
Acara berganti acara terus berlanjut, memakan waktu, membuahkan kebahagiaan, hingga mengantarkan semua murid yang tadi pagi baru di wisuda itu untuk berdiri disekitaran lapangan, dengan masing masing dari mereka yang sudah membawa lampion dan siap untuk menerbangkannya. Kata pak Burhan tidak perlu berbaris, mereka bebas berdiri dimana saja juga dengan siapa asal jangan keluar dari luasnya lapangan berumput hijau tersebut.
Yang mana peraturan itu jelas memecah bela murid muridnya, ada yang sudah bergerombol dengan teman akrab mereka, ada yang bergerombol dengan pacar mereka sebab bagi mereka, mereka tidak akan di hukum meski hubungan mereka di ketahui oleh staf guru, juga ada yang berdiri seorang diri, seolah nyaman dengan semua itu.
Sedang di sudut lain, Kanaya tengah berhadapan dengan Sakha, tidak tau mengapa dia ada dan berdiri di depan Sakha seperti ini, tapi Kanaya harus mengaku jika dia suka. Nyatanya, tanpa laki laki itu tau, dia sudah menjadi sumber dari kebahagiaan orang lain, dan salah satu orang yang menjadikannya sumber kebahagiaan adalah Kanaya.
"Kenapa senyum senyum begitu,"
Sesaat Sakha sadar, selama dia menyalahkan api untuk lampion Kanaya, yang di lakukan gadis itu hanya menatapnya dengan seutas senyum yang nampak berbeda dari senyum senyumnya yang lain.
Dan pertanyaan barusan membuat Kanaya spontan membuang pandangannya, menatap teman temannya yang lain dengan satu tangan yang bergerak menepikan anak rambut ke atas telingga sebab rambutnya kesana kemari tertiup angin malam.
"Siapa yang senyum," begitu jawabnya
Sementara Sakha masih tertawa, jelas sekali senyum milik Kanaya tadi berlangsung lama, bahkan sampai Sakha berhasil menghidupkan api di balik lampion milk gadis itu.
"Kha, kata pak Burhan tadi, sebelum ada aba aba lepas, kita boleh berdoa dulu pada Tuhan kita masing masing, kalau enggak juga gak papa sih. Lo mau berdoa?"
"Mau" Jawab Sakha yang kini sudah menghadap depan, hal itu langsung di ikuti oleh Kanaya
"Tapi nay, kayaknya gue harus izin sama lo"
"Buat"
"Gue mau berdoa untuk kita dan pernikahan ini" sekilas tatapan keduanya kembali beradu, bertubruk dengan serius diiringi keheningan hingga Sakha kembali berujar lagi
"Gue mau, baik elo, ataupun gue, Nantinya kita bisa sama sama memperjuangkan pernikahan ini. Menghidupkan rumah tangga kita tanpa ada niatan untuk mengakhiri, dan benar benar bisa menerima sepenuhnya tanpa menganggap ini bagian dari kesalahan ataupun menganggap ini bagian dari yang enggak seharusnya"
Yang bisa Kanaya lihat dari netra Sakha hanyalah niat yang tulus, seakan dia benar benar ingin menghidupkan pernikahan yang Kanaya rasa memang tidak seharusnya. Sakha bilang dia ingin memperjuangkan pernikahan ini bersama Kanaya, tapi apa dia sudah memastikan bagaimana kondisi hatinya nanti? Cara kerja hati hampir mirip dengan lidah bukan, tidak akan bisa berbohong perihal rasa. Dan melukai hatinya sendiri bukan pilihan tepat jika demi pernikahan ini.
"Nay, kita hidup disini atas takdir yang enggak kita tau, atas takdir yang bukan kita buat, dan atas takdir indah yang sudah semestinya kita jalankan"
"Seperti kata Umar bin Khattab, apapun yang melewati kita berarti bukan takdir kita. Dan takdir kita enggak akan pernah melewati kita"
"Maka dari itu, enggak usa mempertaruhkan perasaan lo sendiri Kha" senyuman Naya kali ini tidak hanya meneduhkan, tapi juga membuat perasaan Sakha secara tiba tiba menghangat
"Gue percaya sama apa yang Khalifah Umar bilang, Yang pergi dari kita ya tandanya itu bukan bagian dari Takdir kita, sebab takdir kita enggak akan pernah meninggalkan kita"
"Berjuang semampu dan sebisa lo, gue enggak akan pergi, pernikahan ini pun enggak akan berakhir kalau emang lo salah satu dari takdir gue"
Yang mana Sakha ikut tersenyum, menatap lekat lampion ditangannya sebelum pak Burhan akhirnya berteriak lepas dengan sangat keras.
