
"Batu kertas gunting!"
"Batu kertas gunting!"
Kanaya mendesah melihat tangan Tama justru membentuk batu alih alih kertas seperti yang dia pikirkan. Dan dengan begitu saja sudah jelas jika dia kalah lagi, sebab Kanaya baru saja mengeluarkan gunting.
Tama yang merasa beruntung hari ini cepat cepat maju dua langkah dari tempat asalnya berdiri, jaraknya dengan Kanaya terlihat lebih jauh dari tadi. Lelaki tersebut tak urung melet melet saking senangnya. Ya bagaimana bisa Tama bersikap biasa saja, dia ingat betul saat saat SMA dulu, keluar kelas ketiganya akan bermain Hompimpa, lalu disambung batu kertas gunting. Siapa yang beda nanti akan melangkah lebih dulu, dulu sih sekali Hompimpa atau sekali batu kertas gunting hitungannya selangkah. Lalu jika sudah tersisa dua, permainan disambung dengan batu kertas gunting, yang kalah biasanya Tama. Dan yang menang kebanyakan Kanaya. Kalau Sakha kadang jadi yang pertama sampai di kantin, kadang juga yang kedua, pernah jadi yang terakhir tapi terhitung jarang.
Tama tau mereka baru saja lulus, tapi jika mengulang masa masa itu lagi seperti yang saat ini, Tama mengaku merindukan Sakha dan Kanaya, juga hal hal konyol yang mereka lakukan.
"Ah males gue. Dari tadi kalah mulu"
Sekonyong-konyongnya Kanaya tidak peduli lagi dengan tangan Tama yang membentuk kertas, dan batu yang baru dia keluarkan itu dia kepalkan lebih erat. Tama cengo, tapi ia sadar dia sudah tertinggal jauh dari Kanaya dan Sakha.
"Dunia emang nggak adil"
"Btw Tam. Lo masih deket sama Tiara?"
"Tiara mana nih, yang dari SMA kita itu" Tama justru bertanya balik pada Sakha.
Sakha mengangguk. Sementara Kanaya sudah berdecih dengan tatapan jijiknya pada Tama.
"Lagi pula selain Tiara temen gue ada Tiara lain? Wagelaseehh, lo emang play boy sejati"
"Padahal muka loh juga enggak oke oke banget"
"Tapi rada oke dong berarti?"
Sesaat Kanaya menatap Tama dari ujung kepala sampai ujung kaki, balik lagi dari bawa, ujung kaki ke kepala, sampai rambut Tama yang terkena angin turut Kanaya perhatikan. Lalu telapak tangannya digerakkan ke kanan kiri di samping leher
"Lo tuh nggak banget sih tam sebenernya. Gue aja heran lo pergi ke dukun mana, kayak manjur banget gitu loh"
"He kambing!"
"Astagfirullah Tamaa" Kanaya dengan raut sok dramatisnya. Seolah kaget padahal dia sudah biasa dengan Tama yang seperti itu.
"Lo kasih makan apaan sih Kha, tumben nggak menghewan kan gue balik" Jika Kanaya heran pada Tama barusan, sudah pasti dia bohong, lain dengan Tama yang betulan heran dengan Kanaya.
"Biasanya langsung ngegas, BILANG APA LO NYET. SEKATA KATA MANGGIL GUE KAMBING, LO NGGAK LIAT MAMA GUE SECANTIK ITU MAKANYA ANAKNYA SEADUHAI INI"
"Lo kenapa hafal banget sih sama ucapan ucapan gue"
"Karna itu itu terus"
"Bisa diem nggak" Sakha yang berada ditengah tengah mereka mendadak puyeng kalau Tama dan Kanaya sudah begini, seketika mereka kicep, dengan Tama yang langsung melengos ke kanan dan Kanaya yang langsung melengos ke kiri. Perjalanan ke pasar biasanya tidak selama ini, tapi saat Tama ikut, anehnya sudah satu jam tapi mereka belum juga sampai.
"Gue kangen tau nggak sama lo berdua. Terutama lo nay"
"Bini gue"
"Iya tau" Tadi Tama belum selesai berujar, tapi Sakha malah dengan gampangnya menarik bahu Kanaya, dan mendekap perempuan tersebut dari samping. Jangan lupa juga dengan tatapan nyalang nya pada Tama.
"Lagian nggak mungkin juga dong gue naksir sama cewek yang modelan nya begitu, kalaupun didunia cuma tersisa dia nih, lebih baik gue nggak nikah"
"Ya lo pikir gue juga mau gitu sama lo"
"Tapi serius deh gue nanya, lo berdua masa gak ada kangen kangennya gitu sama gue?"
"Enggak" keduanya lantas meninggalkan Tama setelah berkata demikian. Cukup mencelos, tapi tidak papa. Tidak dirindukan oleh mereka bukan masalah besar, lagi pula yang terpenting bagi Tama tetap oksigen bukan pasangan itu.
•••
Semenjak kuliah, Kanaya juga jarang bertemu dengan Bu Ani, paling paling mereka bisa bertemu dihari Minggu seperti ini, itupun jika Kanaya sudah benar benar bebas dari tugas tugasnya.
Kadang yang belanja hanya Tama, kadang juga hanya Sakha, kadang Tama dan Sakha juga kadang mereka bertiga.
Bu Ani sendiri lebih senang saat mereka datang beramai ramai begini. Ia senang dengan Kanaya dan ceritanya, Sakha dan attitude nya yang bagus dan Tama dan kehebohan yang dia bawa. Bagi Bu Ani, ketiganya ini lebih dari pembeli. Dan mungkin ketiganya juga merasakan yang sama.
