DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 65



Jika biasanya meja makan adalah tempat pertama mereka bertemu setelah semalaman beristirahat, mungkin mulai hari ini dan seterusnya adalah kamar ini,


'Not bad' batin gadis itu yang sesaat tadi sempat menyunggingkan senyumannya, hanya karna dia tau, ternyata setelah bangun tidur yang Sakha lakukan adalah meminum segelas air hingga benar benar habis, bahkan yang tersisa di gelas itu hanya satu sampai tiga tetes. Dengan begini juga mungkin mereka akan lebih mengenal satu sama lain.


"Ternyata gini yaa wajah istri gue pas bangun tidur" Sakha terkekeh pelan saat mendapati Kanaya yang sudah membuka matanya, membuat gadis yang masih memiringkan tubuhnya itu memutar bola mata dan berdecak. Seolah olah sebelumnya mereka belum pernah saja tidur berdua.


"Gue mau ke masjid dulu, lo siap siap juga gih"


"Iyaa"


"Jangan iya iya mulu"


"Lagi juga masih jam berapa sih" Kata gadis itu, kentara sekali dia masih malas.


Ya jangankan langsung bergegas ke kamar mandi, bangun dari posisinya yang sekarang masih tiduran saja dia enggan.


Akhirnya ia terlentang, menatap langit langit kamar Sakha dan memejamkan matanya sekali lagi. Sementara di dalam perutnya, seperti ada yang ******* ***** bagian kiri, dan lama kelamaan perut Kanaya malah seperti di tusuk secara berulang.


Dari sana baru gadis itu sadar, bahwa bekalangan ini adalah tanggal tanggal rawan untuk dia


"Sekarang tanggal berapa dah?"


"25"


"Gawattt" Dia bahkan tidak peduli dengan kondisinya yang lemas, tidak peduli dengan air di kamar mandi yang pasti masih sangat dingin, karna yang dia inginkan sekarang hanya satu, cepat cepat ke kamar mandi untuk memastikan apakah dia-


"Heh" Tapi belum sempat dia membuka pintu kamar itu, Tangan Sakha lebih dulu di sana, mengunci dia dari belakang untuk sekedar bertanya Kanaya kenapa.


Dan Sakha hanya mendapat jawaban,


"Pokoknya ini gawat, gawat banget"


Lalu sekonyong-konyongnya tangan Sakha ditepis hingga menyingkir dari pintu, kemudian gadis itu berlari ke arah kamar mandi. Tapi jauh dari jawaban tadi, Sakha lebih di buat melongo dengan noda merah di bagian belakang milik Kanaya.


"Nay ... Lu-"


"SAKHAAAAAA"


"Istri hamba kenapa ya Allah, dia cuma haid kan nggak pendarahan?"


"SAKHAAAAAA"


Dia yang semula terpaku kini ikut berlari ke kamar mandi, dan ternyata sudah ada Kanaya yang meringis di sana, kepalanya menyembul di antara bagian pintu yang dia buka sedikit.


"Perut gue sakit" Bahkan bisa di lihat jika sekarang wajah gadis itu juga pucat


"Lu haid beneran?"


"Iyaaaa"


"Dan perut gue nyeri, sakit banget Khaa"


Karena setiap haid di hari pertama Kanaya akan seperti ini.


"Ihhh, yaa ambilin pembalut gue dulu"


Sakha bahkan melupakan pentingnya eksistensi pembalut untuk Kanaya saat ini.


"Bentar gue ambilin" Dan laki laki itu betulan berlalu, kembali lagi setelah ia mengambilkan Kanaya pembalut, dan menuntun gadis itu dengan sabar untuk menuju ke kamar dan beristirahat.


"Lu tidur aja mending, nanti kalau gue uda pulang dari masjid, gue bikinin sarapan sama susu jahe"


Gadis itu mengangguk pelan, kemudian menaikkan selimutnya dan membiarkan Sakha untuk ke masjid terlebih dahulu. Bahkan ketika Sakha mengusap rambutnya seperti semalam, dia juga tidak mengatakan apa apa.


"Gue berangkat yaa, assalamu'alaikum"


"Wa'alaikumsalam"


°°°°


Sakha tidak tau bagaimana menyiksanya haid di hari pertama untuk Kanaya. Karna kata gadis itu sakit yang dia rasakan tidak hanya di bagian perut, dia juga pusing, mual mual, tidak punya selera makan sama sekali, bahkan seluruh badannya juga ikut pegal pegal.


Sakha juga tidak bisa memindahkan sakit itu agar supaya Kanaya tidak meringis terus terusan seperti ini, yang bisa ia lakukan hanya membuatkan susu jahe, yang semoga saja bisa meredahkan nyeri di perut Kanaya, lalu membelikan beberapa jenis makanan agar Kanaya tetap makan, dan terakhir, dia juga memijit kepala Kanaya, supaya pusing di kepalanya ikut mereda.


"Masih sakit?"


"Biasanya ilang pas uda sore" Jawab gadis itu, kemudian dia memeluk Sakha dan menyembunyikan wajahnya di perut laki laki itu.


Sementara Sakha yang baru di beritahu hanya mengusap usap bagian belakang kepala Kanaya,


Sekarang ini baru pukul sebelas, masih butuh berjam jam lagi untuk sore.


"Makasih yaaa buat susu jahe nya, makasih uda di pijitin, di beliin makanan sebegitu banyak padahal yang gue makan juga sedikit" Kata Kanaya, dan Sakha yang masih dia peluk seketika tersenyum dengan binar yang tulus.


"Asal lu mau makan" Bahkan sedikit saja lebih baik kan dari pada tidak sama sekali. Dan dia bahagia bisa berguna disaat saat Kanaya seperti ini.


"Oh ya, gue juga mau minta maaf"


"Gara gara gue tembus, lo juga harus repot repot cuci sprei, padal itu kan susah banget ya kalau di cuci pake tangan"


"Nggak papa lagi," Cuci kasur pun kalau itu untuk Kanaya Sakha tidak masalah,


"Mau gue pijitin lagi nggak kepalanya?" Tanya yang laki laki, karna barang kali Kanaya masih pusing.


"Nggak" Tapi jawaban dari gadis itu justru 'enggak. Sepertinya sudah cukup dia membuat Sakha kerepotan,


"Gue mau peluk lo gini aja, jangan gerak pokoknya"


"Kan gue hidup"


"Ihhh pokoknya jangan gerak, kalau lo gerak, sedikiiittt aja, perut gue nanti nyeri lagi"


'Ini maksutnya gimana sih? Laki laki itu bertanya tanya dalam diamnya, serius dia tidak paham. Tapi ketika Kanaya memintanya untuk tidak bergerak, dia juga menurut, sebisa mungkin dia tidak bergerak.


Yang dia ingat 'Jangan gerak, nanti perut Kanaya nyeri kalau lo gerak.