
Ospek dihari kedua tidak seperti ospek dihari pertama. Bisa dibilang ini lebih baik ketimbang kemarin. Kanaya juga tidak perlu repot repot skotjump terlebih dahulu untuk sekedar masuk dan bisa menyusuri lorong demi lorongnya. Kegiatan hari ini juga seru, buktinya saja setelah materi singkat dari senior, gadis itu terus tertawa disepanjang permainan.
Ada yang bilang, hidup ini sederhana tergantung dengan kamu yang mau memandang dari mana. Kanaya rasa bahagia juga begitu. Sederhana tergantung dengan cara pandang kita. Sesederhana Kanaya yang terus tertawa lantaran melihat Maba lain bergantian maju karna kalah dalam permainan ospek saat ini misalnya, dan saat mereka kembali, wajah mereka sudah cemong-cemong. Ulah siapa kalau bukan senior didepan.
"Tinggal sehari, sabaaar" kata Kanaya begitu Anjani kembali. Dan sama seperti Maba lain yang terkena hukuman, wajah Anjani juga sudah dicoret dengan lumpur. Tidak heran mengapa ia mendengus.
"Gue paling gak bisa main yang begini. Main apa kek, jangan ganda tunggal mulu"
"Ini melatih konsentrasi, makanya lo harus konsen"
Lagi lagi gadis itu mendengus, tangannya gemas ingin menghapus coretan lumpur dipipinya, andai saja dia berani.
"Tugas lo uda?"
Anjani lihat Kanaya begitu serius dengan lembaran formulir yang saat ini ia bawa. Ia tumpukan pada lutut. Dan sepertinya sudah banyak yang gadis itu isi.
"Belum, gue baru ngisi beberapa" Jawabnya yang setelah itu hanya Anjani jawab dengan anggukan ringan.
Dalam Formulir tersebut tidak banyak pertanyaan, hanya 7. Mencangkup nama, tanggal lahir, Alamat, hobi, jurusan, apa yang mereka ketahui tentang jurusan yang mereka pilih, juga alasan mengapa mereka memilih jurusan itu.
"Harus disetor sekarang?"
"Kata mbak mbak tadi sih iya, tapi kalau kata kak Raka, boleh disetor kapan kapan asal disetornya dirumah dia, enggak di kampus"
"Maksutnya apa sih, ganteng ganteng kok sinting"
"Heeeh"
Yang diperingati hanya mencebik, sebab menurut Anjani, itu bukan pilihan yang bisa dipilih. Terlebih Raka tidak memberi tau Alamat rumahnya, Anjani jadi ingin bertanya pada senior senior didepan, Apa Raka itu waras?
°°°
Selain tidak bisa menolak uang, ada dua lagi yang tidak bisa Kanaya tolak, Bakso dan Es krim. Kanaya paling lemah jika sudah dihadapkan dengan yang enak enak seperti hangatnya kuah bakso atau manisnya es krim. Merobek celengan saja dia rela apalagi jika diberi gratis seperti sekarang, mana bisa dia tolak.
"Makasih" katanya begitu mengambil es krim yang baru saja di sodorkan Raka. Raka yang melihat senyum itu jelas ikut tersenyum. Dia sendiri tidak menyukai es krim, benar benar tidak suka. Berhubung ibu ibu kantin tidak punya uang kembalian karna belum ada pembeli, Jadi Raka diberi kembalian berupa Es krim, awalnya dia tidak mau, tapi ibu ibu kantin tadi tetap memaksa. Katanya tidak enak jika diberi uang secara cuma cuma. Dan begitu melihat Kanaya duduk sendiri dipinggiran taman kampus, ia jadi berinisiatif untuk memberi es krim ditangannya itu untuk Kanaya.
"Kamu gak liat, disana sana kan banyak kursi. Kenapa malah duduk disini"
Kanaya yang baru saja menjilat es krimnya, menyipitkan mata, melihat kursi kursi yang memang berjajar disekitar taman.
"Males aja, uda enak duduk disini"
"Baju kamu kotor"
"Nanti bisa dicuci kan"
Yang diberitahu malah tertawa.
"Saya emang sholat disini"
Lagi lagi Raka tertawa
"Kalau gitu kenapa duduk tanpa alas di rumput ini, Uda kamu pastiin rumput ini najis atau enggak?"
"Kalau najis?"
"Sholat kamu bisa enggak sah loh"
"Seriuss?"
Raka yang melihat bagaimana melebarnya mata Kanaya saat ini hanya bisa mengangguk ringan. Dan detik selanjutnya, Kanaya beranjak dari tempatnya duduk, menepuk nepuk bagian belakang lantas pindah ke kursi yang paling dekat dari sana. Dan tentu saja setelah itu Raka juga ikut beranjak, mengikuti Kanaya dengan tidak habis pikir. Bagaimana bisa ada gadis yang menggemaskan seperti itu.
"Kamu uda setor Formulir?"
"Uda, sebelum kesini saya uda setor ke kakak kakak senior tadi"
"Padahal saya berharapnya kamu jangan setor hari ini"
Kanaya jelas menoleh, gadis itu menemukan Raka dengan senyum gambangnya. Lalu tidak lama Raka ikut menoleh, membuat tatapan keduanya saling bertemu. Mungkin Kanaya tidak melihat apa apa, hanya sepasang bola mata indah berwarna hitam kecoklatan, tapi lain dengan Raka. Lelaki itu seperti menemukan cahaya yang berkilau dimata Kanaya. Dan entah bisikan setan seperti apa, Raka jadi ingin memandang gadis itu lebih dari ini. Tapi dengan cepat ia menggeleng, kemudian memilih membuang pandangannya kedepan.
"Kak,"
"Hm"
"Kalau saya pikir pikir, Maba yang lain juga enggak bakalan milih pilihan kedua, tau kenapa? Karna lebih ribet. Kak Raka juga enggak ngasih tau alamat rumah kakak"
"Kalau ada yang setor ke rumah ya bakalan saya kasih tau, kamu kira saya sejahat itu"
Kanaya tertawa, lelaki disampingnya ini tidak sadar saja jika di balik pujian dari maba perempuan yang membicarakan dia tampan, mereka juga menghujat Raka karna senior satu itu sama tidak jelasnya dengan yang lain, hanya saja Raka lebih bijak dibanding mereka.
"Tadi pagi berangkat jam berapa?"
"Enggak liat jam"
"Naik?"
"Motor"
"Sendiri?"
"Naaay"
Dibelakang sana Anjani menyengir lebar begitu Kanaya dan Raka sama sama menoleh ke arahnya. Dia juga memperlihatkan formulir yang sudah selesai dia isi lantas memberikannya pada Raka