapain ngomongin dia"


"Iya, menurut gue mending kita samperin, terus minta maaf" Sahut Fani, setuju dengan ucapan Kanaya


Sebab lagi lagi kasusnya sama, yang sepele bagi kita belum tentu sepele juga untuk orang lain