
Untuk seorang gadis yang malas berpikir, cara belajar Kanaya hari ini lebih dari kata SERIUS. bukan hanya sekedar membaca, ia pun mencoba untuk bisa memahami, sesekali tangan itu mencatat dan kembali menghafal.
Tanpa memperdulikan tangannya yang mulai terasa pegal.
Juga tanpa memperdulikan lubang hidung kirinya yang di sumbat tisu sebab mimisan.
Salah satu resiko jika Kanaya berpikir keras, dia akan mimisan.
Bahkan! aish.
Sakha susah mendeskripsikan, istrinya itu terlihat seperti anak tidak teurus, rambut yang tadinya di cepol rapi kini begitu berantakan. di tambah tisu yang sengaja di gulung dan di masukkan ke dalam salah satu lubang hidungnya, semakin mendukung penampilan Kanaya.
"Lo mau belajar sampai kapan?" Tanya Sakha yang kini bersandar di dinding, bersedekap dada dan pastinya masih melihat Kanaya.
Sedikit kasihan, tapi juga menikmati. Sebab Kanaya malah lucu dengan kondisinya yang mungkin di mata kebanyakan orang sangatlah kacau.
Kanaya mengedikkan bahu. membuang gulungan tisu dari hidung kiri dan memasukkan gulungan tisu baru di sana.
"Ini gue sampe kapan coba mimisan begini?"
Sakha terkekeh. lantas mendekati Kanaya dan menutup semua buku di meja. merapikannya dan menumpuknya hingga rapi.
"Lo mampetin dulu mimisannya, baru setelah itu belajar lagi. Lagian belajar enggak harus semenyiksa itu nay"
"Pelan pelan, asalkan lo beneran paham. Kalau lo gradak begitu, yang ada otak lo gosong!"
"Tapi besok itu uda UN Kha" Kanaya menahan pergerakan Sakha, sebab lelaki itu hendak menariknya untuk berdiri.
Sakha menghela nafasnya, dia juga tau besok sudah Ujian Nasional, tapi bukan berarti Kanaya harus menyiksa dirinya seperti ini kan?
Sakha mendudukan diri di kursi, tepat di bawahnya adalah Kanaya, jujur dia ikut pusing saat melihat cepolan rambut Kanaya yang berantakan itu.
dengan hati hati Sakha melepaskan tali rambut Kanaya dan mengikatnya ulang, meski tidak Serapi kunciran pada umumnya, setidaknya terlihat lebih baik ketimbang tadi.
Sedang Kanaya, gadis itu terdiam, bulu kuduknya berdiri begitu tangan Sakha mulai hati hati bergerak, Apa lelaki itu waras? tidak taukah dia jika perlakuan yang menurutnya sederhana nyatanya mampu menghidupkan jutaan kupu kupu yang tidak tau sejak kapan ada di hati Kanaya.
Dan juga,
"Gini kan bagus"
Lagi lagi Sakha membuat Kanaya terdiam. ia mengusap kepala Kanaya dengan lembut, di mata Sakha mungkin usapan tadi dari seseorang untuk sahabatnya. Tapi bolehkan Kanaya menepisnya dan menganggap usapan tadi memanglah dari suami pada istrinya.
Sebodoh bodohnya Kanaya, dia tetap perempuan. Dan dengan jelas dia bisa merasakan kehangatan itu, kehangatan dari perlakuan sederhana yang Sakha lakukan.
Kanaya jadi penasaran, sebenarnya di mata Sakha, dia itu apa?
Jika Kanaya bisa menatap sakha sebagai laki laki, bisakah dia juga menatap Kanaya sebagai wanita?
dan jika Kanaya bisa menatap sakha sebagai seorang suami, lalu bisakah Sakha menatapnya sebagai seorang istri
"Kha"
"hm"
"Gue ini ... " Kanaya tersenyum, urung menanyakan sesuatu yang Kanaya rasa tidak perlu di pertanyakan lagi. sebab jawabannya sudah jelas!
"Nanya aja kali, lo mau nanya sesuatu kan ke gue"
"Tadinya. Berhubung jawabannya uda jelas, jadi enggak jadi" Sekali lagi gadis itu tersenyum.
"Yaudah, kalau gitu lo mau makan apa?"
"Apa aja, yang penting lo yang masak"
"Padahal lo yang istrinya" Nyinyir Sakha. Tapi Kanaya, dia masa bodoh dengan cibiran barusan, yang paling penting makanannya bisa di makan, sebetulnya Kanaya mau mau saja kalau di suruh Sakha masak, tapi berhubung ekonomi mereka tidak mendukung, di banding makanannya nanti tidak bisa di makan jadi ya sudah, Sakha mengalah.
"Kalau kata papa gue, laki laki enggak usa gengsi saat di suruh belajar masak, lo tau apa alasannya?"
"Ya jelas enggak lah, pake nanya" Jawabnya tertawa. Sudah Sakha duga sih, terlebih Kanaya ini malas berpikir, untuk hal hal yang serius saja dia malas apalagi yang tidak terlalu serius.
"Alasannya, buat jaga jaga kalau kita dapat istri yang enggak bisa masak, kayak gue ini dapat elo, untung gue bisa masak, kalau kagak, mau makan apaan lo hah! Kerikil! "
Kali ini Kanaya terbahak. alisnya saling terangkat sukses membuat Sakha bergidik.