Membuat siswa maupun siswi yang kini sudah memenuhi lapangan melepas lampionnya dengan serempak.
Namun untuk sesaat, gadis itu terjingkat, melirik ke arah pundaknya, dimana ada tangan kekar milik Sakha disana dan dengan sekejap lelaki itu sudah mendekapnya dari samping
"Disini dingin, gue enggak bawa jaket, jadi gue peluk"
Dan yahhh..
Meski sebelumnya Sakha sering memeluk Kanaya, tapi rasanya tidak sama. Apa pengaruh status antara keduanya sampai sebegini. Bahkan Kanaya harus menanggung beberapa efek samping setiap kali berdekatan dengan Sakha. Sementara Sakha, bisa bisanya dia baik baik saja dengan semua ini. Saat jantung Kanaya sudah berdetak dengan kecepatan di atas rata rata, detak jantung Sakha masih berdetak dengan beraturan. Saat pipi Kanaya memanas gara gara sentuhan lelaki itu, sialnya muka Sakha masih sedatar biasanya dan parahnya lagi kadang dia masih bisa tertawa terpingkal.
Atau mungkin, ini karena Kanaya yang hanya mencintai secara sepihak?
Dalam dinginnya malam itu, Kanaya balas melilitkan tangannya ke pinggang Sakha, merapatkan pelukan diantara mereka dan melihat bagaimana lampion lampion tersebut memenuhi langit, juga mengalahkan sinarnya bintang sebab jarak mereka lebih dekat.
"Ciee yang uda lulus" kata Sakha saat masih memeluk gadis itu, membuahkan tawa renyah dari Kanaya
"Ciee yang nilainya paling tinggi" Balas Kanaya yang juga ikut tertawa.
Membuat Sakha mengusap usap bahunya, menyandarkan kepalanya di samping kepala Kanaya tanpa peduli jika yang berdiri di lapangan ini bukan hanya mereka berdua.
•••
Pak Burhan pernah bilang begini, Begadang itu berlaku hanya untuk orang orang yang beneran sibuk. Anak seusia kalian tidak di perbolehkan untuk bergadang, lagian yang membuat kalian begadang itu apa sih? toh kalian masih pelajar. Tugas sekolah? halaah enggak mungkin, wajah wajah kalian itu wajah wajah orang yang menyepelekan tugas sekolah, paling paling juga ngerjain pas pagi sebelum ada guru yang datang. Jadi ingat ya, jangan sampai telat dan saat ditanya alasannya apa, kalian dengan entengnya ngomong begadang. Saya sleding baru tau nanti"
Sakha bahkan mengingat jelas bagaimana kalimat panjang kali lebar itu terlontar, dan lihat malam ini, Pak Burhan dengan semangatnya berujar "Ini tuh malam terakhir kalian di sini, jadi jangan ada yang tidur ya, kalau ngantuk langsung bilang ke saya, biar saya ambilkan kopi" yang langsung di angguki oleh beberapa murid.
Sebab acara masih berlanjut, menurut agenda, kita baru boleh pulang besok pagi. Setelah lampion lampion tadi hanya nampak seperti titik hingga akhirnya menghilang, anak anak disibukkan dengan kegiatan lain.
Acara selanjutnya adalah bakar bakar, di jamin tidak kalah seru dengan melepas lampion.
Diiringi dengan beberapa anak jurusan IPA yang memegang gitar dan siap menyumbangkan suara mereka demi berlangsungnya acara ini, semua murid mulai berkumpul, membentuk lingkaran dan menjadikan tempat membakar berada ditengah tengah mereka.
"Gilaa sih, ini epik momen banget" Pekik Tiara yang ketara sekali senang meskipun tadi, katanya anak itu sempat menangis sebab tidak rela melepaskan lampionnya bersama lampion lampion yang lain.
Sementara Dita yang duduk di sebelahnya sudah bertepuk tangan, mengikuti yang lain, detik berikutnya ia berbisik pada Laras
"Anak IPA cakep cakep astagaa, kenapa coba gue enggak masuk ke jurusan IPA tiga tahun yang lalu"
"Nyesel lo" tanya Kanaya, yang mana Dita hanya memandangi sosok dengan gitar berwarna coklat tua tersebut dengan lesu
"Agak sih, abis dia ganteng banget, senyumnya itu loh, mengalihkan duniaku"
"Heleeehh" yang lain langsung mencibir, membuat anak itu mendengus dengan tatapan sewot.