"Tadi motor lo seriusan mogok. Astaga kenapa nggak nelpon gue sih tam"
"Emang lo mau nolong?" Tanya Sakha, tidak yakin dengan tawaran Kanaya barusan. Tama apalagi,
"Ya nggaklah, gue cuma mau ketawa doang"
"Emang manusia paling jahat tuh elo!" Tama mendengus setelah itu. Kemudian disusul gelak tawa Bu Ani dan Sakha.
"Lagian, mending juga lo jalan jalan sama gue ketimbang harus ngetawain dia" sahut Sakha
"Oh iya, ibu tuh punya sesuatu buat kalian, hampir aja lupa"
Bu Ani tersenyum, mengerling kan matanya pada ketiga bocah itu. Lalu mengambil sesuatu di kotak uang.
"Tadaaah"
Bu Ani jelas terkikik, rasanya tidak pantas jika Kanaya seperti terpukau begitu, menginggat gelang yang sengaja dia simpan harganya juga tidak mahal, perbiji hanya seharga 3 ribu.
"Buat kita?" Sakha dan Tama
Bu Ani mengangguk, lalu memberikan pada mereka satu per satu.
"Dipakai ya, sewaktu waktu kalau kalian jauh dari satu sama lain, seengaknya ada waktu untuk menginggat lewat gelang ini"
"Kenapa bisa berpikiran sampai sana sih buk?" Tanya Kanaya yang sedang Sakha pakaikan gelangnya. Sakha sedikit belajar tentang bagaimana itu peka, ia ingin lebih memahami orang lain, tapi sebelumnya ia ingin memahami Kanaya terlebih dahulu, sebagai orang yang paling dekat dengan dia.
"Kita nggak pernah tau didepan sana kita bagaimana. Nggak jauh jauh deh, setahun lagi aja nggak bisa kita prediksi kan?"
"Iya juga sih"
"Terlepas dari semuanya, makasih ya buk"
"Sama sama"
"Inget loh ya kita pernah ketawa bareng begini" Bu Ani lagi lagi mengingatkan. Ketiganya kembali tertawa.
"Ingat warna baju Sakha hitam" Ujar Sakha.
"Ingat motor Tama mogok" tau tau Kanaya menyangkut kan motor Tama. Yang punya motor mana mungkin diam
"Lo bisa diajak seneng seneng nggak sih?"
"Santai mang, nggak liat suami gue keker begini"
"Kagak takut gue, mau war, ayoo, gue jabanin dah"
"Sekarang?" Kali ini bukan lagi Kanaya, melainkan langsung pawangnya. Tama seketika menyudahi tawanya, dan yang dia lakukan hanya menangkupkan tangan didada, meski hanya sesaat.
"Setelah gue pikir pikir, nggak ada gunanya bos. Kalah bonyok, menang juga bonyok, Uda paling bener tuh lupain omongan gue"
"Kalian tuh ya"
Bu Ani sampai merasa hari Minggu kali ini tidak memberinya kesan bosan sedikitpun, Sebab mereka ada disini. Dan setelah mereka pergi, yang ia harapkan, semoga ketiganya akan tetap begitu. Semoga mereka tetap bisa saling merangkul, berjalan dengan langkah yang sama, dan bahagia akan hal baik yang menimpa satu sama lain. Sebab mereka terlalu akrab jika sewaktu waktu harus berjauhan.
•
•
•
Komen kalian tuh lucu² yh, bahasanya apa lagi😂😂.
ngomong-ngomong terimakasih sudah membaca cerita ini!
Karna ada yg nanya nanya ke saya seputar cerita dear Sakha, saya rasa lebih baik dijawab disini ketimbang di Instagram.
Q : Up nya hari apa aja sih kak
A : Saya nggk ada jadwal up kayak gitu ya, karna saya sendiri belum yakin bisa konsisten kalau pakai konsep up dijadwalkan hari apa aja. ya kalian tau sendiri kadang sampai lama saya nggak update. Tapi yang jelas, setiap saya up pasti pagi, dan itu sekitar jam sembilan.
Q : Kenapa jam sembilan?
A : Karna saya rasa, kalau pagi itu manusia sedang sibuk sibuknya. Dan mungkin di jam sembilan mereka mulai renggang.
Q : Pemberitahuan up kenapa nggak di insta story' IG
A : Ya nggak papa😂. I Mean, lebih enak langsung up. Kalau di insta story' IG cuma buat naro caption" seputar cerita ini aja.
Q : Ini real story' bukan?
A : Bukan, cerita yang saya tulis gada yg real yh, semua imajinasi aja
Q : Bingung mau pilih mana, semua tokoh yang kakak buat idaman semua
A : Please jangan buang waktu buat begituan. sekalipun udh kalian pilih, mereka tetep nggak nyata.
Q : Seneng nggak kak kalau di tagih Up?
A : seneng lah pasti, kenapa? Karna cerita kita nggak sekedar diterima tapi juga ditunggu tunggu. Tapi nggak semua penulis juga begitu ya, sebab seorang penulis nggak mungkin dunianya cuma berpusat disitu. mereka juga punya kesibukkan lain. Jadi sebagai pembaca, kita juga harus tau caranya menghargai mereka.
Oke, Makasih buat yg sudah follow Instagram saya, dan makasih juga buat pertanyaannya.
sampai jumpa di chapter selanjutnya 👋**