DEAR SAKHA

DEAR SAKHA
Chapt 53



WARNING !!


TIDAK MENERIMA KOMENTAR KOMENTAR KASAR


TERIMAKASIH!!


"Lo nggak perlu minta maaf" ia kemudian tertawa. Tapi dengan nada yang masih getir.


"Karna percuma Kha. Kalau lo masih kayak gitu, mending udah, sampai di sini juga gue nggak papa"


"Gue yang kenapa kenapa" Sampai akhirnya lelaki itu bisa menyela. Sampai akhirnya ia juga punya ruang untuk berujar, menerobos batas di mana dia berdiri dan langsung memeluk Kanaya.


"Gue nggak bisa," Nadanya yang lirih seketika menyeruak di telingga Kanaya. Bahkan ia tidak lagi punya tenaga hanya untuk menepis atau menghindar dari lelaki itu. Iya, Kanaya membiarkan Sakha memeluknya, Kanaya membiarkan lelaki itu tau separah apa ia kehujanan, sampai sampai bajunya belum kering sekalipun ia sudah di rumah sedari tadi, jauh sebelum Sakha mengetuk pintu, masuk dan membuatnya menangis.


'gue yang nggak bisa'


Yang justru semakin membuat Kanaya mengumpati nya. Entah ini benar atau tidak, menurut Kanaya Sakha memang brengsek, dia egois. setelah ia lebih mementingkan Habibah, setelah ia membiarkan Kanaya kehujanan. Tapi dengan mudahnya dia bilang dia yang kenapa kenapa jika Kanaya betulan pergi.


"Mau lo apa sih Kha, lo mau apa?" Dan gadis itu masih di sana. Masih di dada Sakha, masih menangis, juga masih bisa berteriak.


"Harusnya yang Habibah hubungi itu pemadam kebakaran, bukan lo" Hingga suaranya semakin lirih, Sakha kian memeluk gadis itu.


"Tapi di banding pemadam kebakaran, dia lebih butuh orang yang bener bener peduli sama dia Nay"


"Harus banget, lo yang jadi orang itu?"


Saat Sakha masih diam, saat itu Kanaya tersenyum sumir. Tidak ada lagi Kanaya yang tidak bergerak dalam pelukannya, atau Kanaya yang mau mau saja dia peluk.


Gadis itu memutuskan memberi jarak, membuat sedikit ruang kosong di antara mereka. Tapi ia masih disana, berdiri di depan Sakha dengan mata yang masih sama seperti tadi.


"Harus banget Kha?" Lalu untuk yang kedua lagi ia bertanya.


Dan ketika Sakha lagi lagi tidak menjawab, Kanaya


memberanikan diri untuk lebih lekat menatap netra pekat tersebut. Dua tangannya memegang kera baju Sakha, dengan pandangan kecewa, di detik sebelum genap satu menit ia menatap mata itu, akhirnya ia menunduk, menunduk untuk tangisan yang lebih keras.


"Gue kira lo tuh beda, gue kira waktu lo bilang lo cinta sama gue, lo nggak mau gue pergi, itu bener Kha. Ternyata apa hah? Cinta itu cuma gue ke lo"


Sekarang Kanaya tidak lagi bertanya, Dia atau Habibah? Karna semua itu sudah terjawab sejak malam ini. Dan sayang sekali jawabannya bukan Kanaya, tapi Habibah.


Gadis itu melepaskan kera baju Sakha. Lantas mengambil hp nya dan mencoba menghubungi Rizal.


"Nay lo nggak tau ini uda malem, lo mau kemana?"


"Gue kira tuh lo yang nggak tau kalau ini malem, Sampe sampe ngebiarin gue sendirian di halte"


Kemudian ia kembali memasukkan asal baju bajunya ke dalam koper.


"Jemput gue bang" kata Kanaya setelah sambungan telponnya dengan Rizal terhubung.


Di sebrang sana Rizal tidak langsung menjawab. Ia malah menatap layarnya cengo


"Nay tolong lo jangan kayak gini" kata Sakha


"Cepet bang, jemput gue. Kalau nggak gue nekat pulang sendiri"


"Lo apa apaan sih Nay" Bahkan saat Sakha merebut Hp itu, Kanaya sudah tidak lagi peduli.


"Kenapa?" Tanya Kanaya. Matanya yang masih sembab seketika melebar pada Sakha.


"Lo pikir gue bakalan diem aja setelah lo buat gue kecewa sampai kayak gini. Di sana masih ada otak nggak? Mikir"


"Iya Nay, gue tau gue salah"


"Dan gue uda nggak butuh pengakuan itu"


Yang setelahnya Kanaya langsung mendorong bahu Sakha. Membuka pintu selebar yang ia bisa lantas menyeret kopernya untuk keluar.


Saat kakinya mulai mengambil langkah untuk keluar dan pergi dari sana, Kanaya tidak berharap apapun, sekedar berharap Sakha akan memangil atau mengejarnya pun tidak. Kanaya sama sekali tidak berharap tentang apapun.


°°°


Kadang malam yang dingin pun bisa mendadak beraroma damai saat seseorang menghirupnya dalam kondisi yang sedang tidak baik baik saja.


Bahkan lampu merah yang bisanya menjengkelkan, bisa mendadak indah kala di pandangi saat berada di titik di mana kita sedang sedih.


Menunggunya untuk berganti warna pun tidak membosankan seperti biasanya.


Ini bukan tentang bagaimana Kanaya bisa cepat cepat keluar dari sana, tapi tentang ia yang justru tidak mau cepat sampai di rumah. Kanaya tidak siap dengan pertanyaan beruntun dari mama ataupun papa. Belum lagi ketika orang tua Sakha tau, sudah pasti akan ada sidang besar nanti. Entah itu di rumah dia, atau malah di rumah Sakha.


Gadis itu akhirnya menghela nafas panjang. Saat masih di rumah tadi, ia mana sempat berpikir jika pergi nyatanya malah membuat ia jauh lebih setres


"Mau makan dulu nggak? Lo uda makan?"


"Uda,"


"Yang bener lo, ntar sakit yang kena omel sama mama tuh gue"


"Bener bang, gue uda makan tadi"


"Berarti langsung pulang ya?"


"Nggak bisa nginep di hotel atau apa gitu?" Gadis itu bertanya. Dua matanya sudah harap harap cemas.


Saat ini ia sangat berharap jika mama dan papanya sudah tidur, tapi itu tidak mungkin


"Lo ada uang kan, nginep aja yuk di hotel, di penginapan murah tanpa AC juga nggak papa kok"


"Nggak, kalau nggak makan ya langsung pulang" Jawab Rizal, tegas lugas dan tidak menerima bantahan. Ia sempat memutar bola matanya kala mendengar decakan dari Kanaya.


"Lagian lo berantem karna apa? Harus banget setelah lo marah marah lo pergi dari sana"


"Ini juga, baju lo rada basah gini kenapa?"


"Nggak mau cerita, males"


Untuk yang kedua Rizal memutar bola matanya.


Tapi ia juga tidak memaksa Kanaya, saat kanaya tidak mau bercerita, ya sudah, mau apa lagi.


"Lain kali jangan langsung pergi, bicarain dulu baik baik"