
Selepas kepergian Kanaya, Sakha tak ubahnya lelaki linglung yang kehilangan sebagian dari dirinya.
Sekalipun dia tau kemana Kanaya saat ini, tapi itu tidak mengubah apapun. Lelaki tersebut masih bertatap kosong pada jalanan yang ia lihat dari jendela kamar Kanaya. Juga masih memandangi gerimis yang jatuh itu dengan pandangan getir dan penuh kepiluan.
Di sana seolah masih ada bayang bayang Kanaya yang terburu buru, menghampiri Rizal dan pergi dari rumah itu.
Sesaat gadis itu memandang jendela kamarnya sebelum Rizal menancap gas, seakan ada yang memberi tau jika di sana ada Sakha, di sana ada laki laki yang menangisi kepergiannya.
Tapi barang kali memang begitu, mengapa tidak ada waktu, setidaknya satu menit untuk dia memandangi jendela tersebut lebih lama. Bahkan Sakha tidak apa apa jika Kanaya turun lagi dan memarahi dia kembali. Sebab di titik ini, dia merasa Kanaya tidak salah, sama sekali. Ini salah dia yang lalai akan tanggung jawab. Ini salah dia yang buru buru datang ke tempat Habibah tanpa menanyakan keadaan di sekitar Kanaya. Ini juga salah dia yang seolah olah memprioritaskan Habibah alih alih istrinya sendiri.
Laki laki tersebut lantas melangkah, menjauh dari jendela lalu menuju teras. Ia duduk di sana sembari mengadakan tangannya untuk merasakan bagaimana rintik hujan kali ini. Dan nyatanya rintik hujan masih sama seperti biasanya, dingin namun damai.
Seketika aroma tanah juga menyeruak, menguasai Sakha dan pelan pelan membawa laki laki itu pada ruang di mana ia bisa merasa lebih tenang ketimbang tadi.
Tapi biar pun begitu, yang ia ingat tetaplah Kanaya. Sakha tau gadis itu sangatlah menyukai awan, bahkan tidak peduli jenis yang mana, jika namanya masih awan, Kanaya tetap suka.
Dan untuk malam yang mendung ini, awan awan indah tersebut mana bisa di lihat, di langit sana hanya ada bulan, dan rintik hujan yang terus terusan turun, seolah masing masing dari mereka saling berlomba untuk siapa yang lebih cepat sampai ke bumi.
Tapi tanpa mereka, tanpa awan awan itu, Sakha masih bisa menginggat Kanaya dengan hal hal yang lain. Dengan hujan, dengan pekatnya malam, atau juga dengan genangan air yang tercipta di ujung hujan yang turun itu,
Di sana seolah ada cerita mereka. Disana seolah ada Sakha, bersama dengan Kanaya.
"Yang ngebuat lo nggak percaya tuh apa sih Nay" Kata Sakha. Sesaat ia tersenyum sumir.
"Bahkan lo baru pergi, dan gue uda setengah gila kayak gini tanpa lo"
Kemudian ia menatap langit langit itu dengan kedua tangan yang sengaja dia letakkan ke belakang sebagai penyangga tubuhnya.
Dia bilang,
"Cinta tuh nggak perlu di definisikan dengan panjang Nay, yang penting orang yang lo cintai itu paham, lo mencintai dia dengan cara yang bagaimana"
°°°
"Lha, balik lagi kenapa lu? Ada yang ketinggalan?" Tanya Bagas, padahal Tama baru mendudukkan dirinya di sana.
Dan ketika Bagas sudah duduk di sana, Tama hanya menggeleng penuh kegamangan.
Dan kalau pun benar, Bagas tidak akan heran lagi, sebab sebagai laki laki ia tau se-beharga apa rokok itu.
Di sisi lain juga semakin ke sini semakin mahal, jadi jangankan satu bungkus, kehilangan satu biji saja malamnya sudah susah tidur.
Lalu tanpa di suruh, ia ke meja di mana disana ada rokok Tama yang ketinggalan, lantas menyerahkan sebungkus rokok tersebut kepada Tama, bahkan korek biru milik lelaki itu juga tidak lupa Bagas cantumkan.
"Tuh, yang ini tuh uda ketinggalan berapa hari yah, lama deh pokoknya. Pas lo sibuk jualan sama nugas, ini korek jadinya kebawa gue selama hampir sebulan. Tapi lo tenang aja, Karna gue-"
"Gue nggak bisa kayak gini terus Gas" Kata Tama.
Yang barusan tidak hanya memotong ucapan Bagas, tapi juga membuat Bagas mengercap tidak paham.
"Gimana gimana? Nggak bisa apa?" Tanya laki laki berbaju santuy tersebut. Lalu Sekonyong-konyongnya ia berkacak pinggang.
"Waduhh, jangan bilang lo nggak terima karna korek lo ini uda gue pake sampe sisa setengah, yaelah Tam, korek doang loh ini"
"Nggak masalah soal itu, ini lain. Tentang gue sama orang yang gue cintai, bukan tentang lo sama korek sialan itu, lo mau ambil tuh korek juga I'm okay"
"Lo nih tipikal orang yang susah move on ya ternyata" Ujar Bagas. Untuk sejenak ia tergelak, sebelum akhirnya menarik kursi di depan Tama. Sebelum nya ia juga sempat mengantongi korek tadi, kalau kata bagas, rejeki itu tidak hanya berupa uang, dapet korek gratis dari teman juga rejeki.
"Emang dia sebaik apa sih Tam? Sampe lo yang awalnya suka gonta ganti cewek aja bisa berhenti di dia"
"Gue play boy nggak beneran kali, cuma nyamarin perasaan doang"
"Sebenarnya nyamarin perasaan buat ngejaga hubungan lo sama dia tuh nggak papa Tam, tapi gak usa melibatkan perasaan dari pihak lain"
Lelaki itu kemudian menghembuskan asap rokoknya, dan kepada asap rokok itu, ia memandang kepulan tersebut dengan seutas senyuman tipis
"Kalau lo masih mau nyamarin rasa lo, samarin rasa itu tanpa nyakitin siapa pun"
"Emang bisa?"
"Enggak bisanya kenapa?" Giliran lelaki itu yang membalik pertanyaan Tama.
"Dengan lo yang kayak gini pun dia nggak bakalan peka lo yang sebenarnya kayak gimana"