
Pasar tradisional bukan tempat yang asing lagi bagi Kanaya maupun Sakha, keduanya sudah terhitung sering keluar masuk lorong yang dulu sempat mereka anggap mengerikan, mereka juga kerap berkeliling dahulu meski belanjaan sudah lengkap mereka beli.
Yang Kanaya sukai dari pasar tradisional adalah Bu Ani, (si penjual terigu yang senantiasa bercerita kepada Kanaya tentang anak bungsunya, katanya anak bungsunya itu punya cita cita aneh, ingin menjadi bagian dari salah satu member black pink). Lalu bubur kacang hijau pak Parto, disana orang beramai ramai akan mengantri demi bubur kacang hijau pak Parto yang dijual dengan harga lima ribu perporsi, selain rasanya enak, Kanaya juga bisa mendengar keluh kesah orang lain tentang bagaimana kerasnya hidup ini. Mirip dengan yang Sakha ceritakan saat ia dan Tama berjualan martabak dengan pedagang lain. Nyatanya bukan hanya sebagian saja, tapi semua orang juga merasa jika hidup ini memang berkonsep keras.
Semua orang mungkin beragumen sama saat ditanyai bagaimana hidup ini? Kecuali anak kecil yang pandangannya belum luas.
Yang masih bisa mengisi harinya dengan tawa, menangis pun untuk hal hal yang tidak penting, juga yang mereka pikirkan hanyalah main, main dan main. Seolah dunia mereka terus berpusat pada kebahagiaan.
Selesai dengan bubur kacang hijaunya, Sakha mengajak Kanaya pulang, hari ini sudah cukup. Mungkin dua hari lagi mereka akan ketempat ini.
Kedua pasangan muda tersebut sengaja lewat gang Bu Ani, dan sempat sempatnya Bu Ani melambaikan tangan pada mereka meski ia tengah menimbangi terigu, lalu di balas dengan lambaian yang sama oleh Kanaya dan hanya di balas senyuman tipis oleh Sakha.
"Lo tau gak, masa kata Bu Ani, anaknya itu pengen jadi member black pink" selesai memberitahu Sakha, Kanaya terbahak bahak, membayangkan bagaimana lucunya anak Bu Ani saat dia menangis, meraung pada Bu Ani sebab ingin menyanyi satu panggung bersama member black pink yang lain.
"Padahal dia baru masuk SD tahun kemarin Kha, lucu banget gak sih itu anak"
Sakha hanya mengulas senyumnya, baginya wajar untuk ukuran anak kecil dengan keinginan muluk, sebab Sakha juga pernah menjadi kecil dan berkeinginan aneh aneh. Lantas lelaki itu segera memakaikan helm pada kepala Kanaya,
"Emang lo enggak pernah punya keinginan aneh aneh begitu, gue aja pernah"
"Kayaknya sih" Jawab Kanaya yang tidak banyak gerak, matanya menerawang jauh ke awan awan, mencoba menginggat salah satu keinginan konyolnya waktu ia masih kecil, sementara Sakha terkekeh, sambil sibuk memandangi gadis itu.
"Gue dulu pernah punya keinginan buat jadi Ultraman, biar bisa war sama monster monster jahat dan ngelindungin orang orang terus dijuluki sebagai pahlawan bumi, tapi ya mana mungkin sih gue bisa jadi Ultraman, kalau pun gue mau nolong orang lain kan bisa gue lakuin itu tanpa gue harus setinggi Ultraman"
Lagi lagi Kanaya tertawa, ternyata masa kecil Sakha juga sama dengan masa kecil kebanyakan orang.
"Oh ya, gue dulu pernah deh pengen jadi Putri duyung, biar kalau nangis air mata gue bisa jadi mutiara terus gue jual jadinya uang gue banyak"
"Sekarang?"
"Ogaaah"
Gantian Sakha yang tertawa, mengelus helm yang sudah menempel pada gadis itu sebelum memutuskan untuk segera pulang
"Tapi nay, kalau gue pikir pikir nih, ada untungnya, seandainya lo beneran jadi Putri duyung" ujar Sakha saat keduanya sudah melesat jauh meninggalkan parkiran pasar
"Apa?"