"Kalau kata anak jaman sekarang, makan kerikil juga enak kha, Asal sama orang yang kita cintai,"
"Halah" Lagi lagi Sakha mencibir. Sedalam apa orang itu jatuh cinta, kalau di suruh makan kerikil memang bisa kerikilnya jadi enak.
Sakha mengiyakan "Karna sebelumnya, uda di kasih gula" kata Sakha, yang mana Kanaya langsung menatapnya.
"Lo enggak pernah kasmaran, jadi mana tau"
"Emang lo pernah?"
"Ya kagak"
"Nahh"
Sebenernya gue tuh pernah Jupriiii, kalau aja lo tau!
•••
Rintik hujan malam ini menjadi pengisi suara di antara keheningan keduanya. Meski jika di lihat dari depan Sakha begitu fokus pada makanannya, sesekali dia juga mendongak dan memastikan bahwa Kanaya tak kalah lahap memakan nasi dan telur dadar ala kadarnya buatan Sakha.
"Cari calon istri itu enggak harus yang cantik kha, enggak harus yang kaya, enggak harus juga yang selalu mementingkan penampilannya agar kesannya enggak malu maluin pasangan"
"Yang penting bisa masak kan ma" Jawab Sakha Kala itu, di tengah tengah kegiatan mencuci piringnya, Mama Sakha justru terkekeh.
"Enggak juga, Yang penting mah dia mau menemani kamu di manapun kamu berdiri. Enggak pandang kamu di titik tinggi maupun rendah tapi yang jelas dia bisa memastikan untuk selalu mengikuti kamu"
"Kamu makan garam ya dia makan garam, kamu makan ayam ya dia makan ayam. pada intinya, saat dia memutuskan untuk menikah dengan kamu, dia juga harus mau menerima kehidupan setelah itu"
Senyum itu akhirnya terbit setelah menginggat percakapan singkat dengan mama beberapa bulan lalu, meski samar sebab Sakha masih mengunyah nasi di mulutnya.
Sebelumnya, Sakha hanya bisa membelikan Kanaya mie instan, dan hari ini ada peningkatan, Uang dari jualan martabak kemarin hasilnya lumayan, ia bisa membeli beras, telur, minyak, bahkan juga bumbu bumbu pelengkap.
Dan masalah uang saku, itu pun sudah ada.
Allah memang maha baik, dia pun selalu memberikan jalan untuk hamba hamba-nya yang mau berusaha juga berdoa padanya.
lantas, seperti yang di ulang sampai 31 kali dalam surah
Ar- Rahman, Sakha ingin bertanya, Nikmat tuhan mana lagi yang kamu dustakan?
Bukankah dia begitu baik pada hamba hambanya?
bukan, bahkan dia lebih dari baik.
Dia pun senantiasa ada saat hambanya mengadu membutuhkannya, dia pun senantiasa menyediakan tempat saat hambanya datang.
Sekalipun dosa kita memenuhi seisi bumi, Allah tetap membuka pintu selebar lebarnya untuk kita memohon ampunan. Allah masih menganggap kita sebagai hambanya.
Banyangkan, Di dunia seluas ini, kita hanyalah salah satu di antara banyaknya orang yang menjadi hamba Allah.
Betapa kecilnya kita, di luar sana orang yang lebih taat dari kita jelas banyak, Di luar sana orang yang datang ke Allah bukan hanya karna mereka sedang membutuhkan pertolongan Allah juga banyak, bahkan saking taatnya hamba itu, Ada kalanya saat semua orang sibuk dengan tidur nyenyak, mereka sibuk dengan ibadahnya, bertemakan rasa tenang sebab mereka menemui Rabnya di tengah tengah sepinya malam. di saat semua orang di sibukan dengan nyenyaknya tidur, justru hamba hamba ini sedang di landa ketenangan, sesekali mungkin mereka menangis dan merenungi betapa banyak nikmat yang tuhan mereka kasih.
"Setelah ini gue ke masjid ya Nay, lo jangan lupa sholat"
"Nanti pulangnya jangan malem malem ya Kha, sama jangan lupa bawah minyak kayu putih, takutnya lo masuk angin"
"Sip,"
"Baju kokoh yang tadi, atau lo mau ganti?"
"Tadi aja lah"
"Setelah ini gue siapin bajunya"
Sakha mengangguk. Dia dan Kanaya memang tidak satu kamar tapi kata Kanaya, Sakha bebas masuk ke kamarnya, jadi Sakha juga membebaskan gadis itu untuk masuk ke kamarnya.
"Eh sekalian gue nanti bawa buku, lo kalau belum nyatet nanti gue foto aja gak papa kan?"
"Yang penting jelas fotonya"
Sakha mengangkat jempol tinggi tinggi, Agak repot juga sih kalau harus memotret lembar demi lembar buku tulisannya, bayangkan saja, bukunya Sakha kan 58 halaman, apa iya harus dia foto semua?
"Lo ada masalah hidup apa si nay, Sampe sampe tiap pelajarannya bu Kasiyem enggak nyatet"
"Nah ituuu, gue juga nyesel tau enggak. Sekarang gue keteteran kan jadinya"
Hembusan kasar dari Sakha hanya di jawab cengiran polos oleh Kanaya. keduanya lalu sibuk dengan kesibukkan masing masing, Sakha yang mencuci piring dan Kanaya yang menyetrika seragam keduanya.