"Air mata lo bisa jadi mutiara, terus lo juga bisa gue taruh didepan rumah buat tontonan, nanti setiap orang gue suruh bayar dengan harga mahal, kan kaya beneran kita"
"HEH," Kanaya mengetuk helm Sakha kesal sebelum melanjutkan ucapannya "Lama lama lo yang gue kostumin pake kostum putri duyung"
"Durhaka lo"
"Biarin, yang penting kaya hahah"
•••
Diluar sana hujan belum juga reda, berjuta rintiknya kembali menjamah bumi, menjadikan suasana ikut dingin dan membuat orang orang yang baru saja ingin menjalankan aktivitasnya menjadi malas malasan dengan selimut mereka.
Salah satunya adalah Kanaya, padahal gadis itu baru mengambil wudhu beberapa menit yang lalu, tapi bukannya langsung sholat yang ia lakukan malah melilit tubuhnya dengan selimut tebal.
Sedang Sakha yang melihatnya dari balik pintu berdecak tidak habis pikir, lantas dengan langkah pelan dia menghampiri gadis itu, menarik selimutnya dan menyuruhnya mengerjakan sholat
"Kha, lima menit"
"3 menit deh 3 menit"
"Sholat gak lo"
"Dingiiin,"
Sakha menghela nafas panjang sebelum menuju ke lemari Kanaya, mengambil mukenah juga sajadah gadis itu
"Buruan pake"
"Baru juga selesai adzan, lagian lo bukannya ke-masjid malah ngoceh disini kenapa sih"
"Lo gak liat, diluar hujannya deres, lagian dirumah gue bisa jamaah sama lo"
Kanaya yang tadi mencebikkan bibirnya dengan menye menye mengejek Sakha seketika membulatkan matanya, menatap Sakha dengan penuh keterkejutan.
"Gimana gimana? Lo mau jamaah sama gue?"
Gadis itu tertawa hambar sebelum mendengar jawaban Sakha "Gak ya, gue mau sholat sendiri"
"Gue maunya jamaah" Ucap lelaki yang kini bersedekap dada di samping ranjang Kanaya. Seakan keputusannya sudah bulat dan harus Kanaya terima"
"Gak maau" sementara Kanaya juga kekeh dengan pendiriannya
"Harus mau"
"Kenapa harus mau hah kenapa?"
"Lo lupa kalau yang ngajak lo sholat jamaah ini suami lo"
Seolah baru saja ditampar keras oleh kenyataan, saking kerasnya Kanaya hanya bisa diam dengan lenguhan panjang. Gadis itu mendadak kicep, benar, Sakha adalah suaminya, dan diluar hujannya sangat deras, tidak memungkinkan untuk Sakha sampai ke-masjid dengan baju masih kering. kemungkinan lainnya Sakha bisa sakit jika nekat menerobos hujan, dan kalau Sakha sakit siapa yang repot? pasti Kanaya kan.
"Gue tunggu diruang depan" Ujar Sakha yang akhirnya meninggal Kanaya, juga menyiapkan karpet untuk mereka jamaah nanti. Sedang gadis itu mendengus lebih dulu lalu pada akhirnya juga mengikuti langkah Sakha dengan langkahnya yang ketara malas.
"Udah" tanya Sakha begitu tau Kanaya sudah mengelar sajadah di belakangnya, pun sudah memakai mukenah. Gadis itu mengangguk, membuat Sakha lagi lagi berdecak
"Lo pake mukena aja aut autan begini, jangan jangan setiap hari gini ya lo"
"Aut autan gimana coba, make mukena yah gini" Sahutnya kesal, yang mana Sakha langsung mendekati gadis itu, alih alih ingin memasukkan rambut yang belum masuk, tangan Sakha malah menyapu udara, sebab Kanaya spontan menunduk.
"Mau apa sih lo" tanya anak itu begitu Sakha sudah mundur beberapa langkah,
"Jangan ngebuat wudhu gue batal ya, lo tau kan gimana dinginnya air pagi ini"
"Sorry, gue lupa. Buru masukin rambut lo yang masih keluar, itu bisa ngebuat sholat lo enggak sah"
"Ohh ini" kata Kanaya yang meraba raba area Jidad, dan benar saja, ternyata masih ada beberapa anak rambut yang menyembul disana
"Lagian lo main asal pegang, ngomong juga bisa kan? Di kira gue ini bocah apa"
"Menurut lo, lo uda gede?"
"Iyahlah, buktinya gue uda nikah tuh"